Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 442 Mereka Orang Baik


__ADS_3

Ternyata dalam waktu singkat, Parvati dapat memahami apa yang diinginkan oleh Nini Sinto Rini. Dengan mengamati gerak gerik binatang yang ada di sekitarnya, tanpa bantuan seorang guru, Parvati dapat menemukan beberapa kemajuan pembelajaran. Melalui burung-burung, Parvati berhasil menguasai bagaimana mendeteksi kedatangan musuh. Dari kelinci, gadis itu berhasil belajar tentang kecepatan. Melalui kawanan anjing liar, Parvati mempelajari tentang taktik penyerangan. Tanpa ada seorangpun berada di sisinya, dengan cepat, parvati dapat menelan dan menerapkan semua dalam kanuragan. Bakat yang diturunkan dari darah manusia ular sangat diwarisi oleh tubuhnya, ditambah dengan kekuatan energi dari Wisanggeni ayahndanya.


Siang itu, di bawah sinar matahari yang terik, tampak Parvati berlari-lari mengejar kelinci. Bukan untuk memangsa binatang itu, tetapi Parvati hanya menggunakan binatang itu untuk melatih kecepatan berlarinya. Setelah merasa capai, barulah gadis itu akan beristirahat di bawah pohon rindang. Hal itu berlangsung untuk beberapa saat lamanya. Dari tempat yang tidak diketahui oleh gadis muda itu, Nini Sinto Rini mengamati kemajuan yang berhasil dicapai oleh Parvati.


"Naluriku ternyata tidak salah untuk memilih gadis muda itu. Darah panas dalam dirinya sebagai keturunan dari manusia ular, mempercepat masa latihannya. Tanpa pendampingan dariku, dalam waktu singkat ternyata Parvati mampu memaknai semua umpan yang ada di sekitarnya, aku tinggal memolesnya sedikit saja." Sinto Rini tersenyum dan berbicara sendiri.


Namun dugaan perempuan tua itu jika Parvati tidak mengetahui keberadaannya merupakan hal yang salah besar. Melalui naluri manusia ular, Parvati dapat mencium keberadaan perempuan tua itu.


"Hmmm.. rupanya Nini Sinto Rini masih peduli padaku. perempuan tua itu tidak betul-betul meninggalkanku sendiri. Sepertinya perempuan tua itu yang sudah mengatur pergerakan para binatang untuk menularkan ilmunya padaku. Jadi.. sama saja perempuan tua itu sudah menjadi seorang Guru bagiku.." Parvati tersenyum. Sejak tadi indera penciuman gadis muda itu, sudah merasakan aroma kedatangan perempuan tua itu. Namun.. Parvati tidak mau mempermalukan perempuan tua itu dengan menunjukkan keberadaannya.


Tiba-tiba Parvati merasakan kedatangan kawanan anjing dari arah dalam hutan. Gadis muda itu tidak menghindar dan berlari untuk mencari tempat berlindung. Tetapi gadis muda itu malah seakan menantang dan menantu kedatangan kawanan anjing itu.


"Srettt..." tiba-tiba Parvati menarik selendang warna ungu dari dalam kepis di pinggangnya. Gadis muda itu mencium selendang itu, dan bau harum aroma Rengganis masih kental terdapat dalam gulungan selendang kecil tapi panjang itu.


"Aku akan mencoba melihat bagaimana reaksi yang ditunjukkan oleh Nini Sinto Rini, jika aku menggunakan selendang ini untuk mengajak kawanan anjing liar bermain.." Parvati tersenyum dan berbicara pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Dengan selendang yang berkibar-kibar di tangan kanannya, mata Parvati menembus kelebatan pepohonan hutan. Tidak lama kemudian, seperti yang sudah dirasakannya, kawanan anjing berlari dan menuju ke arah Parvati dengan cepat.


"Kalian ingin berkenalan lebih dekatku denganku bukan...? Hal ini berarti kebetulan, aku juga sedang membutuhkan teman untuk bermain." ucap Parvati sambil tersenyum. Tangan kanan gadis muda itu mengibarkan selendang yang ada di tangan kanannya ke arah kawanan anjing liar itu.


"Guk.. guk... guk.. byuarr.." di luar dugaan, kawanan anjing yang berlari kencang itu tiba-tiba tunggang langgang menghindarkan sabetan dari selendang Parvati.


Beberapa binatang yang terkena sambarannya, langsung terkapar di tanah dan tidak lagi melakukan pergerakan. Hal itu berlangsung untuk beberapa saat, sampai kawanan anjing yang  tidak terkena serangan berlari kembali dan masuk ke dalam hutan. Tinggallah Parvati sendiri di padang rumput itu, dan kawanan burung terbang dan mengelilingi gadis itu.


*******


Indera ke enam Wisanggeni sangat waspada, laki-laki itu tetap memeluk istrinya di atas dahan pohon trembesi. Rengganis masih tertidur lelap. Namun Wisanggeni bisa merasakan jika ada manusia lain di sekitar tempatnya berada, hal itu dapat diketahui dari energi hangat yang tanpa sengaja tertiup terbawa angin, dan menerpa ke kulit laki-laki itu. Tetapi Wisanggeni tidak mau menemukan mereka terlebih dulu, karena merasa tidak memiliki urusan dengan orang-orang itu. Jadilah Wisanggeni hanya menunggu sambil memeluk istrinya yang masih tertidur dengan bersandar di dadanya.


"Energi hangat yang menerpaku sangat lemah, sepertinya mereka bukan orang-orang jahat. Mungkin ada sesuatu yang akan mereka sampaikan kepadaku, tetapi mereka juga masih menunggu tawaran dariku. Aku akan berpura-pura tidak mengetahui adanya energi yang datang kepadaku.." Wisanggeni tersenyum sendiri, laki-laki itu tetap memejamkan matanya sambil memeluk Rengganis.


"Koak.. koak.. koak..." tiba-tiba kawanan monyet melompat dari satu dahan ke dahan yang lain. Suaranya menimbulkan kebisingan, dan perlahan Wisanggeni dan Rengganis membuka matanya, kemudian mereka saling bertatapan.

__ADS_1


"Suara apa itu kakang.. kenapa sangat berisik sekali..?" Rengganis bertanya pada suaminya,


"Suara monyet yang sedang berkejaran Nimas... mungkin mereka merasa terganggu dengan keberadaan kita disini. Biasanya dahan ini memang tempat mereka bermain dan mencari makan, lihatlah buah apel di atas kita. Sangat banyak buahnya bukan.. mereka mungkin ingin mengisi perut mereka, namun terganggu dengan keberadaan kita disini." ucap Wisanggeni sambil menunjuk pada kawanan monyet yang bertengger di dahan pohon sebelahnya.


"Benar katamu kang... kita harus segera bergeser dari tempat ini. Nimas khawatir, mereka berpikir kita ini adalah pengganggu, sehingga tanpa mereka sadari, mereka bisa mengirimkan serangan pada kita karena mereka merasa terancam." Rengganis berbicara dengan nada khawatir,.


"Jangan khawatir Nimas, hal itu tidak akan pernah terjadi. Sebaliknya mereka akan bisa membantu kita untuk mencarikan air minum. Lihatlah  di sebelah sana... pohon kelapa dengan banyak buah di atasnya. Akan sangat menyegarkan jika kita bisa mengambil kelapa itu, dan meminum airnya untuk menghilangkan rasa haus kita." sahut Wisenggeni.


"Terserah padamu kang..., Nimas ikut saja." ucap Rengganis sambil tersenyum. Perempuan muda ini sangat mempeprcayai kemampuan yang dimiliki suaminya.


Wisanggeni tersenyum, kemudian di atas dahan pohon laki-laki itu berdiri. Kedua tangan Wisanggeni direntangkan, kemudian membuat gerakan menepukkan kedua telapak tangan beberapa kali. Tidak disangka, kawanan monyet itu langsung berlarian dan bergerak ke pohon-pohon yang lain. Rengganis menatap ke wajah suaminya secara kebingungan, namun laki-laki itu hanya meletakkan satu jari telunjuknya di atas bibirnya, memberi isyarat agar istrinya tidak bersuara.


Tidak lama kemudian, kawanan kera kembali berdatangan. Saat ini, monyet-monyet itu sudah berani melompat ke arah pohon yang digunakan Wisanggeni dan Rengganis beristirahat. Di tangan monyet tersebut, ada beberapa buah segar dan juga kelapa muda seperti yang diinginkan oleh Wisanggeni.


"Kerja yang bagus kawan... terima kasih atas upaya kalian. Tetapi buah yang kalian bawakan ini terlalu banyak, kami hanya butuh beberapa saja. Nikmatilah sendiri buah-buah ini untuk mengisi perut kalian.." Wisanggeni mengambil dua buah kelapa muda, kemudian menggunakan pisau belatinya laki-laki itu membuka kulitnya. Beberapa saat kemudian, laki-laki itu memberikannya pada Rengganis.

__ADS_1


********


__ADS_2