Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 453 Ruwatan Kampung


__ADS_3

Alas Kedhaton


Ki Sancoko meminta Sukendro untuk mengumpulkan para pemuda dan sesepuh di desa mereka. Masuknya Wisanggeni dan Rengganis sudah lewat beberapa hari, namun belum ada tanda-tanda pasangan suami istri bisa melepaskan diri dari tarikan energi hitam yang melingkupi tempat itu. Sebagai orang yang meminta dan menahan keberadaan dua orang itu di Alas Kedhaton, Ki Sancoko merasa bersalah. Ketakutan terbesarnya adalah, pasangan suami istri itu tidak mampu melepaskan kekuatan hitam, dan malah energi mereka menyatu dengan kekuatan itu. Akan ada mara bahaya besar yang akan mengancam dunia persilatan,


"Ketua... para sesepuh dan pemuda sudah berkumpul di barak ujung kampung. Apa lagi yang harus saya lakukan." mengenal pasangan suami istri itu lebih lama jika dibandingkan dengan warga kampung lainnya, membuat Sukendro juga merasa paling kehilangan. Terselip perasaan bersalah pada Wisanggeni dan Rengganis, karena anak muda itu yang membawa mereka ke Alas Kedhaton.


"Kumpulkan janur kuning, dan para pemuda diminta untuk membuat penjor. Kita harus segera melakukan ruwatan masal, merti kampung untuk membangunkan penjaga hutan ini, agar membantu kita melepaskan diri dari arwah kuno Gerombolan Alap-alap." Ki Sancoko segera memberi perintah. Laki-laki tua itu sudah merasa kehilangan akal, untuk membawa kembali keadaan seperti semula di kampung mereka.


Hawa yang menyebar ke kampung ini, saat ini membawa udara yang sangat panas, seperti mereka dibawah panggangan api. Hal ini jauh berbeda sebelum mereka meminta bantuan Wisanggeni dan Rengganis untuk membebaskan leluhur mereka yang masih dalam penawanan gerombolan Alap-alap.


Sukendro bergegas kembali ke arah bangsal tempat pertemuan warga Alas Kedhaton, dan segera menyampaikan perihal yang diperintahkan Ki Sancoko. Tidak ada satupun pemuda yang membantah perintah itu, segera beberapa pemuda segera meninggalkan bangsal kembali, untuk mencari janur kuning. Sebagian dari mereka kembali masuk ke dalam hutan, untuk mencari bambu segar dan segala uba rampe lainnya.


"Kita tidak bisa tinggal diam, kita harus membuat bleketepe untuk ruwatan warga kampung..:" salah satu sesepuh tidak sabar menunggu kedatangan para anak muda itu. Laki-laki tua itu segera turun dari bangsal, kemudian mencari peralatan untuk membuat persiapan merti dusun dan ruwatan masal di kampung mereka.

__ADS_1


Para perempuan tidak mau ketinggalan, menggunakan bahan pokok yang tersedia di masing-masing gubug mereka, dan dengan mengambil beberapa buah-buahan dari dalam hutan, mereka membuat makanan yang akan digunakan untuk kenduri. Demikian juga anak-anak. Suasana kampung yang semula sepi, mereka terkurung dalam duka mendalam, kali ini mereka semua melakukan kegiatan.


"Ternyata kalian semua bisa menebak apa yang akan aku lakukan Sesepuh.." Ki Sancoko tersenyum, laki-laki yang sudah turun dan bergabung ke bangsal bersama dengan para warga kampung itu berbicara pada para sesepuh.


"Kita tidak akan tinggal diam Ki Sancoko. Den Bagus Wisanggeni, dan Den Ayu Rengganis.. mereka berdua orang asing yang terpaksa harus mampir ke kampung kita ini. Mereka berdua mengorbankan waktu dan tenaga mereka, bahkan saat ini bisa jadi juga nyawa mereka, tanpa pamrih untuk menolong kampung kita. Kenapa kita hanya melihat penderitaan mereka, tanpa melakukan sesuatu.." salah satu sesepuh menanggapi perkataan Ki Sancoko.


"Iya KI.. masalah ini bukan hanya masalahmu sebagai seorang pemimpin kampung ini. Kali ini masalah sudah gawat, dan akan menjadi masalah kita bersama. marilah kita segera lakukan persembahan pada penunggu dan penjaga hutan, agar mereka terketuk untuk membantu kita semua." sesepuh yang lain menimpali.


"Baiklah.. mari segera kita lakukan. Panggil Pandito Giri Tirto untuk memimpin upacara persembahan kita." segera karena melihat semua persiapan sudah lengkap, Ki Sancoko meminta untuk memanggil sesepuh yang dituakan untuk memimpin doa.


***********


Wisanggeni dan Rengganis masih terlihat mencoba untuk menyerap, dan menetralisir energi kekuatan hitam yang terus keluar, Tetapi semakin lama, energi yang keluar malah semakin pekat, dan berusaha masuk menerobos ke dalam jasad mereka berdua. Laki-laki ayahnda dari Chakra Ashanka dan Parvati itu tampak kewalahan, namun dengan cepat Rengganis mengeluarkan energinya dan mencoba menutup celah yang hampir dilalui oleh kekuatan hitam itu.

__ADS_1


"Bagaimana kakang.. apakah kita akan dapat melewati kekuatan hitam ini.." dengan menggunakan tenaga dalamnya, rengganis mengajak suaminya berbicara. Kedua orang itu duduk bersila, dengan mata terpejam. Namun keduanya selalu berbicara dengan menggunakan telepati dan gelombang energi.


"Kita harus yakin Nimas.. hanya itu yang akan menjadi senjata kita saat ini. Kakang juga tidak menyangka, meskipun Gerombolan Alap-alap sudah kita tumpas, tetapi ternyata kekuatan kuno yang ditinggalkan para leluhur mereka masih sangat besar seperti ini. Kita hanya mencoba untuk menahannya sementara Nimas.. sambil kita berpikir bagaimana bisa menekan dan menghilangkan kekuatan hitam ini.." Wisanggeni menjawab pertanyaan dari istrinya.


Keduanya kembali berada dalam posisi meditasi mereka, namun asap tebal tiba-tiba keluar dari salah satu tempat yang ada di sudut goa tempat mereka berada. Nafas pasangan suami istri itu menjadi sesak, dan kembali terdengar jeritan para sukma yang ditawan disitu. Mereka menangis dan melolong berteriak kesakitan.


"Apa yang harus kita lakukan kakang, jika hanya untuk Nimas sendiri, Nimas masih bisa untuk menahannya, tetapi jika berusaha melindungi para tawanan ini, sepertinya Nimas akan kehabisan tenaga kakang.." rengganis berbicara lagi pada suaminya, perempuan itu terlihat kewalahan untuk mengendalikan energi dan kekuatan hitam yang terus merangsek dan mempengaruhi mereka.


"Tenanglah Nimas.. keluarkan kembali energi kuno Trah Jagadklana.. kakang akan mencoba menggabungkan kekuatan kuno dari trah Bhirawa dengan kekuatan dari Guru Cokro negoro," ucap Wisanggeni menguatkan istrinya.


Tidak menunggu lama, Rengganis segera melakukan apa yang diperintahkan oleh suaminya. perempuan muda itu kembali memejamkan matanya, dan mengangkat kedua tangannya dan melipat di depan dadanya. Satu telapak tangan berdiri dengan telapak tangan menghadap ke samping, Rengganis mengeluarkan kekuatan kuno dari dalam tubuhnya. Beberapa saat, energi bening tampak keluar dari tubuh perempuan muda itu, dan terlihat dengan jelas perlahan mengikis energi kekuatan hitam yang tadi sangat pekat itu.


"Trap... blammm.." tidak diduga, ternyata Wisanggeni mengeluarkan pisau belati dengan mustika ungu di atasnya. Kristal di gagangan pisau itu, tampat mengeluarkan cahaya ungu menyilaukan dan perlahan menyibak kegelapan energi pekat yang memenuhi goa tersebut.

__ADS_1


Menyadari jika energi kekuatan hitam yang ada dalam goa tersebut sudah mulai menipis, Wisanggeni kembali memejamkan matany. Tidak lama kemudian energi kekuatan kuno, dengan deras kembali mengalir keluar dari tubuh laki-laki itu. Ruangan goa yang semula tertutup asap tebal, lama kelamaan menjadi terlihat terang. Para tawanan yang ada di goa tersebut, sudah tidak lagi mengeluarkan teriakan kesakitan.


********


__ADS_2