
Sudiro terkejut melihat Wisanggeni keluar dari gua dengan membawa Rengganis. Laki-laki itu betul-betul tidak mengetahui apapun, kapan gadis muda yang sudah menjadi istri laki-laki muda itu datang dan bergabung dengan mereka.
"Selamat pagi Nimas Rengganis.., bagaimana keadaanmu?" Sudiro menyapa Rengganis dengan ramah.
"Berkah dari Hyang Widhi Kang Diro.., akhirnya Nimas bisa sampai ke tempat ini untuk menyusul Kang Wisang." Rengganis membalas sapaan Sudiro.
Wisanggeni tersenyum melihat komunikasi antara istri dengan saudara sepupu Niken Kinanthi itu.
"Apakah semua sudah siap untuk berangkat Diro.., jika sudah, pimpinlah di depan. Aku dan Nimas Rengganis akan mengawal dari belakang. Kita harus segera berangkat.." ucap Wisanggeni memberi arahan pada Sudiro.
"Baiklah.., aku tunggu kalian." Sudiro langsung menginformasikan pada anggota kelompoknya. Tidak lama beberapa orang sudah mulai berjalan menembus kegelapan waktu dini hari. Wisanggeni segera mengajak Rengganis untuk mengikuti di belakangnya.
**************
Sementara itu di beberapa kilometer sebelum Kubah Candradimuka
Cokro Negoro menghentikan langkahnya, laki-laki tua itu membalikkan badannya dengan dahi berkerut. Semua sesepuh yang berjalan di belakangnya, serempak ikut menghentikan langkah. Mereka merasakan aura panas dari dalam hutan, dan jika tidak mereka keluarkan kekuatan tenaga dalamnya, maka mereka akan merasakan panas dan sesak yang tidak tertahan dan mengganggu saluran pernapasan mereka.
"Apakah kalian merasakan hal yang sama denganku?" Cokro Negoro bertanya dengan suara lirih pada para sesepuh.
Anggukan kepala dalam diam yang dilakukan para sesepuh, memberikan jawaban bagi pertanyaan Cokro Negoro. Laki-laki tua itu kemudian memejamkan matanya sebentar.., tidak lama kemudian mata itu perlahan terbuka.
__ADS_1
"Apakah yang kamu lihat kangmas..?" tanya Sasmita diikuti tatapan mata para sesepuh yang lain.
"Aku melihat kubah seperti kawah sebuah gunung yang banyak berisi asap hitam.., dengan cairan panas hitam kejinggaan di dalamnya. Tetapi aku belum bisa menterjemahkan.., ada susunan formasi membentuk segitiga yang belum selesai di dalam cairan panas seperti bara api itu. Apakah...?" Cokro Negoro tidak melanjutkan kalimatnya, dia sendiri belum yakin dengan apa yang dilihat oleh mata batinnya. Dari pada membuat pernyataan yang menyesatkan, lebih baik menelan kembali sesuatu yang sudah dipikirkannya tadi.
"Mungkinkah itu sama dengan yang pernah disampaikan oleh kakek leluhur Trah Jagadklana. Jika batu identitas dari berbagai Trah atau klan yang ada pada keturunan Respati, akan dapat membangkitkan kembali roh-roh yang sudah lama terkubur di bumi. Orang yang akan bisa menghirup dan menyatukan dengan kekuatan roh-roh itu, aku bangkit menjadi seorang pemimpin yang disegani oleh dunia." ucap Sasmita lirih sambil berpandangan mata dengan Mahesa.
"Bisa jadi Sasmita.., aku sendiri juga masih ingat dengan apa yang dulu pernah disampaikan oleh ayahnda sebelum menghembuskan nafas terakhir. Tetapi apapun itu.., aku juga belum pernah menggambarkan atau membayangkan bentuknya." Mahesa menanggapi kalimat yang disampaikan Sasmita.
"Kita harus bergegas.., dan cepat-cepat untuk menuju kesana, Meskipun orang yang sudah memiliki batu identitas itu secara penuh ingin membangkitkan kekuatan roh-roh itu, mereka masih membutuhkan darah dan pengorbanan dari gadis perawan." Cokro Negoro menambahkan.
"Tapi sepertinya batu identitas itu belum terkumpul sepenuhnya.., mereka juga tidak akan bisa membangkitkan kembali roh-roh itu." dengan yakin Sasmita menyampaikan kalimat itu, beberapa sesepuh melihatnya dengan penuh tanda tanya.
"Tidak perlu kita berdebat atau memikirkan sudah terkumpul belum semua batu identitas itu.., karena meskipun belum genap. Orang yang sudah membentuk formasi penyatuannya, dan sudah memiliki darah gadis perawan.., dia masih bisa mendapatkan kekuatan magis dari kubah tersebut." suara Cokro Negoro mengejutkan semua yang ada disitu.
***********
Di Perbukitan Gunung Jambu
Kinara menemani Larasati yang sedang berbaring di tempat tidur. Beberapa murid perempuan ikut membawakan piranti untuk membantu proses yang harus dijalani istri dari Lindhuaji itu, untuk melahirkan bayi yang dikandungnya. Sudah sejak pagi, Larasati merasakan sakit dan mulas di perutnya, yang merupakan gejala awal akan lahirnya bayi yang dikandungnya.
"Tenanglah Nimas..., ambilah nafas dalam, kemudian keluarkan lagi secara perlahan." Kinara yang banyak bergelut mempelajari obat-obatan herbal saat masih di aula obat, membantu mengarahkan Larasati. Sesekali tangannya mengusap keringat di kening Larasati dengan menggunakan sepotong kain kecil.
__ADS_1
"Iya Kinar.., aku sama sekali tidak menyangka. Aaakhh..., ternyata luka karena bertarung atau terkena senjata tajam, tidak sesakit apa yang aku rasakan saat ini.." ucap Larasati merintih kesakitan.
"Tapi itu memang sudah menjadi kewajiban kita sebagai seorang perempuan.., dimana perjuangan kita akan digantikan dengan hadirnya putra-putri kita yang akan mengisi hari-hari kita Nimas." Kinara menanggapi ucapan Larasati sambil tersenyum.
"Nimas.., ini minuman jahenya. Mumpung masih hangat... bisa diminum dulu untuk membuat perut menjadi hangat, sehingga bayinya segera keluar." seorang murid perempuan yang bertugas di dapur mengantarkan minuman jahe. Kinara mengambil cangkir itu, kemudian perlahan meminumkannya pada Larasati.
Rasa hangat mengalir dari kerongkongan, dan masuk ke dada Larasati sesaat setelah meneguk minuman jahe itu. Tetapi tiba-tiba cengkeraman kencang kembali berada di lengan Kinara.., Larasati kembali merasakan sakit yang hebat di perutnya.
"Jabang bayi..., tenanglah ya. Jika kamu ingin keluar sekarang.., segeralah keluar. Jangan kamu sakiti ibundamu ya sayang.." Kinara berbisik di atas perut Larasati.., dia berusaha menenangkan bayi yang masih berada di dalam kandungan sambil mengusap perut secara perlahan.
"Terima kasih Kinar.., untungnya kamu tinggal di Gunung ini untuk menemaniku. Ada dimana Nimas Rengganis.., kenapa sejak kemarin aku belum ketemu dengannya?" ucap Larasati saat perutnya kembali tenang.
"Gadis itu tidak dapat menahan kerinduannya pada Wisanggeni. Dia sudah meninggalkan perbukitan ini satu minggu yang lalu, dan meminta pendampingnya dari Trah Jagadklana untuk menemani dan menjaga kita disini." Kinara menyampaikan berita itu, karena dia sudah pernah didatangi Ki Narendra yang sudah memberi tahu keberadaannya.
"Memang.., tidak ada perempuan yang bisa menolak pesona dari Wisanggeni. Laki-laki itu sangat mudah untuk memikat hati setiap perempuan muda.., tetapi hatinya tidak pernah lepas dari Nimas Rengganis. Aku sendiri pernah mengalaminya.." ucap Larasati lirih sambil tersenyum pahit. Dia teringat kembali, bagaimana saat dia berusaha menarik perhatian dari Wisanggeni. Tetapi hanya Rengganis yang selalu membuyarkan harapannya.
"Apakah kamu termasuk korban perasaan dari Dimas Wisanggeni Laras..? Melihat dari reaksimu saat membicarakan laki-laki muda itu, sepertinya dengan mudah aku menebaknya." Kinara menggoda Larasati.
Pipi Larasati bersemburat pink.., tetapi..
"Aaakh sakit..." tiba-tiba Larasati kembali berteriak kesakitan. Kinara langsung mengusap perut adik iparnya itu sambil tersenyum.
__ADS_1
"Putramu sepertinya tidak mau jika ibundanya berbicara tentang laki-laki lain.., selain ayahndanya." kembali Kinara menggoda Larasati.
*************