
Rengganis terkejut melihat kedatangan putra laki-lakinya dari kerajaan Logandheng. Perempuan muda itu tergopoh-gopoh menyambut Chakra Ashanka dan segera mengajaknya masuk ke dalam. Tanpa sadar, Bhadra Arsyanendra mengikuti kedua orang itu di belakangnya.
"Ratih.., bantu ibunda untuk menyiapkan minuman dan kudapan untuk Ashan dan Raden Bhadra ya.." melihat keberadaan Sekar ratih di belakang kedua anak muda itu, Rengganis memberi perintah pada gadis kecil itu.
"Baik Bibi..., Ratih akan segera menyiapkannya." Sekar Ratih bergegas meninggalkan mereka untuk menuju ke dapur.
Rengganis segera meminta Chakra Ashanka dan Bhadra Arsyanendra untuk turut duduk di kursi. Ibunda dan putra laki-lakinya itu berpelukan erat, menumpahkan rasa rindu setelah sekian lama tidak bertemu. Terlihat tatapan rasa ingin di mata Bhadra Arsyanendra, melihat bagaimana dekatnya hubungan antara kedua orang yang masih berdiri di dekatnya itu. Beberapa saat kemudian, Rengganis dan Chakra Ashanka melepaskan pelukan, mereka kemudian duduk dan diikuti dengan Bhadra Arsyanendra.
"Bagaimana keadaanmu Raden Bhadra.., aku pikir kamu tidak akan kembali lagi ke perguruan ini. Keluargamu yang masih tersisa, akan menahanmu untuk tetap berada di kerajaan Logandheng." dengan ramah, Rengganis bertanya tentang keadaan Bhadra Arsyanendra.
"Tidak Bibi.., di perguruan Gunung Jambu inilah keluargaku. Di tempat ini aku menemukan kedamaian, rasa kekeluargaan, dan semua tidak menganggapku istimewa. Semua memperlakukanku sama, dan di tempat inilah Bhadra merasa nyaman dan senang memiliki teman untuk berdiskusi yaitu kakangmas Chakra Ashanka. Ijin untuk Bhadra dapat menikmati semua perasaan ini Bibi.." tidak diduga, Bhadra Arsyanendra mengucapkan perasaannya pada Rengganis.
"Biasa saja Raden.., tidak perlu untuk merasa sungkan, Di perguruan ini, kamu tidak akan mendapatkan kemewahan atau mendapatkan perlakuan istimewa dari orang-orang perguruan. Kamu akan mendapatkan perlakuan istimewa dari pengawal yang kamu bawa sendiri, Anggaplah kami juga keluargamu, jika kamu mau memperlakukan kami seperti itu." dengan senyuman, Rengganis menanggapi perkataan anak muda itu.
"Dengan sangat senang hati Bibi.., Bhadra sangat berterima kasih karena semua orang di perguruan ini dapat menerimaku dengan baik. Tidak ada syak wasangka, tidak ada harapan untuk mendapatkan balasan, semua orang disini tulus memberikannya. Bhadra betul-betul harus banyak bersyukur atas karunia ini. Terima kasih Bibi.., terima kasih kakangmas Ashan,.." tidak diduga, bocah laki-laki itu mencium punggung tangan Rengganis.
__ADS_1
Menunjukkan jati diri sebagai seorang ibu, Rengganis mengusap lembut kepala Bhadra Arsyanendra, kemudian menepuk pelan punggung bocah laki-laki itu. Seperti merasakan kembali ketika ibundanya memperlakukan hal yang sama, bocah laki-laki itu memejamkan mata, seakan meresapi semua perlakuan yang diberikan oleh Rengganis. Beberapa saat ketiga orang itu tenggelam dalam perasaan haru. Dari pintu masuk, kedua pengawal Bhadra Arsyanendra hanya melihat pangeran mereka dengan penuh keharuan.
Tidak berapa lama, terlihat Sekar ratih datang dengan membawa beberapa cangkir minuman beserta kendi bersamanya. Tampak juga beberapa kudapan yang masih mengepulkan asap panas, sudah tersaji di atas piring melengkapi cangkir dan kendi tersebut. Perlahan, gadis kecil itu meletakkan nampan di atas meja. Dengan dibantu Chakra Ashanka, gadis kecil itu meletakkan cangkir dan kudapan di atas meja.
"Kesini Ratih.., kamu bisa duduk disamping Bibi.. AKu tahu.., kamu pasti sudah merindukan kehadiran Chakra Ashanka selama ini. Bibi selalu mengamati sikap dan perubahan hatimu Ratih.." seperti bisa menebak perasaan Sekar ratih, Rengganis mengajak gadis kecil itu untuk bergabung dan duduk dengannya.
"Ah Bibi bisa saja.." ucap Sekar ratih, dengan semburat pink terlihat di pipinya yang putih.
"Uhuk.. ehm.." Bhadra Arsyanendra pura-pura terbatuk, untuk memberi isyarat pada Chakra Ashanka. Tetapi anak muda putra Wisanggeni dan Rengganis sedikitpun tidak menanggapi hal itu.
******
Setelah hanya berkesempatan berdua dengan Rengganis, akhirnya Chakra Ashanka menceritakan kejadian yang dia alami saat berada di kerajaan Logandheng. Termasuk keinginan Bhadra Arsyanendra yang memaksanya untuk menduduki posisi sebagai Patih kerajaan tersebut. Mendengarkan cerita putranya itu, Rengganis terdiam. Selama ini, dirinya dan Wisanggeni seperti sudah melupakan keinginan duniawi, keinginan akan harta dan sejenisnya. Hidup dengan kecukupan, dapat membantu orang lain sudah merasakan suatu kebahagiaan yang sebenarnya. Kali ini, di depannya putranya Chakra Ashanka yang masih sangat muda, sudah mendapatkan godaan untuk menikmati keduniawian.
"Ibunda.., Ashan harap masalah ini tidak menambah beban pikiran ibunda. Ashan sudah berusaha untuk menolaknya bunda, tetapi Raden Bhadra tidak memberikan Ashan kesempatan untuk menolaknya. Ayahnda dan ibunda tidak pernah mengasuh Ashan dan menyiapkan Ashan sebagai seorang pamong praja. Ashan juga tidak siap ibunda.." Chakra Ashanka merasa khawatir melihat kediaman putra laki-lakinya,
__ADS_1
"Putraku Ashan..., ibunda berpesan. Jangan pernah menjadikan ayahnda dan ibunda sebagai tolok ukur keberhasilanmu putraku. Kita berasal dari dua generasi yang berbeda, dan untuk masalah ini, bunda tidak berani untuk berbicara banyak. Ayahndamu yang dapat memberikan pertimbangan yang akan berdampak baik untukmu putraku. Hanya saja.., ibunda selalu berpesan kepadamu. Jangan mudah untuk tersilaukan, tersilapkan oleh gemerlapnya dunia. Karena apa, semua itu hanya bersifat sementara.." perempuan itu memberikan nasehat pada putranya.
Chakra Ashanka terdiam, anak muda itu menyerap kata demi kata yang disampaikan oleh ibundanya.
"Apakah kamu memahami apa yang ibunda katakan putraku?" Rengganis bertanya pada Chakra Ashanka.
"Ashan memahami dan meresapi setiap perkataan ibunda. Semua akan Ashan sampaikan juga kepada ayahnda bunda.., dan kali ini ayah dan Nimas Parvati juga belum kembali ke perguruan ini lagi. Mereka berdua sedang melakukan perjalanan menuju kerajaan ular. Semoga keselamatan dan kesehatan selalu berada dan mengelilingi ayahnda dan Nimas Parvati." ucap Chakra Ashanka. Rengganis tersenyum mendengar harapan putranya yang terucap itu.
"Bagus putraku.., itulah yang ibunda harapkan. Jika ibunda berkata jujur, untuk ke depan, ibunda juga menginginkan putra, putri, cucu dan keturunan ibunda dan ayahnda Wisanggeni semua bisa merasakan kemakmuran, tidak kekurangan apapun, Jika kalian mau, dan menginginkan duniawi.. pergilah ke Trah Jagadklana, maka eyang kakung dan eyang putri akan dapat membantu dan memberikan untuk kalian. Demikian juga pergilah pada Eyang Mahesa.." Rengganis melanjutkan perkataannya.
"Tidak ibunda.., bersama dengan ayahnda, Nimas Parvati, dan ibunda Rengganis, Chakra Ashanka sudah harus selalu bersyukur dan merasa beruntung. Semua akan mengalir, kita hanya tinggal menikmatinya saja.." dengan sopan, dan terkesan tanpa ambisi, anak muda itu menimpali perkataan ibundanya.
Rengganis tersenyum, kemudian memberikan pelukan pada putranya itu. Setelah memperhatikan jika waktu sudah bertambah menjadi malam, perempuan itu mengambil nafas, kemudian..
"Putraku.., sejak kedatanganmu kembali ke perguruan ini, kamu belum istirahat sedikitpun sejak tadi siang. Saat ini, kita harus segera beristirahat. Akan banyak permasalahan ke depan yang harus kita hadapi di perguruan ini putraku.." Rengganis mengajak anak muda itu untuk segera pergi beristirahat.
__ADS_1
*********