Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 113 Kerinduan


__ADS_3

Setelah mengambil keputusan bersama dan memikirkan matang-matang, setelah memasukkan Singa Ulung ke kepisnya, Wisanggeni memegang batu identitas yang dia miliki dan yang dipegang Rengganis. Mereka saling berpandangan, dan setelah menganggukkan kepala, mereka berdua menggabungkan kedua batu identitas itu pada formasi yang sudah dibentuk oleh Jalak Geni di dalam Kubah Candradimuka. Baru saja kedua batu identitas itu diletakkan, kedua batu itu sudah bergeser sendiri dan menggabungkan dirinya dengan formasi yang sudah ada. Keheningan tiba-tiba terjadi di tempat itu..


"Gluduk..., pletarr..." tiba-tiba terlihat petir dan guntur menggelegar dari atas langit memecah keheningan. Warna langit yang semula cerah, berubah menjadi gelap, dengan kilatan-kilatan petir yang tampak menghiasi langit. Suasana siang hari yang semula terang, menjadi gelap seperti malam hari.


Orang-orang yang ada ada di sekitar kubah Candradimuka segera merapat, mereka mendekatkan diri dengan pemimpin kelompok mereka. Seketika rasa takut dan khawatir tampak mendominasi mereka. Wijanarko dan Lindhuaji memberi kode pada Maharani, Sudiro, Atmojo, Jagasetra dan Niken Kinanthi untuk menenangkan para anggota kelompok. Dengan segap mereka berdiri di belakang para anggota untuk melindungi mereka.


"Merapat semua dan saling berpegangan.." teriak Wijanarko, saat tiba-tiba gempa berkekuatan besar kembali mengguncang bumi tempat mereka berpijak.


"Brakk..," di belakang mereka bangunan tempat padhepokan Gerombolan Alap-alap pada ambruk, dan barang-barang di dalamnya mulai berjatuhan.


"Aaaw.., cari perlindungan.." anak buah Jalak Geni yang masuh banyak berada disitu, mereka berlarian mencari perlindungan.


"Swooshhh..., jlebb.." tiba-tiba terbentuk kembali pilar api dari atas langit. Warna orange jingga seperti bara api yang menyala kembali terlihat di depan mereka. Pelan-pelan pilar api itu melebar dan membentuk sebuah terowongan warna warni, Sejenak mereka saling berpandangan, mecoba menerka apa yang ada di hadapan mereka.


"Nimas.., kita masuk sekarang?" teriak Wisanggeni bertanya pada Rengganis. Putri Ki Sasmita yang sudah menjadi istri Wisanggeni itu, segera menganggukkan kepala..


Wisanggeni melambaikan tangan memberi kode pada orang-orang di belakangnya, untuk masuk ke dalam  terowongan itu.

__ADS_1


"Slurppp..." diawali Rengganis yang menggenggam erat tangan Wisanggeni, satu persatu orang-orang tersebut masuk ke dalam terowongan.


Tidak seperti yang mereka perkirakan, kecepatan yang sangat besar seperti mendorong tubuh mereka, Beberapa orang yang tidak memiliki dasar kekuatan yang bagus terpelanting ke kanan kiri, dan akhirnya tewas dengan mengenaskan. Rengganis berpegangan erat pada tubuh suaminya, dan seperti tidak mau terpisahkan, Wisanggeni juga memeluk erat tubuh Wisanggeni. Kejadian itu berlangsung sangat lama.., beberapa orang yang masih bertahan sudah tidak sadarkan diri. Aura kebatinan mereka sudah lemah, dan beberapa bahkan sudah habis.


Tiba-tiba setelah beberapa saat, terowongan berubah menjadi bercabang dua. Mereka tidak bisa menentukan akan ke arah mana mereka akan mengarahkan dirinya, seperti sudah ada penjatahan, oarang-orang itu terbelok dengan sendirinya ke arah yang berbeda. Kembali terowongan panjang mereka lewati..


"Nimas..., keluarkan selendang yang aku berikan kepadamu sebagai mahar persatuan kita. Aku yakin, ibunda meninggalkan selendang itu, akan memiliki fungsi." Wisanggeni yang sudah mulai kelelahan, keluar banyak tenaga dalamnya berbicara dengan lemah pada istrinya.


Dengan sisa-sisa kekuatan, Rengganis memasukkan tangan ke kepisnya, dan sebuah selendang warna ungu tampak berkibar di tangannya. Keajaiban terjadi di depan mata mereka, selendang yang lemah itu tiba-tiba berubah menjadi seperti papan. Dengan sigap, Wisanggeni meraih tangan Rengganis yang sudah mulai lemah, dan membawanya naik ke atas papan tersebut. Tanpa mereka sadari, begitu pasangan suami istri itu naik ke atas papan, keduanya terkulai lemah. Mereka tidak tahu kemana papan itu membawa mereka pergi.


***********


Kinara yang tampak gelisah  dari pagi, mencoba untuk menghangatkan badannya. Gadis muda itu tiba-tiba teringat dengan suaminya Wijanarko yang sudah lama meninggalkannya. Bulan sudah berganti bulan, tetapi kabar dimana suaminya saat ini berada belum juga dia dapatkan. Beberapa orang yang memiliki tugas keluar bukit, hanya membawa kabar tentang cerita munculnya pilar api, Tetapi orang-orang yang ada di sekitar pilar api kemana, tidak ada yang mengetahuinya.


"Kinar.., apa yang kamu lakukan disitu..?" tiba-tiba terdengar suara Larasati mengagetkan Kinara. Gadis itu menoleh, dan melihat seorang perempuan muda yang sangat cantik tengah menggendong putranya.


"Sedang berjemur Laras.., bagaimana dengan Achala?  Apakah anak tampan ini baik-baik  saja?" Kinara berbalik mendatangi Larasati, kemudian mengambil alih Achala. Larasati memang untuk sementara memberi nama panggilan untuk putra laki-lakinya dengan nama Achala yang memiliki makna pantang menyerah.

__ADS_1


"Achala baik-baik saja Kinar.., kamu tidak perlu mengkhawatirkannya. Dia ada dan selalu sehat untuk menunggu kepulangan ayahndanya. Sudah sekian lama berlalu, anak ini belum pernah berjumpa dengan ayahndanya." kata Larasati yang mendadak menjadi sedih.


Dulu dia sering berpetualang sendiri, keluar masuk perguruan untuk menuntut ilmu. Tetapi setelah menikah dengan Lindhuaji, meskipun dulu dia menginginkan Wisanggeni, perempuan itu seakan enggan berpisah lama dengan suaminya. Hal itu dia sadari, setelah Lindhuaji pergi meninggalkannya saat ini.


"Apakah kamu teringat dengan suamimu Lindhuaji Laras..?? Kita tidak perlu membohongi perasaan kita sendiri, akupun jujur aku sangat merindukan kang Janar. Kami baru beberapa hari menyatu, tetapi dengan kejam kami sudah harus dipisahkan." ucap Kinara lirih. Air mata mulai menggenangi kelopak matanya, dan perlahan menetes di pipinya.


Larasati menghapus air mata di pipi Kinara menggunakan selendang yang dia gunakan untuk menggendong Achala. Mereka saling berpandangan, dan Achala dengan muka polos melihat keduanya.


"Akupun sama Kinar.., tapi kita tidak memiliki keberanian untuk melakukan seperti yang dilakukan oleh Rengganis. Meskipun gadis itu tidak berpamitan dengan kita, tapi aku yakin saat ini dia sudah bersama dengan Wisanggeni. Gadis muda itu memiliki kecerdasan dan ketrampilan berperang yang sangat tinggi, yang diwarisi dari keturunan leluhurnya." Larasati menceritakan tentang Rengganis.


"Iya Laras.., aku sudah bertemu dengan dua laki-laki yang ditugaskan gadis itu untuk menjaga pesanggrahan ini. Saat aku berjalan-jalan sampai di tapal batas, aku bertemu dengan paman Narendra, yang ternyata beliau adalah pengasuh Rengganis sejak masih kecil." Kinara juga menceritakan tentang Ki Narendra.


Achala tiba-tiba minta merosot turun dari gendongan Larasati, dan istri Lindhuaji itu segera melepas ikatan selendangnya. Kinara dengan sigap membantu memegangi Achala dan mendirikan di tas tanah. Tanpa Kinara dan Larasati duga, Achala melepaskan pegangan tangan Kinara. Anak kecil itu tiba-tiba berjalan dengan tertatih-tatih di atas tanah.


"Laras..., lihatlah! Ternyata Achala sudah bisa berjalan.." Kinara memekik kegirangan, saat gadis itu mengetahui Achala kecil sedang berjalan tertatih-tatih.


Larasati terpaku, dia tidak bisa bicara saat memandang putra kecilnya sudah bisa berjalan meskipun belum lancar.

__ADS_1


**************


__ADS_2