Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 406 Pengukuhan Raja


__ADS_3

Menggunakan kereta kencana, Chakra Ashanka dengan didampingi kedua gadis cantik bersamanya segera berangkat menuju istana kerajaan. Mereka duduk dalam kereta dalam diam, tidak ada percakapan di antara mereka. Sekar Putri dan Ayodya Putri juga mengalihkan pandangan ke arah luar kereta, tidak memperhatikan anak muda yang ada di depannya itu. Sepanjang jalan, tampak keramaian seakan warga masyarakat tahu jika akan ada perayaan di kerajaan itu. Umbul-umbul berwarna warni terpasang di sepanjang jalan, dan banyak prajurit kerajaan tampak berjaga-jaga di pinggir jalanan.


"Paman.. di sebelah mana, paman akan menurunkan kami bertiga?" dengan suara pelan, Chakra Ashanka bertanya pada paman pengemudi kereta kuda. Saat ini kereta kuda yang membawa mereka, sudah sampai di dalam regol tapal batas bangunan kraton. Tampak semakin ramai dan meriah kondisi yang ada di dalam lingkungan kraton tersebut.


"Sesuai perintah dari Pangeran Bahdra Arsyanendra Den Bagus, Pesan yang kami dapatkan, saya harus menurunkan Dem Bagus dan den ayu bertiga di depan pagelaran yang ada di sekitar Sitihinggil. Tujuannya agar Den Bagus dan Den Ayu berdua tidak merasa kelelahan ketika berjalan masuk ke dalam tempat pagelaran." sambil tetap mengekang tali kudanya, sais menanggapi pertanyaan yang diucapkan oleh Chakra Ashanka.


"Baik... terima kasih paman.." dengan singkat, Chakra Ashanka menanggapi perkataan paman pengemudi kereta kuda tersebut.


"Matur sami Den Bagus, Merupakan kebahagiaan dan kehormatan bagi saya, dapat mendampingi Den Bagus menuju ke istana kraton. Apalagi sebentar lagi, Den Bagus dan Pangeran Bhadra Arsyanendra, akan segera dilakukan upacara pengukuhan menjadi pengadeg di kerajaan ini. Akan menjadi kesempatan yang langka di masa depan, untuk mendapatkan kehormatan mengantarkan Den bagus," sais kereta kuda memberikan tanggapan.


Chakra Ashanka terdiam, anak muda itu hanya bereaksi dengan tersenyum menanggapi perkataan pengemudi tersebut. Tidak lama kemudian, sais kereta kuda menghentikan kereta kuda tepan di depan pendhopo pagelaran. Banyak orang menatap ke arah kereta tersebut, dan ketika mengetahui siapa yang duduk di dalam kereta, beberapa pengawal kerajaan segera datang menyambut kedatangan Chakra Ashanka,


"Sugeng rawuh di kraton Logandheng Den Bagus Chakra Ashanka, dan den ayu berdua.." pengawal kerajaan menyapa anak muda dan gadis muda yang berjalan bersamanya itu.

__ADS_1


Chakra Ashanka tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Satu dari pengawal membukakan jalan untuk dilewati ketiga anak muda itu, dan Chakra Ashanka segera mengikutinya. Orang-orang yang berdiri di sekitar pegelaran tampak cerah, sumingrah, Melihat anak muda itu, beberapa dari mereka menatap takjub melihat ketampanan anak muda itu. Namun ada juga beberapa dari mereka yang merasa tersaingi dengan ketampanan anak muda tersebut.


Tidak diduga, di depan mereka terlihat Bhadra Arsyanendra berdiri dengan merentangkan kedua tangannya ke kanan dan ke kiri. Anak muda itu menyambut kedatangan Chakra Ashanka dan kedua gadis muda di belakangnya. Beberapa sesepuh tampak terkejut dengan keberanian anak muda itu, yang menurut mereka masih kurang trapsilo dalam menyambut tamu kerajaan.


"Bagaimana keadaanmu kakang..., Nimas Ratih dan Nimas Putri. Nyenyak bukan istirahatnya semalam." anak muda itu membuka pembicaraan pada ketiga sahabatnya itu.


"Baik Pangeran.. duduklah, aku tidak mau menjadi sorotan kebencian banyak para sesepuh kerajaan, karena ketidak sopananmu Bhadra." sambil memeluk anak muda itu. Chakra Ashanka berbisik di telinga Bhadra Arsyanendra.


Pangeran kerajaan itu seketika baru tersadar dengan situasi dan kondisi yang ada di depannya. Tetapi karena semua sudah terlanjur, Bhadra Arsyanendra malah mengantarkan Chakra Ashanka ke tempat duduknya.


Setelah semua yang harus hadir dan menyaksikan proses pengukuhan raja dan patih sudah ada di pagelaran, pranata acara segera memulai upacara. Bau harum dupo wangi tampat semerbak memenuhi ruangan di dalam pagelaran. Para sesepuh berkumpul menjadi satu, mereka melakukan tata cara pemujaan pada Hyang Widhi diikuti oleh semua yang ada dalam ruang pagelaran tersebut.


"Pangeran Bhadra Arsyanendra dimohon kesediaan untuk maju ke depan, dan berdiri di depan raja Logandheng saat ini." begitu panggilan namanya disebut, Bhadra Arsyanendra segera bergegas maju ke depan, kemudian berdiri di tempat yang sudah disediakan untuknya.

__ADS_1


Begitu anak muda itu sudah berdiri di tempatnya, para sesepuh berjalan ke depan dengan membawa sebuah tempat berwarna kekuningan seperti warna emas berisi air dan bunga kembang setaman. Sesepuh perempuan memercik-mercikkan air ke sekujur tubuh anak muda itu, kemudian sesepuh laki-laki meniupkan dupo ke sekeliling tempat dilangsungkannya upacara. Tampak sesepuh laki-laki merapal mantera sambil mengelilingi tubuh Pangeran Bhadra Arsyanendra beberapa kali.


"Mohon perkenan raja Logandheng untuk turun dari singgasana dan berdiri di depan Pangeran Bhadra Arsyanendra." pranoto coro memanggil Raja Logandheng yang bertahta saat ini untuk turun dari kursi kebesarannya.


Dengan langkah tegap dan sedikit keragu-raguan, raja Logandheng saat ini menuruni singgasana kemudian berjalan menghampiri Bhadra Arsyanendra. Muncul keheningan di tempat itu, pandangan semua yang hadir di pagelaran terpaku pada raja Logandheng dan pewaris takhtanya. Sesepuh laki-laki yang tadi merapal mantera membungkukkan badan di depan raja Logandheng, kemudian salah satu sesepuh yang lain mengangkat mahkota di atas kepala raja Logandheng. Suasana kembali terasa hening, tidak ada yang berani membuat suara di pagelaran tersebut.


Raja Logandheng mengangkat kedua tangan dan menggenggamnya, di depan dadanya kemudian menundukkan kepala di depan Bhadra Arsyanendra. Kemudian dengan hati-hati, sesepuh mengangkat mahkota raja Logandheng di tangannya, dan memasangkannya di kepala Bhadra Arsyanendra. Suasana khusuk dan hening terasa di pagelaran itu, dan setelah para sesepuh kembali mengitari kedua orang yang menjadi pusat perhatian itu, air kembali dipercikkan kepada keduanya. Beberapa saat para sesepuh kembali mundur dengan membawa raja Logandheng yang sudah lengser, dan beberapa yang lain membawa Bhadra Arsyanendra untuk duduk di singgasana.


"Puji syukur kepada Hyang Widhi.. pengukuhan Raja Bhadra Arsyanendra sudah selesai dilakukan. Selanjutnya, mari kita lakukan sembah sungkem pada raja kerajaan Logandheng." paranoto coro menyampaikan rangkuman upacara.


Tiba-tiba di halaman depan pendhopo Sitihinggil terdengar suasana ribut. Beberapa pengawal dan prajurit berlari menuju ke tempat keributan tersebut. Namun para sesepuh mengajak semua yang masih tinggal untuk melakukan sungkem pada raja kerajaan Logandheng. Semua orang yang ada di sitihinggil tidak terkecuali, bahkan termasuk Chakra Ashanka, Sekar Ratih dan Ayodya Putri melakukan hal seperti yang diutarakan oleh pranoto coro.


"Kembalilah kalian pada posisi terakhir kalian. Apa yang terjadi di halaman, siapakah yang berani membuat kekacauan di istana kerajaan saat acara penting ini berlangsung. Aku tidak akan mengampuninya, dan bertindak tegas pada siapapun yang memiliki niat untuk mengacau." terdengar suara Raja Bhadra Arsyanendra menggema di seluruh pagelaran.

__ADS_1


"Hanya sedikit kekisruhan kanjeng SInuhun.. tapi sudah bisa diamankan oleh para prajurit kraton.." seorang sesepuh menenangkan raja Bhadra Arsyanendra.


*******


__ADS_2