Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 475 Mohon Ijin


__ADS_3

Arya menemani Dananjaya menghadap Wisanggeni dan Rengganis di pendhopo kecil penginapan. Ketika melihat kedua orang tua dari Parvati yang tampak duduk dengan menikmati minuman hangat dengan kudapan sebagai temannya, kedua anak muda itu memberanikan diri untuk menemui pasangan suami istri itu. Melihat jika Bhadra Arsyanendra juga memiliki rasa tertarik pada Parvati, Dananjaya mencoba untuk mendahului untuk menyampaikan rasanya, langsung pada kedua orang tua gadis itu.


"Minumlah dulu anak muda.. minuman jahe ini keburu dingin.." dengan ramah, Wisanggeni mengajak kedua anak muda itu untuk menikmati minuman dan makanan yang sudah tersaji di depan mereka.


Untuk menghargai tawaran laki-laki di depannya itu, Arya menyenggol lutut rayinya itu. Dengan tanggap, Dananjaya segera mengambil cangkir dan segera mengisinya dengan air jahe hangat yang disajikan dalam kendi yang memiliki rasa awet untuk memanaskan minuman yang ada di dalamnya. Kedua anak muda itu kemudian meminum beberapa teguk minuman jahe hangat itu, dan tidak ketinggalan mencicipi beberapa potong kecil kudapan yang tersaji di depan mereka.


"Anak muda.. sepertinya paman membaca ada hal tersirat dari tatapan serta sikap kalian di depan kami berdua. Apakah benar yang aku katakan dan tafsirkan.." melihat kedua anak muda itu sudah meletakkan kembali cangkir di atas meja, Wisanggeni menanyai kedua anak muda itu.


Dananjaya dan Arya saling bertatapan, kemudian mereka menganggukkan kepalanya. tidak lama kemudian, telrihat Dananjaya mempersiapkan diri untuk bicara.


"Begini paman.. kami harap paman dan bibi tidak salah membaca sikap tidak sopan saya dan kakang saya Arya. Ada sesuatu hal yang menurut kami penting, sebelum nantinya saya akan mengungkapkan apa yang saya rasakan pada putri paman dan bibi.." ucap Dananjaya lirih. Laki-laki muda itu menundukkan kepalanya, tidak berani memberikan tatapan pada dua orang yang duduk di depannya.

__ADS_1


Melihat keanehan dalam sikap dan nada bicara Dananjaya, Rengganis mengerenyitkah dahinya dan lebih menatap lekat pada kedua anak muda itu. Namun tidak ada satupun kata yang keluar dari bibir pasangan suami istri itu. Mereka sepertinya akan menunggu kelanjutan dari sikap dua anak muda di depannya itu.


"Jujur paman.. bibi.. saya Dananjaya memiliki rasa ketertarikan dengan Nimas Parvati. Meskipun kami berdua, belum lama untuk saling mengenal, namun rasa untuk memilik dan mengikat Nimas Parvati begitu kuat. Untuk itu paman, bibi.. sebelum kami memberanikan diri untuk memberi tahu pada Nimas Parvati, tentang perasaan saya, paman dan bibi kami anggap sebagai orang yang layak tahu tentang apa yang kami rasakan.." Dananjaya dengan sikap jantan, mengangkat wajahnya ke atas dan bicara tentang perasaannya pada pasangan suami istri itu.


Rengganis terkejut dengan kejujuran dan keberanian laki-laki muda di hadapannya itu. Meskipun perempuan itu juga tahu dan paham, jika Bhadra Arsyanendra juga menaruh rasa pada putrinya, namun laki-laki muda itu belum berani untuk menyampaikan rasa ketertarikannya. Dananjaya, laki-laki muda yang berada di depannya saat ini, juga terlihat lebih memiliki sikap dan perangai lebih matang dan dewasa di bandingkan dengan raja dari kerajaan Logandheng itu.


"Bagaimana menurutmu Nimas Rengganis.. apakah Nimas sudah ingin segera memiliki seorang menantu laki-laki.." sambil tersenyum, Wisanggeni menoleh ke arah istrinya. Sedikitpun tidak terlihat ada riak kemarahan dalam tatapan laki-laki ayahnda dari Parvati itu.


"Kakang.. kita ini sebagai orang tua hanya bertindak sebagai seorang pemomong saja kakangmas.. Bukan saatnya lagi untuk kita mencampuri urusan anak muda. jika kakangmas bertanya pada Nimas.. maka jawabannya semua tergantung dengan pilihan yang akan ditetapkan oleh Parvati sendiri. Bukankah kakangmas juga sudah tahu, jika bukan hanya nak mas Dananjaya saat ini yang tertarik dengan putri kita, bukankah ada satu lagi.." dengan menggantung jawaban, Rengganis menanggapi perkataan yang diucapkan oleh suaminya.


Dananjaya menatap kakangmasnya Arya yang masih duduk di sampingnya. Laki-laki muda dengan usia lebih lama dari Dananjaya itu akhirnya memutuskan untuk berbicara.

__ADS_1


"Terima kasih paman.. bibi.. saya Arya sebagai kakangmas dari rayi Dananjaya juga meminta Nimas Parvati untuk rayi saat ini. Adapun untuk kesepakatannya, tetap menunggu kesediaan dari Nimas Parvati. Namun paling tidak.. kami berdua berniat untuk tidak melangkahi pihak yang lebih tua, sehingga kami memutuskan untuk memberi tahukan pada paman dan bibi, tentang bagaimana perasaan yang dimiliki oleh rayi saya ini." perlahan, Arya memperkuat pernyataan yang dibuat oleh rayinya.


"Kami sebagai ornag tua nak mas Arya, merasa tersanjung dan juga merasa dihormati dengan pemberi tahuan dari kalian. Secara jujur, kami menyukai adab, dan sopan santun yang kalian tunjukkan. Namun untuk keputusannya, seperti tadi sudah kami tegaskan, semua tergantung dengan perasaan Nimas Parvati. Karena sebagai orang tua, kami juga tidak menyukai, anak-anak kami dengan tidak jelas pergi kemana-mana dengan lawan jenis, tanpa ada keterikatan yang jelas." Rengganis menanggapi perkataan anak muda itu.


Dari samping perempuan itu, Wisanggeni hanya tersenyum tidak menyela atau menambahkan kata-kata yang sudah diucapkan oleh istrinya. Sebagai orang tua, mereka memang tidak memaksakan apa yang mereka inginkan pada kedua anak mereka, baik Chakra Ashanka maupun Parvati.


"Baik Bibi.. secepatnya saya akan mengungkapkan rasa tertarik saya dengan Nimas parvati. Hal itu penting untuk segera kami ketahui, karena jika memang Nimas Parvati menolaknya, maka kami akan segera melanjutkan perjalanan. Namun.. jika Nimas Parvati menerimanya, saya juga akan membawa Nimas Parvati pergi dari tempat ini paman.. bibi.." dengan tegas, Dananjaya memperkuat perasaanya.


Sebagai seorang anak muda, pasangan suami istri itu melihat jika anak muda di depannya itu memiliki sikap yang tegas, dan adab sopan santun yang sangat bagus. Sehingga penting untuk menyampaikan di depan, tentang rambu-rambu yang harus mereka taati di depan seperti ini.


"Baiklah.. kita tidak perlu memperpanjang lagi, semuanya tergantung dengan Nimas Parvati. AYo lanjutkan minum jahe hangat ini, dan kudapan yang sudah mulai dingin.." Wisanggeni mengalihkan pembicaraan. Laki-laki itu segera mengambil cangkir, kemudian melanjutkan kegiatan mereka untuk menikmati minuman panas.

__ADS_1


Arya dan Dananjaya segera mengikuti apa yang dilakukan oleh pasangan suami istri itu, keduanya juga melakukan hal yang sama.


********


__ADS_2