
Ke empat orang itu bergegas bangun, dan dengan pandangan nanar menatap anak muda yang sudah melompat dan berdiri di depan orang-orang itu. Mereka sama sekali tidak menyangka akan berhubungan dengan anak muda yang memiliki sebuah kekuatan. Chakra Ashanka tersenyum, dan melirik kedua gadis itu masih lelap tertidur tanpa terusik, anak muda itu juga tidak berniat untuk membangunkan mereka.
"Apakah Ki Sanak ingin berkenalan dengan kami, kenapa harus datang mengendap-endap dan menghunuskan senjata kepada kami. Tidak salah, jika akhirnya kami menyimpulkan kalau Ki Sanak berempat akan berbuat maksiat dan tidak baik kepada kami. Benar tidak apa yang menjadi pemikiran saya..?" Chakra Ashanka dengan sopan, mengajak ke empat orang itu berbicara.
Ke empat orang itu saling berpandangan, tetapi salah satu dari mereka dengan mata tajam berlari ke depan. Laki-laki itu tidak disangka menghunuskan pedang dan akan menyerang pada anak muda itu.
"Terlalu banyak bicara kamu anak muda... terimalah seranganku.." salah satu dari mereka berlari ke arah Chakra Ashanka. Anak muda itu hanya tersenyum dan tidak memiliki niat untuk menggeser tubuhnya, satu tangannya diangkat ke atas, dan menahan pedang yang terarah kepadanya.
Laki-laki yang membawa pedang itu terkejut, pedang tajamnya yang yang sudah berkali-kali menebas dan membunuh manusia, kali ini pedang itu terasa tumpul di tangan anak muda itu. Bahkan.. beberapa saat kemudian..
"Klak... clang..." tiba-tiba pedang di tangan laki-laki itu patah, dan terjatuh ke tanah. Mata ke empat orang itu tebelalak, mereka kaget dengan apa yang terjadi di depan mata mereka. Tiga orang di belakang merasa menggigil badannya, dan satu yang berada di depan Chakra Ashanka merasa gemetar kedua lututnya. Tanpa disadari, laki-laki itu mengeluarkan air kencing di celana yang dikenakannya.
"Untuk apa Ki Sanak menemui kamu disini. Apakah ada hal penting yang ingin kalian sampaikan kepada kami? Bukankah akan lebih enak kita bicara dengan kepala dingin, dari pada dengan datang dan mengendap-endap dan menyerang kami tanpa peringatan. Itu adalah perilaku orang-orang yang licik dan culas." dengan tegas, anak muda itu memberi tahu pada ke empat orang itu.
__ADS_1
"Ampun.. ampuni kami anak muda. Kami terpaksa melakukannya, karena kami juga berada dalam tekanan dari Kepala Desa. Kami akan mendapatkan hukuman, jika kami tidak mengancam pada para pengunjung, yang datang ke kedai makanan yang barusan kalian bertiga datangi." akhirnya tanpa dipaksa, salah satu dari orang itu berbicara jujur tentang apa yang membuatnya melakukan hal demikian,
Chakra Ashanka tersenyum, dan sekali lagi memandang pada ke empat orang itu. Mereka memang terlihat dalam sebuah tekanan, sepertinya ada orang-orang di belakang mereka yang mengendalikan tingkah dan perbuatan mereka, dalam menindas rakyat kecil.
"Beri tahu padaku, siapa orang yang sudah berani menekan dan menindas semua warga desa. Aku memiliki urusan dengan mereka, bahkan aku tidak akan segan-segan untuk memberi tahu perbuatan tercela kalian, pada paman Abhiseka. Bukankah paman Abhiseka yang saat ini memimpin kerajaan Laksa, dengan Bibi Niken Kinanthi?" tanpa bermaksud mengancam, Chakra Ashanka bertanya pada orang-orang itu.
Mendengar dengan akrabnya anak muda itu menyebut nama raja dan permaisuri kerajaan Laksa, ke empat orang itu merasa ketakutan. Mereka tidak berani untuk mengangkat wajahnya menatap ke anak muda itu. Mereka terdiam ketakutan.
"Angkat wajah kalian.. pertemukan kami bertiga dengan orang yang menyuruh kalian untuk menakuti warga desa. Perlu kalian ketahui, jika tindakan kalian itu tidak dibenarkan. Kedai makan itu sama-sama mencari nafkah pencaharian, bersainglah dengan cara yang wajar dan terhormat, jangan merampas hak orang lain, dengan menekan dan menindas orang-orang yang datang berkunjung. Jika selama keberadaanku di desa ini, aku masih melihat tindakan tidak terpuji kalian, maka aku akan membuat perhitungan dengan kalian." dengan nada sedikit tinggi, Chakra Ashanka membuat perhitungan dengan ke empat orang itu.
Chakra Ashanka tersenyum melihat mereka, dan laki-laki itu kembali duduk di atas dangau. Tetapi senyuman pias kembali muncul di wajah anak muda itu, melihat Sekar Ratih dan Ayodya Putri yang menatapnya dengan tajam.
"Kalian berdua sudah bangun rupanya. Sejak kapan..?" Chakra Ashanka mengajak kedua gadis itu bicara.
__ADS_1
"Kenapa kakang Ashan tidak memberi tahu kepada kami. Kakang malah mengusir orang-orang itu tanpa memberi tahu kepada kami. Kakang kan tahu, sejak tadi aku sudah gatal, untuk memberi pelajaran pada orang-orang itu." dengan kata-kata pedas, Ayodya Putri bertanya pada anak muda itu.
"Iya kang Ashan curang.. menyelesaikan sendiri semua urusan, tanpa melibatkan kami." Sekar ratih ikut menimpali.
"Tenang.., tenanglah gadis-gadis cantik.. Semua masih akan ada jatahnya untuk kalian berdua. Ke empat orang itu hanya kroco, tidak akan bisa dibilang sebagai seorang jagoan, jika kalian hanya bertarung dengan empat orang itu. Tunggulah sebentar lagi Nimas..., mereka akan memanggil orang-orang yang lebih layak, untuk menguji kekuatan kalian." Chakra Ashanka mencoba menenangkan mereka.
"Kami tidak peduli.. apakah mereka mau sakti atau tidak. Kami ingin segera memukuli mereka, karena bukan kita yang lebih dulu membuat ulah. Tetapi mereka, banyak kesalahan yang sudah mereka lakukan. Pertama.. mereka sudah menekan dan menindas rakyat, yang kedua.. mereka sudah mengikuti kita dan bahkan akan membuat penyerangan kepada kita. Mereka harus diberi pelajaran kakang. Jangan pura-pura kakang tidak mengetahui semuanya." dengan suara lantang, Ayodya Putri mengungkapkan daftar kesalahan orang-orang itu.
"Iya benar yang dikatakan Nimas Putri.. Kakang Ashan sudah berusaha melindungi orang-orang jahat. Berarti sama saja, kang Ashan juga masuk golongan orang-orang yang jahat." dengan pedasnya, Sekar Ratih menimpali.
Chakra Ashanka menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, Memang sangat susah berurusan dengan perempuan, tidak akan pernah bisa merasa menang jika sudah berdebat dengan para perempuan. Jadinya.. sebagai laki-laki malah menjadi pintar bersilat lidah seperti mereka.
"Baik.., baik.. aku mengaku salah. Silakan beri aku hukuman Nimas, yang bisa menyenangkan dan memuaskan hati kalian. Aku tidak akan berontak.. lakukanlah Nimas..." ucap Chakra Ashanka yang akhirnya mengalah,
__ADS_1
Kedua gadis itu terdiam, dan mereka saling berpandangan. DI depan mereka saat ini, mereka seperti melihat Chakra Ashanka yang lain.., akhirnya tanpa kata kedua gadis itu menutup mata anak muda itu dan memukuli punggungnya. Tetapi laki--laki itu hanya tertawa, dan merasa jika kedua gadis itu seperti sedang memijat-mijat punggungnya.
********