
Sambil memeluk pinggang Wisanggeni, Larasati sangat menikmati pemandangan dari atas langit. Tangannya dia naik turunkan ke perut Wisanggeni, membuat yang punya merasa kegerahan. Berkali-kali laki-laki muda itu harus menghirup nafas panjang, kemudian mengeluarkannya lagi. Bukit kembar gadis itu menempel erat di punggungnya, sehingga menimbulkan sensasi tersendiri, dan menjadikan nafas laki-laki itu menjadi sesak.
"Singa Ulung..., seperti biasa, turun di pinggir desa yang sepi. Aku tidak mau kita menjadi tontonan warga desa!" terdengar Suara Wisanggeni memerintah singa putih.
"Sudah sampaikah kakang? Kenapa cepat sekali perjalanannya?" tanya Larasati yang masih enggan untuk melepaskan pelukan eratnya.
"Nanti kita masih harus tanya-tanya dulu, karena untuk tempat pastinya dimana kedua kakakku berada, aku belum mengetahuinya. Jadi, nanti kita turun di pinggiran desa agar tidak menimbulkan kecurigaan maupun pertanyaan dari orang-orang." jawab Wisanggeni.
Tidak lama kemudian, singa ulung mulai menurunkan badannya. Dia menurunkan kedua orang yang ada di atasnya, di bawah pohon mahoni yang banyak tumbuh di pinggir desa. Setelah meluruskan dan meregangkan semua otot dan tulang-tulangnya, mereka kemudian berjalan memasuki desa. Orang yang tidak tahu, banyak yang menyangka jika mereka adalah seorang pasangan kekasih dengan ditemani seekor kucing warna putih.
"Minggir..., tolong minggir. Rombongan dari Pangeran Abhiseka akan melewati jalan ini. Kami mohon, semua segera menepi sampai pangeran melewati jalan ini." tiba-tiba terdengar seruan beberapa orang yang sedang mengendarai kuda.
"Ayo kita minggir Laras, sekalian kita istirahat di tempat duduk itu!" Wisanggeni mengajak Larasati istirahat, sambil menunjuk ke tempat duduk panjang yang ada di pinggir jalan.
Larasati mengikuti Wisanggeni kemudian mereka duduk, sambil menunggu rombongan pangeran lewat di depannya. Banyak warga yang datang ke pinggir jalan, sepertinya mereka ingin menyambut kedatangan pangerannya.
"Tak..tuk..tak..tuk.." terdengar banyak suara tapak kaki kuda semakin mendekat ke tempat duduk Wisanggeni.
Para warga pada bersimpuh di pinggir jalan untuk memberikan penghormatan pada putra rajanya. Ringkikaan suara kuda yang ditarik tali oleh penumpang juga ramai terdengar. Terlihat dari jarak yang masih lumayan jauh, seorang yang duduk dengan gagahnya di atas punggung kuda melambaikan tangannya pada warga masyarakat. Sesekali dia melemparkan koin untuk para warga.
"Srettttttttttt... aaaaawww." tiba-tiba terdengar teriakan pengawal yang berada di samping Pangeran Abhiseka, saat sebuah pedang panjang tiba-tiba menyayat punggungnya.
Tanpa bisa dicegah, beberapa orang yang mengenakan penutup wajah berwarna hitam merampas barang yang sedang dibawa oleh Pangeran Abhiseka.
"Kejar dan tangkap orang-orang itu!" teriak pangeran Abhiseka sambil menunjuk ke arah orang-orang itu.
__ADS_1
"Ciatttt..., dug." tiba-tiba tubuh Pangeran Abhiseka melayang dari kudanya, tetapi secepat kilat tubuh itu sudah ditangkap oleh Wisanggeni sebelum terbanting ke tanah dengan keras. Tangan kanan Wisanggeni dengan cepat melempar pisau belatinya, dah langsung menembus punggung para penjahat yang akan melarikan diri.
Larasati langsung melesat mengejar para perampas itu, dan akhirnya menyeret satu orang. Dia melemparkan orang tersebut di hadapan Pangeran Abhiseka. Pengawal juga mengejar orang-orang yang sudah merampas tas yang dibawa oleh Pangeran mereka.
"Terimakasih Kisanak atas bantuan kalian berdua." Pangeran Abhiseka mengucapkan terima kasih pada Wisanggeni dan Larasati.
"Ini hanya kebetulan Pangeran, dan kita memang harus saling membantu." Wisanggeni menjawab ucapan Pangeran sambil memberikan salam hormat dengan kedua tangan digenggam dan diletakkan di depan dadanya.
********
Pangeran Abhiseka mengajak Wisanggeni dan Larasati untuk mampir ke istana, sebagai bentuk ucapan terima kasih. Sambil berdiri dan mencari informasi keberadaan Klan kakaknya, Wisanggeni menerima ajakan itu.
"Minumlah.., ini teh terbaik yang dipetik dan diproduksi hanya untuk keluarga istana." Abhiseka menawarkan teh, sambil mengangkat cangkirnya.
Wisanggeni melakukannya hal yang sama.
"Maka nikmatilah, selagi kalian ada disini. Sebenarnya apa tujuanmu lewat di kota ini?" tanya Abhiseka.
"Sebenarnya saya baru mencari kakak saya Pangeran. Dari informasi yang saya dengar, kakak saya memiliki Klan di wilayah Barat. Nama kakak saya yang pertama adalah Widjanarko, dan kakak kedua saya bernama Lindhuaji." Wisanggeni menjawabnya pertanyaan Abhisheka.
"Ha...ha..ha.., ternyata kita memang berjodoh. Klan kakakmu ada di kota ini, dan biasanya jika memerlukan pengawalan khusus, kami juga sering menyewa orang-orang dari klan mereka. Prok..., prok..., prok...," setelah tertawa menanggapi Wisanggeni, Abhiseka bertepuk tangan.
Mendengar tepuk tangan Pangeran, ada dua pengawal yang berjalan maju mendekatinya.
"Kami berdua menghadap. Apa yang bisa kami bantu Pangeran?" tanya salah satu dari orang tersebut.
__ADS_1
"Apakah kamu dari Klan Gumilang?" tanya pangeran pada kedua orang tersebut.
"Benar pangeran, kami diambil oleh Kepala Pengawal di kerajaan ini untuk membantu pengawalan ke Gunung Botak. Sebenarnya tugas kami sudah selesai, tetapi Kepala Pengawal masih meminta kami untuk berada disini sementara." orang tersebut menjawab.
"Besok kamu melayani kedua tamuku ini, antarkan mereka ke Klan Gumilang!" pangeran memberikan tugas baru untuk mereka.
"Jika itu kehendak dari Pangeran, kami berdua hanya bisa mematuhi apa yang sudah diperintahkan kepada kami. Kami siap kapanpun untuk berangkat." jawab mereka sambil mengangkat kedua tangan mereka untuk memberikan penghormatan pada pangerannya.
Setelah mendengar kesanggupan dari kedua orang itu, Abhisheka berbicara pada Wisanggeni.
"Kisanak.., istirahatlah dulu barang satu malam di istanaku! Besok pagi-pagi sekali, kedua orang ini akan mengantarkan kamu untuk bertemu dengan kedua saudaramu."
"Terimakasih atas bantuan dari pangeran, tapi sebenarnya kami akan segera berangkat malam ini juga. Kita sudah cukup lama mengistirahatkan tubuh kami. Jika diperkenankan, kami berdua segera akan undur diri." tidak mau banyak berhutang budi pada pihak kerajaan, Wisanggeni langsung berpamitan.
"Kenapa kamu menolak tawaranku Kisanak?"
"Kami tidak berani Pangeran. Tetapi ada hal penting menyangkut kepentingan keluarga kami, yang harus segera kami sampaikan pada kedua kakak saya." Wisanggeni menjawab.
Abhiseka terdiam, meskipun dia kurang menyukai penolakan dari Wisanggeni, tetapi karena mereka berdua sudah memberinya pertolongan akhirnya dia bisa menerimanya.
"Baiklah kalau itu sudah menjadi tekadmu. Aku tidak akan menghalangi keinginanmu." Abhiseka mengambil nafas sebentar.
"Lukito..., Sadiyo.. antar dan temani kedua tamuku ini untuk datang bertamu ke Klan Gumilang. Aku juga titip ucapan salam untuk Ketua Klan." lanjut Abhisheka.
"Baik Pangeran.., kami akan melaksanakan apa yang sudah Pangeran perintahkan pada kami." kedua orang dari Klan Gumilang itu menyanggupi.
__ADS_1
"Jika demikian, mungkin tidak bijak jika kami berdua masih tetap berada disini. Kami mohon pamit Pangeran, dan terima kasih atas jamuannya." pamit Wisanggeni.
********