Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 343 Sayalah di Belakang Perguruan Itu


__ADS_3

Raja Adhyaksa yang memimpin kerajaan Logandheng saat ini, melihat dengan tidak percaya ke arah pendhopo kerajaan. Di dalam ruang tersebut, laki-laki itu melihat keberadaan Bhadra Arsyanendra yang ditemani oelh Chkara Ashanka dan kedua pengawal setianya. Perlaha raja Logandheng yang memerintah saat ini, berjalan menghampiri kedua anak muda tersebut, kemudian duduk di depannya.


"Ijin pihak yang lebih muda, memberikan salam kepada pihak yang lebih tua.. Paman Adhyaksa.., Bhadra Arsyanendra datang berkunjung, dan semoga paman tidak merasa terganggu dengan kedatangan kami berdua." tidak diduga, bocah kecil yang ketika meninggalkan kerajaan, belum begitu bisa menyatakan pendapat, saat ini berani menyapa Raja Adhyaksa dengan suara lantang.


"Jangan membuatku malu Raden Bhadra.., tidak perlu bertingkah laku sopan seperti itu. Kerajaan ini adalah milikmu, sewaktu-waktu kamu bisa mengambilnya kembali, jika kamu sudah menginginkannya. Selamat datang kembali keponakanku.., aku menyambut kedatanganmu.." dengan muka sedikit malu, Raja Adhyaksa membalas perkataan bocah kecil itu. Chakra Ashanka hanya diam mengamati interaksi antara kedua orang itu.


Tiba-tiba dari arah pintu samping, berdatangan para pelayan perempuan yang membawa banyak nampan berisi makanan dan minuman. Mereka langsung membawanya kemudian meletakkan semua jamuan itu di meja panjang yang ada di depan mereka duduk. Raja Adhyaksa tersenyum melihat hal itu, kemudian..


"Tidak ada salahnya kita mengisi perut kita dengan jamuan ini keponakanku. Paman yakin, jika sudah dalam waktu yang lama, kamu sudah jarang menikmati banyak makanan khas kerajaan Logandheng. Marilah kita luangkan waktu sebentar untuk menikmatinya, ajak temanmu untuk makan bersama kita." melihat semua makanan sudah tersaji dan tertata dengan rapi, raja Adhyaksa mempersilakan Bhadra Arsyanendra untuk menikmati jamuan tersebut.


Sebelum bocah kecil itu mengambil makanan, dengan sigap kedua pelayan itu mengambil contoh makanan, kemudian memasukkan ke dalam tempat yang terbuat dari bambu. Chakra Ashanka hanya terdiam melihatnya. Setelah beberapa saat,..


"Silakan dinikmati hidangannya Raden Bhadra.., sudah dipastikan jika semua yang disajikan di pendhopo ini tidak mengandung racun di dalamnya." pengawal memberikan laporan pemeriksaan kepada bocah kecil itu. Mendengar hal itu, Chakra Ashanka baru memahami apa yang dilakukan para pengawal. Sikap kehati-hatian seperti itu memang sangat dibutuhkan untuk memastikan kkeselamatan junjungan mereka.

__ADS_1


"Hmmm..., sampai seperti itukah tindakan pencegahan yang kalian lakukan kepada pihak istana. Aku tidak akan mungkin menggunakan cara yang licik untuk melukaimu keponakanku. AKu sudah menganggapmu sebagai putraku sendiri, dan bahkan saat ini juga, jika kamu menghendakinya, maka takhta kerajaan akan aku berikan," Raja Adhyaksa sedikit tersinggung dengan sikap penjagaan yang ditunjukkan oleh para pengawal Bhadra Arsyanendra. Dengan tatapan mengandung kemarahan, laki-laki itu menanggapi apa yang dia lihat itu.


"Tidaklah menjadi hal yang membangkitkan kemarahan hati paman Adhyaksa. Kedua pengawal itu sudah menjaga Bhadra sejak Bhadra masih kecil, sejak Bhadra lahir mereka sudah bersama dengan ayahnda Raja dan ibunda Ratu paman.. Merupakan hal yang wajar, jika kedua pengawal itu menjaga keamanan dan keselamatan Bhadra. Harap paman Adhyaksa tidak tersinggung, dan memaklumi perbuatan mereka." melihat sikap Raja Adhyaksa yang seperti kurang berkenan, Bhadra Arsyanendra segera menjelaskan sikap kedua pengawal,


Tanpa menunggu respon dari raja Logandheng saat ini, Bhadra segera mengambil makanan dan meneguk beberapa minuman dari gelas yang sudah disiapkan untuk mereka. Chakra Ashanka juga melakukan hal yang sama, akhirnya raja Adhyaksa terdiam. laki-laki itu kemudian melakukan hal yang sama, dengan yang dilakukan oleh kedua anak muda itu.


***********


Beberapa waktu kemudian..


Mendengar pertanyaan dari keponakannya, yang juga merupakan putra mahkota pengganti raja di kerajaan Logandheng saat ini, menjadikan raja Adhyaksa gugup. Laki-laki itu meneguk air minum, kemudian..


"Keponakanku Bhadra Arsyanendra.. Semua itu hanyalah salah paham, dan menurut laporan ada segelintir orang dari perguruan Gunung Jambu yang turut campur dalam masalah ini. Mungkin mereka ingin merebut kekuasaan dari kerajaan kita, dengan memanfaatkan kesempatan wafatnya mendiang ayahndamu. Tetapi.., jangan khawatir keponakanku, di masa depan hal itu tidak akan terjadi lagi. Meskipun dengan membawa korban Senopati Wiroyudho, dan terakhir Patih Wirosobo..., aku yakin orang-orang dari Perguruan Gunung Jambu tidak akan berani lagi untuk membuat kekacauan." Raden Adhyaksa memberikan penjelasan tentang apa yang terjadi di kerajaan akhir-akhir ini.

__ADS_1


Mendengar nama perguruannya disebut, mata Chakra Ashanka sudah membulat. Tetapi berpikir, dengan siapa saat ini dia berbicara, dan letak keberadaannya, anak muda itu berusaha untuk mengendalikan dirinya.


"Apakah hanya mendengar dari satu sisi saja, paman sudah melakukan penggempuran besar-besaran pada perguruan itu?? Tidakkah paman mengirimkan telik sandi untuk mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya." sambil tersenyum sinis, Bhadra Arsyanendra menanggapi perkataan yang diucapkan oleh pamannya.


Mendengar reaksi yang ditunjukkan keponakannya, raut wajah raja Adhyaksa terlihat kurang senang.


"Paman ini bukan anak kemarin sore Raden Bhadra, tidak perlu kamu ajari bagaimana paman harus bersikap. Paman juga melihat sendiri, dengan tidak sopannya beberapa waktu belum lama ini, ada seorang perempuan muda dari perguruan itu, yang mencoba merangsek masuk ke dalam acara kerajaan. Perempuan itu memanfaatkan kelemahan dari putra bungsu Patih Wirosobo. Apakah hal itu tidak membuktikan, jika orang-orang dari perguruan Gunung Jambu, memang mencoba untuk mencari masalah dengan kerajaan Logandheng?" Raja Adhyaksa berbicara dengan nada tinggi.


"Jika hal itu sudah diyakini oleh paman sebagai sesuatu yang menjadi masalah, maka selamanya paman pasti akan menganggapnya sebagai suatu masalah. Jika paman Adhyaksa tahu.., di belakang perguruan Gunung Jambu adalah saya sendiri paman, keponakan paman Bhadra Arsyanendra.." untuk mengingatkan pada pamannya, bocah kecil itu mengakui sebagai orang di belakang perguruan Gunung Jambu.


"Apa maksud perkataanmu Raden Bhadra..?? Jangan bermain-main, dan menganggap remeh masalah ini. Gugurnya kedua tokoh kerajaan itu membuktikan, betapa ganasnya orang-orang dari perguruan itu." Raden Adhyaksa melihat wajah Bhadra Arsyanendra semakin lekat. Laki-laki itu tidak mempercayai ucapan yang disampaikan oleh bocah kecil itu.


"Ha.., ha..., ha... semoga paman Adhyaksa tidak terkecoh, dan menjadi mudah dibohongi oleh segelintir orang yang ingin bermain dan memanfaatkan hal ini. Hati-hati paman, banyak musuh yang bersembunyi dalam selimut yang kita gunakan setiap hari untuk menutupi tubuh kita. Begitu percayanya paman mempercayai paman patih Wirosobo  dan semua anggota keluarganya. Sehingga tanpa disadari, sudah memberikan perintah untuk mengirimkan pasukan. Dan.. pasukan itu digunakan untuk membunuh keponakannya sendiri..." dengan tegas tanpa takut sedikitpun, Bhadra Arsyanendra menyampaikan ceritanya.

__ADS_1


*************


__ADS_2