
Setelah beberapa saat berada di udara, akhirnya Singa Ulung mulai menutup kepakan sayap. Binatang itu menukik turun, dan menurunkan Wisanggeni ke tempat yang diminta oleh laki-laki itu.
"Hop.." setelah binatang itu meletakkan kaki di atas batu pipih, Wisanggeni segera melompat turun dengan cepat. Senyuman Wisanggeni muncul kembali, ketika melihat pemandangan di bawah sana. Tampak warna hijau yang hanya dapat di lihat dari atas, bahkan letak tebing dan sungai tempatnya beristirahat beberapa waktu lalu, juga tidak dapat dia temukan dari puncak gunung ini.
"Ulung.., sepertinya kali ini tapa brataku akan sangat menyenangkan. Tatkala aku membuka mata, tampak keindahan lukisan Hyang Widhi yang tidak ada tandingannya." Wisanggeni mengajak bicara Singa Ulung.
"Auuuuummm." tetapi rupanya pemikiran Wisanggeni tidak sependapat dengan pikiran binatang itu. Dalam pemikiran Singa Ulung, tempaan dan godaan yang akan diderita Wisanggeni akan sangat berat. Dengan melakukan tapa brata di tempat terbuka, bukan hanya angin yang akan menyerangnya, tetapi juga akan sulit menghadapi cuaca yang bisa sangat ekstrim di tempat itu. Sedikitpun tidak ada naungan yang melindungi Wisanggeni dari panas dan hujan.
"Tidak perlu kamu terlalu mengkhawatirkan aku Ulung.. Aku ingin segera melewati tapa brata ini, agar aku bisa segera kembali, berkumpul bersama dengan Nimas Rengganis dan Chakra Ashanka." Wisanggeni mencoba menenangkan binatang itu. Melihat kebulatan tekad yang ditunjukkan oleh laki-laki itu, SInga Ulung segera memundurkan badannya. Saat laki-laki itu melakukan tapa brata, maka binatang itu akan mengambil alih tugas untuk menjaga keselamatan mereka di tempat itu...
Wisanggeni tersenyum melihat binatang itu berjalan mundur meninggalkan dirinya, hanya yang membuatnya heran. Singa Ulung tidak merubah dirinya menjadi seekor kucing imut menggemaskan, tetapi tetap berada dalam wujud seekor binatang singa. Tetapi mengingat tujuan binatang itu, Wisanggeni sama sekali tidak keberatan dan tidak bertanya pada binatang itu. Melihat tubuh Wisanggeni yang perlahan menjauh, Wisanggeni mengambil nafas dan mengeluarkan kembali.
__ADS_1
Laki-laki itu kemudian berjalan, dan setelah berada tepat di tengah batu pipih tersebut, Wisanggeni menurunkan badannya kemudian duduk pada posisi tersebut. Tidak mau membuang-buang waktu, karena rasa rindunya ingin segera menemui istri dan putranya, Wisanggeni segera duduk bersila. Kedua tangannya diletakkan di kedua lutut kiri dan kanan, perlahan laki-laki itu mengambil nafas dalam dan perlahan mengeluarkannya kembali. Wisanggeni mengulang-ulang tindakan itu sampai sepuluh kali, dan setelah hembusan panjang terakhir laki-laki itu mulai memejamkan matanya perlahan. Konsentrasi dan fokus sudah mulai memasuki jiwa dan raga laki-laki itu, untuk sebuah tekad mulia menyiapkan kelahiran putra dari istrinya Maharani.
Siang berlalu dengan cepat, dan malam mulai menutup jagad raya. Angin kencang bertiup ke arah Wisanggeni, dan seakan mengelilinginya, tetapi sedikitpun laki-laki itu tidak tergoda. Hal itu berlangsung secara terus menerus...
"Hatchi.." terdengar suara bersin keluar dari mulut laki-laki itu. Wisanggeni bisa menahan godaan itu, tetapi kondisi fisik tubuhnya perlahan menyesuaikan diri dengan serangan angin dan udara itu. Beberapa saat serangan angin dan udara itu berlangsung, dan saat mendekati tengah malam, gulungan kabut turun bercampur dengan percikan-percikan air menyelimuti tubuh Wisanggeni.
Dari kejauhan, mata Singa Ulung memicing melihat godaan alam yang menyelimuti Wiisanggeni. Tetapi binatang itu tidak bisa melakukan apa-apa, karena melewati tahapan godaan juga menjadi awal dari proses untuk mencapai tujuan dari laki-laki itu.
"Auuuuummmm.." suara auman Singa Ulung terdengar, seakan memberi tahu alam semesta tentang kekuasaannya di wilayah itu.
**********
__ADS_1
Sebagai seorang laki-laki yang sudah lama tidak melakukan sentuhan dengan kulit perempuan, seketika kulit-kulit Wisanggeni menunjukkan reaksinya. Bulu kuduknya serasa berdiri, dan kulitnya merasa merinding. Tetapi mengingat tujuan akhir yang ingin dia capai di tempat itu, Wisanggeni mengambil nafas panjang dan mengeluarkannya lagi secara perlahan. Melihat laki-laki itu tidak bergeming dengan godaannya, tingkah perempuan itu semakin menjadi.
"Wisanggeni..\, mari kita nikmati malam ini... Hanya kita berdua\, dan untuk kita Wisanggeni." suara mende***sah yang membangkitkan naf**su ga**irah laki-laki terdengar menari-nari di telinga laki-laki itu. Wisanggeni tetap bertahan\, bahkan laki-laki itu sedikitpun tidak berani untuk membuka matanya. Berbulan-bulan tidak menyentuh kulit istri-istrinya\, godaan kali ini terasa sangat berat bagi laki-laki itu. Tatkala semangatnya mulai luntur karena tidak tahan dengan de**sahan dan godaan dari perempuan itu\, Wisanggeni selalu mengingat akan tujuan utamanya.
"Wisang..., akkhhh..., datanglah padaku Wisang.., kita nikmati malam ini. Menarilah denganku Wisang..." selesai perempuan itu berbicara, suara gemerincing alunan musik terdengar menggelitik telinga Wisanggeni. Kembali laki-laki itu mengambil nafas panjang, saat ini betul-betul dia merasa tersiksa. Di malam dingin dengan tiupan angin kencang, kabut yang menggulung, godaan panas dari perempuan ada di depannya. Sesuatu dalam perutnya mengalir deras, serasa meluap ingin dimuntahkan segera.
"Bertahanlah Wisanggeni..., semua itu hanya semu dan fatamorgana. Kendalikan dirimu.., semua demi keturunanmu!" suara batin Wisanggeni terus memberinya semangat untuk bertahan.
"Ayo Wisanggeni lakukanlah.., hanya sebentar saja. Kamu akan bisa mengulangi lagi tapa brata ini, hanya lima hari Wisang, itu waktu yang sangat pendek." terdengar suara hati yang lain menyemangatinya untuk tidak meninggalkan kesempatan ini.
Suara hati yang terus berlawanan seakan memenuhi pikiran laki-laki itu. Perempuan itu semakin menunjukkan keberaniannya, kulitnya yang hangat menempel di punggung laki-laki itu. Tangannya membelai semua bagian tubuh Wisanggeni, tetapi laki-laki itu tetap berusaha bertahan. Wisanggeni mati-matian menekan hawa naf**sunya untuk tidak tertarik dengan godaan sesaat itu. Untuk mengurangi godaan itu, Wisanggeni mengeluarkan aura batinnya dan mengalir deras membanjiri setiap inchi kulitnya.
__ADS_1
Kulit Wisanggeni yang sebelumnya terasa dingin menggigil, tiba-tiba terasa hangat, kemudian meningkat menjadi terasa sangat panas di kulit perempuan itu. Tiba-tiba perempuan yang semula seperti menempel di kulit Wisanggeni, merasa kaget dan tersentak. Perempuan itu merasa kepanasan, dengan cepat perempuan itu menghilang dan meninggalkan Wisanggeni. Suasana kembali menjadi sepi, hanya suara binatang malam yang terdengar di tempat itu. Perlahan Wisanggeni menarik kembali aura batin dan kekuatannya, karena dia sendiri merasa kepanasan dengan suhu tubuhnya itu, Sampai pagi hari datang.., Wisanggeni dapat melalui tapa brata malam itu dengan tenang.
**********