Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 280 Membela Diri


__ADS_3

Mata Chakra Ashanka berkilat menatap banyak orang yang berada di depannya. Aura batin laki-laki itu mendeteksi, jika orang-orang itu memiliki kemampuan yang tinggi. Tetapi saat ini, ketiga naga kecil itu menjadi tanggung jawabnya, dan termasuk memberikan perlindungan atas keamanan binatang-binatang itu. Melihat dan mendengar bagaimana hinaan diberikan oleh orang-orang itu pada naga terbang yang berada di sisinya, muka anak muda itu menjadi merah menahan marah.


"Melihat wajah dan matamu anak muda..., sepertinya saat ini kamu sedang menahan marah. Untuk apa kamu tahan, ayo kita tuntaskan semuanya di medan pertarungan. Dengan taruhan atau imbalan bayi-bayi naga yang sudah terlahir di tempat ini. Ayolah kita berbagi, ha., ha.., ha..." ucapan kasar dilanjutkan dengan suara tawa terdengar dari mulut laki-laki yang berada di depannya itu,. Anak muda itu menoleh ke arah datangnya suara.


Chakra Ashanka memicingkan mata, laki-laki itu teringat bisa saja mereka akan memanfaatkan kelengahannya. Ketika dia pergi melayani laki-laki itu, bisa terjadi orang-orang yang lain akan merangsek masuk dan mengambil tiga bayi naga tersebut.


"Aku tidak boleh lengah. AKu harus mempersiapkan semuanya, agar semua selamat dan terlindungi." setelah berpikir, tangan Chakra Ashanka bergerak membentuk sebuah simbol. Tangannya di putarkan searah pintu masuk ke arah goa, kemudian tidak lama sebuah tirai tembus pandang tampak membungkus pintu masuk ke arah goa. Banyak aura yang dikeluarkan laki-laki itu untuk melindungi goa dari gangguan musuh. Naga terbang tidak percaya, binatang itu melihat ke wajah Chakra Ashanka dengan penuh ucapan terima kasih.


"Naga terbang.., bersiaplah!! Kamu harus memberi bantuan kepadaku.." ucap Chakra Ashanka dengan berbisik kepada binatang itu.


"Aku akui kelicikan dan ketelitianmu anak muda. Meskipun kamu jadi merepotkan orang-orangku, tetapi aku memberi pujian kepadamu. Ayo lawanlah aku...!" tiba-tiba dua orang melompat keluar, dan berdiri di hadapan Chakra Ashanka.


"Bluarrr..., clap.., clap...." tidak berpikir main-main untuk menahan kekuatannya, Chakra Ashanka mengeluarkan kepandaian yang dia punya. Anak muda ini sangat beruntung memiliki ibunda dan ayahnda seorang petarung, dimana mereka memiliki banyak taktik berperang serta ilmu kanuragan. Belum lagi garis keturunan dengan limpahan energi inti, yang diberikan oleh keturunannya di masa lalu.

__ADS_1


Kedua orang itu melompat mundur ke belakang, menghindari serangan yang dikirimkan anak muda itu. Naga terbang juga tidak kalah sibuk, binatang itu terbang dengan menyemburkan lidah api ke arah musuh yang berusaha untuk memasuki goa tempat tiga bayi naga disembunyikan Chakra Ashanka. Anak muda itu tidak berani untuk terbang menjauh dari mulut goa, meskipun dia sudah melindungi mulut goa dengan menggunakan tabir pelindung. Tetapi melihat banyaknya orang yang berada di sekitar goa mereka, anak muda itu tetap merasa khawatir.


"Apa kamu merasa memiliki dua nyawa anak muda?? Kamu bertarung melawan orang yang menyerangmu, tetapi pikiranmu tidak fokus untuk melindungi bayi-bayi naga itu. Kenapa kamu tidak berpikir untuk menyerahkan sebagian apa yang kamu pikirkan kepadaku..?" tiba-tiba muncul seseorang yang lebih tua mendekat ke arah anak muda itu.


Chakra Ashanka langsung bersiap, anak muda itu melapisi tubuhnya dengan energi inti yang diwariskan oleh leluhurnya. Menggunakan mata batin, orang yang dapat melihat anak muda itu akan merasakan dan terkagum dengan perubahannya saat ini. Tubuh Chakra Ashanka terlihat seperti terbungkus oleh sebuah lapisan yang tidak tersentuh.


"Hmm..., hebat juga ilmu yang kamu miliki anak muda. Aku semakin menjadi ingin berkenalan dan menjajal kekuatanmu padaku." laki-laki tua itu tersenyum. Tidak diduga, laki-laki itu melesat maju dan sudah berada di belakang Chakra Ashanka. Anak muda itu langsung membalikkan badannya, tetapi dia merasakan ada kiriman serangan yang mengarah kepada dirinya dari samping.


"Jika seperti ini terus, aku dan naga-naga itu semuanya akan musnah ditindas oleh mereka. Apakah aku harus menggunakan selendang titipan ibunda yang ada di kepisku...?" sambil bertarung, anak muda itu terus berpikir.


"Bluarrr..." kembali benturan energi Chakra Ashanka beradu dengan serangan yang dikeluarkan oleh laki-laki tua yang berdiri di depannya. Pertahanan kaki anak muda itu mundur beberapa langkah ke belakang, begitu juga dengan laki-laki itu. Ternyata laki-laki tua itu dirasa oleh anak muda itu, memiliki kekuatan yang sepadan dengannya.


Serangan dari belakang semakin gencar mengirimkan serangan pada anak muda itu, belum lagi ditambah dengan laki-laki tua yang ada di depannya. Naga terbang juga sudah terlihat kewalahan mengendalikan banyaknya serangan yang selalu datang silih berganti.

__ADS_1


"Srettt...," dalam keadaan lelah, tiba-tiba pundak Chakra Ashanka terserempet senjata lawan. Darah mengalir dan membasahi baju laki-laki itu. Tetapi anak muda itu mengabaikan rasa perih yang mulai menjalar di tubuhnya.


Sesaat Chakra Ashanka mundur ke belakang, tangannya merogoh ke dalam kepis dan menarik sebuah selendang yang terlipat dengan rapi di dalamnya. Meskipun belum pernah menggunakannya , tetapi alam bawah sadar laki-laki itu menyuruhnya untuk menggunakan selendang dari Rengganis. Setelah melempar satu pil obat ke dalam mulutnya, anak muda itu mengalirkan energi ke selendang yang saat ini sudah berada di tangannya.


Merasa dari arah belakang, samping dan depannya, banyak orang yang ingin menyerang, tanpa pikir panjang Chakra Ashanka mengibaskan selendang yang sudah dilapisi dengan energinya. Di luar dugaan, selendang yang semula terlihat rapi berubah bentuk menjadi seperti sebuah pedang. Selendang itu membabat habis, orang-orang yang ada di sekitarnya. Dengan memicingkan mata, Chakra Ashanka tetap menjaga pandangannya.,


Melihat beberapa orang terjatuh terkena libasan selendang di tangan anak muda itu, wajah dari beberapa orang terlihat sangat marah. Mereka tidak berpikir untuk berbicara, melainkan mengeluarkan ilmu kanuragan yang menurut mereka sangat ampuh. Baru saja Chakra Ashanka menghadapi laki-laki tua yang ada di hadapannya, tiba-tiba...


"Prang..., singkirkan tanganmu dari putraku.... bukk..." tiba-tiba Wisanggeni sudah berdiri dengan gagah di belakang anak muda itu. Laki-laki itu menghalau serangan yang akan dikirim untuk putranya dengan Rengganis. Melihat kedatangan ayahndanya tepat waktu, senyuman muncul di bibir anak muda itu. Dengan bersemangat, anak muda itu kembali menyerang laki-laki yang ada di depannya,


Tidak lama tampak Singa Ulung bergabung di medan pertarungan, dengan membawa beberapa orang yang berada pada kelompok Wisanggeni. Binatang itu mengamuk, menunjukkan cakar dan giginya ikut bergabung dalam pertarungan. Sesaat dilihat, pertarungan tampak menjadi lebih adil dengan bertambahnya orang-orang yang ada pada kubu Chakra Ashanka.


************

__ADS_1


__ADS_2