
Setelah satu hari perjalanan akhirnya rombongan Rengganis memasuki kota Laksa. Untuk memberikan kejutan pada keluarga di Trah Bhirawa, mereka sengaja tidak langsung turun di pesanggrahan, melainkan di pinggiran kota. Ke empat orang itu segera berjalan menyibak keramaian kota Laksa yang sudah lama tidak mereka lihat lagi. Dengan rasa ingin tahu yang besar, Ayodya Putri mengedarkan pandangan ke sekeliling, dan semua teman-temannya membiarkan apa yang dilakukan oleh gadis muda itu.
"Di depan ada keramaian, kira-kira ada apa disana?" melihat banyak orang berkerumun, Ayodya Putri menunjuk tempat agak jauh di depan mereka. Ketiga orang itu menoleh ke tempat yang ditunjukkan oleh gadis muda itu. Tetapi karena tempatnya sedikit jauh dari mereka berada saat ini, tidak ada yang bisa menjawab dengan pasti apa yang terjadi disana,
"Tidak tahu Nimas.., tapi biasa hal itu terjadi di kota. Bisa jadi, mereka sedang bermain judi taruhan dengan menggunakan dadu besar." Rengganis menjelaskan. Hal itu sering terjadi di beberapa kota yang pernah dilewati Rengganis di masa lalu. Dimana ada seorang bandar yang akan mengatur permainan dadu, dengan menggunakan satu dadu besar yang terbuat dari kayu. Kemudian dadu itu akan diguncang, dan akan menunjuk pada angka undian.
"Dadu besar bunda.., bagaimana cara mainnya?" merasa belum pernah melihat permainan tersebut, Chakra Ashanka tertarik untuk mengetahuinya. Begitu juga dengan Sekar Ratih, hanya saja gadis kecil itu tidak berani untuk menyampaikan rasa ketertarikannya.
"Kalian bertiga pingin tahu, tapi sebenarnya rugi jika kalian hanya ingin tahu saja.. Bagaimana jika kalian turut bermain, yah.. siapa tahu dapat mengerjai bandar judinya. Biasanya para bandar judi memiliki banyak taktik, agar pengunjungnya tidak mendapat keuntungan dair permainan itu. Akan sangat menarik, jika kalian melihat dan memberi pelajaran pada mereka." Rengganis menawarkan permainan itu pada mereka. Terlihat putranya tertarik untuk mencoba permainan itu.
"Tapi bagaimana cara untuk memainkannya bunda.., Ashan belum pernah melihatnya." Chakra Ashanka meminta penjelasan pada Rengganis.
"Amati dulu beberapa saat, kamu akan bisa melihat dari cara orang bermain. Jika sudah memahaminya, maka ikutlah.. bunda yakin dan percaya, kamu akan bisa memberi pelajaran pada bandar judi itu. Tapi ingat, jangan gunakan keping yang kamu dapatkan untukmu sendiri. Berikan pada para pengemis yang banyak di pojok sana." Rengganis memberi tahu cara untuk dapat memainkannya,
__ADS_1
"Baik ibunda.., Ashan ijin untuk menuju kesana," anak muda itu tersenyum, kemudian anak muda itu segera melangkahkan kaki menuju kerumunan orang di depan sana. Tiba-tiba Ayodya Putri berdiri dan akan melangkahkan kakinya.
"Putri akan menemani kang Ashan.." tidak diduga, Ayodya Putri ingin mengikuti Chakra Ashanka. Tangan Rengganis dengan sigap menahan tangan gadis muda itu, mencegahnya untuk mengikuti putranya.
"Nimas.., kamu tidak boleh kemana-mana. Akan sangat bahaya untuk gadis secantikmu berkeliaran di tempat seperti itu. Bisa-bisa kamu akan menjadi sasaran kejahatan dari para laki-laki mesum." Rengganis berbicara dengan nada sedikit tinggi, tidak memberi ijin untuk Ayodya Putri pergi mengikuti Chakra Ashanka. Sekar Ratih diam tidak berbicara, gadis kecil itu hanya mengamati Chakra Ashanka yang sudah memasuki kerumunan di depan sana.
"Baik Bibi.." dengan muka sedikit kecewa, gadis muda itu kembali memundurkan langkahnya. Gadis itu kemudian duduk di samping Sekar Ratih.
********
"Prok.. prok.., prok.." riuh tepuk tangan mengiringi berhentinya dadu tersebut.
Beberapa saat Chakra Ashanka mengamati permainan itu, dan merekam cara main dalam otaknya. Dengan cepat anak muda itu menguasai teknik permainan, dan tanpa berpikir Chakra Ashanka melemparkan keping uang untuk membuat taruhan, Melihat nilai keping uang yang dilemparkan anak muda itu, beberapa orang menengok pada Chakra Ashanka. Bandar judi tersenyum, mengamati penampilan anak muda itu. Bandar judi merasa jika anak muda itu akan menjadi incarannya untuk dikeruk keping koinnya.
__ADS_1
Beberapa saat, anak muda itu memilih angka dan meminta ijin pada bandar judi untuk mengguncang sendiri kotak kayunya. Tidak menunggu lama, bandar judi memberikan kotak kayu pada anak muda itu. Orang-orang semakin banyak mendekat untuk melihat permainan yang akan dimainkan oleh anak muda itu. Penampilan bersih dari Chakra Ashanka, seperti menunjuk pada penampilan anak orang kaya yang hanya menghabiskan uang saja.
"Lihat saja.., pasti anak muda itu akan membuat banyak kekalahan di tempat ini. Cara memegang kotaknya saja sudah tidak tepat, pasti dadu yang keluar juga akan meleset." beberapa orang membicarakan anak muda itu. Chakra Ashanka hanya tersenyum masam tidak menanggapi perkataan itu.
"Iya.. lihat saja pembawaan anak muda itu. Sepertinya anak muda itu dari keluarga kaya, dan akan membakar keping di tempat ini. Aku jadi ingin melihatnya bertekuk lutut di hadapan bandar judi itu." teman lainnya turut memberikan komentar.
Kerumunan orang-orang semakin bertambah, dan bandar judi tersenyum sambil mengelus-elus janggutnya. Terbayang keuntungan yang akan didapatkannya dari permainan Chakra Ashanka.
Dengan sikap tenang, Chakra Ashanka mulai mengguncang kotak kayu beberapa kali, dan setelah mengambil nafas dengan mata tertutup, anak muda itu menggulirkan dadu di atas gambar-gambar yang ada di atas tikar. Dadu itu ternyata tidak langsung berhenti, dan berputar-putar di atas gambar-gambar yang menunjukkan berapa keping koin yang akan didapatkan. Orang-orang itu tidak tahu, jika Chakra Ashanka melambari kekuatan dalam mengguncang kotak kayu dengan tenaga dalamnya.
"Tap.., tap.." akhirnya dadu itu berhenti tepat pada gambar keping koin tertinggi yang bisa didapatkan. Orang-orang di tempat itu terdiam, mereka merasa tidak percaya dengan apa yang mereka lihat di depannya. Bahkan beberapa orang mengucek-ucek matanya untuk memastikan apa yang dilihatnya merupakan sesuatu yang benar. Dengan tenang seperti tidak terjadi apa-apa, Chakra Ashanka hanya tersenyum dan menatap pada bandar judi itu.
Reaksi marah dengan muka yang berubah menghitam ditunjukkan oleh bandar judi. Tetapi laki-laki berperawakan sangar itu tidak bisa berbuat apa-apa, karena permainan dilakukan di tempat ramai dan banyak saksi masa yang menyaksikannya. Dengan jengkel, bandar judi itu menyiapkan keping koin dan melemparkannya pada anak muda itu. Chakra Ashanka tersenyum, dan karena tidak mau mencari masalah, anak muda itu langsung berjalan dan berlalu dari tempat itu.
__ADS_1
**********