
Setelah melewati rasa sakit satu hari satu malam.., menjelang dini hari akhirnya Larasati berhasil melahirkan seorang bayi laki-laki. Tampak kepuasan dan kebahagiaan di wajahnya, saat melihat bayi mungil itu menyesap air susu dari anggota tubuhnya. Sedikitpun rasa kelelahan tidak dia pedulikan.., sambil bersandar di atas dipan, Larasati menggendong bayi mungil di tangannya.
"Nimas.., istirahatlah dulu.. Sudah sejak tadi malam.., kamu belum memiliki istirahat yang cukup. Jangan khawatirkan putramu.., aku yang akan menjaganya. Sepertinya bayi ini juga sudah kenyang, jadi kamu tidak perlu untuk khawatir padanya," Kinara menghampiri Larasati, dia duduk di samping perempuan itu sambil membawa piring kecil dan cangkir berisi jamu.
"Apa ini Kinar..?" tanya Larasati saat melihat sesuatu di atas piring kecil itu.
"Ini parutan jeruk nipis yang dicampur dengan sedikit garam. Balurkan di pusarmu.., ramuan ini akan membantumu untuk menghilangkan perut kembung, dan perutmu akan segera kempis kembali." Kinara menjelaskan khasiat obat herbal yang di ramunya itu.
Larasati kemudian mengambil parutan tersebut.., kemudian membalurkan di atas pusarnya secara merata.
"Tahan sebentar ya Nimas.., jangan kamu garuk. Karena sebentar lagi, akan muncul rasa gatal yang tidak tertahan pada area perut yang kamu balur dengan parutan jeruk nipis tersebut. Dan tempelkan ramuan ini di atas keningmu.., hal ini dapat mencegahmu dari kerabunan. Agar matamu tetap awas, dan juga membantu untuk menghilangkan rasa pusing yang kerap menghantui saat para perempuan melahirkan." Kinara menjelaskan kembali manfaat jejamuan tradisional, sambil membantu menempelkan ramuan yang ditumbuk atau yang disebut sebagai PILIS, ke kening Larasati.
"Benar apa yang kamu katakan Kinar.. Belum selesai kamu menjelaskannya, perutku sudah mulai terasa gatal." ucap Larasati cengar cengir menahan rasa gatal dan perih di area perutnya.
"Tahanlah.., tidak akan lama rasa gatal itu akan segera pergi. Minumlah juga jamumu.., untuk mengembalikan organ kewanitaan perempuan yang habis melahirkan." kembali Kinara meminta Larasati melakukan banyak hal.
Istri Lindhu aji itu menuruti apa yang dikatakan Kinara, saat dia mengambil cangkir dan meminumnya, bau kuat dari ramuan herbal tercium oleh hidungnya.
"Pahit ternyata.." ucap Larasati. Dia langsung mengambil air putih untuk menetralisir rasa pahit itu.
__ADS_1
"Sudah tidurlah dulu.., biar bayi ini aku yang akan menjaganya. Aku akan menjemurnya di bawah sinar matahari pagi." Kinara segera mengambil bayi merah yang berada di pangkuan Larasati. Tatapannya tidak lepas dari bati merah yang ada di gendongannya. Larasati hanya tersenyum melihat putranya berada di dalam gendongan perempuan cantik itu.
"Bayi ini sangat imut sekali Nimas.. Akan kamu beri nama siapa bayi ini nanti..?" tanya Kinara tiba-tiba. Mendengar pertanyaan Kinara, hati Larasati menjadi teringat Lindhuaji.
"Aku akan menunggu kang Aji untuk memberi nama putraku Kinar." ucap Larasati lirih.
"Menurut pendapatku Nimas.., kita tidak pernah tahu kapan suami kita akan kembali lagi ke pesanggrahan ini. Ada dimana mereka.., kita juga tidak mengetahuinya. Menurutku.., kamu bisa memberikan nama panggilan terlebih dahulu pada bayi mungil ini. Jika ayahndanya sudah kembali, kita baru mengadakan acara untuk memberikan nama panjang untuknya." Kinara mengusulkan pendapat.
"Iya Kinar.., aku akan memikirkannya." sahut Larasati.
Kinara segera membawa bayi itu keluar dari dalam kamar.., dan Larasati perlahan mulai memejamkan matanya. Proses panjang melahirkan membuatnya kecapaian, dengan cepat perempuan itu segera tertidur pulas.
**********
"Ha.., ha..., ha.., selamat datang para pesohor dari dunia persilatan. Selamat datang di istanaku.., istana yang akan memberikan kekuasaan bagi siapapun yang mempercayainya.." terdengar suara tawa Jalak Geni.., menyambut kedatangan para sesepuh.
Merasa tidak mengenali laki-laki berjubah yang sedang berbicara.., para sesepuh saling berpandangan. Hanya Cokro Negoro yang terlihat tenang, mengamati gerak-gerik yang dilakukan Jalak Geni.
"Perhatikan langkah kalian.., simpan barang yang kalian anggap penting dalam kepis kalian. Jangan terkecoh dengan tipu muslihat dari Jalak Geni." bisik Cokro Negoro. Laki-laki tua itu kemudian berjalan lebih mendekat pada laki-laki berjubah itu.
__ADS_1
"Ternyata teman lamaku yang ikut menyambut kedatanganku disini. Apa kabarmu Cokro Negoro.., apakah kamu merindukan aku, atau mau mengajakku bergabung dengan kekuatan yang ada pada Kubah Candradimuka. Ha.., ha.., ha.., suara tawa lebar menyambut Cokro Negoro.
"Tutup mulut busukmu itu Jalak.., apakah kamu berpikir aku tertarik dengan ilmu hitammu itu! Hentikan perbuatan kotormu itu manusia laknat.., hentikan tindakan kesewenang-wenanganmu!" Cokro Negoro menanggapi perkataan Jalak Geni.
"Ha.., ha.., ha..., apa yang kamu bicarakan saudaraku?? Aku sudah mengumpulkan hampir semua bagian dari batu identitas.., hanya kurang dua bati identitas yang akan mengantarkan aku menjadi penguasa dunia ini." Jalak Geni menjawab.
"Omong kosong.., kamu cepat terbuai dengan perkataan bohong orang-orang itu. Segeralah bertobat.., ikutlah kembali denganku. Kita akan bersama-sama mengembalikan kedamaian di muka bumi ini." Cokro Negoro berusaha menyadarkan Jalak Geni.
"Ha.., ha..., ha..., kumpulan manusia-manusia lemah. Enyahlah dari bumiku... Clethak..., blarrr....!" Jalak Geni menyambar seorang perempuan yang disiapkan anak buahnya untuk tumbal pemujaan ke dalam kubah, suara ledakanĀ dari arah Kubah Candradimuka terdengar membahana. Mata Jalak Geni tampak memindai barang bawaan yang dibawa para sesepuh, tetapi dia merasa belum menemukan sesuatu yang dicarinya.
"Dasar manusia laknat kamu Jalak Geni... Hentikan perbuatan terkutukmu itu!" teriakan disertai umpatan Cokro Negoro banter terdengar. Beberapa anak buah Jalak Geni yang terdiri dari para pemimpin Klan maupun Trah berkumpul mengelilingi para sesepuh yang dibawa Cokro Negoro.
Cokro Negoro kemudian duduk bersila di halaman.., kedua matanya terpejam. Jari tangannya membentuk simbol, dan saat Jalak Geni akan mengirimkan serangan pada guru Wisanggeni itu, Sasmita dan Mahesa langsung membuat benteng untuk melindungi Cokro Negoro.
"Minggir dari tubuh Cokro Negoro.., hal bodoh apa yang kalian lakukan?" teriak Jalak Geni yang langsung terbang ke atas. Beberapa sesepuh termasuk Ki Brahmono dan Wijanarko ikut bergabung melindungi Cokro Negoro.
"Blegarrr...., duarrr..." terdengar suara ledakan dari dalam Kubah Candradimuka. Secepat kilat, Jalak Geni melayang terbangĀ dan akan menuju ke tengah susunan formasi batu identitas itu.
"Hentikan laki-laki berjubah itu, Jangan beri kesempatan padanya untuk menyatukan dirinya dengan formasi batu identitas. Jika laki-laki itu berhasil menyerap kekuatan roh langit, maka semua manusia di muka bumi ini akan celaka." teriak Sasmita mengingatkan teman-temannya.
__ADS_1
"Baik.., aku akan menghalanginya." teriak Brahmono. Laki-laki pemimpin Klan Suroloyo itu langsung mengirimkan serangan untuk menghambat Jalak Geni.
***************