
Sekar Ratih merasa tidak percaya, gadis itu sampai mengucek-ucek matanya. Sedikit jauh di depannya, gadis itu melihat kedatangan Chakra Ashanka ke arahnya, sambil senyum merekah di bibirnya. Tidak mau merasa besar kepala, Sekar Ratih menoleh ke kanan dan kirinya, gadis itu merasa senyuman anak muda itu bukan untuknya. Namun di sampingnya, Parvati cemberut dan merasa kesal dengan sikap yang ditunjukkan oleh Sekar Ratih.
"Ratih.. kamu kenapa. Lihatlah ke depan, setelah sungkem dan bersimpuh di depan ayah dan bunda.. kang Ashan langsung datang kesini untuk menemuimu. Sampai kapan perasaanmu akan mati rasa?" terdengar omelan Parvati menyadarkan Sekar Ratih.
"Maksudmu Nimas Parvati.. siapa tahu kang Ashan akan mendatangi temannya yang ada di sekitar tempat ini." meskipun dalam hati, Sekar Ratih sudah meyakini jika anak muda itu datang ke tempatnya, namun gadis itu masih mencoba mengingkarinya.
"Terserah apa katamu Ratih.." Parvati berkata dengan ketus melihat kekerasan gadis di sampingnya.
Tidak lama kemudian, Chakra Ashanka memang ingin menemui Sekar Ratih. Anak muda itu seperti mengabaikan keberadaan adiknya Parvati disitu, langsung memegang kedua telapak tangan Sekar Ratih ketika sudah berada di depan gadis itu.
"Kang Ashan.. hanya kata ucapan selamat yang dapat Nimas ucapkan untukmu kang.." ucap Sekar Ratih lirih, sambil menundukkan wajahnya ke bawah.
Tiba-tiba tanpa diduga, tangan Chakra Ashanka memegang dagu gadis di depannya itu, kemudian perlahan mengangkat dan menegakkan kembali wajah Sekar Ratih ke atas.
"Aku datang kesini untuk melihat wajahmu Nimas.., dan ingin mendengarkan kata-katamu. Kenapa kamu malah menundukkan wajahmu ke bawah, apakah tidak layak jika netramu memandang wajahku..?" dengan suara pelan, anak muda itu bertanya pada gadis itu.
"Bukan begitu kang Ashan.. hanya saja jujur.. aku tidak memiliki cukup keberanian untuk datang ke tempat kakang di depan sana. Sepertinya kang Ashan terlalu jauh untuk aku datangi.." dengan tergagap, Sekar Ratih menanggapi perkataan anak muda itu. Hatinya saat ini tidak dapat dilukiskan kegembiraan dan kegugupannya, karena merasa mendapatkan keistimewaan untuk didatangi anak muda itu, kedua setelah kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Nimas Ratih.. aku membawamu jauh-jauh dari lereng gunung kesana kemari. Dimanapun desa, kota, bahkan kerajaan yang aku datangi, kamu selalu aku ajak untuk menemaniku. Untuk suasana kali ini, orang kedua yang ingin kulihat adalah dirimu. Jangan terlalu merendahkan dirimu, kamu selalu yang utama dalam hatiku.." dengan mimik wajah serius, Chakra Ashanka memberi tanggapan atas perkataan Sekar Ratih.
"Uhuk.. uhuk.. rupanya kedatanganku kesini tidak dianggap Ratih. Benar kan apa yang aku katakan kepadamu barusan.." tiba-tiba dari samping Sekar Ratih, tersengar suara protes dari Parvati. Chakra Ashanka menoleh, dan langsung mengacak-acak rambut Parvati.
"Kakang .. hentikan. Selalu saja seperti ini, ingat kang.. Nimas Parvati saat ini bukan lagi anak-anak, jangan permalukan diriku di muka umum dengan rambut berantakan. seperti ini" mendapat perlakuan itu, Parvati berteriak menolak perlakuan Chakra Ashanka.
"He.. he.. he.., makanya besok lagi jangan suka menyela pembicaraan orang yang lebih tua ya.." Chakra Ashanka pura-pura memberi teguran pada adik perempuan satu-satunya itu. Dari samping Parvati, Sekar Ratih melihat hal itu sambil tersenyum. Tiba-tiba sudut mata Sekar Ratih menangkap Ayodya Putri yang terlihat ragu untuk mendatangi mereka.
"Nimas Putri.. kemarilah.. Apakah kamu sudah mengucapkan selamat untuk pengukuhan kang Ashan?" tanpa bermaksud apapun, Sekar Ratih memanggil Ayodya Putri agar bergabung dengan mereka.
Ayodya Putri segera melihat ke arah Sekar Ratih, gadis itu kemudian berjalan mendatangi mereka. Sekar Ratih memegang bahu gadis itu, kemudian menghadapkannya ke dekat Chakra Ashanka.
******
Parvati mengerutkan keningnya, karena waktu sudah hampir masuk ke tengah malam, namun gadis itu seperti mendengar langkah kaki di depan kamarnya. Gadis itu menajamkan pendengarannya, dan langkah kaki itu berhenti di depan pintu kamarnya.
"Apakah aku salah dengar, dengan jelas aku mendengar ada tapak kaki yang ringan sedang berjalan di depan pintu kamar." Parvati berpikir sendiri. Gadis itu beranjak bangun dari posisi berbaringnya, kemudian duduk di tepi dipan.
__ADS_1
Perlahan Parvati memejamkan matanya, gadis itu masuk dalam posisi seperti melakukan meditasi. Setelah mengucapkan beberapa kata pembuka, sukma gadis itu seakan melayang dan melihat ke balik pintu kamarnya. Melihat perwujudan di balik pintu kamarnya, gadis itu terperanjat dan kembali sukmanya melayang masuk untuk kembali ke raganya.
"Raja Bhadra Arsyanendra, apakah aku tidak salah lihat. Jika memang benar itu Raja Bhadra, untuk apa tengah malam begini ada di depan pintu kamarku. Apakah laki-laki itu mengira jika kamar ini digunakan oleh Kang Ashan untuk beristirahat, dan tidak tahu jika aku yang menggunakannya." banyak pertanyaan berkelebat dalam pikiran Parvati.
Tetapi gadis itu tidak membuat gerakan apapun, meskipun dia sudah mengetahui siapa yang berada di balik pintu kamarnya. Sepertinya kedua orang baik yang berada di dalam maupun di luar kamar itu saling menunggu. Mengetahui bagaimana posisi anak muda itu saat ini di kerajaan Logandheng, Parvati tidak berani untuk bermain-main dengannya. Hanya menunggu saja, apa yang akan dilakukan oleh anak muda itu.
"Tok.. tok.. tok.." tiba-tiba pintu kamar Parvati diketuk dari luar secara perlahan. Sepertinya Raja Bhadra Arsyanendra ragu-ragu untuk membangunkan gadis itu.
Tidak mau membuat anak muda itu lama menunggu di depan pintu kamarnya, perlahan Parvati turun dari atas dipan kemudian melangkah menuju ke arah pintu. Perlahan gadis itu membuka pintu dari dalam..
"Ceklek.." pintu kamar Parvati perlahan terbuka lebar. Namun belum sampai gadis itu menyapa kedatangan anak muda itu, Raja Bhadra dengan cepat menutup mulut gadis itu dengan menggunakan telapak tangannya. Bhadra Arsyanendra mendorong tubuh Parvati masuk ke dalam kamar, kemudian menutup pintu dan memasang bambu pengait untuk mencegah ada orang dari luar yang akan masuk ke dalam kamar tersebut.
Perlahan Bhadra Arsyanendra merengkuh bahu Parvati, kemudian membawanya ke sisi dipan. Anak muda itu mendudukkan gadis itu di tepian ranjang, kemudian Bhadra Arsyanendra mengikutinya. perlahan tangan yang digunakan anak muda itu untuk menutup mulut Parvati, perlahan dilepaskannya. Gadis itu menatap bingung pada anak muda di depannya itu.
"Raja Bhadra.. apakah dibenarkan di kerajaan ini, seorang raja mendatangi kamar seorang gadis baik-baik?" merasa heran dengan kedatangan anak muda itu, Parvati langsung menanyakan pada laki-laki itu.
"Hentikan panggilan itu Nimas.. aku tidak akan menyukainya. Namaku Bhadra Arsyanendra, jangan gunakan embel-embel raja untuk memanggilku. Dalam kamar ini, kita sama.. tidak ada kasta, tidak ada perbedaan status dalam kehidupan kita. Ingat hal itu Nimas..." Anak muda itu menolak panggilan raja, dan hal itu membuat gadis itu menjadi kebingungan.
__ADS_1
********