
Beberapa saat mereka bicara sambil terduduk di sekitar Wisanggeni dan Rengganis yang baru saja tersadarkan kembali, Wisanggeni tampak antusias berbicara dengan Arya dan Dananjaya, tentang asal usul dan siapa mereka sebenarnya. Mereka terlibat dalam sebuah pembicaraan yang serius. Ketika mereka sedang berbicara, tiba-tiba Rengganis melihat Ayodya Putri dan Bhadra Arsyanendra berjalan ke arah mereka, dan terlihat binar kebahagiaan di mata mereka. Rengganis kemudian mengajak semua yang ada di sekitarnya untuk duduk sambil berbincang.
"Bibi Rengganis.. paman Wisanggeni.. kalian berdua sudah kembali sadar..?" terlihat Bhadra Arsyanendra memberi sapaan pada pasangan suami istri itu. Dengan cepat, pasangan suami istri menganggukkan kepala dan meminta pada dua anak muda itu untuk duduk bergabung dengan mereka.
"Iya Raden Bhadra.., rupanya Hyang Widhi masih menginginkan kami berdua untuk tetap berada di alam ini. Belum saatnya untuk kami, bisa melakukan Moksa dan kembali ke alam lain yang lebih kekal di dalamnya.." Wisanggeni segera menanggapi pertanyaan yang diucapkan oleh Bhadra Arsyanendra.
Ketika mereka sedang berbicara, terlihat Sekar ratih berdiri meninggalkan mereka. Seperti tahu apa yang menjadi tujuan dari gadis muda itu pergi, Chakra Ashanka segera mengikuti gadis itu di belakangnya. Parvati tetap berada di tempat itu, dan duduk di samping Dananjaya dan Arya. Ayodya Putri kemudian duduk di tempat yang terlihat masih kosong karena perginya Sekar Ratih dan Chakra Ashanka.
"Paman.. Bibi.. jangan berbicara seperti itu, belum saatnya paman dan bibi bicara tentang kata Moksa. Keberadaan kalian berdua, masih dibutuhkan untuk membawa kedamaian di alam ini paman.. bibi.." Bhadra Arsyanendra menanggapi perkataan tersebut.
"Oh iya Raden.. bagaimana kabar kerajaan kali ini, kenapa hanya demi kami saja, kalian berdua secara bersama-sama bisa meninggalkan kerajaan. Bukankan cukup putra kami saja Raden, cukup Chakra Ashanka.." tiba-tiba Rengganis mengingatkan tentang keberadaan raja dan patih kerajaan Logandheng itu.
Mendengar perkataan dua orang pasangan suami istri itu, Bhadra Arsyanendra tersenyum. Anak muda itu segera duduk di samping Wisanggeni.
"Bibi.. paman.. janganlah bicara seperti itu. Kalian berdua bukanlah orang lain bagi Bhadra.. sudah Bhadra anggap sebagai orang tua saya sendiri. Kemanapun kang Ashan pergi Bibi... Bhadra akan ikut di belakangnya." dengan malu, anak muda itu menjawab pertanyaan ibunda dari Parvati dan Chakra Ashanka itu,
"Terima kasih Raden atas pengakuan Raden pada keluargaku.. Kita jadi bisa menjadi sebuah keluarga baru.." Rengganis menanggapi perkataan anak muda itu.
__ADS_1
Ketika mereka masih tengah berbincang-bincang, terlihat Sekar Ratih dan Chakra Ashanka berjalan ke arah mereka, dengan membawa daging bakar dan beberapa buah-buahan hutan. Tampak air hangat mengepul juga terlihat ada di bawah oleh dua anak muda itu. Wisanggeni dan Rengganis tersenyum melihat apa yang dibawa oleh putranya itu, tampak seperti sesuatu yang sudah terlalu lama dirindukannya.
"Ashan.. Nimas Ratih.. ternyata kalian berdua sangat piawai membaca keinginan kami putraku.." Rengganis tersenyum melihat apa yang dibawa oleh keduanya.
Parvati segera berdiri membantu Sekar Ratih menurunkan makanan dan minuman yang dibawa, kemudian meletakkan di depan ayahnda dan ibundanya. Wisanggeni tersenyum, kemudian meminta semua yang ada di tempat itu untuk mendekat ke arah makanan dan minuman yang dibawa Chakra Ashanka dan Sekar Ratih. Wisanggeni mengawali segera mengambil cangkir kayu kemudian minum beberapa teguk, kemudian mulai mencicipi daging bakar,
*********
Malam itu karena masih untuk pemulihan kekuatan Wisanggeni dan Rengganis, Parvati dan Chakra Ashanka membawa kedua orang tuanya ke kota kecil. Mereka memutuskan untuk kembali menginap di penginapan tempat mereka menginap sebelumnya. Dengan mengendarai Singa Ulung dan Singa Resti juga naga terbang, kemudian yang lainnya mengikuti dengan berlari dan melompat, akhirnya mereka bisa sampai di kota kecil.
"Selamat datang Ki Sanak.. tidak aki sangka dalam waktu yang tidak lama, Ki Sanak sudah datang berkunjung kembali ke penginapan ini. Membawa rombongan lagi.." dengan suka cita, Ki Bardi segera mempersilakan semua rombongan itu untuk masuk ke dalam penginapan itu. Laki-laki itu tergopoh-gopoh mendatangi Wisanggeni, kemudian menyalami laki-laki itu.
"Iya Ki.. kebetulan kami melewati kembali tempat ini. Tidak ada salahnya bukan, jika kami kembali menginap di tempat ini.." Wisanggeni menanggapi perkataan Ki Bardi.
"Sangat terima kasih sekali Ki Sanak.., tidak lama beberapa hari lalu, nak mas yang itu dengan dua gadis muda itu juga pernah menginap di tempat ini Ki Sanak. Kami sangat tersanjung sudah menjadi pilihan Ki Sanak dan keluarga untuk memilih penginapan.. dan saya akan memerintahkan pada pelayan kami untuk memberikan potongan harga pada ki Sanak dan keluarga.." sambil mereka masuk dan berjalan, Ki Bardi mengajak Wisanggeni berbicara,
Sambil menunggu pelayan menyiapkan beberapa kamar untuk mereka, Ki Bardi memerintahkan pada pelayan untuk menyediakan minuman dan kudapan untuk mereka yang datang. Untuk menghormati pemilik penginapan, Wisanggeni segera mengajak beberapa orang yang datang bersamanya, untuk mengikuti apa yang diperintahkan oleh pemilik penginapan itu. Beberapa saat mereka berbincang sambil menikmati suguhan sederhana yang dihidangkan oleh Ki Bardi.
__ADS_1
"Ayahnda.. ibunda.. sepertinya ayah dan bunda harus segera melakukan istirahat. Malam sudah semakin menjelang, dan tubuh ayahnda dan ibunda membutuhkan waktu untuk kembali memulihkan kekuatan.." berpikir jika kedua orang tuanya, baru siuman, Chakra Ashanka segera mengajak keduanya untuk beristirahat,
"Maaf Ki Sanak.. karena saya mengajak berbincang.. sampai akhirnya Ki Sanak berdua tidak segera merebahkan diri untuk beristirahat." merasa sudah mengganggu waktu beristirahat, Ki Bardi segera berdiri dan meninggalkan Wisanggeni dan rombongan.
Sepeninggalan laki-laki pemilik penginapan, Wisanggeni segera mengajak Rengganis untuk beristirahat. Demikian juga dengan yang lainnya. Mereka mulai berjalan untuk menuju kamar mereka masing-masing.
"Apakah Ashan perlu menemani ayahnda dan ibunda beristirahat..?" masih belum yakin dengan kesehatan yang dialami kedua orang tuanya, Chakra Ashanka mempercepat langkah mengikuti Wisanggeni dan Rengganis.
"Kamu istirahatlah sendiri putraku.. ayahnda dan ibunda akan melakukan semedi di dalam kamar. Kami yakin, akan secepatnya bisa mengembalikan kekuatan .." Wisanggeni menolak dengan halus tawaran yang diberikan oleh putranya.
"Baiklah ayahnda.. Ashan berada di kamar samping tempat ayahnda dan ibunda beristirahat.. Jika terjadi apa-apa, Ashan minta ijin untuk secepatnya masuk ke tempat istirahat ayahnda dan ibunda.. Segeralah masuk dan istirahat ayah.." Chakra Ashanka meminta kedua orang tuanya segera masuk ke kamar.
Perlahan anak muda itu menutup pintu kamar yang digunakan Wisanggeni dan Rengganis istirahat, kemudian kembali menutupnya. Tanpa anak muda itu sendiri, ternyata Parvati sudah berdiri di belakangnya.
"Bagaimana kang Ashan.. apakah ayahnda dan ibunda bisa kita biarkan untuk berada sendiri dalam kamar tanpa kita temani..?" dengan rasa khawatir, Parvati bertanya pada Chakra Ashanka. Anak muda itu tidak menjawab, hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
**********
__ADS_1