
Beberapa saat keenam orang itu menghabiskan waktu mengamati batu-batuan tebing yang ada di depan mereka. Wisanggeni terdiam, otaknya mencoba mengenali dan memahami bentuk dari batuan tebing yang ada disitu. Laki-laki itu berpikir, jika tebing itu membentuk sebuah bangunan. Memang akan sulit jika kita hanya mengamati menggunakan mata telanjang. Dengan mengerahkan aura kebatinan, Wisanggeni dapat mengenali bangunan di depannya itu. Tangannya meraba batuan yang ada di depannya, laki-laki itu menemukan tanda lingkaran dan anak panah ke atas.
"Apa maksud dari tanda ini?" pikir Wisanggeni sendiri. Pandangannya diurutkan ke samping, dan kembali Wisanggeni menemukan sebuah tanda anak panah ke kanan, dan sebuah kotak kecil di bawahnya. Kembali tangannya mengusap kedua tanda aneh itu, tetapi tiba-tiba..
"Grengg..., clapp.." sebuah tombak tiba-tiba melayang dan hampir mengenai tubuh Wisanggeni, untungnya dengan cepat laki-laki itu menundukkan badannya. Jika tidak tombak itu akan bisa mengenai tubuhnya.
"Ada apa Wisang.., kamu baik-baik saja..?" dengan tatapan khawatir, Sumpeno berteriak menanyakan keselamayan Wisanggeni. Laki-laki itu mengangkat tangannya dan tersenyum memberi tahu pada semua temannya jika dia baik-baik saja.
Kembali Wisanggeni mencermati bebatuan itu lagi, tetapi kali ini dia lebih hati-hati. Dia tidak bisa mengenali ada senjata rahasia apa lagi yang ditempatkan disitu, dan dia tidak mau mati sia-sia tanpa bertarung, tetapi hanya terkena serangan senjata rahasia. Tiba-tiba dibawah cekungan batu yanga da di atas, Wisanggeni menemukan sebuah gambar kotak, dan di tengahnya ada tanda anak panah. Rasa yang ada di dalam hati laki-laki itu, ingin sekali kembali mengusapnya. Tetapi mengingat tombak yang langsung meluncur terakhir kali, membuatnya lebih berhati-hati lagi.
Beberapa saat Wisanggeni mengamati gambar itu, membuat laki-laki itu semakin penasaran. Setelah membulatkan tekadnya, dan mengambil nafas panjang, kemudian mengeluarkannya lagi, Wisanggeni kembali mengamati gambar tersebut. Perlahan tangannya terarah, dan dengan meyakinkan hatinya, Wisanggeni mengusap lembut gambar tersebut. Tiba-tiba....
__ADS_1
"Grubyak... bruuk.." tanpa bisa mengendalikan dirinya, tanah di bawah kaki Wisanggeni, tiba-tiba ambrol. Laki-laki itu terhunjam masuk dan tersedot ke dalam tanah. Beberapa saat laki-laki itu terus meluncur ke bawah.., dan tidak lama kemudian tubuh Wisanggeni membentur tanah. Rasa sesak yang tiba-tiba menyergapnya, menjadikan tubuh Wisanggeni limbung, dan tiba-tiba kegelapan menyelimutinya di dalam ruangan. Laki-laki itu menjadi tidak sadarkan diri.
Tidak jauh beda dengan yang dialami Wisanggeni, kelima orang yang bersama Wisanggeni ikut tersedot masuk ke dalam tanah. Tetapi rupanya, tanah yang ada di bawah mereka seperti memiliki sekat-sekat, sehingga kelima orang itu tercerai berai dan terpisah dengan teman-temannya yang lain. Sama dengan Wisanggeni, benturan keras mereka ke bumi, menjadikan kepala mereka menjadi pusing, sehingga akhirnya mengakibatkan mereka semua mengalami pingsan.
*******
Beberapa waktu Wisanggeni pingsan, perlahan laki-laki itu tersadar dan memegangi kepalanya yang masih terasa pusing. Tangan kanannya merogoh kepis yang tergantung di dalam baju tepat melingkar di pinggang laki-laki itu. Senyuman muncul di bibir Wisanggeni, karena kepisnya masih utuh berada di tempatnya. Perlahan tangannya masuk ke dalam kepis, dan mengeluarkan Singa Ulung dan porselin berisi obat. Setelah menemukan barang yang dia cari, Wisanggeni memasukkan pil ke dalam mulutnya. Setelah beberapa saat, kehangatan mulai mengaliri aliran darahnya, dan rasa pusing perlahan mulai menghilang.
"Ulung.., apakah kamu bisa mengenali ada dimana kita..? Coba carilah sumber untuk menyalakan api, karena aku kekurangan tenaga jika harus berada di tempat yang gelap." merasa sesak di kegelapan, Wisanggeni meminta Singa Ulung untuk menyelidiki ruangan tersebut.
"Jika bukan untuk keturunanku.., aku tidak akan gila melakukan hal ini." Wisanggeni berbicara pada dirinya sendiri. Laki-laki itu mulai merindukan dan membayangkan Rengganis serta putranya Chakra Ashanka, yang berada di perguruan Gunung Jambu. Bayangan kedua orang itu memasuki alam pikirannya. Tersentak, Wisanggeni mencoba mengendalikan dirinya, dan untuk menenangkan dirinya, Wisanggeni kemudian duduk bersila, dan sesaat kemudian laki-laki itu sudah memasuki meditasi.
__ADS_1
Sejenak keheningan kembali melingkupi di dalam tanah itu, Singa Ulung masih mengendus dan matanya dengan awas menatap setiap sudut. Tiba-tiba mata binatang itu menangkap sesuatu yang menempel di bebatuan yang mengurung mereka.Singa Ulung menghentakkan kakinya dua kali ke atas tanah, tidak lama kemudian muncul sinar terang di dalam ruangan itu. Ternyata beberapa lampu sudah tertempel di sekeliling mereka, yang menandakan jika tempat itu sudah pernah ditinggali oleh seseorang. Cahaya lampu menerangi ruangan tempat mereka berada, dan ternyata ruangan itu persis sebuah kamar.
Perlahan Wisanggeni membuka matanya ketika cahaya menyilaukan matanya, dan laki-laki itu kembali memejamkan mata. Setelah beradaptasi sebentar dengan cahaya itu, Wisanggeni kembali matanya kembali. Tangannya melambai pada Singa Ulung, dan binatang itu segera mendekat pada laki-laki itu.
"Ruangan siapa ini Ulung..? Melihat perlengkapan yang terlihat lengkap, sepertinya penghuni ruangan ini bukan merupakan orang sembarangan. Kita cukup beruntung Ulung.., meskipun sedikit bersusah payah, akhirnya kita bisa memasuki ruangan ini." sambil mengusap bulu-bulu di punggung binatang itu, Wisanggeni mengajak binatang itu berbicara. Singa Ulang mengusap-usapkan bulunya di pinggang laki-laki itu.
Tiba-tiba mata Wisanggeni menatap sebuah kitab di atas rak kayu yang ada di pojok ruangan. Laki-laki itu kemudian berdiri dan berjalan menghampiri rak kayu tersebut. Tangan kanan Wisanggeni terulur ke atas, dan melihat gulungan daun lontar.
"Apa makna yang tersirat dalam gulungan lontar ini..?" gumam Wisanggeni. Perlahan kedua tangannya membuka gulungan daun lontar itu, dan mulai mempelajari isi yang tertulis di dalamnya.
" Ada adalah hampa.., dan hampa merupakan keniscayaan. Kejarlah kehampaan dengan hati yang murni dan bersih, jangan mengejar kehampaan dengan mendasarkan pada naf**su hewani. Karena hanya pepesan kosong yang akan kamu raih." Wisanggeni terkejut membaca pesan yang tertulis di dalam daun lontar itu. Perlahan laki-laki itu merenung, makna apa yang tersirat di dalam tulisan itu.
__ADS_1
Wisanggeni menoleh, dan mata laki-laki itu beradu pandang dengan mata Singa Ulung, dan terlihat binatang itu mengibas-kibaskan ekornya kemudian berjalan. Wisanggeni mengikuti langkah binatang itu, dan ternyata Singa Ulung berhenti di sebuah kotak yang terbuat dari batu. Kaki depan kanan binatang itu, digunakan untuk menendang-nendang kotak tersebut. Untungnya Wisanggeni memahami apa yang diinginkan binatang itu, perlahan Wisanggeni berjongkok dan mengusap kotak dari batu tersebut.
********