
Rengganis menatap Maharani yang sedang berusaha mengobati dirinya sendiri dengan menempelkan ramuan dari daun-daunan yang ditumbuk. Rengganis sengaja membiarkan sementara, untuk melihat bagaimana perempuan itu berusaha menyembunyikan luka yang sedang di deritanya. Tetapi melihat perempuan itu terlihat kesusahan menempelkan tumbukan daun di belakang tubuhnya, akhirnya Rengganis memutuskan untuk mendekati perempuan itu.
"Hmm.., apakah kamu akan menyembunyikan lukamu ini padaku Nimas Maharani..?" Maharani terperanjat, perempuan itu kaget mendengar suara Rengganis yang secara sarkasme telah memberinya sebuah teguran. Perempuan itu tersenyum malu, melihat ke arah Rengganis.
"Bukan itu maksudku Nimas Rengganis..., aku hanya tidak mau merepotkanmu saja." ucap Maharani pelan, rasa malu menyergap di perempuan itu. Maksud hati, perempuan itu ingin menanggung sendiri masalah yang sudah ditimbulkannya, tetapi ternyata tidak semudah itu untuk menyembunyikannya dari Rengganis.
"Tidak merepotkan, hanya saja kamu telah melukai putrimu Parvati Nimas... Kamu melakukan sesuatu tanpa berbicara apapun padaku, dan untungnya banyak telik sandi perguruan yang mengabarkan tentang sepak terjangmu. Kenapa kamu memutuskan untuk menyembunyikan masalah ini dariku..?? Ini bukan masalah besar Nimas.., dan saat ini, kita berdua yang mendapatkan amanah dari kang Wisanggeni untuk menjaga dan mengendalikan perguruan ini. Kamu tidak mungkin hanya menyimpan masalah untuk kamu telan sendiri.," sambil menyibakkan kain yang menutup di tubuh Maharani, Rengganis terus menegur Maharani dengan halus.
"AKu tidak mau menjadikan masalah kecerobohanku menjadi masalah perguruan Nimas.. Aku juga tahu, bagaimana Nimas sudah melawan ornag-orang yang dikirimkan dari kerajaan Logandheng di tapal batas tadi. Maafkan aku Nimas sudah melibatkanku... Sssshhh..." mulut Maharani mendesis, ketika Rengganis membobokkan atau menempelkan tumbukan daun-daun itu di punggung dan lehernya yang sakit.
"Tahanlah sebentar.., tapi tumbukan daun ini hanya sementara mengurangi rasa sakitmu Nimas.. AKu akan memberimu pil yang diolah oleh Kang Wisanggeni. Tunggu aku menyelesaikan pekerjaanku dulu." Rengganis mengajak Maharani berbicara. Tangan perempuan itu meratakan racikan tiga macam dedaunan untuk menghilangkan peradangan dari luka-luka yang diderita Rengganis.
Setelah beberapa saat, akhirnya pekerjaan itu selesai. Rengganis mengajak Maharani untuk beristirahat di tempat yang sudah disiapkan oleh murid-murid perguruan. Tidak berpikir lama, karena melihat luka-luka yang dialami Maharani, Rengganis langsung mengajak perempuan itu.
"Telanlah pil ini.., kamu akan segera tertidur sebentar." Rengganis memberikan pil herbal hasil racikan tangan Wisanggeni ke tangan Maharani. Mendengar perkataan Rengganis, jika pil itu akan membiarkannya tertidur, Maharani menjadi ragu.
__ADS_1
Tetapi tidak diduga sama sekali oleh perempuan itu, tanpa bicara Rengganis memegang dagu Maharani dan belakang kepalanya. Tanpa bicara, Rengganis memaksakan perempuan itu untuk menelan pil herbal tersebut. Tidak lama kemudian, karena sudah berada di tenggorokannya, Maharani tidak memiliki pilihan lain untuk menelan obat herbal tersebut.
"Nimas..., ada dimana Parvati sekarang..?" ketika melihat Rengganis akan berjalan meninggalkannya, tiba-tiba Maharani menanyakan keberadaan putrinya.
"Tenangkan dirimu Nimas, kamu harus beristirahat dengan benar. Parvati sudah berada di tempat yang tepat dan benar, aku tidak akan meninggalkan gadis kecil itu begitu saja. Istirahatlah.., aku sudah menyiapkan segala kemungkinan terburuk untuk menyelamatkan penerus keluarga kita, keluarga Kang Wisanggeni." Rengganis meminta Maharani untuk beristirahat. Dari perkataannya, perempuan itu menyampaikan jika Parvati sudah berada dalam perlindungannya.
Tanpa bicara, Maharani menatap ke wajah Rengganis dan mengucapkan terima kasih dalam tatapan matanya itu. Rengganis hanya tersenyum, kemudian tidak lama kemudian perempuan itu sudah tertidur.
**********
MUrid-murid yang sedang berjaga di tapal batas, terkejut melihat puluhan orang-orang dengan mengenakan baju seragam kerajaan Logandheng datang menggeruduk tapal batas, Beberapa orang menghadang mereka, dan menanyakan keperluan apa yang sedang dibawa oleh pasukan kerajaan tersebut.
"Ki Sanak.., ada hal apa dimana pagi-pagi, dari kerajaan Logandheng sudah mengirimkan banyak orang, dan sepertinya mereka semua adalah pasukan kerajaan ke wilayah perguruan kami..?" seorang murid memberanikan diri bertanya para kepala pasukan tersebut,
"Ha.., ha..., ha... licik sekali kamu anak muda.. Siapa yang menjadi penanggung jawab perguruan kali ini, aku akan menanyakan dimana mereka menyembunyikan banyak orang-orang dari kerajaan kami. Kalian yang sudah lebih dulu melanggar kedaulatan kerajaan kami, dan saat ini dengan tidak memiliki rasa bersalah sami kami, kamu masih mencoba untuk menanyakannya kepada kami." dengan tertawa terbahak, kepala pasukan itu menanggapi perkataan yang diucapkan oleh murid tersebut.
__ADS_1
"Sepertinya ada kesalah pahaman dari pihak pasukan kerajaan dalam memahami perilaku kami. Apa yang sudah kami lakukan beberapa waktu yang lalu, hanya sebagai salah satu bentuk ajaran sikap welas asih dari perguruan yang harus diberikan kepada sesama manusia. Kami sedikitpun tidak campur tangan di tanah yang menjadi wilayah Logandheng, melainkan warga desa yang sudah masuk ke wilayah tapal batas kami. Alasan kemanusiaan untuk menolong yang lemah, yang menjadi pendorong kami untuk menolong mereka." tanpa memandang siapa yang diajaknya bicara saat ini, murid itu dengan berani menjawab perkataan kepala pasukan tersebut,
"Terlalu banyak bicara kamu... panggil pemimpin perguruan kamu. Aku akan mengajaknya bicara, apa maksud dari perlakuan mereka terhadap orang-orang kami." tidak mendengarkan apa yang diucapkannya oleh murid-murid perguruan, kepala pasukan itu bicara dengan nada tinggi.
Untungnya perguruan Gunung Jambu tidak sembarang memilih murid-murid yang ditugaskan untuk menjaga perbatasan perguruan. Selain kemampuan Kanuragan yang mumpuni, mereka juga memiliki ketrampilan bersilat lidah dalam mempertahankan kebenaran.
"Tidak semudah itu untuk dapat berbicara dengan pemimpin perguruan kami Ki sanak. Antara tapal batas perguruan dengan perguruan bagian dalem, kami harus melewati bukit tersebut. Saya pikir Ki sanak bisa memperkirakan berapa waktu yang akan ditempuh jika kita memanggil Guru -guru kami." untuk mencegah orang-orang itu menemui Rengganis dan Maharani, murid yang berjaga mengulur waktu dengan memutar-mutar pembicaraan.
"Terlalu banyak bicara kamu..., sekarang aku tawarkan kepadamu dua buah pilihan. Kamu segera memanggil siapa yang bertanggung jawab atas orang-orangku , atau kami akan menghajar untuk memberi pelajaran kepada kalian semua." merasa dipermainkan sejak tadi oleh murid-murid perguruan, kepala pasukan terbakar emosinya.
Murid yang berjaga terlihat tersenyum menanggapi kemarahan kepala pasukan itu Laki-laki itu memberi isyarat pada semua murid yang berada di tapal batas untuk bersiap. Tanpa ada perkataan apapun, dari belakang murid itu melompat beberapa murid-murid lainnya membuat pagar pembatas dengan mengaitkan kedua tangannya. Mereka saling bergandengan tangan.
"Ha..., ha.., ha..., ternyata kalian memilih untuk menjemput takdir kalian masing-masing. Bersiaplah kalian semua, kita akan memberi pelajaran pada murid-murid ini." kepala pasukan menolak ke belakang.
Tanpa menjawab, orang-orang di belakang kepala pasukan itu segera bersiap. Mereka memegang dan menghunus senjata di tangan mereka masing-masing.
__ADS_1
**********