
Melihat antusiasme warga masyarakat dari berbagai penjuru wilayah, akhirnya Wisanggeni mengubah pola pemikirannya. Dengan niat untuk menciptakan generasi penerus dan penegak kebenaran di muka bumi, Wisanggeni memutuskan untuk membentuk sebuah tim, untuk melakukan seleksi dari anak-anak muda yang ingin bergabung dengan pesanggrahannya. Kesibukan mulai disiapkan di dalam pesanggrahan. Seleksi awal dilakukan di tapal perbatasan, dan setelah dinyatakan memenuhi kualifikasi, baru anak-anak muda itu diperbolehkan untuk masuk ke kawasan Gunung Jambu.
"Blaam..., blaamm..." terlihat seorang anak muda mengirimkan serangan pada lawan seleksinya. Dengan cepat, lawan mainnya melakukan salto ke belakang menghindari serangan tersebut.
Wisanggeni tersenyum melihat perkelahian-perkelahian itu. Laki-laki itu teringat saat-saat awal dia berlatih ilmu kanuragan. Ketika sudah mulai menguasai tenaga dalam, dengan niat untuk menolong Nimas Rengganis, Wisanggeni sering memasuki kamar tidur Rengganis kecil dengan diam-diam. Padahal dia tidak tahu, jika kekuatan Rengganis sudah diasah oleh leluhurnya sejak masih berada dalam kandungan.
"Clap..." tiba-tiba sebilah pisau meluncur ke arah Wisanggeni, dengan cepat tangan laki-laki itu menyambar pisau yang menyasar padanya. Mata Wisanggeni memindai, melihat siapa yang melemparkan pisau tajam tersebut.
Beberapa orang terkejut melihat reaksi dan kewaspadaan Wisanggeni, mereka saling bertatapan dan ikut melihat dari arah mana pisau tersebut dikirimkan.
"Bagaimana Den Bagus.., apakah perlu saya kirimkan orang untuk menyelidiki pisau siapa yang menyasar pada den bagus..?" dengan penuh rasa khawatir, para penjaga perbatasan mendatangi Wisanggeni.
"Tidak perlu.., pisau ini tidak diarahkan untuk membunuhku. Mereka hanya ingin mengirimkan salam padaku, tenanglah." ucap Wisanggeni, matanya menembus rerimbunan pepohonan yang ada di depannya. Senyuman muncul di bibirnya. Tidak tergambar sedikitpun rasa kemarahan di wajah laki-laki itu.
"Sendiko dhawuh Den Bagus.., kami akan kembali berkeliling untuk meningkatkan penjagaan. Jangan sampai proses penjaringan ini, disusupi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab." para pengawal kembali berkeliling, sambil melihat-lihat ke sekitar.
Sepeninggalan para pengawal, Wisanggeni berjalan mendatangi para pedagang dadakan yang banyak bermunculan di wilayah itu. Mengetahui Ketua pesanggrahan mengunjungi lapak dagang mereka, beberapa pedagang menyambut laki-laki itu dengan sopan dan hormat.
"Selamat datang Den Bagus.., silakan mampir ke lapak kami Den.." seorang laki-laki tua mengangkat kursi, dan mempersilakan Wisanggeni untuk duduk di kursi tersebut. Untuk menghormati laki-laki itu, Wisanggeni segera menduduki kursi kayu tersebut. Tanpa diminta, laki-laki tua itu membuatkan minuman panas untuk Wisanggeni.
__ADS_1
"Terima kasih paman.., baru saya akan memesan minuman ini. Ternyata paman sudah bisa menebaknya, sehingga belum saya minta, paman sudah menyediakannya." dengan ramah, Wisanggeni mengucapkan terima kasih pada laki-laki tua itu.
"Hanya seadanya ini Den bagus..., paman sangat bersyukur Den.. Banyaknya orang yang akan bergabung di padhepokan Gunung Jambu, menjadikan saya dan keluarga bisa mendapatkan tambahan pendapatan." laki-laki tua menceritakan keberuntungannya.
"Sebelumnya bersama keluarga usaha apa Paman.., dan bagaimana ceritanya bisa sampai di perbatasan ini?" Wisanggeni menanggapi perkataan laki-laki tua itu, sambil menikmati minuman panas yang sudah disiapkan untuknya.
"Panjang Den ceritanya. Dulu paman beserta istri dan anak-anak, berkeliling ke desa-desa untuk menawarkan jasa bantu-bantu. Yah.., pergi dari kampung halaman untuk mengadu nasib di kota, ternyata kami malah salah mengambil jalan. Akhirnya kami sampai disini.." dengan tersenyum pahit, laki-laki tua itu menceritakan kisahnya.
"Anak-anak paman kemana sekarang dimana?" mendengar paman itu menyebut anak-anak, Wisanggeni menanyakan keberadaannya.
"Mereka yang bantu-bantu pengawal di tapal batas pesanggrahan itu Den.., itu mereka yang membawakan alat-alat itu." laki-laki tua itu menunjuk dua anak muda yang mengangkat kayu, dan memberikannya pada para pengawal tapal batas. Melihat kegigihan anak-anak muda itu, muncul pemikiran di pikirannya.
**********
"Kenapa kalian mau mengorbankan waktu kalian dengan membantu para pengawal itu?" Wisanggeni bertanya dengan suara pelan pada kedua anak laki-laki itu. Kedua anak muda itu saling berpandangan, kemudian dengan malu-malu...
"Iya Aden.., sebenarnya kami ingin ikut berguru di pesanggrahan itu. Tetapi romo tidak memberi ijin, kata romo kami tidak memiliki warisan kanuragan dari keturunan kami." ucap Prayudha dengan menundukkan mukanya.
Wisanggeni tersenyum menatap mereka, kepolosan dan mengikuti petuah orang tuanya menjadikan kedua anak laki-laki itu menjadi anak muda yang apa adanya.
__ADS_1
"Baiklah.., jika aku memberi kalian syarat, dan kalian bisa mencapai syarat itu, aku sendiri yang akan membawa kalian masuk ke dalam pesanggrahan. Apakah kalian bersedia?" Wisanggeni bertanya pada mereka, dengan memberi mereka tantangan.
Kedua anak laki-laki itu menengadahkan wajahnya, mereka memberanikan diri menatap mata Wisanggeni secara langsung. Wisanggeni tersenyum pada mereka, dan menganggukkan kepala.
"Kami akan menyanggupi persyaratan itu Aden.., tapi bagaimana dengan pesan dari orang tua kami?" tanya Manggala yang masih mengingat pesan dari romonya.
"Jika romomu mengatakan jika kalian tidak memiliki keturunan sebagai seorang kstaria, maka tugas kalian untuk melahirkan keturunan itu dalam generasi kalian selanjutnya. Kalian berdua sudah dilahirkan dengan diberi nama-nama sebagai seorang ksatria. Aku sendiri yang akan meminta kalian pada romomu, tetapi dengan syarat kalian bisa memenuhi persyaratan yang aku berikan." ucap Wisanggeni meyakinkan kedua anak muda itu. Mereka saling berpandangan, kemudian saling tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Apakah kami boleh mengetahui Aden.., syarat apa yang harus kami penuhi, sehingga kami bisa bergabung dan menimba ilmu di pesanggrahan Gunung Jambu?" dengan antusias, Manggala menanyakan tentang persyaratan yang harus mereka penuhi.
Wisanggeni tersenyum, kemudian...
"Tadi saat aku berkeliling dan melihat seleksi pemilihan murid-murid baru, ada yang dengan licik melemparku dengan sebilah pisau. Ini pisaunya..." Wisanggeni menyerahkan sebilah pisau pada Manggala. Anak muda itu memegang pisau tersebut, kemudian mengamatinya.
"Temukan orang yang telah melempar pisau ini padaku. Aku tidak akan menyakitinya, hanya ingin bertanya ada alasan apa, dia melemparku dengan sebilah pisau." ucap Wisanggeni dengan tegas.
"Baik Aden.. kami berdua menyetujui persyaratan yang Aden berikan. Kami akan berusaha untuk segera menemukan orang yang tidak memiliki akhlak itu. Apakah ada lagi yang ingin ditanyakan kepada kami Aden?" Manggala mewakili adiknya Prayudha berbicara pada Wisanggeni, mereka menyanggupi persyaratan itu.
"Pergilah.., kembalilah ke tempat kalian berada. Dan jangan lupa temukan orang yang sudah berbuat licik, dan serahkan dia padaku!" ucap Wisanggeni, kemudian berjalan meninggalkan kedua anak muda itu.
__ADS_1
***************