Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 133 Pemanasan


__ADS_3

Setelah beberapa minggu di Pilar kekuatan, dan Wisanggeni merasa jika anak-anak muda yang dia latih sudah memenuhi kualifikasi yang diharapkan, dia berencana segera menuju ke Jagadklana. Mendengar kabar itu, Rengganis sangat senang, dia harus mengikuti kemana suaminya pergi sambil membawa putranya.


"Sentono.., kita akan membagi anak-anak muda dalam tiga gelombang keberangkatan. Kapal untuk membawa kita menuju Jagadklana sudah disiapkan oleh Barjo. Ternyata anak itu masih memiliki hubungan keluarga dengan petugas yang menjalankan kapal, jadi dengan mudah kita sudah disiapkan kapal untuk menuju kesana." Wisanggeni berbicara dengan Sentono. Mereka saat ini sudah menyiapkan keberangkatan mereka menuju Jagadklana. Untuk menghindari kecurigaan dan mata-mata dari Laksito, maka mereka tidak bisa berangkat dalam jumlah orang yang banyak.


"Kita semua akan mengikuti arahanmu Wisang.., aku juga sudah memberi tahu pada Niluh dan Gayatri, Mereka berdua sudah memutuskan untuk mengikuti kita. Ada lima orang yang akan kita tinggal di Akademi ini, untuk berjaga-jaga jika ada informasi." Sentono menanggapi perkataan Wisanggeni. Kedua orang itu kemudian berjalan berdampingan untuk memeriksa semua perlengkapan yang sudah disiapkan oleh orang-orang Sentono.


"Perbanyak anak panah.., hanya senjata itu yang efektif untuk kita. Anak panah akan dapat menjangkau lawan yang berada di tempat yang jauh dengan kita." Wisanggeni memberi perintah pada orang-orang yang sedang menyiapkan persenjataan.


"Baik kang.., akan segera kita persiapkan." orang-orang tersebut segera menyanggupi dan menyiapkan peralatan yang disarankan Wisanggeni. Sentono membantu mengikat persenjataan cadangan yang akan bisa dimanfaatkan jika senjata yang digunakan oleh orang-orang itu mengalami permasalahan.


"Keberangkatan gelombang pertama, akan kita kirimkan nanti malam pada pukul sebelas. Gelombang kedua menyusul pada dini hari pukul tiga, dan gelombang ketiga berangkat pada pukul tujuh pagi harinya. Aku akan mengawal keberangkatan gelombang pertama, gelombang kedua oleh Nimas Gayatri dan Nimas Niluh akan berangkat pada gelombang ketiga." Sentono segera memberikan informasi keberangkatan pada orang-orang itu.


"Siap Kang Sentono.., kita tinggal berangkat. Semua perlengkapan dan persenjataan sudah kita persiapkan dan membawanya." beberapa orang dari mereka menanggapi perkataan Sentono. Setelah mereka merasa cukup, akhirnya Wisanggeni dan Sentono segera kembali ke pondok mereka untuk menyiapkan perlengkapan yang akan mereka bawa sendiri.


**************

__ADS_1


Rengganis terbangun dari tidurnya saat melihat Wisanggeni memasuki kamarnya dan Ashan. Setelah sebentar melihat putranya yang tidur terlelap, gadis muda itu kemudian berdiri dan mendatangi suaminya yang sedang meletakkan sesuatu di atas meja.


"Bagaimana Akang.., pada pukul berapa jadinya teman-teman akan mulai meninggalkan Akademi ini?" sambil mencium punggung tangan Wisanggeni, Rengganis menanyakan keberangkatan mereka. Melihat antusiasme Rengganis, Wisanggeni tersenyum kemudian mengusap rambut istrinya itu.


"Apakah istriku sudah benar-benar tidak sabar untuk mengenalkan p[utranya pada tanah kelahirannya?" dengan suara pelan, Wisanggeni malah bertanya pada Rengganis. Mendengar pertanyaan itu, pipi Rengganis tiba-tiba memerah, gadis itu memberi cubitan di pinggang Wisanggeni.


"Ini suaminya bertanya, kenapa malah dijawab dengan cubitan.." Wisanggeni menggoda Rengganis. Laki-laki itu tahu jika istrinya sudah bosan berada di lokasi ini, dan akan menghalangi kualitas ASI yang akan dia berikan pada putranya. Sehingga Wisanggeni selalu berusaha untuk membuat istrinya tersenyum bahagia.


"Nimas ingin segera keluar dari sini Akang. Sekalian kita mengenalkan pada putra kita, sejak awal kita akan melatihnya untuk menghadapi medan peperangan. Sesuai dengan namanya Chakra Ashanka.." ucap Rengganis manja. Wisanggeni tersenyum menanggapi kemanjaan istrinya, kemudian dia segera menyiapkan apa yang akan mereka bawa ke Jagadklana.


***************


Di atas punggung Singa Ulung dan Singa Resti, Wisanggeni dengan menggendong putranya mengawasi pergerakan orang-orang dari Akademi menuju ke arah Jagadklana. Mereka mengawal gelombang ketiga keberangkatan orang-orang tersebut dengan Niluh sebagai pemimpin kelompok. Sesekali tangan Wisanggeni mengusap wajah putranya yang tidur terlelap untuk menyalurkan energinya, agar putranya tahan terhadap embusan angin.


"Akang lihatlah ke arah tenggara.., seperti terlihat ada keributan disitu.." Rengganis berteriak memanggil suaminya. Wisanggeni mengikuti arah yang ditunjukkan oleh Rengganis, dan tiba-tiba jantungnya berdetak kencang. Laki-laki itu sangat memahami gerak-gerik orang yang ada di bawah, dan aroma yang dibawa oleh orang itu. Tetapi saat ini dia sedang menggendong putranya, dan Rengganis ada di sampingnya.

__ADS_1


"Apakah Akang sudah melihatnya?" kembali Rengganis bertanya pada Wisanggeni. Tetapi Rengganis sedikit curiga, karena tidak biasanya Wisanggeni tidak memberi respon apapun. Laki-laki hanya memandang ke arah yang dia tunjukkan,kemudian terdiam. Tampak kecemasan berkelibat di matanya.


"Tidak ada apa-apa disana Nimas.., mungkin kita tidak usah berhenti disana. Kita langsung melanjutkan perjalanan sampai di tepi danau, setelah kita memastikan jika orang-orang kita baik-baik saja disana, kita akan segera melanjuukan perjalanan dengan Singa Ulung dan Singa Resti." Wisanggeni terkesan mengalihkan pembicaraan. Tetapi Rengganis semakin curiga, dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh laki-laki itu.


"Akang.., Nimas tiba-tiba ingin minum jahe panas. Mungkin jika kita turun di desa itu, kita akan bisa membelinya atau meminta pada sebuah keluarga." dengan alasan ingin minum jahe panas, tanpa menunggu jawaban Wisanggeni, Rengganis langsung menepuk Singa Resti untuk membawanya turun. Wisanggeni hanya memandang punggung Rengganis yang sudah menukik turun meninggalkannya, akhirnya setelah menepuk punggung Singa Ulung, laki-laki itu akhirnya mengikuti istrinya.


**********


"Clappp..., srettttt.." dari atas, Rengganis melemparkan selendang dan mengenai beberapa orang yang mengeroyok seorang gadis muda. Tatapannya berkilat, saat melihat tujuh orang menghadapi satu perempuan. Meskipun dari penglihatannya, perempuan itu masih memiliki kekuatan untuk menghadapi orang-orang tersebut, tetapi dia masih akan kewalahan menghadapinya.


"Kurang ajar.., siapa kamu. Bang.., bang..." terdengar teriakan marah orang-orang yang ada di bawah, dengan membabi buta mereka mengirimkan serangan ke Rengganis. Wisanggeni hanya mengamati istrinya dari atas Singa Ulung, dia masih bisa mengukur jika kekuatan Rengganis bisa mengatasi serangan itu.


"Srett.. swossh..." selendang Rengganis menyambar tangan salah dari orang-orang tersebut, dan satu tangan beserta lengannya terlempar ke atas. Dengan lincah, Rengganis melompat dari atas punggung Singa Resti. Setelah beristirahat tidak melakukan pertarungan selama mengandung Chakra Ashanka, Rengganis berpikir saatnya kali ini untuk melemaskan tulang-tulangnya. Matanya menyipit, melihat ke arah gadis muda yang dia tolong. Hatinya tiba-tiba terkesiap saat melihat siapa gadis yang dia tolong, tetapi dengan cepat Rengganis menghilangkan pikiran buruk.


"Aaawww..., akh.. kurang ajar.." orang yang kehilangan lengannya itu berteriak kesakitan, Dia maju untuk menyerang Rengganis, tetapi sabetan ekor naga tiba-tiba menghantamnya, dan laki-laki itu terpental jauh ke belakang.

__ADS_1


***********************


__ADS_2