Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 118 Energi Baru


__ADS_3

Luapan energi baru yang mengalir deras di sekujur tubuh Wisanggeni, membuat otot-otot dan kulit Wisanggeni semakin menguat dan membesar. Tekanan dan lonjakan yang sangat menyakitkan, terasa seperti menghancurkan semua tulang-tulang dan kekuatannya. Antara sadar dan tidak sadar, Wisanggeni tidak bisa mengendalikan alam bawah sadarnya. Laki-laki muda ini hanya merasa ada sedikit hawa dingin yang menyegarkan, yang selalu muncul setelah rasa sakit dan tekanan menempa setiap inci tubuh baik kulit dan tulangnya. Lama kelamaan, Wisanggeni merasa tidak kuat menahan semua warisan itu, perlahan-lahan kesadarannya semakin menghilang. Namun...,


"Kang Wisang.., bertahanlah untuk kami Akang. Untuk Rengganis dan bayi yang masih ada di rahimku ini." terdengar sayup-sayup suara Rengganis mengisi telinga Wisanggeni. Gadis itu berusaha menahan isakan tangis yang akan keluar dari bibirnya.


"Suara siapa itu..?" Wisanggeni seperti merasa linglung di alam bawah sadarnya. Laki-laki itu mencoba untuk membuka matanya secara perlahan.


Tetapi baru saja, laki-laki itu mencoba untuk berpikir, kembali rasa sakit yang teramat sangat, dirasakan oleh Wisanggeni.


"Aaaaww..., aaakh..., ssshhh." keluar desisan menahan rasa sakit dari bibir laki-laki muda itu. Wisanggeni kembali memejamkan matanya.


Di bawah puncak candi, para sesepuh dan generasi muda hanya melihatnya dengan perasaaan prihatin. Mereka tidak dapat memberi bantuan apapun untuk meringankan beban Wisanggeni,


"Apa yang akan dilalui oleh Dimas Wisanggeni ayah..? Janar tidak mampu untuk melihatnya tersiksa seperti itu." Wijanarko merasakan hatinya tidak tega melihat pemandangan di depan matanya.


"Tenangkan hatimu Janar.., sebagai putra tertua dari Klan Bhirawa, kamu harus menjadi seorang yang tangguh, sebagai pengayom keluarga kita. Doakan adikmu Wisanggeni." dengan hati yang tidak kalah pedihnya, Ki Mahesa meminta putra sulungnya untuk tetap tenang dalam berpikir.


Kembali suasana sunyi terbawa di sekitar area candi. Semua orang yang duduk di bawah candi, mereka duduk bersila. Bersama-sama mereka memanjatkan doa untuk keberhasilan Wisanggeni dalam menyempurnakan warisannya. Saat semua orang dalam diam terpekur..

__ADS_1


Aura kebatinan tingkat tinggi mulai menyembur ke punggung dan tubuh Wisanggeni dengan gila. Anak laki-laki itu sudah benar-benar kehilangan kesadarannya. Dia hanya mengikuti arus kemana semburan api akan menghentakkan, membolak-balikkan badannya tanpa dia sadari. Rengganis dan Maharani tanpa berkedip mengamati semua kejadian yang menimpa laki-laki yang sangat mereka cintai itu. Lambat laun aura kebatinan yang ganas itu pecah sepenuhnya.


"Roar..., roar..." pada akhirnya hanya semburan aliran gejolak uap panas yang tertinggal mengelilingi tubuh Wisanggeni. Aliran panas yang terserap masuk ke tubuhnya, berlarian di sekitar tubuh laki-laki muda ini, menguatkan otot dan membentuk kulitnya. Perlahan kesadaran kembali menghampiri Wisanggeni. Dengan mata terpejam, laki-laki ini mulai memandu aliran panas mengaliri sekujur tubuhnya.


"Boom.., boom..." sumbatan-sumbatan peredaran darah dan sendi-sendi di tubuh Wisanggeni tiba-tiba seperti menghilang. Aliran darah mengalir dengan lancar, rasa tenang dan tentram mulai menyelimuti alam dan pikiran laki-laki muda itu.


Setengah hari berlalu.., Wisanggeni masih melakukan hal yang sama. Cokro Negoro dengan kekuatannya, mengalirkan tenaga dalamnya dari bawah untuk membantu memperkuat pertahanan Wisanggeni. Laki-laki tua yang juga menjadi guru Wisanggeni itu, khawatir jika tubuh laki-laki muda itu tidak mampu menampung energi dan aura kebatinan yang begitu membanjir dan memonopolinya.


"Wuft..." tiba-tiba Wisanggeni menghembuskan nafas yang berbau busuk dari tubuhnya. Racun-racun dan endapan-endapan toksin buruk mengalir keluar, karena adanya dorongan dari energi murni yang membanjir di tubuhnya itu. Laki-laki muda itu sudah menyelesaikan tahapan terakhir penerimaan warisan itu.


"Nimas.., kamu menunggu Akang?" dengan suara lirih, Wisanggeni menyapa Rengganis sambil tersenyum. Melihat Wisanggeni sudah tersadar, Singa Ulung dengan kekuatan penuh langsung terbang menghampiri Wisanggeni.


Tanpa memperhatikan sekelilingnya, Wisanggeni langsung melompat ke tubuh binatang itu. Singa Ulung dan Singa Resti membawa pergi kedua pasangan itu dari area candi. Seperti sudah diduga sebelumnya oleh kedua binatang itu, tiba-tiba....


"Duarrr..., bruakkkk..." sisa-sisa bangunan candi meledak dengan kekuatan penuh. Wisanggeni dan Rengganis sudah jauh di bawa pergi oleh kedua singa putih tersebut.


**********

__ADS_1


Di dalam sebuah gua


Wisanggeni menatap dengan penuh cinta, perempuan muda yang saat ini sedang mengandung buah hatinya itu. Jari-jari tangannya membantu menyingkirkan anak rambut yang ada di wajah Rengganis. Kerinduan yang membuncah dengan perempuan yang saat ini sudah terlihat pasrah di depannya itu, membuat hati dan perasaan Wisanggeni menjadi bahagia. Sambil tersenyum malu-malu, Rengganis terlihat menikmati perlakuan yang diberikan suaminya.


"Terima kasih Nimas..., kamu sudah sabar untuk menungguku. Demikian juga dengan calon bayi kita." suara lembut Wisanggeni diucapkan untuk Rengganis. Sebuah kecupan diberikan Wisanggeni di kening gadis muda itu. Tangan kanan Wisanggeni mengusap pelan perut Rengganis, kemudian dari atas kening, ciuman laki-laki itu berpindah ke perut istrinya.


"Kita adalah pasangan suami istri Akang.. Dalam keadaan apapun, Rengganis akan terus bersama dengan Akang. Bahkan jika Akang tidak ada di dunia inipun, Rengganis akan tetap mengikuti Akang." dengan tatapan mesra, Rengganis menanggapi perkataan Wisanggeni.


Wisanggeni tidak menanggapi perkataan istrinya, dia hanya merasakan kerinduan yang dalam untuk bersentuhan dengan kulit Rengganis. Perlahan tanpa membuat istrinya kesusahan, laki-laki itu sudah melepaskan pakaian atas yang dia kenakan sendiri. Mata Rengganis terbelalak melihat perubahan di tubuh suaminya. Tubuh itu saat ini menjadi bertambah kekar dan berbentuk Otot-otot kuat tampak menonjol di sela-sela kulit yang juga terasa sama kuatnya. Pipi Rengganis tiba-tiba memerah..., pikiran gadis muda itu sudah berlari untuk berfantasi. Wisanggeni tersenyum, laki-laki itu seakan memahami apa yang ada di pikiran istrinya itu.


"Apa yang kamu lihat Nimas..? Apakah istriku terlalu mengagumi penampilan suaminya saat ini?" dengan suara serak, Wisanggeni menggoda Rengganis.


Rengganis terdiam, gadis muda itu hanya mengulum senyumnya. Dia tidak mampu lagi mengeluarkan suara.., tetapi matanya memancarkan satu keinginan terpendam yang ingin segera dia salur dan keluarkan bersama Wisanggeni. Seperti memahami apa yang diinginkan oleh istrinya, Wisanggeni segera menyusuri setiap inci tubuh istrinya. Dengan mata terpejam.., gadis muda itu menikmati semua yang diberikan oleh suaminya.


"Kita akan menjemputnya bersama Nimas.." bisik Wisanggeni di telinga Rengganis.


****************

__ADS_1


__ADS_2