Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 67 Restu


__ADS_3

Naga besar yang digunakan oleh Wisanggeni sebagai bantalan badannya, bergerak perlahan melonggarkan ikatannya pada badan Wisanggeni. Matanya membuka, dan saat perlahan muncul kepalanya terlihat Maharani ratu ular yang pernah ditemui Wisanggeni saat perjalanan menuju Akademi. Mata jernih dan indah Maharani mengerjap, dia merasakan gerakan muncul dari badan Wisanggeni. Jika dilihat dengan mata telanjang, Wisanggeni terlihat seperti bayi yang dibedong di dalam gendongan seorang wanita cantik.


"Paduka sudah bangun..?" terdengar suara merdu Maharani bertanya pada Wisanggeni.


"Dimana aku, bukannya kamu adalah Maharani ratu ular yang pernah bertemu denganku?" dengan lirih, Wisanggeni balik bertanya.


Maharani tersenyum, tangannya mengusap badan gosong milik Wisanggeni, dan sekejap laki-laki muda itu merasakan badannya menjadi dingin dan nyaman.


"Paduka jangan terlalu banyak berpikir. Teman-teman atau anak buah Paduka sudah membawa badan Paduka yang terbakar dari Gunung Baturetno. Saat ini Paduka membutuhkan waktu sedikit lama untuk memulihkan diri." lanjut Maharani.


"Tapi apakah anggota badanku bisa kembali pulih seperti semula Maharani? Aku sendiri saat ini tidak tega melihat badanku yang kering dan gosong seperti ini." sahut Wisanggeni sedih. Bahkan tangan dan kakinya saat ini terlalu kaku untuk digerakkan.


Naga perempuan itu kembali tersenyum manis, dimana senyuman itu akan sangat memabukkan bagi laki-laki manapun. Tetapi senyuman itu tidak bisa mengguncang hati laki-laki yang berada di pelukannya saat ini.


"Jangan khawatirkan pemandangan yang Paduka lihat saat ini. Dalam tubuh Paduka sudah mengalir mustika Nabau, dan saat ini saatnya Paduka untuk berganti tubuh seperti yang juga dialami oleh kami. Kami disini akan memastikan keselamatan Paduka, beristirahatlah dengan tenang. Masih dibutuhkan waktu beberapa bulan purnama agar kulit luar Paduka terkelupas, dan terlahir kembali dengan kulit yang lebih bagus." kembali Maharani memberi penjelasan pada laki-laki muda itu. Sedangkan Wisanggeni sendiri sampai sekarang tidak mengetahui, jika dirinya sudah menjadi bagian dari keluarga naga, yang harus menjalani proses regenerasi dengan mengganti kulitnya.


"Terus bagaimana dengan teman-temanku Maharani?" tiba-tiba Wisanggeni teringat teman dan keluarganya.


"Mereka semua aman Paduka. Anak buah Paduka yang tersebar di seluruh belahan dunia sudah melaporkan dengan telepati. Semua teman Paduka aman, dan kekasih Paduka Nimas Rengganis saat ini sudah kembali ke padhepokan Jagadklana. Sedangkan Ki Mahesa sudah berada di tempat kakang Paduka Ki Widjanarko." Wisanggeni terkejut, ternyata naga perempuan ini memiliki jaringan komunikasi yang sangat lengkap.


"Terima kasih Maharani, aku banyak berutang budi padamu." ucap Wisanggeni.

__ADS_1


"Jangan pernah mengucapkan kalimat itu Paduka, karena hal itu menjadikan kami menjadi malu. Sudah menjadi kewajiban kami untuk menjaga dan melindungi pemimpin kami. Paduka harus terbiasa dan selalu mengingat jika kami kaum ular di belahan dunia manapun, adalah anak buah Paduka. Cukup angkat telapak tangan Paduka ke atas, maka semua ular maupun naga akan mematuhi perntah Paduka."


"Sshh.., sshhh.. sshh..." terdengar desisan ular yang terdengar cukup keras. Wisanggeni menoleh ke sumber suara tersebut, dan terlihat beberapa naga berkepala manusia datang menghampirinya. Di tangannya mereka membawa beraneka makanan  dan minuman serta buah-buahan.


Wisanggeni tampak bingung, dia melihat ke mata Maharani. Naga perempuan itu tersenyum, kemudian mengambil cangkir berisi minuman dan meletakkannya di  depan bibir Wisanggeni.


"Paduka minumlah dulu.., sudah beberapa purnama Paduka belum makan makanan manusia." dengan suara lembut, Maharani melayani Wisanggeni. Dalam mata naga perempuan itu, terlihat bagaimana dengan penuh cinta dan pengabdian dia melayani laki-laki muda yang saat ini menjadi pemimpin bagi kaumnya.


************


Sesampainya di padhepokan Jagadklana, Rengganis langsung mengurung diri di dalam kamar. Dia sebenarnya malas untuk kembali pulang, karena dia merasa bahwa di trahnya itu penuh dengan orang-orang yang sangat sombong, yang hanya mengandalkan kekuatan fisik dan kanuragan semata. Apalagi para laki-laki muda disitu selalu berusaha menunjukkan kekuatan dan saling berselisih jika berada di hadapannya.


"Tok.., tok..., tok..." terdengar ketukan tiga kali di pintu kamar Maharani.


Pintu didorong masuk dari luar,  dan terlihat di hadapan perempuan muda itu dua orang laki-laki dan perempuan. Mereka adalah ayahnda dan ibunda dari Rengganis.


"Ayah.., ibu...," melihat kedatangan kedua orang tuanya, Rengganis segera berdiri dan menyambutnya.


"Putriku..., duduklah kembali nak!" dengan penuh kasih sayang, ibunda Rengganis kembali mendudukkan putrinya di pinggiran tempat tidur.


Laki-laki tua pemimpin Jagadklana mengambil nafas dalam kemudian menghembuskannya kembali.

__ADS_1


"Apa yang sedang kamu pikirkan Nimas.., sejak kembalinya kamu ke padhepokan ini, kamu hanya mengurung di dalam kamar. Apakah kamu kecewa kembali ke wilayahmu?" ayahnda Rengganis bertanya pada putrinya.


Rengganis mengangkat wajahnya, dia melihat ke mata ayahndanya.


"Tidak ayah.., bukan itu penyebabnya. Rengganis mengkhawatirkan keadaan Kang Wisang, bahkan sampai sekarang Anis tidak tahu apakah Kang Wisang masih hidup ataukah sudah tidak ada di dunia ini." ucap Rengganis lirih dibarengi dengan isakan kecil keluar dari bibirnya. Melihat putrinya, ibunda Rengganis meraih bahu putrinya kemudian menyandarkan kepala di dadanya. Sesekali tangan ibunda membetulkan rambut Rengganis yang tidak beraturan.


Ayahnda Rengganis tiba-tiba tersenyum, dia merogoh sesuatu dari sakunya. Beberapa saat kemudian, laki-laki tua itu mengeluarkan pisau kecil. Rengganis terkejut, karena pisau kecil yang dipegang ayahndanya persis dengan pisau belati yang menjadi senjata andalan Wisanggeni.


"Ayah.., kenapa ayahnda memiliki senjata sama dengan yang dimiliki oleh Kang Wisang?" ucap Rengganis dengan nada penasaran.


"Rengganis putriku, ada tiga senjata yang sudah diwariskan oleh para leluhur kita putriku. Satu dibawa oleh keluarga dari trah atau klan Bhirowo, satu cincin akik dari trah Suroloyo, dan satu pisau ini yang berada di tangan ayahnda. Kamu jangan khawatir putriku, Wisanggeni masih ada di dunia ini. Lihatlah titik kecil ini..!" ayahnda Rengganis pemimpin Jagadklana menunjukkan setitik warna terang yang hampir redup pada gagang pisau.


"Apa ini maknanya ayahnda?" tanya Rengganis.


"Titik ini menandakan bahwa pemegang pisau ini yang menjadi pewaris dari leluhur kita masih hidup. Meskipun titik ini redup, tapi masih ada nafas kehidupan di badannya. Mungkin saat ini, anak itu sedang berjuang untuk mengembalikan sinar kehidupannya." dengan sabar ayahnda menenangkan hati putrinya.


"Putriku..., apakah kamu menyayangi Wisanggeni?" tanya ibunda dengan suara pelan.


Pipi Rengganis tiba-tiba memerah menahan malu, perlahan gadis itu menganggukkan kepala dengan mantap.


"Ternyata putri kita sudah dewasa ayah. Kita harus mempersiapkan diri untuk segera menimang cucu." ucap ibunda.

__ADS_1


"Ayah dan ibunda tidka akan mempermasalahkan hubungan kalian Rengganis. Tetapi para pria muda di padhepokan ini yang mungkin akan menjadi penghalang untuk kalian. Tunjukkan bahwa memang Wisanggeni pantas untuk memilikimu putriku." ucap ayahnda dengan nada tegas.


**************


__ADS_2