
Wisanggeni menarik kotak batu itu keluar, tetapi tidak terlihat petunjuk untuk membuka kotak batu tersebut. Dengan tenaga dalamnya, laki-laki itu mencoba memecahkannya, tetapi sedikitpun kotak itu tidak menunjukkan tanda-tanda retak. Di pinggiran batu, terulir garis kecil memanjang mengelilingi kotak tersebut.
"Apa lewat garis kecil ini ya, aku dapat membuka kotak batu ini?" Wisanggeni bergumam, matanya terus mengamati kotak tersebut. Perlahan, laki-laki itu mengeluarkan pisau kecil mustika Nabau. Dengan pandangan tajam, ujung lancip pisau dia torehkan memutar mengikuti garis kecil tersebut.
"Clang.." pisau kecil itu malah terlepas, saat ujung lancipnya beradu dengan kotak batu tersebut, terdengar suara seperti beradu dengan besi.
"Ternyata keras juga kotak batu ini.., apa kamu memiliki cara lain untuk membuka kotak ini Ulung...?" merasa kehabisan cara untuk dapat membuka kotak batu tersebut, Wisanggeni bertanya pada binatang peliharaannya itu. Singa Ulung mengibas-kibaskan ekornya, menandakan jika binatang itu juga tidak mengetahuinya. Wisanggeni diam sebentar, laki-laki itu menggaruk-garuk kepala, menandakan jika saat ini dia tidak memiliki gagasan untuk membuka kotak batu tersebut. Tiba-tiba Wisanggeni teringat dengan kutipan tulisan yang tertulis pada gulungan daun lontar.
"Ada adalah hampa.., dan hampa merupakan keniscayaan. Kejarlah kehampaan dengan hati yang murni dan bersih, jangan mengejar kehampaan dengan mendasarkan pada naf**su hewani. Apa kalimat ini terkait dengan cara membuka kotak ini?" kembali Wisanggeni berpikir.
"Mungkin karena ada keinginan lebih untuk mengetahui isi kotak batu ini, semua malah menjadi sia-sia. Dalam keinginan seseorang tanpa sadar muncul keserakahan disitu. Jika memang Hyang Widhi berkehendak, tidak perlu bersusah payah apa yang menjadi jodoh kita, maka semua akan datang dan menetap pada kita." setelah menelaah makna kalimat yang tersirat dalam gulungan lontar, Wisanggeni akhirnya kembali duduk bersila.
Tidak lama kemudian, Wisanggeni sudah duduk dengan memejamkan mata. Pikiran tentang apa yang terkandung dalam kotak betul-betul sudah tidak dipikirkan lagi, laki-laki itu mengosongkan pikiran dan jiwanya. Melihat Wisanggeni melakukan hal itu, Singa Ulung menundukkan tubuhnya ke tanah. Tidak lama kemudian, binatang itu mengikuti apa yang dilakukan oleh laki-laki itu.
__ADS_1
Setengah hari berlalu, kedua makhluk di dalam tanah itu masih terus duduk bermeditasi. Tiba-tiba kabut asap seperti muncul dari atas, perlahan turun dan menyelimuti Wisanggeni dan Singa Ulung. Semula, laki-laki itu tidak terganggu, tetapi semakin lama karena asap semakin tebal, dada Wisanggeni terasa sesak. Dengan masih dalam posisi duduk, Wisanggeni menghirup nafas dalam, tetapi rasa sakit di ulu hati tiba-tiba datang saat laki-laki itu mencoba menghembuskan nafasnya.
Wisanggeni mencoba untuk bertahan, meskipun dengan nafas yang tersengal-sengal. laki-laki itu masih dalam posisi meditasinya. Setelah beberapa waktu berlalu, tiba-tiba...
"Dukk..." tiba-tiba ada batu dari atas yang meluncur ke bawah dengan cepat. Karena masih dalam posisi meditasi, Wisanggeni tidak mampu menghindar apalagi mengelak. Batuan itu jatuh tepat mengenai jidat laki-laki itu, kemudian memantul ke atas kotak batu. Karena rasa pedih, dan merasa ada aliran darah menetes, perlahan Wisanggeni membuka matanya. Laki-laki itu mengakhiri meditasinya.
Saat mata Wisanggeni membuka, tanpa sadar matanya melihat ke arah batu yang ada di atas kotak batu tersebut. Laki-laki itu merasa terkejut, melihat ada sedikit bagian dari permukaan kotak batu tersebut seperti terbuka. Perlahan Wisanggeni kembali mendatangi batu tersebut, dan tangannya mengangkat batu yang ada di atas kotak tersebut.
"Apa karena darahku ya, kotak batu ini jadi terbuka.." ucap Wisanggeni. Akhirnya laki-laki itu memiliki gagasan, perlahan tangannya kembali memegang pisau kecil di tangannya. Tanpa berpikir ulang, tiba-tiba laki-laki itu menorehkan pisau ke arah lengannya. Darah tiba-tiba mengucur dari lengannya, dan laki-laki itu langsung mengarahkan tetesan darah ke uliran kecil panjang yang ada di permukaan kotak tersebut.
Beberasa saat menunggu, tiba-tiba telinga Wisanggeni mendengar bunyi mendesis. Ternyata darah yang dialirkan ke atas kotak batu, perlahan menggerogoti permukaan batu tersebut. Tidak lama kemudian..., permukaan kotak batu tersebut menjadi terbuka. Tatapan Wisanggeni terbelalak melihat ada semacam lempeng batu di dalam kotak batu yang terbuka tersebut. Tetapi saat laki-laki itu memasukkan tangan untuk mengambil lempeng tersebut, tiba-tiba lempeng tersebut melesat dan terbang cepat...
Wisanggeni tersenyum, matanya melirik ke arah lempeng yang ada di atas. Tetapi mengingat kembali makna yang tersirat pada kalimat di gulungan lontar, laki-laki itu hanya tersenyum dan menatap lempeng itu sekali lagi. Perlahan laki-laki itu kembali memejamkan mata dan melanjutkan proses meditasinya.
__ADS_1
**********
Beberapa waktu dihabiskan Wisanggeni untuk bermeditasi, begitu juga dengan Singa Ulung yang masih betah menemaninya. Tiba-tiba dalam meditasinya, Wisanggeni merasa melihat ada cahaya warna keemasan ada di depan wajahnya, Perlahan laki-laki itu membuka matanya, dan sekelebat cahaya emas itu meninggalkannya dengan cepat. Wisanggeni tersenyum, matanya mengamati cahaya emas itu. Ternyata cahaya itu bersumber dari lempeng batu yang berasal dari kotak batu tadi. Laki-laki itu mencoba bersikap masa bodoh, dia tidak berusaha untuk mengejar lempeng bercahaya emas itu. Kembali Wisanggeni memejamkan mata, dan melanjutkan proses meditasinya.
"Auuuuummmm.." baru beberapa saat laki-laki itu memejamkan mata, telinganya mendengar suara Singa Ulung mengaum. Merasa khawatir terhadap keselamatan binatang yang selalu bersama menemaninya itu, perlahan Wisanggeni segera membuka matanya.
Tanpa diduga, ternyata Singa Ulung tengah menggigit lempeng bercahaya emas itu menggunakan taringnya. Melihat Wisanggeni sudah terbangun dari meditasinya, binatang itu berjalan mendekati laki-laki itu. Tangan Wisanggeni meraih lempeng bercahaya emas itu dari mulut Singa Ulung. Dengan senyum di bibirnya, Wisanggeni mengusap lempeng tersebut.
"Ternyata lempeng ini memang berjodoh denganku. Tetapi apa gunanya untukku?" sambil membolak-balik lempeng yang ada di telapak tangannya, Wisanggeni terus berpikir. Kembali tangannya meletakkan lempeng di salah satu telapak tangannya, dan tangan kanan mengusap lembut lempeng tersebut dari atas ke bawah sebanyak tiga kali..
"Siuuuwww..." tiba-tiba angin berhembus dengan kencang, tetapi kemudian menghilang dengan cepat. Tanpa disadari, lempeng bercahaya emas itu tiba-tiba sudah masuk dan terserap di telapak tangan kiri Wisanggeni.
***********
__ADS_1