Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 234 Perjalanan ke Timur


__ADS_3

Menjelang keberangkatan Wisanggeni beserta Rengganis dan Chakra Ashanka, Pangeran ABhiseka tiba di Trah Bhirawa. Lindhu Aji sebagai tuan rumah menyambut putra dari penguasa kerajaan Laksa di pendhopo, dan menghadirkan semua anggora keluarga Ki mahesa untuk memberi penyambutan. Setelah berbicara dengan Rengganis, Wisanggeni menunda keberangkatan, dan pergi ke pendhopo untuk menemui Pangeran Abhiseka.


"Bagaimana keadaanmu Wisanggeni, aku baru bisa saat ini datang ke Trah Bhirawa untuk melihat bagaimana kabarmu setelah terlepas dari serangan Ki Panjalu. Karena kesibukan di istana, yang sedang melakukan tahap pemulihan, baru kali ini aku bisa mengabarkan keadaanmu." dengan muka gembira, Pangeran Abhiseka menatap Wisanggeni.


"Atas doa dari semua orang Pangeran, akhirnya aku bisa melewati masa sulit setelah bertarung dengan Ki Panjalu. Semua karena Nimas Renggannis, karena kedatangannya di tempat ini, menjadi obat penyembuh dari apa yang aku rasakan. Seperti Pangeran lihat, bagaimana keadaanku sekarang, semuanya baik-baik saja Pangeran. Bahkan, sebenarnya hari ini merupakan saat kepulanganku dengan Nimas Renggani untuk kembali ke perguruan Gunung Jambu." Wisanggeni menyampaikan kabar pada Pangeran Abhiseka.


Pangeran Abhiseka terdiam, hatinya merasa kehilangan begitu mendengar perkataan dari Wisanggeni. Jika laki-laki itu boleh memilih dan memberi perintah, Pangeran Abhiseka ingin menahan kepergian Wisanggeni menuju ke wilayah timur. Tetapi, sebagai seorang teman dan sudah mengikrarkan diri sebagai saudara, dia tidak boleh memaksakan kehendaknya.


"Ada apa Pangeran, hal apakah yang membuat Pangeran Abhiseka menjadi diam membisu setelah mendengar perkataan saya?" melihat sikap Pangeran Abhiseka, Wisanggeni menanyakannya.


"Jauh di dalam lubuk hatiku Wisang, aku ingin menahanmu untuk berada di kerajaan Laksa. Aku ingin kamu membantuku, untuk mengelola kerajaan ini. Tetapi aku juga memahami beratnya amanah yang kamu emban dari gurumu Ki Cokro Negoro, tugas berat untuk mengembangkan perguruan Gunung Jambu, dengan jumlah murid sebanyak itu." Pangeran Abhiseka menanggapi perkataan Wisanggeni.


Putra bungsu Ki Mahesa itu tersenyum, Wisanggeni kembali menatap Pangeran Abhiseka.


"Terima kasih untuk pengertian Pangeran. Bukannya Wisanggeni tidak mau mengulurkan tangan berbakti kepada kerajaan tempat dimana keberadaan dari Trah Bhirawa berada Pangeran. Tetapi seperti yang tadi Pangeran katakan, tanggung jawab saya terhadap perguruan, juga bukan merupakan hal yang mudah. Saya juga tidak seenaknya bisa melakukan sendirian mengabaikan tugas berat tersebut. Tidak bermaksud untuk menolak, saat ini maafkan saya Pangeran. Saya dan Nimas Rengganis tetap memutuskan untuk kembali menuju perguruan Gunung Jambu." dengan merendah, Wisanggeni menolak dengan halus apa yang diinginkan oleh Pangeran Abhiseka.

__ADS_1


"Nimas Niken Kinanthi.., apa renacanamu selanjutnya? Apakah kamu akan kembali ke Trah Suroloyo, ataukah akan bertahan di Trah Bhirawa untuk membantu kang aji disini?"  Wisanggeni menatap Niken Kinanthi yang duduk disamping Rengganis.


"Jika dibolehkan kang Wisang..., Niken akan mengahbiskan waktu di perguruan Gunung Jambu. Niken masih memiliki tanggung jawab dengan sejumlah murid perempuan disana, saya rasa Nimas Rengganis juga mengetahuinya. Ayahnda dan semua keluarga yang ada di Trah Suroloyo, juga sudah mengetahui dan menyetujui keinganan Niken." setelah terdiam beberapa saat, dengan suara lirih, Niken Kinanthi menjawab pertanyaan Wisanggeni. Rengganis tersenyum mendengar jaawaban yang dilontarkan oleh Niken Kinanthi.


"Terimalah keinginan Nimas Niken Kinanthi Akang.., saat kang  Wisang sedang tidak ada di perguruan, saya telah membuat beberapa kesepakatan dengan Nimas Niken, kecuali Nimas Niken sendiri yang membatalkan kesepakatan tersebut. Maka Nimas Rengganis tidak akan menganggunya." terdengar dari sampingnya, Rengganis memperkuat jawaban Niken Kinanthi. Wisnaggeni hanya tersenyum kecut mendengar perkataan yang disampaiakan istrinya.


"Terima kasih Nimas Rengganis.." dengan tersenyum, Niken Kinanthi mengucapkan terima kasih pada Rengganis.


"Apakah Nimas Niken sedikitpun tidak memikirkan ajakan saya..?? Untuk  saat ini, saya lebih membutuhkan kesediaan Nimas Niken Kinanthi, untuk menemani saya dalam suka dan duka, di depan keluarga Trah Bhirawa, saya kembali meminta kesediaan Nimas untuk menjadi istri saya." tanpa diduga, di depan semua orang, Pangeran Abhiseka menegaskan kepada Niken Kinanthi untuk memperistrinya.


"Nimas..., ada baiknya apa yang saat ini Pangeran Abhiseka sampaikan, perlu Nimas sampaikan pada keluarga di Trah Suroloyo. Sudah saatnya Nimas..., lepaskan masa lajang Nimas..!" tanpa diminta, Wisanggeni menambahkan.


******


"Wisanggeni dan Nimas Rengganis berangkat dulu ayahnda, kang Aji dan Kang Janar. Titip Trah Bhirawa, agar Trah ini berkembang besar dan sejajar dengan Trah-trah lain yang besar yang ada di wilayah ini." sebelum naik ke punggung SInga Ulung, Wisanggeni menyampaikan perkataan pada keluarganya.

__ADS_1


"Pergilah putraku..., melaksanakan amanah dan perintah dari Gurumu, sama saja dengan melaksanakan perintah dari kedua orang tuamu. Pergilah, laksanakanlah tugas muliamu." Ki Mahesa kembali menyampaikan pesan pada putranya.


"Cucuku Chakra Ashanka, menurutlah pada kedua orang tuamu nak. Pada saatnya nanti, kamupun juga akan berpisah dengan kedua orang tuamu. junjung terus nama baik keluarga, dan tetaplah berpijak di jalan kebenaran.. Jaga langkahmu." sambil mengusap kepala Chakra Ashanka, Ki Mahesa juga memberikan petuah kepada cucu laki-lakinya.


"Baik kakek.., Ashan akan selalu mengingat apa yang sudah kakek pesankan pada Ashan." setelah memeluk kakeknya, Chakra Ashanka kemudia berjalan menghampiri kedua orang tuanya.


"Srettt.." dengan sekali lompatan, Wisanggeni segera melompat ke atas punggung Singa Ulung dengan ditemani Rengganis dan Chakra Ashanka. Perlahan Singa Ulung mulai mengepakkan sayapnya, dan segera naik membubung ke angkasa di bawah lambaian tangan orang-orang dari Trah Bhirawa.


Setelah kepergian Wisanggeni, orang-orang di Trah Bhirawa kembali menunaikan aktivitas dan kewajiban masing-masing. Banyak nyawa manusia yang saat ini menggantungkan hidup dan bernaung di bawah nama besar Trah Bhirawa. Untuk itu Ki Mahesa beserta kedua putranya, tidak akan mempermainkan nasib orang-orang tersebut. Semua anggiota Trah sudah dilakukan pembagian jadwal pekerjaan sehari-hari, dan sudah jelas pembagian pendapatan yang akan mereka terima.


Di lain tempat, Wisanggeni mengajak putra dan istrinya untuk menikmati beberapa tempat asing, dan sekaligus mengenalkan pada putra laki-lakinya tentang kerasnya dunia yang dia hadapi di masa depannya. Kali ini merupakan perjalanan pertama Chakra Ashanka dalam usianya sekarang, melakukan perjalanan jauh dengan kedua orang tuanya secara lengkap. Dengan cepat anak laki-laki itu mencerna pengetahuan baru yang dia dapatkan di sepanjang perjalanan.


"Nimas.., bagaimana jika sekarang kita langsung menuju ke Trah Jagadklana untuk lebih mendekatkan putra kita pada kakek dan neneknya disana?" tiba--tiba dalam perjalanan, Wisanggeni membuat suatu usulan pada Rengganis.


"Baik Akang.., secara kebetulan Nimas juga sudah merindukan ingin berjumpa dengan ayahnda dan ibunda disana." dengan gembira, Rengganis menerima ajakan dari suaminya itu.

__ADS_1


Tanpa banyak perkataan,. Wisanggeni segera memberi isyarat pada Singa Ulung untuk mengarahkan perjalanan mereka menuju Trah Jagadklana.


*******


__ADS_2