
Di perbukitan Gunung Jambu
Terlihat Achala berlarian dan terkadang mengikuti gerakan-gerakan murid padhepokan yang sedang berlatih ilmu kanuragan. Dari kejauhan.., Larasati tersenyum gemas melihat putra laki-lakinya yang sudah semakin tumbuh besar. Di sudut lain, terlihat Kinara yang sedang duduk melamun memikirkan Wijanarko suaminya. Sudah hitungan tahun.., dia bertahan di pesanggrahan untuk menunggu suaminya kembali. Tetapi sampai lelah menanti.., kabarnyapun bahkan tidak pernah lagi perempuan itu dengar.
"Haruskah aku bertahan di tempat sunyi seperti ini, tanpa aku melakukan kegiatan apapun?" Kinara berbisik pada dirinya sendiri. Perempuan itu teringat semua aktivitas dan kesibukan, sebelum dia memutuskan untuk mengikuti Wijanarko untuk datang kesini. Tetapi meskipun waktunya selalu diwarnai kesibukan.., dia masih merasakan satu kesepian, dan ada yang merasa belum ditemukan dalam hatinya.
"Sepertinya tak ada bedanya antara diriku yang dulu dengan keadaanku yang sekarang. Ataukah memang garis hidupku yang harus berlaku seperti ini." pikirnya lagi.
"Kinara.., apa yang kamu pikirkan sendirian disini?" tiba-tiba Larasati sudah berdiri di belakangnya. Dengan agak tergugup, Kinara tersenyum masam.
"Bolehkah aku duduk di sisimu Kinar.., sambil mengawasi Achala dari sini?" Larasati meminta ijin.
"Silakan Laras.., apakah sudah selesai melakukan pengecekan di dapur. Dan adakah kabar dari para penjaga yang sedang bertugas di tapal batas?" Kinara menggeser tempat duduknya, perempuan itu memberi tempat untuk Larasati agar bisa duduk di sisinya.
"Kita tidak perlu menutupi apa yang kita rasakan Kinara.. Tanggung jawab untuk mengawasi dan mengendalikan pesanggrahan dan padhepokan ini terasa berat bagiku. Tetapi amanah yang ditinggalkan para sesepuh, dan juga Kang Lindhuaji suamiku.., terasa berat untuk dapat aku tinggalkan. Akhirnya dengan berat hati.., aku memutuskan untuk tetap bertahan. Bagaimana perasaanmu Kinar.., apakah yang kamu rasakan?" dengan caranya, Larasati menanyakan perasaan Kinara.
"Sangat berat bagiku Laras.. Setiap hari, setiap malam.. pikiranku terpatri akan kabar dari suamiku Kang Wijanarko. Sudah hitungan tahun kita dipisahkan.., dan hanya beberapa hari kami disatukan Laras. Saat ini.., apa yang bisa kita lakukan. Aku merasa terpenjara disini.., sepertinya aku memiliki keinginan untuk mencari dan menyusul dimana kang Wijanarko berada." Kinara mengungkapkan apa yang dia rasakan, perlahan perempuan itu menyandarkan kepalanya di bahu Larasati.
__ADS_1
Larasati tersenyum.., kemudian pandangannya jauh ke depan. Dia melihat bagaimana lucunya Achala sedang memperagakan kuda-kuda. Kehadiran anak laki-laki itu.., sering membuat gemas dan harapannya bangkit kembali.
"Kinar.., jika kamu ingin pergi.. pergilah. Aku tidak akan melarangmu.., kamu masih muda., jangka waktumu masih panjang. Pergilah Kinar..., jika masih ada keinginan yang ingin kamu raih.., kejarlah!" tanpa Kinara duga.., Larasati mengijinkannya untuk meninggalkan pesanggrahan ini. Kinara mengangkat kepalanya, dia melihat ke mata Larasati. Dia menemukan ketegaran di mata perempuan itu.
"Jangan pedulikan aku Kinara.., aku masih memiliki harapan kembalinya kang Aji kesini untuk menjemputku. Tidak adanya kabar tentang perlakuan kesewenang-wenangan, dari Gerombolan Alap-alap akhir-akhir ini, memberi firasat padaku jika suami-suami kita sudah berhasil menumpasnya. Aku akan bertahan disini untuk menunggu beritanya.., bahkan meskipun beritanya itu tidak sejalan dengan apa yang kuinginkan." Larasati menambahkan.
"Larasati.., perkataanmu membuka mataku. Kita mungkin dapat mencoba untuk sebentar meninggalkan pesanggrahan ini.., dan kemudian tetap menjadikan tempat ini sebagai rumah kita untuk kembali. Aku tidak akan membiarkanmu disini sendiri Laras.., aku hanya ingin berkembang. Dan akan aku coba dengan wilayah di sekitar tapal batas.." melihat bagaimana Larasati tetap teguh hatinya untuk menunggu di pesanggrahan, menyadarkan Kinara akan posisi mereka.
************
"Paman Narendra.., tempat ini merupakan persimpangan antar desa dan jalan utama untuk menuju kota terdekat. Banyak orang yang melewati dan mampir meskipun hanya untuk duduk beristirahat." Kinara mengajak Ki Narendra bertukar pikiran.
"Maksud Nimas..? Apakah Nimas ingin menjadikan tempat ini sebagai tempat persinggahan?" sebagai orang yang sudah hidup lama, dengan cepat Ki Narendra menangkap maksud yang ingin disampaikan Kinara.
"Betul sekali paman.., kita bisa mendapatkan tambahan koin untuk operasional di pesanggrahan. Puluhan orang masih tertinggal di pesanggrahan.., kita tidak bisa hanya mengandalkan dari gudang penyimpanan Paman. Kita harus mengembangkan diri paman.., dengan kita membuat kedai makanan bahkan penginapan sederhana untuk menambah pemasukan pesanggrahan." Kinara tidak berputar-putar.., perempuan itu langsung menyampaikan pikirannya.
Ki Narendra terdiam untuk beberapa saat.., tetapi laki-laki tua itu kemudian mengambil nafas dalam.
__ADS_1
"Sebenarnya paman tidak ada urusan dengan kelangsungan Pesanggrahan Nimas.., karena keberadaan Paman dan Asoka disini hanya untuk menjalankan perintah dari Nimas Rengganis. Tetapi lama kami bergaul dengan kalian, membuat munculnya rasa keterikatan dengan pesanggrahan ini. Apalagi dari laporan orang-orang Jagadklana.., Trah kami saat ini sedang mengalami pemberontakan dari Laksito. Kami membutuhkan tempat dan dukungan sumber daya untuk merebut kehormatan Trah kami..." Ki Narendra menerawang, bibir tuanya tersenyum kecut.
"Berarti paman membutuhkan tempat untuk membangun kekuatan kan.., juga diperlukan harta untuk menggerakkannya. Kenapa kita tidak memadukan masing-masing kepentingan paman.., bersama kita kembangkan daerah ini. Kemudian bersama pula kita ambil kembali marwah Trah Jagadklana." Kinara mengusulkan sebuah gagasan, dengan mengerjakan satu.., akhirnya beberapa tujuan akan dapat terselesaikan sekaligus.
"Benar juga apa yang kamu katakan Nimas.., mungkin secepatnya diadakan urun rembuk di pesanggrahan. Kita akan bisa mengetahui apa ketrampilan atau kemampuan tambahan dari orang-orang kita, selain ilmu kanuragan. Aku akan membicarakannya pada orang-orang yang bertugas di tapal batas, mereka akan memperlancar gagasan ini." Ki Narendra menambahkan.
"Baiklah paman.., secepatnya Kinara akan mengajak Nimas Larasati untuk membicarakan hal ini. Meskipun para sesepuh meninggalkan tempat ini, kita juga tidak bisa hanya membiarkannya begitu saja. Kita harus turut meramaikan atau membuat tempat ini menjadi lebih besar." Kinara kemudian berpamitan dengan Ki Narendra. Perempuan muda itu kembali ke dalam perbukitan untuk menuju pesanggrahan.
************
Setelah membicarakan secara perorangan dengan beberapa orang yang ada di perbukitan Gunung Jambu, akhirnya Larasati dan Kinara mengumpulkan semua orang untuk diajak membicarakan tentang rencana lanjutan.
"Jadi yang tadi disampaikan oleh Nimas Larasati adalah hal yang harus segera kita persiapkan bersama. Buatlah kelompok dengan anggota lima orang.., kemudian kita buat penjadwalan dan berbagi tugas untuk bergantian mengerjakannya. Dari pergantian semua tugas, kita juga akan dapat menemukan sebenarnya ada dimana kemampuan kita." lama bergabung dengan Aula Obat.., Kinara memiliki dasar-dasar untuk mengembangkan sebuah usaha perdagangan.
"Aku pilih Naradha untuk memimpin pembagian kelompok di antara kalian. Nanti malam, nama kelompok dan anggotanya, kami harap sudah diserahkan kepada kami. Besok pagi kita akan segera memulai usaha kita.." Larasati bergerak cepat dan sudah memilih orang untuk memimpin pemilihan kelompok.
**************
__ADS_1