
Beberapa purnama kemudian..
Ketiga anak muda teman Chakra Ashanka terlihat sedang mendapatkan giliran untuk bertugas. Ketiganya tengah melakukan tugas-tugas rutinitas harian, seperti membersihkan lingkungan sekitar perguruan bagian dalam, dan juga pekerjaan-pekerjaan lainnya. Dengan mudah, ketiga anak muda itu bergaul dan berteman dengan sesama murid di perguruan tersebut. Begitu sembuh dari luka-luka dan cidera mereka, dengan cepat mereka segera bergabung untuk melatih kekuatan dan tenaga dalam mereka.
"Prastowo..., aku ingin sebentar saja jalan-jalan keluar dari perguruan ini.., apakah kamu akan menemaniku?" tiba-tiba Sayogyo menghampiri Prastowo dan menyampaikan gagasan untuk keluar dari lingkungan perguruan tempat mereka ditempatkan.
"Maksudmu Sayogyo..., apakah kamu sudah tidak kerasan berada dalam perguruan ini..?" dengan mengerutkan dahi, Prastowo bertanya pada Sayogyo.
Laki-laki muda itu tersenyum, kemudian meletakkan sapu lidi di tangannya. Sayogyo meletakkan sapu lidi di pojok pondhok kayu. Kemudian, laki-laki muda itu berjalan menghampiri ke tempaT Prastowo kembali.
"Bukan begitu maksudku Prastowo..., aku hanya ingin berjalan-jalan ke bagian luar perguruan. Kita belum pernah mengetahui suasananya di luar sana kan?? Ingatkah kalian.., kemarin kita datang dalam keadaan tidak sadarkan diri, dan kita dibawa oleh Singa Ulung, binatang peliharaan kesayangan Guru Wisanggeni. Beberapa murid menceritakan padaku, jika suasana di luar perguruan yang berada di gerbang pertama dan kedua, sangat ramai seperti kota." ucap Sayogyo melanjutkan.
"Oh begitu maksudmu Sayogyo.., jika hanya untuk sekedar berjalan-jalan, aku setuju. Kita memang harus lebih mengenal tempat padhepokan kita berlatih kanuragan ini. Tetapi..., untuk hari ini kita sedang bertugas, jadi kita tidak bisa meninggalkan perguruan bagian dalam ini dengan seenaknya," Tarjono yang turut mendengar ajakan Sayogyo, ikut menanggapi pembicaraan itu.
Ketiga anak muda itu kemudian duduk di atas batu besar di halaman pondhok. Matanya memandang ke sekeliling pondhok, dan pemandangan baru selalu dia lihat dan saksikan setiap hari. Bagaimana murid-murid melakukan latihan, semedi.., atau melakukan kegiatan lain untuk memperdalam tenaga dalam mereka. Dengan cepat mereka bisa menyesuaikan diri dengan keadaan di dalam perguruan itu.
__ADS_1
"Ngomong-omong..., apakah kalian sudah mendengar bagaimana kabar teman kita yang putra Guru Chakra Ashanka?? Rupanya luka yang diderita anak itu betul-betul menyakiti tubuhnya, terbukti sudah sekian purnama berlalu, tetapi belum ada tanda-tanda jika Ashan akan segera siuman." ucap kembali Tarjono sedih. Mereka mengingat kembali bagaimana mereka pertama kali bertemu, dan akhirnya melakukan perjalanan bersama, meskupun berakhir seperti ini.
"Aku belum mendengar apapun. Guru kakung dan guru putri menyembunyikan informasi keadaan Chakra Ashanka dengan rapat. Tidak ada satupun orang yang bisa diperkenankan untuk mendekat ke kamar tempat beristirahat dan pengobatan Ashan," Prastowo ikut menanggapi.
"Tapi kita tidak perlu untuk terlalu khawatir. Guru kita bukan laki-laki sembarangan. Beliau memiliki ilmu kanuragan yang sangat linuwih, tetapi tidak pernah berlaku sombong. Selain kanuragan, aku dengar Guru juga merupakan seorang herbalis. Banyak obat dan pil yang telah dihasilkan oleh Guru, jadi aku rasa Ashan saat ini sudah berada di tempat yang tepat." ucap Sayogyo perlahan. Ketiga anak muda itu kemudian terdiam, mereka tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Mereka ingat pertama kali mereka siuman dari pingsannya, dalam keadaan linglung mereka merasa berada di tempat yang terasa asing. Tetapi untungnya murid-murid perguruan ini sangat baik dan ramah, meskipun tidak ada Chakra Ashanka dengan cepat, murid-murid lain membantu mereka menyesuaikan diri.
*********
Kota Laksa
"Maksud ayahnda bagaimana, tetapi tidak dikirimnya kabar tentang keadaan Ashan mungkin rayu Wisanggeni memiliki sebuah alasan ayah..?" Widjanarko mencoba menenangkan ayahndanya. Memang terkadang kasih sayang seorang kakek lebih besar dari seorang ayah, dalam artian memberikan perhatiannya.
"Tetapi sudah sekian purnama, belum pula cucuku sadar. Apakah Wisanggeni tidak mampu mengobati putranya sendiri, haruskan aku mencarikan tabib untuk menyembuhkan cucuku?" Ki Mahesa menanggapi perkataan putra sulungnya dengan tatapan gusar. Begitu mendapatkan informasi tentang keadaan Chakra Ashanka dari pedagang, Ki Mahesa langsung memanggil kedua putranya itu,
Widjanarko dan Lindhuaji terdiam, dan tiba-tiba terlihat Kinara masuk dengan membawa nampan berisi minuman hangat. Perempuan muda itu tidak sadar sudah menghentikan pembicaraan dari ketiga laki-laki itu.
__ADS_1
"Ada apa ayahnda.., sepertinya tadi Kinara mendengar ayahnda menyebut nama keponakan Kinara." dengan suara merdunya, Kinara bertanya pada Ki Mahesa sambil tersenyum.
"Iya Kinar.., barusan ayahnda mendapatkan informasi tentang kondisi yang sedang dialami oleh cucuku saat ini. Menurut rencanaku.., dini hari nanti aku akan bertolak menuju ke wilayah timur. Aku akan menlihat sendiri bagaimana keadaan cucuku." ucap Ki Mahesa pada Kinara.
"Kinara juga sudah mendapatkan informasi tersebut ayahnda. Tetapi berdasarkan pengetahuan Kinara dalam budang pengobatan, bisa jadi kondisi yang dialami Chkara Ashanka kali ini tidak seperti yang kita bayangkan. Bisa jadi, sebenarnya dalam aliran darah anak muda itu masih tersumbat kekuatan yang belum bisa mengalir keluar semuanya. Sehingga anak itu sebenarnya sedang menjalani sebuah semedi pati. Setelah saatnya tiba, dengan sendirinya anak muda itu akan terbangun." dengan pengetahuan tentang pengobatan yang dia pelajari, Kinara memberi penjelasan pada ayahndanya. Widjanarko dan Lindhu Aji ikut mendengarkan perempuan itu bicara.
"Jadi menurutmu Chakra Ashanka tidak sedang dalam keadaan terluka..?" Ki Mahesa memperjelas pertanyaan. Perempuan muda istri Widjanarko itu tersenyum.
"Bukan begitu maksud Kinar .. ayah. Chakra Ashanka bisa jadi saat ini dalam keadaan terluka parah, karena benturan kekuatan yang besar yang tidak bisa diterima oleh aliran darah dan jasadnya untuk saat ini. Tetapi kejadian benturan ini akan memicu aliran darah untuk mengalir dengan cepat, dan menghilangkan penghambat yang menyumbat pada aliran darahnya saat ini, Kinar yakin.., dengan pengobatan yang tepat, maka Chakra Ashanka akan terlahir kembali dengan kekuatan yang akan sulit untuk dikalahkan." ucap Kinara sambil tersenyum.
Ketiga laki-laki itu menganggukkan kepalanya. Perlahan Ki Mahesa mengambil minuman yang dihidangkan Kinara, kemudian laki-laki tua itu segera meneguk minuman hangat itu dalam beberapa tegukan.
"Tetapi meskipun begitu.., aku harus tetap datang menuju ke perbukitan Gunung Jambu. Aku akan melihat sendiri bagaimana kondisi dan keadaan cucuku. Aji..., Janar.., bantu aku untuk bersiap. Dini hari aku akan berangkat meninggalkan Trah ini untuk melihat bagaimana keadaan cucuku." Ki Mahesa berdiri, kemudian meninggalkan perintah untuk kedua putranya.
*************
__ADS_1