Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 177 Pencarian


__ADS_3

Mata Singa Ulung tampak merah menatap tiga orang yang mengelilinginya. Meremehkan kekuatan binatang itu, ketiga orang itu menatapnya sambil menggerakkan tangannya meminta binatang itu mendekat. Binatang itu tidak menanggapi mereka, tetapi hanya melihat mereka dengan tatapan tajam.


"Sepertinya kamu sengaja untuk mengajak bermain-main dengan pemilikmu yang baru ya.." satu orang dari mereka, tertawa mengejek binatang itu.


"Langsung kita tangkap saja kakang, mumpung pemiliknya tidak melakukan apapun. Sepertinya laki-laki itu menyerahkan binatangnya pada kita. Ayo kita langsung tangkapan saja." teman lainnya berteriak memanasi rekannya.


"Clap.., jleb." sebuah tombak dilempar ke arah Singa Ulung, dan dengan cepat binatang itu menghindar ke samping.Tombak itu meleset dan menancap mengenai batang pohon.


"Jangan senang dulu kamu binatang... terimalah ini Ajian Tangkap Walik... keluarlah.. bang.., bang.." sebuah anyaman kekuatan energi berwarna jingga keluar dari tangan laki-laki itu.


Dengan gesit, Singa Ulung berkelit menghindari serangan itu. Binatang itu dengan cepat melompat ke depan, menuju ke salah satu dari mereka yang terlihat lengah.


"Kurang ajar...., kekuatan Gempur Cadas.. blarrr.." dengan cepat laki-laki yang dituju Singa Ulung membentuk formasi di kedutaan tangannya, dan segera mengirim serangan ke binatang itu. Tetapi karena formasinya belum selesai, sedangkan Singa Ulung sudah berada di atas tubuhnya, serangan yang dilakukan tidak berarti apa-apa bagi binatang itu.


"Clap.. krekk.." terdengar suara renyah, mulut Singa Ulung merobek paha laki-laki itu. Seketika konsentrasi orang tersebut buyar, darah mengalihkan keluar dari paha orang tersebut.


"Aaawww..., bangsat kamu binatang tidak tahu diri. Clang..." merasa temannya kesakitan, teman dari laki-laki itu menyabetkan pedang kepada Singa Ulung.Tetapi pedang itu beradu dengan cakar binatang itu.


Dari pinggir tempat pertarungan, Wisanggeni melihat mereka sambil tersenyum miris. Laki-laki itu tidak mengkhawatirkan binatang itu, tetapi miris melihat kulit orang-orang itu tercabik-cabik dan menjadi mainan bagi Singa Ulung. Tetapi selagi mereka tidak memohon ampun, Wisanggeni tidak akan memberi mereka pertolongan.

__ADS_1


"Blarr.., blarr.." serangan demi serangan terus dikirimkan orang-orang itu pada Singa Ulung. Tetapi Singa Ulung, bukan hanya seekor binatang biasa. Hidup lama menemani Cokro Negoro dan Wisanggeni, membuat binatang itu turut berlatih kekuatan dan tenaga dalam. Jadi jika dibandingkan dengan kekuatan tiga orang itu, Singa Ulung masih jauh lebih unggul.


"Auuuummmmm... jeglarr..." tidak sabar menghadapi ketiga orang itu karena hanya membuang waktu, Singa Ulung mengeluarkan Auman disertai dengan kekuatan aura yang dimilikinya. Ketiga orang itu kaget, tetapi belum sampai mereka menyadari kekuatan itu, tubuh ketiganya sudah melayang di angkasa. Mereka merasakan tenaga dan kekuatan tersedot habis, rasa panas mengalir di sekujur tubuh mereka. Belum hilang keterkejutan, tubuh ketiga orang itu sudah terbanting ke tanah dengan keras.


Wisanggeni tersenyum, jika ketiga orang itu masih memiliki kekuatan untuk bangun kembali dari jatuhnya, laki-laki itu akan memberikan pertolongan.Tetapi beberapa saat laki-laki itu menunggu, tidak pergerakan dari ketiganya.


"Kamu tidak mengukur betapa kuatnya energi yang kamu keluarkan Ulung." Wisanggeni mengusap pelan kepala binatang itu sambil tersenyum.


Perlahan laki-laki itu menghampiri ketiga laki-laki yang tergolek di tanah, jarinya ditempelkan pada sisi leher mereka. Meskipun wajah ketiganya orang itu sudah hancur dengan luka-luka hampir di sekujur tubuhnya, tapi Wisanggeni masih menemukan tanda-tanda kehidupan dari ketiganya. Tidak mau meninggalkan dendam, Wisanggeni mengambil porselen dari dalam kepisnya. Laki-laki itu mengambil beberapa pil untuk pemulihan, dan menggenggamkannya di telapak tangan masing-masing.


"Ulung.., ayo kita segera naik ke atas bukit itu. Menurut petunjuk Ki Kasena, kita harus melewatinya melalui pinggiran tebing di atas sana." Wisanggeni menunjuk arah ke atas.


*******


"Mau kemana Ki Sanak?" dengan ramah, kedua orang itu menyapa Wisanggeni.


"Mau ke pinggir tebing kang, jika boleh tahu kakang sendiri mau kemana?" Wisanggeni membalas pertanyaan mereka, dan diapun balik bertanya.


"Kemana lagi jika tidak mengadu nasib Ki Sanak. Siapa tahu, kami bisa mendapatkan karomah untuk lempeng pusaka di bukit ini." Wisanggeni terkejut, dalam pikirannya tidak bangun orang yang tahu dengan keberadaan pusaka tersebut. Ternyata dua orang tersebut juga memiliki tujuan yang sama.

__ADS_1


"Apakah tujuanmu sama dengan kita kang, jika sama, ada baiknya kita menuju kesana bersama-sama. Tidak peduli siapa nanti yang akan mendapatkan karomah dari pusaka itu, kita bisa mencarinya bersama." teman satunya menimpali.


Mendengar ajakan mereka, Wisang menyetujuinya. Berada di hutan asing, memang lebih baik mencari teman daripada mencari musuh. Mereka bisa saling membantu, tanpa ada persaingan di antara mereka.


"Baiklah..., aku setuju dengan usul kalian. Kenalkan namaku Wisang.." Wisanggeni mengulurkan genggaman tangannya. Kedua orang itu melakukan hal yang sama.


"Saya Santoso, dan dia Sumpeno.." ketiga orang itu beradu jotosan tangan bersamaan. Kemudian mereka tidak mau membuang waktu,. mereka segera melanjutkan perjalanan.


"Untuk apa sebenarnya tujuan kalian ikut mencari pusaka itu?" Wisanggeni menanyakan tentang tujuan mereka untuk mendapatkan pusaka lempeng.


"Hanya untuk berlatih saja Wisang. Kami juga tidak terlalu peduli dengan hasil yang akan kita peroleh. Jika memang beruntung, kami akan membawanya pulang. Jika tidak, berarti ada pendekar lain yang lebih memiliki hak untuk pusaka itu." mendengar jawaban itu, Wisanggeni mengambil nafas lega. Kali ini dia tidak salah memilih teman baru di dalam perjalanan. Tidak ada rasa iri, dengki dari pembawaan mereka.


"Kamu sendiri, untuk tujuan apa Wisanggeni, jauh-jauh datang kemari." salah satu dari orang tersebut balik bertanya pada Wisanggeni.


Wisanggeni tersenyum kecut, kemudian dia menceritakan tentang ketidak sengajaan sampai di tempat ini. Dia juga bercerita jika belum lama mendapatkan informasi keberadaan tentang pusaka itu. Dan ternyata jika berhasil mendapatkan akan membantu untuk memperlancar proses meditasi. Kedua orang itu terkejut mendengar cerita laki-laki itu.


"Berarti jika tidak salah dengar, kamu adalah suami dari Ratu Ular Maharani?" tiba-tiba Sumpeno bertanya padanya.


Wisanggeni menganggukkan kepala. Kedua orang itu melihat dan memperhatikan Wisanggeni.

__ADS_1


"Rupanya kamu lebih membutuhkan pusaka itu Wisang.. Baiklah kita berupaya mencari bertiga, dan karena kami sendiri juga tidak mengetahuinya kegunaan dari lempeng pusaka itu, maka kami akan memberikan barang itu padamu." tanpa diduga, Sumpeno dan Santoso bersedia membantu Wisanggeni dengan suka rela. Mendengar ucapan mereka, Wisanggeni merasa tidak percaya, tapi laki-laki itu tidak menemukan kebohongan dalam perkataan mereka.


*****


__ADS_2