Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 480 Putriku Sudah Dewasa


__ADS_3

Mengetahui jika Parvati ternyata lebih memilih Dananjaya untuk bersama dengannya, akhirnya Bhadra Arsyanendra memutuskan untuk kembali ke kerajaan Logandheng. Tanpa sengaja, ketika berusaha untuk mencari Parvati, anak muda itu mendengar dan melihat sendiri bagaimana pasangan anak muda itu memutuskan untuk bersama. Tidak mau bertemu dan berpamitan dengan teman-temannya yang lain, Bhadra Arsyanendra hanya mendatangi Chakra Ashanka di kamarnya.


"Kang Ashan.. sesuai dengan perkataanmu, sepertinya aku akan kembali lebih dulu ke kerajaan Logandheng kakang. Aku tidak akan memaksa kakang untuk bersama denganku kembali ke kerajaan, cukupkan dan bereskan dulu urusan kakang dengan keluarga. Kerajaan logandheng setiap saat terbuka, dan selalu menerima serta mengharapkan kedatangan kang Ashan.." di dalam kamar putra sulung Wisanggeni dan Rengganis, Bhadra Arsyanendra meluangkan waktu untuk berpamitan,


"Apakah aku tidak salah mendengarnya Raden.. benarkah apa yang Raden katakan..?" merasa kurang yakin dengan apa yang didengarnya, Chakra Ashanka memeprtegas pertanyaannya.


Bhadra Arsyanendra tersenyum menatap Chakra Ashanka, kemudian anak muda itu menganggukkan kepala dengan mantap. Anak muda itu sangat pandai menyembunyikan perasaan kecewanya melihat Parvati sudah memutuskan untuk bersama-sama dengan laki-laki muda yang belum lama dikenalnya.


"Tidak kang Ashan.. semalam sudah cukup untukku berpikir, jika aku harus menetapkan langkah, dan bisa membedakan mana yang benar, dan mana yang tidak. Kebersamaan dengan keluarga kang Ashan, dengan paman Wisanggeni serta bibi Rengganis membantuku untuk bertumbuh, dan meningkatkan kematangan dalam berpikir. Rakyat kerajaan logandheng menungguku kakang.. masih banyak yang harus ditata dan dibenahi. Karena adanya perang beberapa waktu terakhir, ternyata membawa kesengsaraan yang cukup terasa di warga masyarakat kelas bawah." sambil tersenyum, Bhadra Arsyanendra terlihat meyakinkan Chakra Ashanka,


Chakra Ashanka terkejut, dalam waktu semalam saja anak muda itu merasa tidak mengenali laki-laki muda yang ada di depannya. Dengan cepat kedewasaan dan kematangan berpikir menghampiri Bhadra Arsyanendra, yang menandakan jika anak muda itu sudah bisa untuk dilepaskan dan ditinggalkan sendiri.


"Syukurlah Raden.. sepertinya aku kehilangan banyak hal tentangmu. Banyak tahapan dan proses yang tidak dapat aku ikuti dan saksikan, ternyata kamu sudah mulai bertumbuh Raden. Aku sampai tidak dapat mengenalimu lagi.." Chakra Ashanka kemudian berdiri dan menghampiri Bahdra Arsyanendra untuk memberinya pelukan.


Beberapa saat kedua anak muda itu berpelukan, kemudian setelah menepuk punggung Bhadra Arsyanendra tiga kali, akhirnya Chakra Ashanka melepaskannya kembali.


"Jangan lupa untuk kembali ke kerajaan Logandheng kang Ashan.. AKu dan juga rakyat kerajaan masih membutuhkanmu, dan selalu menantikanmu kembali ke kerajaan.." Bhadra Arsyanendra memandang mata Chakra Ashanka.

__ADS_1


"Raden.. sepertinya dalam waktu yang cepat, aku tidak mudah untuk bisa kembali ke kerajaan Logandheng. Masih ada tanggung jawabku untuk mengantar ayahnda dan ibunda ke tempat Ki Bawono.. dan juga mengantar mereka berdua untuk kembali ke padhepokan Gunung Jambu,. Apalagi untuk saat ini.. Nimas Parvati sudah menemukan guru, sehingga gadis itu tidak semudah dulu untuk mengatur waktunya.." Chakra Ashanka menyampaikan kembali uneg-unegnya.


Mendengar Chakra Ashanka menyebut nama Parvati, ada sedikit kekecewaan yang melintas di hati Bhadra Arsyanendra. Tetapi anak muda itu segera menepis kembali, dan menghilangkan perasaan kehilangannya itu. Dia tidak memiliki kuasa dan kemampuan untuk memaksa gadis muda itu, untuk memilihnya.


"Baik kakang.. tidak masalah. Kita akan selalu menjadi perangkat di kerajaan logandheng, alasan apapun tidak akan aku ijinkan kang Ashan untuk melepaskan tanggung jawab itu. kerajaan Logandheng membutuhkanmu kang Ashan.. berjanjilah untuk kembali ke kerajaan." dengan mata penuh harap, Bhadra Arsyanendra meminta kesediaan Chakra Ashanka.


Akhirnya dengan sikap tak berdaya, karena merasa kasihan dengan Bhadra Arsyanendra, akhirnya Chakra Ashanka menganggukkan kepala, meskipun dengan senyum kecut.


*********


Wisanggeni dan Rengganis tersenyum melihat kedatangan putrinya Parvati dengan didampingi Dananjaya di belakangnya, Parvati merasa heran dengan tanggapan yang diberikan oleh kedua orang tuanya, dan gadis muda itu sampai mengerenyitkan dahinya. Sedangkan Dananjaya hanya tersenyum, dan langsung menyalami tangan pasangan suami istri itu kemudian mencium punggung tangannya.


"Nimas Parvati putriku.. kamu ini terlahir perempuan sayang. Janganlah bersikap terlalu galak pada laki-laki lain, apalagi berasal dari luar padhepokan kita.." dengan lembut, Rengganis menegur sikap putrinya itu.


"Kok bunda malah membela kak Danan.. kan kang Danan yang salah bunda.." Parvati merasa kesal dengan kata-kata yang diucapkan ibundanya.


"Mmmm Parvati putra ayahnda.. bisa tidak senyumnya terbit dulu ketika berbicara dengan kedua orang tua.." tiba-tiba Wisanggeni yang sejak tadi diam, memberi arahan pada putrinya.

__ADS_1


Dengan manja, begitu mendengar perkataan ayahndanya, senyuman Parvati muncul. Laki-laki itu kemudian mendudukkan putrinya di sampingnya. Dengan menggunakan tangannya, Wisanggeni meminta Dananjaya untuk duduk di depan mereka.


"Terima kasih paman.. Maafkan Danan.. paman.., bibi.. karena belum bisa. dan belum tahu cara yang ampuh untuk melunakkan hati Nimas Parvati.." tiba-tiba sambil tersenyum, Dananjaya berbicara pada kedua orang tua Parvati.


Mendengar gaya akrab yang ditunjukkan  Dananjaya pada kedua orang tuanya, membuah Parvati bingung. Gadis muda itu segera menatap wajah ayahnda dan ibundanya secara bergantian, kemudian beralaih menatap pada wajah Dananjaya.


"Tidak perlu risau nak mas Dananjaya.. seiring perjalanan waktu kalian akan saling bisa memadukan perasaan dan hati kalian. Putriku ini memang sering bersikap ketus, tapi sebenarnya hati Parvati ini lembut, selembut sutra nak mas.." Rengganis memberikan tanggapan pada perkataan Dananjaya.


"Ha.. ha.. ha.., bekerja keraslah nak mas Dananjaya. Kebetulan paman dulu tidak pernah berusaha mengambil hati perempuan, malah para perempuanlah yang mencoba mengambil hati paman. Jadi paman tidak bisa memberi tahu cara bagaimana melunakkan hati putri paman ini.." Wisanggeni turut menimpali.


Parvati mencoba mengambil dan menarik benang merah dari keakraban Dananjaya dengan kedua orang tuanya. Gadis muda itu kemudian menatap wajah ayahndanya Wisanggeni tanpa berkedip.


"kenapa Nimas.. benar yang ada dalam pikiranmu putriku.. Ayahnda dan ibunda merestui hubungan kalian. Sebelum nak mas Dananjaya memutuskan untuk mengatakan perasaannya kepadamu, nan Danan sudah meminta ijin pada ayahnda dan ibunda. Semua ayah dan bunda kembalikan kepada pilihanmu sendiri Nimas.. Namun karena ayahnda dan ibunda melihat kedatanganmu ke tempat ini, didampingi oleh nan Danan.. sepertinya keinginan nalk Danan sudah terpenuhi.." tiba-tiba Wisanggeni menjelaskan apa yang terjadi.


Mendengar hal itu, Parvati menutup wajahnya merasa malu. Dananjaya hanya tersenyum, kemudian mengusap punggung gadis yang sudah menyetujui ajakannya itu, untuk lebih dekat dalam menjalin hubungan.


"Tidak kusangka, putriku sudah dewasa.." gumam Rengganis pelan,

__ADS_1


*********


__ADS_2