Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 447 Kekuatan Kuno Gerombolan Alap-alap


__ADS_3

Berjalan beriringan, Wisanggeni dan Rengganis memasuki padang rumput, dan langsung berjalan mendatangi goa-goa kecil yang banyak terdapat di situ. Begitu sampai pada salah satu goa, hati Rengganis terasa sesak, hatinya tidak bisa menerima apa yang dilihatnya malam ini. Betul-betul sebuah penyiksaan yang sangat kejam, yang dilakukan oleh orang yang tidak memiliki hati nurani.


"Tolong.. tolong bebaskan kami Ki Sanak... Aaaaww..." terdengar teriakan permintaan tolong dari orang-orang yang saat ini masih di tahan dalam goa.


Rambut panjang tidak terurus yang menutupi wajahnya, kotor dan bau, hampir dialami oleh semua tahanan. Daging di tubuh mereka hampir tidak ada lagi, hanya tulang terbungkus kulit. Lidah orang-orang itu menjulur keluar, dengan adanya semacam lingkaran besi yang tampak mengeluarkan asap berada di leher orang-orang itu. Kaki dan tangan mereka dirantai, dan terlihat jika rantai itu juga terlihat panas.


Melihat kekejaman yang ada di depannya, sontak Rengganis berjalan untuk membebaskan penderitaan orang-orang itu. Namun.. hampir saja perempuan itu sampai dan berada di dekat para tawanan itu, Wisanggeni menahan dan menarik tangannya, untuk kembali ke belakang.


"Jangan gegabah Nimas... ada kekuatan aneh dalam goa ini. Kita harus mempelajarinya dulu, ingat bagaimana kekuatan kelompok Gerombolan Alap-alap di masa lalu. Sepertinya kekuatan ini jauh lebih kuat, kita tidak boleh sembarangan bertindak. Harus dengan penuh perhitungan." ucap Wisanggeni mengingatkan istrinya.


Rengganis menganggukkan kepalanya, tetapi matanya tidak berhenti menatap orang-orang yang terus berteriak minta tolong itu. Betul-betul kekejaman yang bukan dilakukan oleh manusia, dimana bisa menyiksa orang-orang itu untuk berwarsa-warsa lamanya. Sukma orang-orang itu seperti tertahan di ubun-ubun.. tidak diperbolehkan untuk keluar, sehingga orang-orang itu meskipun sudah sangat tua, berada dalam kehidupan dan kematian.


"Apa yang harus kita lakukan kakang, Nimas tidak tega dan tidak akan kuat jika tetap berada di tempat ini tanpa melakukan apapun." Rengganis berbisik pada suaminya.


"Kakang sedang berpikir Nimas.. bagaimana cara menghilangkan efek kekuatan sihir yang menyelimuti tempat ini. Itulah kuncinya, karena saat ini kita berhadapan dengan sesuatu yang tidak terlihat oleh mata, jangan sampai kita malah terbawa masuk ke alam mereka." Wisanggeni menanggapi pertanyaan Rengganis.


Kedua orang itu kembali terdiam, berusaha memecahkan permasalahan yang saat ini ada di depan mata mereka. Semakin mereka melihat keadaan orang-orang itu,  terlihat rintihan dan teriakan minta tolong dari orang-orang yang mendapatkan penyiksaan semakin kencang dan tidak pernah berhenti.


"Srett....byuss..." tiba-tiba Rengganis menarik cepat selendang dari dalam kepisnya. Perempuan muda itu sudah tidak dapat lagi menahan perasaannya, dengan wajah nanar menatap rantai dan besi yang mengekang orang-orang itu. Wisanggeni hanya diam mengawasinya.


Setelah memegang selendang di tangannya, Rengganis memundurkan satu langkah kakinya ke belakang, dan mengambil posisi siap untuk melakukan penyerangan.

__ADS_1


"Hups.... cetarr srettt...." dengan kekuatan penuh, Rengganis mengibaskan selendang di tangannya untuk menghalau hawa panas  dari tempat para tawanan itu.


"Bluarrr...... " tanpa mereka sadari, seperti muncul kekuatan yang menghentak kembali serangan yang dilakukan Rengganis. Hawa panas menyebar dan memberikan serangan balik pada perempuan itu.


"Kekuatan Pasopati..... jueglarr..." melihat situasi istrinya yang terkena serangan udara panas yang bisa melelehkan kulit dan tulang-tulangnya, WIsanggeni melompat dan menarik tubuh istrinya dalam pelukannya. Kekuatan Pasopati dikeluarkan oleh laki-laki itu untuk menghalau serangan balik.


"Hoeeekkk... " darah segar tiba-tiba keluar dari mulut Rengganis. Wisanggeni segera menotok punggung Rengganis, kemudian mengurut dan mengusap punggung istrinya dari atas ke bawah. Hal itu dilakukan Wisanggeni berkali-kali, sambil mengalirkan energi ke dalam tubuh perempuan itu. Setelah beberapa saat akhirnya...


"Bagaimana keadaanmu Nimas..." dengan diiringi rasa khawatir, Wisanggeni menanyakan keadaan yang dialami Rengganis.


"Sudah jauh lebih baik kakang... kekuatan energi gelap itu betul-betul luar biasa Kang. Aku kesulitan untuk menetralisir pengaruh buruknya.." Rengganis yang sudah mencoba mengadu secara langsung kekuatanya, mengakui besarnya energi di tempat itu.


Tanpa menjawab, Rengganis mengikuti apa yang diucapkan oleh suaminya. Kedua orang itu segera duduk bersila, dan masuk dalam konsentrasi penuh untuk meminta bantuan kekuatan alam.


**********


Sukendro berlari menuju ke tempat tinggal Ki Sancoko untuk memberi tahu perginya Wisanggeni dan Rengganis. Kebetulan malam itu, anak muda itu akan mengantarkan singkong rebus yang dimasak oleh anak-anak muda yang berjaga di penjagaan Alas Kedhaton. Tetapi begitu sampai di bangsal tempat pasangan suami istri itu beristirahat, Sukendro tidak menemukan keduanya. Untuk mencegah adanya kecurigaan pada dirinya, anak muda itu segera berlari menuju tempat Ki Sancoko.


"Aki.. ampun saya sudah berani mengganggu istirahat Aki malam-malam begini." dengan tergesa-gesa Sukendro menyampaikan maksud kedatangannya.


Melihat anak muda yang dalam posisi terengah-engah melapor padanya, Ki Sancoko hanya mengerutkan dahinya. Laki-laki itu mengangkat tangan, memberi isyarat pada anak muda itu untuk bersikap lebih tenang.

__ADS_1


"Ceritakan kepadaku Gendhon.. ada hal penting apa sehingga malam-malam begini kamu mengganggu waktu istirahatku." dengan nada sedikit keras, Ki Sancoko bertanya pada Sukendro.


"Den Bagus Wisanggeni dan Den Ayu Rengganis Ki.., keduanya sudah tidak ada di bangsal tempat mereka istirahat. Saya sudah mencoba berkeliling untuk mencarinya, namun belum juga dapat menemukannya." dengan terbata-bata, Sukendro melaporakan kejadian yang sebenarnya.


Ki Sancoko terkejut, laki-laki itu menatap anak muda di depannya itu dengan mata tajam, dan Sukendro hanya bisa menganggukkan kepalanya.


"Melihat nama besar dan garis keturunan dari kedua orang itu, tidak mungkin mereka bertindak melarikan diri dari tempat ini. Aku yakin, ada hal lain yang menurut mereka menjadi lebih penting, sehingga tanpa pamit keduanya meninggalkan Alas kedhaton ini." ucap Ki Sancoko setelah menghela nafas,


"Srettt... byuuuss....." tiba-tiba terdengar hempasan angin kencang, dan hawa panas masuk ke dalam kampung Alas Kedhaton. Tetapi dengan cepat hawa panas itu hilang kembali.


"Gendhon.. apakah kamu juga merasakannya. Setelah sekian lama, kenapa hawa panas dari padang rumput itu seperti kembali bergolak. Kita harus segera mengamankan orang-orang kita Gendhon.. bangunkan yang lain.." dengan cepat Ki Sancoko memberi perintah.


Dengan dahi berkerut, Ki Sancoko berpikir tentang perginya Wisanggeni dan Rengganis.


"Hmm.. jangan.. jangan..." belum selesai Ki Sancoko berguman, tiba-tiba..


"Jueglarr... blarrr.." terdengar ledakan keras dari arah padang rumput. Kampung Alas Kedhaton terasa berguncang, dan Sukendro dengan wajah pucat berpegangan pada sebatang kayu.


"Ada apa itu Ki... saya mendengar suara kencang dari arah padang rumput, Saya akan mengajak teman-teman yang lain untuk melihat di padang rumput itu Aki.." Gendhon segera berlari meninggalkan Ki Sancoko sendiri.


*********

__ADS_1


__ADS_2