Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 39 Adu Tanding


__ADS_3

Widjanarko dan Lindhuaji sangat gembira bisa berjumpa lagi dengan Wisanggeni, apalagi informasi yang mereka dapatkan terakhir adalah adiknya itu sudah kehilangan semua kekuatannya. Kali ini mereka bertemu kembali, bukan hanya kekuatannya saja yang sudah kembali, tetapi Wisanggeni datang dengan membawa seorang gadis yang cantik. Air mata tampak menggenang di pelupuk mata mereka, saat bersama-sama mengingat kebersamaan dengan Ki Mahesa.


"Makanlah dulu Wisang.., setelah makan, kakak ingin mencoba berolah raga denganmu. Kakak ingin mencoba sampai dimana insting dan perkembangan dari kecepatanmu. Sudah lama kita tidak berolahraga bersama." ucap Widjanarko ingin menjajal sampai dimana kekuatan adik bungsunya itu.


"Jika Wisang kalah dengan kakak, ya harus dimaklumi kak. Kan Wisang anak paling bungsu, he..he..he..." Wisanggeni bercanda dengan kakaknya, sambil mengangkat cangkir teh panas dan kemudian meminumnya.


"Jangan merendah kamu Wisang, melihat dari bentuk badanmu saat ini, kakak sebenarnya tidak berani untuk melawanmu.Mungkin aku dengan Lindhuaji bekerja sama saja, tidak akan ada apa-apanya untuk melawanmu saat ini." sahut Widjanarko sambil tersenyum.


"Iya kang, malah sudah mendahului kita. Wisanggeni sudah mengenalkan perempuan pada kita." sahut Lindhuaji.


"Ha..ha..ha.., Wisang dan Larasati tidak sedang menjalin hubungan apapun kakang, kecuali hubungan pertemanan di antara kami. Jika kakangmas berdua tidak percaya, boleh kakangmas menanyakan langsung pada Larasati." ucap Wisanggeni langsung.


Ekspresi Larasati langsung berubah cemberut mendengar perkataan yang dikeluarkan oleh Wisanggeni, dadanya menjadi sesak. Dia rela melakukan dan mengikuti laki-laki muda itu kemanapun, tetapi ternyata Wisanggeni tidak menaruh perasaan lebih padanya.


"Aku harus berusaha keras untuk meluluhkan hati Kang Wisang." Larasati membatin sendiri. Dia kemudian mulai mengendalikan perasaannya, dan pura-pura mengambil pisang rebus kemudian memakannya.


"Iyakah.., apakah benar yang dikatakan adikku Nimas Laras?" tanya Lindhuaji langsung pada Larasati.


Mendengar pertanyaan dari kakaknya WIsanggeni, Larasati menatap Lindhuaji.


"Benar apanya kang, maaf.... tadi Larasati tidak ikut dalam pembicaraan kalian bertiga. Laras juga tidak mendengar apa yang sudah diutarakan oleh kang Wisang." Larasati berusaha mengelak untuk menjawab pertanyaan dari Lindhuaji.


"Oh begitu ya. Sudahlah.., tidak perlu dianggap saja ya pertanyaan dari kakang." sahut Lindhuaji tidak jadi bertanya untuk menggoda Wisanggeni dan Larasati.


Mereka akhirnya mengobrol sampai menjelang tengah malam, dan karena menyadari jika adik bungsunya baru saja menempuh perjalanan jauh, Widjanarko mengakhiri perbincangan.


"Sudah sangat malam..., kita akhiri perbincangan kita. Jangan lupa Wisang, besok kamu harus bangun pagi. Kakangmas akan mencoba kekuatanmu sekarang." ucap Widjanarko.

__ADS_1


"Baik kakangmas, saya dan Laras kembali dulu ke tempat peristirahatan." setelah berpamitan, Wisanggeni dan Larasati berjalan berdampingan menuju kamar mereka. Kebetulan mereka disiapkan kamar oleh pelayang saling berdekatan.


"Selamat malam Kang Wisang..., apakah kakang langsung mau istirahat atau kita akan mengobrol dulu?" tanya Larasati yang masih ingin melanjutkan perbincangan dengan Wisanggeni.


"Maafkan aku ya Laras.., kebetulan aku ingin segera istirahat. Aku juga tidak tahu mengapa, mataku dari tadi rasanya ingin segera terpejam." kata Wisanggeni menjawab pertanyaan Larasati.


"Ya sudah kang, mari kita istirahat dulu! Apalagi besok pagi, kakang harus bertanding dengan kang Widjanarko dan Lindhuaji. Laras ke kamar dulu kang." Larasati kemudian meninggalkan Wisanggeni dan langsung bergegas menuju kamarnya. Wisanggeni melihati Larasati sampai dia masuk, dan menutup pintu kamarnya. Pinggul wanita itu membuat laki-laki muda itu menelan air liurnya.


********************


"Dug... clap.." terdengar tendangan ke arah depan, tapi dengan mudah ditangkis oleh Wisanggeni.


"Awas..," teriakan Widjanarko saat akan mengarahkan pukulan ke dada adiknya, tetapi dengan cepat Wisanggeni sudah mengambil salto dan meloncat ke depan.


"Prakkk..," angin yang mengikuti pukulan Widjanarko menghantam tumpukan kayu.


Wisanggeni sengaja tidak menggunakan seluruh kekuatan yang dia punya. Dari tadi dia hanya berputar-putar untuk menghindari serangan dari kakaknya, dia sama sekali belum berniat untuk memberi serangan pada Widjanarko.


"Brakk." tidak terduga, tubuh Widjanarko terpental ke belakang menubruk kursi di belakangnya.


"Prok..., prok.., prok..," terdengar tepuk tangan Lindhuaji.


Wisanggeni mengulurkan tangannya, membantu Widjanarko untuk kembali berdiri.


"Ternyata adikku luar biasa. Aji.. apakah kamu tidak akan menjajal Kekuatan Wisang?" tanya Widjanarko pelan.


"Tidak kakang...., aku sudah siap mengaku kalah sebelum bertanding." sahut Lindhuaji merendahkan diri.

__ADS_1


"Wah.., kakang berdua terlalu memuji Wisang." sahut Wisanggeni.


Widjanarko merangkul pundak adiknya, kemudian mengajaknya untuk duduk beristirahat. Pelayan segera mengantarkan minuman dan makanan untuk kudapan.


"Ayo Nimas Laras.., kita bergabung dengan mereka!" Lindhuaji mengajak Larasati.


Wisanggeni memang sengaja membiarkan kedua kakaknya untuk menjalin interaksi dengan gadis itu. Meskipun sebagai seorang laki-laki, dia juga tertarik dengan tubuh gadis itu, tetapi tidak untuk memiliki hatinya. Dia masih berharap akan Rengganis, yang dia harapkan akan mendampinginya sampai maut memisahkan mereka.


************


Wisanggeni berdiri berdampingan dengan Larasati di halaman pendopo utama. Mereka menyaksikan anak-anak muda berlatih dan akan dipilih untuk menjadi tentara bayaran, yang akan disewa oleh para saudagar yang akan mengirimkan barang dagangan.


"Kang Wisang menjagokan yang mana dari lima anak muda yang bertanding itu? Kalau Laras pegang yang baju coklat." tanya Larasati sambil menunjuk ke arah lapangan.


"Baju coklat itu menurutku hanya besar badannya saja Laras, untuk masalah kekuatan aku pegang yang tubuhnya kecil. Pukulan anak itu sangat kuat, dia juga tidak mudah terprovokasi lawan tandingnya." sahut Wisanggeni.


Mereka mengamati pertandingan disitu dengan penuh perhatian, tetapi Wisanggeni merasakan seperti ada yang sedang menatapnya dari jauh. Dia mengarahkan pandangannya pada tempat yang dia curigai. Tetapi dia tidak melihat apapun.


"Kakang melihat apa?" merasa jika Wisanggeni kurang fokus dalam melihat pertandingan, Larasati menanyakan langsung pada laki-laki muda itu.


"Tidak ada apa-apa Laras, mungkin hanya perasaanku saja." kata Wisanggeni.


"Perasaan? perasaan apa kakang?" tanya Larasati sambil melihat ke wajah laki-laki yang berdiri di sampingnya itu.


"Kakang dari tadi merasa seperti ada yang sedang melihat kita disini. Tapi tidak ada siapapun, saat kakang menengoknya."jawab Wisanggeni.


"Iya kang, paling hanya perasaan kakang saja. Laras juga merasa tidak ada siapapun disini yang diam-diam mengamati kita." ucap Larasati setelah dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Perempuan itu kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Wisanggeni, tetapi belum sampai menyentuh bahunya, tiba-tiba...

__ADS_1


"Sebegitu asyiknya.., sampai kang Wisang tidak melihatku ada disini." terdengar suara yang langsung menggetarkan hati Wisanggeni. Sedangkan Larasati langsung pucat melihatnya, dia merasa bingung dan juga sekaligus merasa kesal.


***********"


__ADS_2