Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 226 Pengobatan


__ADS_3

Ki Mahesa membawa Rengganis dan Chakra Ashanka ke ruangan dimana Wisanggeni  diistirahatkan. Laki-laki tua itu terlihat sangat berharap, melalui kedatangan cucu dan putrinya itu akan memberi harapan kesembuhan untuk Wisanggeni. Perlahan, Ki Mahesa membuka pintu kamar untuk Wisanggeni berbaring.


"Terima kasih ayahnda.., jika Rengganis boleh tahu, sudah berapa lama Kang Wisang berbaring disini?" menatap wajah suaminya yang terlihat tidur dengan damai, Rengganis bertanya pada ayahndanya itu. Chakra Ashanka langsung mendekat ke wajah Wisanggeni, dan meskipun ayahndanya tengah berbaring, tetapi anak laki-laki itu tetap mencium tangan kanan Wisanggeni,.


"Sudah ada dua minggu, Wisanggeni berbaring seperti ini Rengganis. Ayahnda dan kedua kangmasmu juga sudah mengundang juru obat maupun tabib untuk mengupayakan Wisanggeni sembuh. Bahkan Kinara juga sudah menggunakan hubungannya untuk mendapatkan ramuan, tetapi rupanya Hyang Widhi masih berkehendak lain." dengan perasaan hancur, Ki Mahesa menceritakan upaya mereka untuk menyadarkan putra bungsu Trah Bhirawa itu.


Rengganis terdiam, tiba-tiba perempuan muda itu teringat terakhir kali Wisanggeni pingsan dalam waktu yang panjang. Suaminya pernah mengalami hal tersebut dengan kondisi yang lebih mengenaskan, ketika bertarung melawan Tumbak Seto. Kala itu Wisanggeni bisa tersadar dan seperti terlahir kembali, ketika mendapatkan perawatan dari Maharani di kerajaan kaum ular.


"Ayah.., bisakan ayahnnda meninggalkan kami bertiga disini untuk saat ini..? Kami ingin berbincang-bincang, meskipun kang Wisang belum bisa menjawab perkataan kami berdua." dengan senyum hampa, Rengganis meminta ijin pada Ki Mahesa, agar laki-laki tua itu meninggalkannya dan Chakra Ashanka di kamar tersebut.


"Hmm.., baik Rengganis, cucuku.. Ayahnda akan kembali ke bilik tempat ayahnda beristirahat. Jika kalian membutuhkan sesuatu, pukul kentongan yang tergantung di luar pintu. Orang-orang dari Trah ini akan datang kesini untuk melayanimu." Ki Mahesa segera menyanggupi permintaan Rengganis, dan segera berjalan keluar dari kamar tersebut.


"Ibunda.., sepertinya saat ini ayahnda tidak sakit, sepertinya ayahnda hanya sedang tidur bersemedi bunda.." Chakra Ashanka menyampaikan pengamatannya ketika melihat kondisi Wisanggeni.


"Iya Ashan.., sepertinya ayahndamu saat ini, sedang melanjutkan proses meditasi yang tertunda. Dengan cara seperti ini, ayahndamu dipaksa oleh keadaan untuk beristirahat." Rengganis mengusap keringat yang tampat muncul di wajah suaminya, Tangannya yang halus meraih pergelangan tangan Wisanggeni, dan melihat detak jantung suaminya sangat teratur. Tiba-tiba.., Rengganis teringat dengan esensi naga perak yang diberikan kepadanya beberapa waktu lalu. Suaminya sudah berhasil mengolah tujuh buah pil, dan dua buah sudah dikirimkan kepada Maharani, sedangkan kelima butir lainnya diserahkan kepadanya,


"Apa yang sedang ibunda pikirkan..?? Apakah bunda memiliki cara untuk membantu kesembuhan ayahnda..?" melihat Rengganis tampak berpikir serius, Chakra Ashanka bertanya kepadanya.

__ADS_1


"Bisakah kamu membantu ibunda putraku...? Ibunda bermaksud untuk memasukkan pil esensi naga perak ke tubuh ayahndamu, semoga hal itu dapat memicu pergerakan saraf-saraf di tubuhnya. Hanya cara itu yang saat ini, ibunda pikirkan." tiba-tiba Rengganis menoleh pada putranya, dan mendengar perkataan dari ibundanya, Chakra Ashanka langsung menganggukkan kepalanya.


"Katakan pada Ashan ibunda.., apa yang harus Ashan lakukan." ucap Chakra Ashanka.


Rengganis memberikan daftar barang dan ramuan yang harus disediakan oleh putranya itu, dan segera merendamnya dengan menggunakan air hangat. Setelah mengingat apa yang dikatakan Rengganis, dengan cepat Chakra Ashanka segera meminta ijin untuk mempersiapkannya. Dengan adanya Kinara di Trah Bhirawa saat ini, ramuan apapun yang harus disiapkan tidak akan jadi masalah.


**********


Setelah mendengarkan apa yang dikatakan keponakannya itu, dengan dibantu Widjanarko, Kinara membantu menyiapkan bahan-bahan ramuan yang akan direndam dengan air hangat, dan akan digunakan untuk mandi berendam. Daun wimba, jamur lingshi, parutan jahe, serai, dan adas pulowaras sudah lengkap disiapkan oleh Kinara. Aroma harum ramuan tersebut, menyeruak masuk ke indera penciuman.


"Semua yang kamu butuhkan sudah siap Ashan.., apakah kamu akan membawanya ke kamar segera?" Widjanarko bertanya pada keponakannya itu.


"Segera bawa ember kayu ini ke kamar Ashan.. Jangan khawatir, Bibi Kinar akan menyiapkan ramuan yang lain untukmu. Pergilah anak baik, anak yang berbakti.." dengan lembut, Kinara menyanggupi permintaan dari keponakannya itu. Akhirnya diiringi oleh Widjanarko, Chakra Ashanka membawa sendiri ember kayu tersebut ke kamar peristirahatan Wisanggeni dan Rengganis.


"Apa yang sedang kamu persiapkan mbakyu Kinar..?" Larasati dan Lindhu aji menghampiri Kinara, yang membereskan peralatan yang selesai digunakan. Perempuan muda itu menghentikan gerakannya, kemudian menoleh kepada pasangan suami isteri itu.


"Aku hanya membantu Chakra Ashanka menyiapkan ramuan untuk berendam Wisanggeni rayi. Sepertinya Nimas Rengganis memiliki cara untuk mendorong agar kesadaran Wisanggeni segera pulih. Sekarang aku masih harus menyiapkan ramuan untuk membuat minumannya." Kinara menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Lindhu Aji.

__ADS_1


"Hmm.., semoga saja apa yang dilakukan Nimas Rengganis ada hasilnya. Bagaimanapun mereka sudah bersama untuk sekian waktu lamanya. Sejak mereka kecil dan tumbuh besar, keduanya selalu menghabiskan waktu bersama." Lindhu aji mencoba menumbuhkan keyakinan, jika dengan cara yang diusulkan Rengganis, akan dapat mengembalikan Wisanggeni seperti semula.


"Mari mbakyu Kinar.., aku akan membantumu untuk menyiapkan ramuan yang akan diminumkan untuk Wisanggeni." Larasati menawarkan bantuan pada Kinara. Kedua perempuan itu kemudian berjalan menuju dapur, meninggalkan Lindhu Aji sendiri,


*******


Di dalam Kamar


Rengganis tersenyum melihat kedatangan Chakra Ashanka membawa ember kayu ke dalam kamar. Aroma ramuan yang kental, menyeruak masuk ke lubang hidungnya. Rengganis mengambil nafas dalam, kemudian menambahkan bubuk penyembuhan yang diambilnya dari kepis suaminya, tangannya dimasukkan untuk mengaduk ramuan tersebut.


"Ashan.., airnya sudah mulai hangat. Bantu ibunda untuk membawa ayahndamu masuk ke dalam ember kayu ini putraku.." setelah merasa jika ramuan itu siap, Rengganis meminta putranya untuk memindahkan suaminya.


"Baik Ibunda.." tanpa banyak bicara. Chakra Ashanka segera menggunakan kekuatannya, untuk mengangkat tubuh Wisanggeni, kemudian memasukkannya ke dalam ember kayu.


Begitu tubuh Wisanggeni dimasukkan, air di ember kayu tiba-tiba menggelegak dan mengeluarkan asap. Air yang tadi disentuh Rengganis dalam keadaan suam-suam kuku, saat ini air itu menggelegak seperti mendidih. Dengan pandangan khawatir, Chakra Ashanka melihat pada ibundanya.


"Tenanglah putraku.., tidak akan terjadi apa-apa dengan ayahnda. Reaksi jamur dengan bubuk penyembuhan, mengakibatkan pergolakan air. Hal itu memijat semua saraf yang ada di tubuh ayahndamu. Kita akan membiarkannya untuk beberapa saat, kemudian kita akan kembali mengangkat ayahnda dan membaringkannya kembali." untuk menenangkan putranya, Rengganis menjelaskan tentang reaksi obat tersebut.

__ADS_1


**************


__ADS_2