Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 397 Rasa Tidak Mau Pisah


__ADS_3

Di bawah pengawalan ketat prajurit kerajaan Logandheng, perjalanan Chakra Ashanka dan teman-temannya tidak mendapatkan hambatan yang berarti. Warga masyarakat tampak mengelu-elukan mereka di jalanan, mereka sudah mendapatkan kabar akan adanya pergantian pemimpin kerajaan dari getok tular dan kusak-kusuk yang berkembang di masyarakat. Harapan hadirnya pemimpin atau raja baru, dengan didampingi penasehat dan patih yang masih muda, membawa kabar segar pada masyarakat. meskipun mereka masih berandai-andai, dengan bagaimana kepemimpinan raja yang baru, tetapi hampir semua rakyat menginginkan adanya perubahan.


"Kakang.. apakah masih lama lagi, kita akan sampai di kota kerajaan? Sepertinya sejak tadi, masyarakat sedikit memperlambat iring-iringan kereta kencana," Sekar Ratih dengan suara pelah bertanya pada anak muda itu. Kedatangan rakyat dengan maksud memberikan sambutan akan kelewatan calon raja mereka, memang sedikit banyak sedikit menghambat laju kereta. Meskipun hanya sekedar melambaikan tangan untuk membalas sapaan mereka, kecepatan kereta kencana tetap dikurangi.


"Sabarlah Nimas.., kakang juga merasakannya. Namun kita memang sudah harus berlatih untuk membiasakan diri dengan keadaan ini. Bukankah selamanya Nimas Ratih akan tetap membersamaiku kemanapun..?" Chakra Ashanka menjawab kegusaran Sekar Ratih. Mendengar jawaban yang terdengar dari mulut anak muda itu, membuat Sekar Ratih merasa tidak nyaman. Apalagi dengan reaksi terkejut yang ditunjukkan oleh Ayodya Putri. Meskipun gadis itu menaruh rasa pada anak muda itu, namun Sekar Ratih masih mempertimbangkan, apakah rasa di hatinya hanya kekaguman terhadap laki-laki, ataukah rasa dimana dia memutuskan untuk menghabiskan waktu bersamanya.


Ayodya Putri terdiam, tatapan gadis muda itu keluar kereta menembus celah penutup kereta. Gadis itu sudah berusaha untuk tidak berpikir lebih tentang perkataan yang asal keluar dari mulut laki-laki itu, namun tetap membayang dalam pikirannya. Ayodya Putri merasa keberadaannya di dalam kereta kencana bersama kedua anak muda ini, dirinya hanya sebagai pengganggu saja.


Melihat kediaman gadis berkulit putih bersih di depannya, Chakra Ashanka mengangkat salah satu alisnya ke atas. Anak muda itu sedikit menggeser posisi duduknya untuk lebih dekat pada gadis itu.


"Nimas Putri.. apakah ada sesuatu yang mengganjal di hati Nimas.. Kakang amati sejak tadi, sepertinya Nimas Putri memiliki kegusaran atau kegelisahan. Kita ini bertiga, dan memutuskan akan bersama dalam satu tempat tinggal di kerajaan nanti. Apakah diperkenankan jika aku dan Nimas Ratih mendengar apa yang kamu gundahkan?" dengan ucapan lirih, Chakra Ashanka mencoba mencari tahu perasaan Ayodya Putri.


Dari sebelah Ayodya putri, Sekar Ratih ikut melihat dan mengamati wajah perempuan yang duduk di sebelahnya itu. Melihat Ayodya Putri tetap terdiam dan tidak menanggapi perkataan Chakra Ashanka, Sekar ratih mengambil telapak tangan gadis itu kemudian menggenggamnua erat. Kehangatan yang mengalir ke tangan Ayodya Putri rupanya menyadarkan gadis itu.

__ADS_1


"Maaf kakang Ashan.. Nimas Ratih.. aku sudah membuat kalian khawatir, dan berpikiran yang tidak-tidak tentangku." ucap Ayodya Putri lirih.


"Ceritakan Nimas.., jika kamu mau berbagi. Namun jika tidak.. sudahlah. Dan kalau perjalanan Nimas Putri mengikutiku ke kerajaan Logandheng, membuat Nimas tidak nyaman.. maka aku mengijinkan Nimas untuk kembali ke kota tempat kerajaan Nimas berasal. Dan maaf.. aku tidak bisa mengantarkanmu pulang untuk kali ini." kembali Chakra Ashanka membuat pernyataan.


"Tidak kakang.., aku merasa bergembira dan sangat berbahagia karena kakang sudah mengajak Nimas untuk ikut serta. Namun.. melihat kedekatan dan mendengar perkataan kakang untuk Nimas Ratih... aku merasa keberadaanku akan mengganggu kedekatan kalian berdua." dengan menundukkan wajah, perempuan itu berbicara lirih.


Sekar Ratih terkejut mendengarkan perkataan itu, dia yang sejak tadi merasa terbang dengan perkataan yang diucapkan oleh anak muda di depannya itu, tidak berani untuk memperjelasnya. Tetapi ternyata Ayodya putri malah ikut mendengar dan memberikan tanggapan. Sedangkan Chakra Ashanka hanya terdiam, dan anak muda itu baru tersadarkan dengan perkataan yang barusan diucapkannya di depan kedua gadis itu.


*******


Chakra Ashanka yang sudha terdiam sejak tadi, merasa tidak nyaman dengan keadaan di dalam kereta kencana. Anak muda itu merasa, jika dia harus memperjelas kata-katanya, agar kedua gadis di depannya tidak saling curiga, dan saling menuduh.


"Nimas Putri.., Nimas Ratih... sebenarnya tidak pas, jika aku menyampaikan perkataanku kepada kalian berdua. Tetapi sebelum semuanya terlanjur, dan berlarut-larut maka aku akan mengatakannya kepada kalian berdua. Sudah bisakah kalian berdua untuk menyiapkan hati mendengarkan pernyataanku?" Chakra Ashanka mengajak bicara kedua gadis di depannya itu.

__ADS_1


Sekar ratih dan Ayodya Putri saling berpandangan, kemudian keduanya menganggukkan kepala secara bersama-sama. Mereka mengarahkan tatapan mata mereka pada laki-laki yang ada di depannya itu.


"Nimas Putri... aku membawa Nimas Ratih bersamaku sejak dia masih kecil, dan aku yakin belum tahu dan mengenal kehidupan manusia dewasa. Aku menganggap gadis ini sebagai adikku semula, namun lama kelamaan.. dengan selalu seringnya kami bersama, kami berinteraksi.. ada keterkaitan di antara saya khususnya pada Nimas Putri. AKu merasa tidak bisa meninggalkan Nimas Ratih dari sisiku.." anak muda itu mengalihkan tatapan matanya, mata anak muda itu lekat menatap mata Sekar Ratih yang terlihat sangat terkejut dengan tatapan itu.


"Aku sendiri belumĀ  bisa menyimpulkan atau memaknai hal ini dengan kata "tresno" atau cinta.. Aku akan menunggu sampai rasa ini betul-betul tertanam dan terpatri dalam hatiku, baru aku akan mengungkapkan perasaanku pada Nimas Ratih. Tetapi itupun semua akan aku kembalikan pada Nimas Ratih.. apakah dia akan memutuskan untuk berada di sisiku, ataukah akan pergi meninggalkanku untuk impiannya sendiri." tanpa ada yang ditutupi, kedua gadis itu terkejut dengan kejujuran anak muda di depannya. Muka Sekar Ratih merah menahan malu, dan gadis itu menutup wajah dengan menggunakan kedua tangannya.


Ayodya Putri terdiam, dan tidak ada hentinya menatap Sekar Ratih dan Chakra Ashanka secara bergantian. Ada kekosongan dalam hatinya yang hilang, namun diapun juga tidak memiliki keberanian untuk pergi dan meninggalkan mereka berdua.


"Apakah kamu memahami apa yang aku utarakan Nimas Putri?" Chakra Ashanka bertanya pada gadis yang sejak tadi berbicara kepadanya.


"Aku akan menunggu sampai akhir nanti kakang.. Jangan paksa aku untuk pergi dari sini saat ini, dan aku juga jangan paksa aku untuk menceritakan apa yang aku rasakan saat ini." merasa bingung, dengan apa yang akan dilakukannya, dan bagaimana dengan perasaannya, Ayodya Putri meminta waktu untuk merenungi apa yang baru saja di dengarnya.


Akhirnya kembali kediaman terjadi di dalam kereta kencana. Sais kereta terus melanjutkan perjalanan, dan tanpa disadari oleh ketiga penumpang, sais sudah menghentikan kereta kencana di halaman sebuah bangunan megah di depannya.

__ADS_1


**********


__ADS_2