
Terlihat ada 3 orang yang menjaga di gerbang perbatasan untuk naik ke Gunung Baturetno. Beberapa orang di depan sedang diperiksa oleh orang-orang yang bertugas sebagai juru kunci itu. Kebanyakan dari mereka adalah para pedagang yang akan mengirimkan barang ke padhepokan atau desa-desa yang berada di sekitar kaki gunung tersebut. Sudiro menunjukkan papan identitas untuk dapat memasuki gerbang pemeriksaan, tetapi giliran Wisanggeni, laki-laki muda itu diberhentikan untuk diperiksa.
"Ki Sanak, anak laki-laki ini adalah temanku. Apakah papan identitasku ini tidak berlaku untuk dia juga?" Sudiro langsung berjalan ke belakang, dia bermaksud untuk melakukan nego pada penjaga.
"Maaf Ki Sanak, kamu sudah membawa satu perempuan itu dengan papan identitasmu. Satu papan hanya bisa meloloskan satu orang. Apa sebenarnya tujuan kalian untuk naik ke atas Gunung Baturetno?" tanya penjaga itu penuh selidik.
"Kami ini berasal dari keluarga pedagang Ki Sanak. Aku bermaksud untuk melihat bagaimana kebutuhan dari masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Baturetno, sehingga aku bisa membantu untuk memenuhi kebutuhan mereka." Wisanggeni dengan mantap menjawab pertanyaan dari penjaga tersebut.
Atmojo memberi kode pada Sudiro, dan laki-laki itu segera tanggap. Tangannya mengambil beberapa coin emas dari dalam kotak penyimpanannya.
"Ki Sanak.., apakah kalian melihat ada gelagat mencurigakan dari saudaraku ini? Tidak kan, bahkan secuil senjata tajampun kalian juga tidak menemukannya. Ayolah..,!" Sudiro memainkan coin emas di tangannya. Melihat coin emas tersebut, mata penjaga langsung berbinar.
"Baiklah.., semua bisa kita bicarakan Ki Sanak." ucap penjaga yang langsung melepaskan Wisanggeni, dengan segera beberapa coin emas berpindah ke tangan penjaga tersebut.
Rengganis langsung menarik tangan Wisanggeni, mereka segera masuk ke gerbang wilayah kaki Gunung Baturetno. Sudiro berjalan lurus ke depan, dan ketika mereka bertemu pertigaan, Sudiro mengajak mereka untuk mengambil jalan ke kanan.
"Setahuku di arah sana ada sebuah padhepokan yang sedikit tertutup. Tidak semua orang akan diperbolehkan keluar masuk di area tersebut, aku yakin itu merupakan markas dari Alap-alap." Atmojo memberikan sebuah informasi.
"Aku akan mencoba untuk masuk kesana, siapa tahu tempat itu memang tempat berkumpulnya Alap-alap." ucap Wisanggeni, dia merasa tidak sabar untuk segera sampai di atas. Kerinduan dan kekhawatirannya pada nasib Ki Mahesa, menjadikannya ingin segera mendapatkan kepastian.
"Menurutku kita tidak boleh gegabah, karena yang kita hadapi kali ini bukan sembarang musuh. Mereka bisa datang dan pergi tanpa bisa ketahui. Kita harus berpencar, jangan bergerombol untuk dapat masuk kesana." Rengganis menyampaikan pendapatnya.
"Benar yang disampaikan oleh Nimas Rengganis. Kita akan berpencar, dengan masuk secara sendiri-sendiri." sahut Sudiro.
__ADS_1
Akhirnya mereka membagi diri dalam 2 kelompok, pertama Wisanggeni dengan ditemani Niken Kinanthi akan masuk lebih dulu. Sedangkan Rengganis masuk dengan ditemani oleh Atmojo dan Sudiro. Setelah mencapai kesepakatan, Wisanggeni segera mengeluarkan peta untuk bisa masuk ke Gunung Baturetno.
"Ini adalah gerbang penjagaan untuk masuk padhepokan, dan aku yakin banyak penjaga yang akan ditugaskan disitu." Atmojo menunjuk peta.
"Kita masuk dari dua sisi saja, sisi selatan Wisanggeni dan Niken. Sedangkan aku dan Rengganis serta Sudiro akan masuk dari sisi utara." Atmojo membuat pengaturan.
Setelah membuat kesepakatan, mereka segera berpencar. Dengan mengendap-endap menghindari penjaga yang banyak berkeliaran di sekitar situ, mereka segera menuju posisi mereka masing-masing.
**************
"Kang Wisang..., bagaimana kalau Niken memancing penjaga itu. Setelah mereka sedikit terkecoh, Akang bisa melompati pembatas itu." Niken Kinanthi mengajukan usulan pada Wisanggeni. Mereka sudah berada beberapa ratus meter dari tembok pembatas.
"Bagaimana caramu Nimas? Apakah kamu tidak khawatir jika malah berakhir dengan ditangkap oleh mereka?" tanya Wisanggeni. Bagaimanapun sebagai seorang laki-laki, dia tidak akan mudah melihat seseorang berkorban untuknya.
"Akang jangan terlalu mengkhawatirkan Niken. Sudahlah, akang disini saja sebentar. Setelah mendengar tepuk tangan dariku, Akang coba langsung melompat ke dalam tembok." Niken Kinanthi meyakinkan laki-laki itu.
Wisanggeni diam sebentar, dia masih ragu dengan perkataan yang disampaikan oleh Niken Kinanthi. Bagaimanapun hubungan mereka di masa lalu, saat ini gadis itu sudah berniat untuk membantunya membebaskan ayahnda dan para sesepuh yang masih berada dalam tangkapan Alap-alap. Tetapi saat melihatnya, tatapan Niken Kinanthi menunjukkan keyakinannya.
"Tapi kamu harus hati-hati Nimas. Jangan remehkan kekuatan dari Alap-alap, aku pernah melihatnya sendiri bagaimana mereka menangkap dan menyerap kekuatan roh dari korban-korbannya." setelah menghela nafas, dengan berat hati Wisanggeni mengijinkan Niken Kinanthi.
"Percaya padaku Kang Wisang, bersiaplah! Niken akan segera berjalan ke tempat para penjaga yang sedang ngobrol itu." selesai berbicara, Niken Kinanthi langsung meninggalkan Wisanggeni sendirian. Dengan berani, gadis itu berjalan mendekati para penjaga.
************
__ADS_1
Niken Kinanthi menaikkan pakaian bawah yang dia kenakan sedikit di atas lutut, dan melepaskan kancing baju yang paling atas. Dia akan berpura-pura sebagai seorang gadis yang terpisah dari rombongannya.
"Permisi Ki Sanak.., apakah Ki Sanak melihat rombongan saya?" dengan suara lirih yang dibuat-buat, Niken Kinanthi bertanya pada penjaga yang sedang bermain catur di tempat penjagaannya.
Melihat ada seorang gadis cantik dengan kulit mulus di hadapan mereka, mata para penjaga menjadi tidak berkedip. Mereka bertiga langsung berdiri dan mendekati Niken Kinanthi yang terlihat sangat menggemaskan bagi mata mereka.
"Rombongan apa yang Nimas cari, atau sudah lupakan saja mereka? Nimas bisa bergabung dengan kami disini." kata salah satu penjaga sambil mengedip-kedipkan matanya.
"Akh Ki Sanak bisa-bisanya lho mengajakku bercanda." kata Niken Kinanthi sambil tangannya mencubit pinggang laki-laki itu.
"Iya Nimas.., benar yang dikatakan Kakang Tunggul. Tinggallah disini saja, kami akan membantu untuk menjaminmu. Aku yakin rombonganmu sudah pergi meninggalkan tempat ini." sahut teman laki-laki itu.
"Benarkah apa yang Ki Sanak bilang? Beri aku waktu sebentar untuk memikirkannya dulu!" Niken Kinanthi langsung menunjukkan raut wajah sedihnya, dia diam sejenak. Setelah beberapa saat, dia bertepuk tangan pelan. Mendengar isyarat yang disampaikan Niken Kinanthi, Wisanggeni langsung melompat ke balik tembok.
"Apakah Nimas sudah mendapatkan jawaban?" sahut penjaga yang disebut dengan nama Tunggul. Dia mengartikan tepuk tangan Niken Kinanthi, sebagai persetujuan untuk menatap di wilayah itu.
Persis dengan yang diperkirakan ketiga penjaga itu, Niken Kinanthi dengan mantap menganggukkan kepala dengan malu-malu. Mata ketiga penjaga itu langsung berbinar, mereka merasa sangat bahagia dapat memikat seorang perempuan cantik untuk tinggal disitu.
"Terus sekarang aku harus kemana Ki Sanak? Tidak mungkin kan, jika aku harus bersama dengan kalian bertiga di dalam tempat penjagaan ini?" tanya Niken Kinanthi dengan nada manja.
"Jangan khawatir tentang hal itu Nimas. Sekarang juga, Nimas bisa ikut denganku. Aku memiliki rumah yang saat ini masih kosong di dalam padhepokan." Tunggul langsung menjawab pertanyaan Niken Kinanthi. Kedua temannya mengangguk-anggukkan kepala.
****************
__ADS_1