
Melalui bantuan Anggoro akhirnya Maharani ikut mendatangi acara perjamuan di kerajaan. Acara itu diselenggarakan untuk meminta penjelasan tentang keadaan keamanan kerajaan terakhir. Panglima perang di bawah komando Patih Wirosobo juga menjadi salah satu yang diundang untuk hadir di tempat tersebut. Dengan menggunakan identitas sebagai putra dari Patih Wirosobo, Anggoro mendapatkan jatah untuk hadir di acara tersebut, dan diperbolehkan membawa satu orang sebagai pasangannya.
"Nimas Maharani.., jangan jauh-jauh dariku..Aku khawatir jika nanti kamu bertemu dengan romo, aku takut ada keributan di antara kalian berdua." Anggoro meminta Maharani untuk tetap berada di sampingnya.
"Baik Anggoro.., lagian tidak ada satupun yang aku kenal disini, hanya kamu saja. Sepertinya aku juga tidak akan berani jauh-jauh darimu." Maharani meyakinkan ANggoro. Laki-laki itu tersenyum, dalam hatinya merasa senang,
Tidak lama kemudian, pranata acara segera membuka acara. Tari-tarian oleh para penari disuguhkan untuk mengawali acara jamuan. Tampak raja duduk di singgasana, dengan ditemani oleh seorang perempuan, yang bisa saja perempuan itu adalah istrinya. Di dekat raja, duduk Patih Wirosobo yang sejak tadi menatap Maharani dengan tatapan kurang senang.
"Penarinya sangat cantik-cantik dan memiliki tubuh yang sangat sintal dan berisi. Gerakan tangannya juga tampak luwes, darimana kerajaan mendapatkan para penari itu, mengingat kerajaan ini sedang banyak kerusuhan dimana-mana.." Maharani berkomentar tentang para penari yang sedang menyuguhkan tarian,
"Kerajaan dari pihak kaputren memiliki sekelompok penari sendiri Nimas.., jadi tidak sulit untuk mencari penari yang luwes seperti itu." Anggoro memberi penjelasan pada Maharani,
Tidak lama kemudian, tampak sekelompok orang masuk ke tempat penjamuan, dengan membawa cangkir dan minuman. Mereka berkelompok berdasarkan jenis minuman yang mereka bawa, ada jahe serai, ada teh, ada wedang secang, juga ada legen, dan tuak yang dibawa oleh orang-orang tersebut ke tempat tersebut. Terlihat ANggoro melambaikan tangan, memberi isyarat agar pembawa minuman itu datang ke tempatnya.
"Nimas.., apakah kamu menghendaki untuk minum legen atau tuak.., yah.. untuk sedikit menghangatkan tubuh kita." Anggoro menawarkan minuman tuak pada Maharani.
__ADS_1
Menyadari lebih banyak manfaat buruk terkandung pada jenis minuman itu, Maharani mengangkat telapak tangannya, berusaha untuk menolak minuman tersebut. Perempuan itu tidak mau, jika ANggoro akan mengambil kesempatan pada dirinya, jika dia sampai mabuk ketikan mengkonsumsi minuman tersebut.
"Maaf Anggoro,,, aku minum jahe serai saja. Sudah lama aku tidak minum legen maupun tuak. Cukup sediakan minuman yang aku inginkan saja," mendengar jawaban dari perempuan itu, pelayan segera menuangkan minuman yang diminta Maharani di cangkir yang sudah mereka bawa. Selain hal itu, mereka juga meninggalkan satu buah poci, untuk berjaga-jaga jika Maharani masih menghendaki untuk menambah minumannya.
"Terima kasih.." Maharani mengucapkan terima kasih pada pelayan yang melayaninya, dan memberikan beberapa keping uang sebagai ucapan terima kasih.
"Terima kasih Den Ayu.." pelayan mengucapkan terima kasih, kemudian berjalan untuk berpindah ke tempat yang lain.
"Sebenarnya sedikit saja menikmati tuak tidak akan membuatmu mabuk Nimas.. Hanya akan membuat kita sedikit lebih bersemangat.." ujar Anggoro berkomentar atas minuman yang dipesan Maharani.
"Iya Anggoro.. itu jika berlaku untukmu. Tetapi akan menjadi hal yang berbeda, jika aku yang meminum jenis minuman tersebut. Tidak masalah meskipun minuman kita berbeda, tidak akan menjadi sesuatu yang berbeda.." sambil tersenyum, Maharani menanggapi perkataan Anggoro.
********
"Senopati Dananjoyo..., apa yang sudah kamu peroleh untuk menegakkan keutuhan kerajaan Logandheng. Sebagai panglima perang, harapanku kamu memang bisa menegakkan keutuhan, dan sekaligus membawa kedamaian di kerajaan ini." tiba-tiba raja meminta Senopati selaku panglima perang untuk menjelaskan kiprahnya.
__ADS_1
"Baik Sinuhun..., untuk pengejaran Raden Bhadra Arsyanendra kami mengalami kendala Sinuhun.. Sepertinya ada perguruan yang berada di luar tlatah kerajaan Logandheng ikut campur dalam masalah ini. Padahal, seperti sudah kita ketahui bersama, jika ada perjanjian di masa dahulu, bahwa di antara kita tidak akan saling mengganggu." Maharani terkejut dengan laporan yang diucapkan Senopati Dananjoyo. Tetapi perempuan itu berusaha menekan sedalam mungkin emosinya, karena sangat penting untuk mengetahui siapa yang menjadi dalang dari kekacauan di kerajaan tersebut.
"Apakah kalian sudah mencoba untuk menelusuri, ada masalah apa dengan perguruan itu, kenapa orang-orang di perguruan itu jadi turut campur dengan masalah kita. Aku perintahkan untuk mengamankan Raden Bhadra Arsyanendra bukan untuk menangkapnya.. seperti seorang penjahat atau pemberontak yang sudah berbuat ulah.." tidak mau mengambil kesimpulan terlebih dahulu, raja meminta penjelasan lebih lanjut.,
"Perguruan Gunung Jambu saat ini sudah berganti pemimpin Sinuhun. Ki Cokro Negoro sudah memutuskan untuk menghilang, dan murid satu-satunya Wisanggeni yang meneruskan kepemimpinan di perguruan tersebut. Keserakahan laki-laki muda itu, mungkin yang menjadi pendorong untuk menunjukkan kekuasaannya kepada kita," tanpa diminta pendapat, Patih Wirososo turut mengambil bagian untuk bersuara.
Semua tatapan mata beralih ke Patih Wirosobo, dan tanpa sadar, mendengar nama suaminya dipanggil, Maharani mengacungkan jari, ijin untuk menyampaikan pendapat. Anggoro mengerenyitkan dahi, melihat perempuan itu turut untuk unjuk bicara dalam pasugatan itu.
"Siapa kamu..., berani-beraninya unjuk diri untuk bersuara di kerajaan ini?" wajah Patih Wirosobo memerah, tiba-tiba laki-laki itu menyela perkataan Maharani. Semua yang hadir dalam jamuan makan itu melihat ke arah Maharani.
Tidak diduga, sedikitpun tidak terlihat rasa takut pada diri perempuan itu. Maharani berdiri sambil mengacungkan kedua tangannya, memberi hormat pada raja Logandheng.,
"Duduklah patih.., aku ingin menanggapi perempuan itu sendiri. Siapapun tidak diperkenankan untuk mencampuri urusanku.." tiba-tiba terdengar suara raja Logandheng yang mengijinkan Maharani untuk berbicara.
Permaisuri yang mendampingi raja Logandheng terkejut dengan tindakan suaminya, apalagi melihat Maharani yang terlihat bersinar di malam itu. Tanpa diketahui raja, perempuan itu melihat ke arah suaminya dengan penuh kecurigaan.
__ADS_1
"Terima kasih untuk kesempatan yang diberikan bagi hamba Sinuhun.. Sebelum hamba membantah apa yang sudah diucapkan oleh Senopati Dananjoyo, dan Patih Wirosobo, ijinkan hamba bertanya terlebih dahulu. Jika ada kaum lemah yang tiba-tiba mendekati Sinuhun untuk meminta pertolongan, hal apakah yang akan Sinuhun lakukan? Apakah akan meninterograsi terlebih dahulu baru memberikan pertolongan, padahal orang yang akan mencelakakannya berada di belakangnya. Ataukah pilihan yang kedua, menolongnya tanpa memperhitungkan apa yang akan terjadi sesudahnya?" dengan suara lantang, Maharani malah mengucapkan kalimat tanya pada Raja Logandheng.
****************