
Laksito semakin marah saat melihat bendungan yang hancur di hadapannya, dia langsung melompat ke atas tanggul yang masih ada. Laki-laki itu berjongkok mengamati retakan-retakan yang muncul akibat serangan Wisanggeni tadi malam.
"Sepertinya tanggul ini hancur karena serangan kekuatan seseorang, bukan karena tidak kuatnya tanggul yang dibuat anak buahku. Kurang ajar..., siapa yang sudah berani memancing keributan denganku." gumam Laksito dengan muka merah menghitam.
"Ini pasti perbuatan orang-orang yang tidak sembarangan, karena hanya dengan sekejap tanggul ini hancur, air kembali meluap ke pertanian penduduk Jagadklana. Aku harus mencari siapa orang itu, berani-beraninya dia mengacaukan rencanaku."
Laksito kembali ke tempat dimana kudanya dia tambatkan. Anak buah yang ikut menemaninya, segera berjalan mendekati laki-laki itu.
"Bagaimana Den.., seberapa parah kerusakan yang ada? Masih bisakah dalam waktu dekat, tanggul ini kita perbaiki kembali?" anak buah Laksito bertanya padanya.
Laki-laki yang sedang marah menggelengkan kepalanya.
"Aku khawatir laki-laki tua itu Ki Sasmito akan dapat mencium rencana kita. Kekuatan yang digunakan untuk menghancurkan bendungan itu, tidak sembarang orang memilikinya. Dari tipe retakan tanah yang ditimbulkan, sepertinya bukan kekuatan dari orang-orang Jagadklana. Aku yakin, dari tamu-tamu yang berkunjung ke Trah inilah yang sudah melakukannya." kata Laksito yang masih geram.
"Tetapi jika tamu yang datang, apa motivasinya Den? Seharusnya mereka tidak begitu ambil peduli dengan adanya bendungan ini. Berarti karena irigasi sudah kembali lancar, penduduk akan secepatnya mulai masa tanam. Ancaman kekurang pangan tidak lagi mengancam beberapa wilayah di sini Den." anak buah itu kembali menanggapi.
"Goblok kamu..., itu tugas kamu untuk mencarinya. Kenapa kamu malah bertanya padaku?" Laksito kembali tersulut emosinya.
Melihat pemimpinnya marah, anak buah itu langsung terdiam. Dia segera mengikuti Laksito yang berjalan meninggalkannya.
*************
Wisanggeni tampak melakukan pemanasan di halaman depan wisma yang ditempatinya. Udara pagi terasa segar masuk ke dalam paru-parunya, laki-laki itu juga sedang menyiapkan dirinya untuk mengikuti babak penyisihan adu kanuragan di alun-alun utama Jagadklana.
"Hhhhhh..., uuuffffff." laki-laki itu mengulang-ulang kembali melakukan pernafasan. Udara panjang dia hirup melalui lubang hidungnya, kemudian secara perlahan dia keluarkan lagi melalui muutnya.
__ADS_1
Perlahan tangan Wisanggeni membentuk sebuah simpul, dengan satu kaki ditekuk diatas lutut.
"Sssshhh..., sssshh..." tiba-tiba laki-laki muda itu menghentikan gerakannya. Telinganya menangkap desisan ular sedang menghampirinya.
"Keluarlah.., apa yang ingin kamu sampaikan padaku?" dengan cepat Wisanggeni bertanya sambil menutup matanya.
"Paduka.., kedatangan kami kesini untuk menyampaikan pesan dari Nagagini dan teman-teman di telaga. Air sudah kembali mengalir dan menggenangi tempat tinggal mereka." tiga ekor ular terlihat sedang menyampaikan ucapan terima kasih.
"Tidak apa-apa, pergilah kembali ke tempatmu! Aku khawatir, orang-orang disini akan datang untuk membunuh kalian, jika melihat kalian mendatangiku."
"Baik Paduka.., Nagagini juga melaporkan jika ada gerakan gerombolan Alap-alap di tengah pusaran mata air di telaga. Siapa tahu Paduka menginginkan informasi tersebut." setelah mengucapkan kalimar terakhir, ketiga ular itu segera kembali melata meninggalkan Wisanggeni sendiri.
Sepeninggalan ular-ular itu, kembali laki-laki muda itu mengambil sikap siaga. Dia kembali melanjutkan pemanasannya, dan senyum licik muncul di bibirnya.
"Tumbak Seto..., akan lari kemana kamu?? Aku akan mengejarmu.." ucap Wisanggeni dengan mata menyipit, dan seberkas kilat terlihat melintasi matanya.
"Wisanggeni..., karena kamu adalah laki-laki yang dipilih putriku untuk mendampingi hidupnya di masa datang. Aku harap kamu tidak akan mempermalukanku." tiba-tiba Ki Sasmito mengajak berbicara Wisanggeni.
Wisanggeni menengadahkan wajahnya, dia memberanikan diri memandang laki-laki tua seumur ayahndanya yang saat ini sudah berkumpul dengan Wijanarko dan Lindhuaji. Ki Sasmito tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Apa maksud paman?" tanya Wisanggeni lirih.
Ki Sasmito mengambil nafas panjang, kemudian menghembuskannya kembali.
"Banyak laki-laki muda dari Trah Jagadklana ini yang menginginkan Rengganis untuk menjadi pendampingnya. Ada Laksito, Jagasetra dan banyak lagi yang lainnya. Meskipun kekuatan yang kamu miliki belum sebanding dengan mereka, tetapi aku memiliki keyakinan jika putriku akan tetap memilihmu. Berlatihlah lebih keras dalam ajang adu kanuragan nanti, karena mereka yang akan memenangkan adu kanuragan tersebut, akan memiliki peluang lebih besar untuk mendekati Rengganis. Disitu, aku sebagai ayahndanya, tidak bisa berbuat banyak." Ki Sasmito menyampaikan isi hatinya.
__ADS_1
Wisanggeni tersenyum...
"Paman..., Wisang sudah melalui banyak hal pedih yang Wisang rasakan dan alami sendiri. Paman.., jangan terlalu khawatir akan hal tersebut. Wisang akan buktikan.., jika anak muda ini tidak akan mengecewakan paman, dan memang layak untuk memiliki Rengganis." ucap Wisanggeni mantap meyakinkan Ki Sasmito.
"Terima kasih Wisanggeni. Kamu persis seperti ayahndamu saat masih muda. Aku melihatnya sendiri bagaimana Mahesa berusaha untuk melunakkan hati ibundamu. Baiklah.., persiapkan dirimu, aku akan kembali ke padhepokan, dan jaga Rengganis sampai saatnya rasa manisnya bisa kamu petik di kemudian hari." Wisanggeni merasa tersindir dengan kalimat yang diucapkan Ki Sasmito terakhir, dia hanya tersenyum kecut.
Sekali lompat, Ki Sasmito sudah menghilang dari pandangan Wisanggeni. Laki-laki muda itu kemudian kembali ke dalam kamar untuk mempersiapkan dirinya. Hari ini dia akan ditandingkan dengan laki-laki dari wilayah timur, yang pernah bersamanya dalam satu perahu ketika menyeberangi telaga.
************
Wisanggeni dan Sayogyo berhadapan di atas panggung yang ditempatkan di pinggir alun-alun Jagadklana. Banyak penduduk yang ikut menyaksikan adu kanuragan tersebut, dan terlihat gadis-gadis Jagadklana hilir mudik berusaha menarik minat dan ketertarikan lawan jenisnya. Wisanggeni menundukkan badan sambil mengepal kedua tangan di depan dadanya, hal yang sama dilakukan oleh Sayogyo sambil tersenyum.
"Segera mulai..!" teriak laki-laki tua, yang bertindak sebagai wasit pertandingan.
"Bang...., dukk.." Sayogyo langsung mengirimkan serangan pada Wisanggeni. Dengan cepat, Wisanggeni memundurkan kaki dan memiringkan tubuhnya untuk mengambil tindakan menghindari serangan lawan.
"Prok..prok..prok..., ayo .., ayo Wisang.." terdengar teriakan Jono dan kawan-kawan dari bawah panggung. Demikian pula dengan teman-teman Sayogyo, semuanya ikut menyemangati teman mereka.
"Shut..., bang.." kembali Sayogyo melakukan serangan pada Wisanggeni, tetapi dengan cepat laki-laki muda dari Klan Bhirawa itu maju dan menangkap pergelangan tangan Sayogyo. Sedikitpun, Wisanggeni tidak merasakan sakit akibat serangan itu.
"Maafkan aku Sayogyo.., jika kamu terluka, sampaikan padaku! Aku akan memberimu pil obat untuk menyembuhkan lukamu." ucap lirih Wisanggeni di telinga Sayogyo, sambil memelintir pergelangan tangan ditu, dan..
"Bang...., brukk." tiba-tiba tubuh Sayogyo melayang di udara, dan akhirnya jatuh terjerembab di lantai panggung.
"Aduuhh.." terdengar teriakan Sayogyo, dan wasit segera mendekati laki-laki dari wilayah timur yang sedang tengkurap.
__ADS_1
Dengan tersenyum, Wisanggeni mengulurkan tangan pada Sayogyo dan dengan sekali hentakan, Sayogyo sudah berdiri kembali. Kedua laki-laki itu akhirnya berpelukan.
**************