
Singa putih berjalan gontai menghampiri Cokro Negoro dan Wisanggeni yang sedang duduk di depan gubug. Binatang itu menggosokkan kepalanya ke kaki Cokro Negoro dengan penuh kepatuhan, dan laki-laki tua itu segera mengelus kepalanya.
"Singo Ulung.., kamu kan yang membawa laki-laki muda ini? Entah bagaimana caramu membawanya kesini, tetapi kita sudah berjodoh dengan anak muda ini. Namanya Wisanggeni, beri salam padanya!" Cokro Negoro berbicara dengan singa putih itu, seakan berbicara dengan sesama manusia.
Singa putih melihat ke mata Cokro negoro dengan mata redup, laki-laki tua itu menganggukkan kepalanya. Singa putih itu kemudian mendatangi Wisanggeni, kemudian melakukan hal yang sama di kaki laki-laki muda itu. Wisanggeni tersenyum, kemudian dia melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Cokro Negoro, tangannya dia letakkan di kepala singa putih itu, kemudian perlahan mengelus bulu-bulu lembut yang ada di kepala binatang itu.
"Wisang.., Singa Ulung.., bertemanlah kalian! Meski tanpa kesengajaan, binatang peliharaanku ini sudah memilihmu sebagai tuannya yang baru. Aku akan bisa tenang menjalani meditasiku, aku titipkan singa Ulung ini padamu! Singa Ulung..., mulai saat ini Wisang adalah Tuanmu yang baru, patuhi dia, dan ikut serta jagalah kemanapun dia!" Cokro Negoro menyampaikan pesan pada Wisanggeni dan binatang yang tidur di kakinya itu.
"Maaf Ki Cokro.., bukannya saya menolak untuk menjadikan Singo Ulung ini sebagai binatang peliharaan saya. Tetapi, sepertinya tidak mungkin jika saya akan membawanya dalam pengembaraan, yang entah kapan akan berakhir. Orang-orang akan ketakutan dan menjauhi saya, jika saya membawa Singa Ulung." dengan penuh rasa khawatir, Wisanggeni menolak menjadikan Singa Ulung sebagai binatang peliharaannya.
"He..he..he.., aku tadi sudah menebak kamu pasti akan menolaknya. Bukankah kamu bisa berjumpa dengan binatang ini, karena sebelumnya kamu berniat untuk menangkapnya?" kata Cokro Negoro sambil tertawa kecil.
Muka Wisanggeni langsung memerah menahan malu, di malam itu memang dia tergiur untuk menangkap binatang itu dengan Joko, Laksito, dan Kodir. Tetapi saat dia ditawari untuk menjadikannya sebagai binatang peliharaan, dia malah menolaknya.
"Tidak perlu kamu merasa malu Wisang. Aku tahu.., kamu tidak ada hati untuk menolak ajakan teman-temanmu untuk membunuh Singa Ulung. Binatang itu juga memaklumimu, makanya dia tetap membawamu kemari bukan?? Ada aroma unik dalam tubuhmu, yang membuatnya memilihmu anak muda. Jangan khawatir, Singa Ulung tidak akan mengecewakanmu." sambil tersenyum, Cokro Negoro berbicara dengan arif pada Wisanggeni.
Wisanggeni menengok ke arah singa putih itu, dia membayangkan bagaimana dia akan membawanya berkelana. Orang-orang pasti akan berlari ketakutan jika bertemu dengannya, dan binatang itu pasti juga akan menjadi buruan.
"Prok..prok..prok.." tiba-tiba Cokronegoro bertepuk tangan. Yang lebih membuat Wisanggeni terkejut, tidak lama kemudian tubuh Singa Putih itu mengecil, dan berakhir menjadi seekor kucing yang menggemaskan dan lucu.
"Ki Cokro..., ada apa ini? Kenapa tubuh SInga Ulung bisa berubah menjadi seekor kucing?" tanya Wisanggeni tidak percaya.
__ADS_1
"Agar lebih mudah kamu membawanya kemanapun, tetapi pada saat dibutuhkan, dia akan merubah tubuhnya menjadi sebesar tadi. Masih banyak keajaiban yang dimiliki binatang ini, terimalah Wisang! Aku akan lega, jika sudah ada manusia yang memiliki kemampuan lebih untuk menemaninya." kata Cokro Negoro dengan pelan.
"Aku akan mewariskan beberapa ilmuku padamu, agar kedekatanmu dengan Singa Ulung tida bisa terpisahkan." lanjut Cokro Negoro.
"Terima kasih Ki Cokro, saya tidak akan menolak anugerah yang sudah diberikan untuk saya." akhirnya Wisanggeni menerima Singa Ulung untuk menjadi binatang peliharaannya.
************
Sinar matahari hangat menyinari tubuh laki-laki muda yang saat ini sedang berdiri di atas tebing. Keduanya bertautan di depan dadanya membentuk sebuah simbol. dengan kedua mata rertutup rapat, sementara nafasnya teang tetapi dalam. Dia berdiri dalam posisi untuk waktu yang sangat lama, bahkan sampai tengah hari tatkala sinar matahari tepat berada di atas kepalanya, dia belum beranjak untuk berganti posisi. Rasa gemetar tidak dia rasakan, sebelum mendengar aba-aba untuk berhenti dia akan tetap berada dalam posisinya itu.
Perlahan laki-laki muda itu membuka matanya, kemudian meluruskan kedua kakinya dan duduk di atas tebing dengan berselonjor kaki. Dia menengadahkan kepalanya ke atas, dan melihat senja temaram mulai menampakkan wajahnya. Singa putih dengan lincah mendatangi laki-laki itu kemudian menggosok-gosokkan kepalanya ke pinggang sampingnya.
"Kamu memintaku segera kembali ke gubug ya?? Aku akan mandi dulu, tunggulah di bawah." Wisanggeni tersenyum pada Singa putih, kemudian mengelus kepalanya.
"Byurrr..." air mata air di bawah tebing bergolak hebat, saat tubuh Wisanggeni terjun bebas dari atas tebing. Tubuh laki-laki muda itu langsung menyelam ke dalam air untuk sementara, kemudian menyembulkan lagi kepalanya ke atas air. Di tangannya sudah membawa 3 ekor ikan ukuran besar, kemudian melemparkannya ke sisi mata air.
Singa putih yang diminta untuk menunggu di bawah, tanpa diduga ikut melompat dari atas tebing mengikuti Wisanggeni. Keduanya berenang sesaat, kemudian Wisanggeni menepi diikuti singa putih di belakangnya. Dia kemudian membersihkan ikan itu dari sisik dan kotorannya.
__ADS_1
"Kamu nakal ya, tidak patuh padaku. Diminta menunggu, malah ikut terjun kesini." kata Wisanggeni pada singa putih sambil menarik telinganya.
Singa putih mengibas-kibaskan bulunya untuk mengeringkan air yang menempel di bulu-bulunya.
"Ayo kita kembali ke gubug, Ki Cokro pasti sudah menunggu kita!" Wisanggeni kemudian melangkah meninggalkan mata air, diikuti singa putih yang berjalan di belakangnya. Binatang buas yang masih banyak terdapat di hutan itu, segera menyingkir melihat si raja hutan berjalan dengan seorang laki-laki muda.
Sesampainya di gubug, terlihat Cokro Negoro sedang menyalakan api di depan gubug, dengan kuali warna hitam diatasnya. Bau harum menyengat dari rimpang tanaman obat yang sedang direbus menusuk hidung Wisanggeni.
"Aki sedang merebus obat ya??" tanya Wisanggeni penasaran.
"Iya.., nanti setelah beberapa saat, nanti malam gunakan air rebusan ini untuk kamu berendam. Kamu menangkap ikan Wisang?" tanya Cokro Negoro.
"Sekalian tadi habis mandi, ternyata di dasar air banyak ikannya. Ya sudah....Wisang ambil saja tiga ekor Aki.., lumayan bisa kita pakai untuk makan malam." kata Wisanggeni sambil menusukkan ikan yang sudah dia bersihkan dengan kayu, kemudian membakarkan di depan tungku.
Beberapa saat kemudian, bau menyengat dari ikan yang dibakar sudah menggoda untuk dinikmati. Cokro Negoro tersenyum kemudian membawa rebusan umbi-umbian untuk dinikmati bersama ikan bakar.
"Jika sudah matang, matikan apinya Wisang. Kita tunggu air rebusan itu dingin, nanti malam rendamlah tubuhmu. Sekarang mari kita makan ikan bakar itu dengan rebusan umbi ini."
__ADS_1
****************