Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 151 Tindakan Makar


__ADS_3

Setelah membantu menyelesaikan permasalahan di desa yang disinggahi, dan menginap di desa itu satu malam, pagi hari berikutnya Pangeran Abhiseka mengajak Wisanggeni untuk meninggalkan desa tersebut. Wisanggeni segera meneruskan perintah Pangeran pada teman-temannya yang lain. Saat ini mereka sudah bersiap untuk meneruskan perjalanan ke kota Laksa.


"Nimas.., ada baiknya kamu dengan Maharani menuju kota Laksa lebih dahulu. Bawalah Singa Resti atau Singa Ulung bersamamu. Akang tidak tega melihat Chakra Ashanka terlalu capai, karena kita tidak tahu apa yang kita temui dan kita hadapi dalam perjalanan." Wisanggeni mengajak bicara Rengganis dan Maharani, meminta mereka untuk berangkat dengan binatang magic terlebih dahulu. Rengganis melihat ke arah Maharani, dan istri kedua Wisanggeni itu menganggukkan kepala.


"Baiklah Akang..., kami akan melaksanakan perintah Akang. Pamitkan pada Pangeran Abhiseka.., kami akan berangkat lebih dulu." akhirnya setelah melihat persetujuan Maharani, Rengganis segera berpamitan dengan Wisanggeni. Laki-laki muda itu mencium kening Rengganis dan putra mereka. Di belakang Rengganis, Maharani juga berpamitan untuk bersama dengan Rengganis. Untuk menjaga perasaan Maharani, Wisanggeni juga melakukan hal yang sama seperti yang laki-laki itu lakukan pada Rengganis.


Setelah menepuk perlahan paha kanan Singa Resti, Rengganis segera melompat ke punggung binatang itu. Maharani mengikut dan duduk di belakang Rengganis. Tidak menunggu lama, Singa Resti sudah membubung tinggi di angkasa, dan dalam sekejap sudah menghilang dari pemandangan.


"Wisang.., apakah Nimas Rengganis dan Maharani sudah berangkat lebih dulu..?" tiba-tiba Gayatri dan Niluh sudah berada di belakang Wisanggeni. Perempuan itu menanyakan kedua istri saudara satu Trah mereka.


"Sudah Gayatri.., Niluh.., aku tidak tega melihat Chakra Ashanka. Usia putraku belum genap satu warsa.., tetapi anak itu sudah melewati perjuangan panjang bersama kami selama ini." Wisanggeni menoleh dan menjawab pertanyaan yang diutarakan Gayatri.


"Ayo.. kita segera bergabung dengan yang lain. Kita harus segera melintas di hutan beberapa kilometer dari sini. Kita harus bisa melewati hutan tersebut sebelum melewati malam, karena akan banyak binatang yang memiliki kemampuan metafisik tinggi di hutan tersebut." Wisanggeni segera mengajak dua saudaranya itu untuk bergabung dengan teman-temannya yang lain. Tanpa banyak bicara, Gayatri dan Niluh segera menyusul di belakangnya.


"Bagaimana dengan Pangeran.., kita semua sudah siap untuk berangkat." Wisanggeni segera berjalan menghampiri Pangeran Abhiseka. Setelah semuanya sepakat, mereka segera berjalan santai, dan setelah lumayan jauh dari desa, mereka melompat untuk melanjutkan perjalanan.

__ADS_1


***********


Saat sampai di tengah hutan, Wisanggeni mendengar ada suara-suara yang mencurigakan. Laki-laki itu memberi isyarat pada orang-orang di belakangnya untuk berhenti, dan menjaga diri untuk tidak membuat suara. Sepanjang perjalanan, binatang-binatang magic menyingkir, karena merasakan beratnya tekanan yang muncul dari Singa Ulung. Tetapi tiba-tiba, Wisanggeni merasakan ada pergerakan orang yang berkumpul di tengah hutan.


"Wisang..., apa yang kamu lihat?" sambil berbisik Pangeran Abhiseka bertanya pada Wisanggeni. Laki-laki itu berdiri disamping Wisanggeni ,dan melihat ke arah gua di depan yang samar-samar ada cahaya yang berasal dari dalam.


"Aku merasakan ada hal penting di dalam gua itu Pangeran. Banyak orang yang sepertinya sedang berbincang di dalam, kita akan mengintipnya terlebih dahulu. Jika mereka orang jahat, kita akan langsung menghancurkan mereka, tetapi jika hanya orang yang sedang melakukan tirakat, kita akan mengabaikannya." Wisanggeni menjawab pertanyaan Pangeran Abhiseka. Keduanya perlahan turun dan mengendap-endap menghampiri mulut gua. Dua orang laki-laki terlihat sedang berjaga di depan gua, dan Wisanggeni memberi kode pada Pangeran untuk diam sejenak..


"Bukk... appp.." tanpa bicara, Wisanggeni langsung mengirim serangan pada dua penjaga itu. Tanpa sempat melawan, kedua penjaga itu jatuh dan langsung diseret Wisanggeni dan Pangeran Abhiseka.


"Aku akan menyelubungi tempat ini menggunakan tabir pelindung, untuk mencegah mereka kabur dari tempat ini." ucap Wisanggeni sambil berjalan meninggalkan Pangeran Abhiseka sendiri.


**********


Pangeran Abhiseka terlihat geram melihat siapa yang berada dan sedang berbincang di dalam gua. Meskipun telinganya tidak bisa menangkap jelas\, tetapi samar-samar laki-laki itu mendengar rencana makar yang akan mereka lakukan pada kerajaan yang saat ini dipimpin ayahndanya. Di sisi ruangan gua yang lain\, laki-laki muda itu juga melihat seorang perempuan yang sedang berasyik mashyuk dengan seorang laki-laki. Payu***dara perempuan itu tampak tidak tertutup oleh selembar benang pun\, dan seorang laki-laki sedang menciumi setiap jengkap tubunya. De***sahan dan lenguhan perempuan itu terdengar sampai ke telinganya. Muka Pangeran Abhiseka seketika berubah merah menghitam melihat siapa perempuan itu..

__ADS_1


"Kurang ajar.., bukannya itu Ibunda Selir..." dengan menggeram, Pangeran Abhiseka bergumam lirih. Laki-laki itu mencari keberadaan Wisanggeni, dan terlihat putra Ki Mahesa itu sedang membuat segel dan mengangkat kedua tangannya ke atas bergantian. Tidak lama kemudian, terlihat sebuah tabir tipis seperti mengungkung keberadaan mereka.


Sambil menunggu Wisanggeni, Pangeran Abhiseka kembali memperhatikan keadaan di dalam gua. Terlihat sekitar lima belas orang sedang berbincang serius sambil membuat gambar di daun lontar. Putra Raja Sancaka itu mengenali satu orang di antaranya, dan yang membuatnya marah adalah orang tersebut adalah salah satu kepercayaan dari ayahndanya. Tanpa menunggu Wisanggeni, Pangeran Abhiseka memberi isyarat pada para pengawalnya untuk turun mendekati gua. Orang-orang tersebut dengan cepat mengikuti perintah Pangeran Abhiseka, bahkan Gayatri dan Niluh mengikuti di belakangnya.


"Kepung gua dari semua sisi, aku tidak mau ada yang lolos dari salah satu mereka yang ada di dalam!" begitu semua irang berkumpul, Pangeran langsung meminta mereka untuk mengepung gua.


"Baik.., Pangeran.." tanpa menunggu pengulangan perintah, orang-orang itu segera menempatkan diri mereka. Tinggallah Gayatri dan Niluh yang melihat pada Pangeran dengan penuh tanda tanya.


"Bagaimana Pangeran.., siapa yang ada didalam?" setelah selesai membuat tabir pelindung, Wisanggeni segera bergabung dengan Pangeran Abhiseka. Laki-laki itu langsung bertanya pada pangeran secara langsung.


"Sepertinya mereka akan melakukan tindakan makar, dan salah satu laki-laki yang sedang berbicara serius itu adalah salah satu orang kepercayaan ayahnda. Dan lihatlah di sudut gua itu, perempuan yang sedang berbuat tidak senonoh itu adalah ibunda selir. Aku tidak pernah menyangka.., mereka berani berkhianat di belakang ayahnda." ucap Pangeran Abhiseka lirih.


"Baiklah.. kita akan ciptakan kekacauan di mulut gua. Gayatri..., Niluh.., kalian tahu kan apa yang harus dilakukan?" ucap Wisanggeni sambil memandang kedua saudara perempuannya itu. Kedua gadis itu menganggukkan kepala, kemudian mereka mulai bersiap.


***************

__ADS_1


__ADS_2