Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 14 Jamuan


__ADS_3

Di luar tenda terdengar kegaduhan, beberapa orang tampak bersiap siaga untuk melakukan penyerangan. Seorang laki-laki bertubuh besar dengan penampilan garang tampak memimpin barisan.


"Hentikan Cokro..., jangan lakukan penyerangan!! Mulai saat ini, aku keluar dari kelompok barisan kalian, aku sudah memutuskan untuk mengabdi pada Tuan Wisanggeni dan Nimas Larasati." laki-laki yang sudah berjanji untuk mengabdi pada Wisanggeni, bergegas keluar dan menghentikan teman-temannya.


"Apa maksudmu Subali?? Demi dia, kamu memutuskan keluar dari barisan?? Apakah kamu sudah melupakan bagaimana perjuangan kita untuk membentuk barisan ini?" laki-laki yang bernama Cokro bertanya pada Subali.


Subali menganggukkan kepalanya dengan mantap, dia sudah bertekad untuk mengakhiri perjalanannya di tengah hutan. Dia ingin merasakan kehidupan sebagai warga masyarakat dan tinggal di tengah-tengah mereka.


"Iya Cokro.., aku sudah bosan hidup sebagai tentara bayaran. Aku akan menjalani kehidupan sebagai masyarakat biasa, yang tidak begitu terikat dengan orang lain." Subali menjawab pertanyaan Cokro.


"Kenapa dengan mudah kamu memutuskan untuk mengabdi padanya? Ceritakan sebenarnya apa yang sebelumnya terjadi, sebelum kami datang kesini!" Cokro terus berusaha mempertahankan Subali.


"Sudah.., berisik!! Sekali aku bertanya padamu Subali. Kamu ikut dengan kami berdua, atau kamu kembali pada kelompokmu?? Jika ikut dengan kami, sekarang ayo kita tinggalkan tempat ini!!" teriak Larasati dengan lantang.


"Aku memilih mengikuti Tuan Wisang dan Nimas Laras." jawab Subali sambil berjalan mendekati Wisanggeni dan Larasati.


"Tunggu.., jangan seenak jidatmu meninggalkan kami! Kamu dari kecil sudah bersama dengan kami, sekarang dengan mudahnya kamu seperti tergiur oleh mainan baru. Ayo teman-teman, kita uji sejauh mana kekuatan mereka!" Cokro menggerakkan anak buahnya untuk melakukan serangan pada Wisanggeni dan Larasati.


"Jangan sakiti mereka..., serang saja aku!" teriak Subali sambil merentangkan kedua tangannya.


Larasati menoleh pada Wisanggeni sambil tersenyum smirk, setelah Wisanggeni menganggukkan kepala, wanita itu mengangkat tangannya.


"Aduh.., kakiku sakit. Kenapa kakiku tiba-tiba tidak bisa digerakkan??" teriak sekitar 9 orang kesakitan sambil memegangi kakinya masing-masing.


Larasati memberi isyarat pada Wisanggeni dan Subali untuk segera meninggalkan tempat itu. Dia malas terlibat jauh dengan urusan mereka. Tapi baru saja mereka akan melompat, tiba-tiba...

__ADS_1


"Tunggu Kisanak.." terdengar teriakan seorang laki-laki paruh baya yang mencoba menghentikan mereka.


Wisanggeni melihat ke arah suara tersebut, seorang laki-laki paruh baya berpakaian mewah memintanya untuk berhenti. Wisanggeni menengok ke Larasati, akhirnya mereka berhenti dan berdiri di tempatnya semula.


"Kisanak mau kemana?? Kalian sudah melakukan perbuatan baik dengan menolong anak kami, mana boleh langsung pergi begitu saja. Paling tidak, beri kami kesempatan untuk menjamu kalian." ucapa laki-laki paruh baya tersebut.


Merasa berbulan-bulan tidak menikmati masakan rumahan, Wisanggeni tersenyum cerah. Larasati akhirnya mengikuti kemauan dari Wisanggeni.


 


*************************


 


Di dalam tenda yang paling besar dan mewah, laki-laki paruh baya mengadakan jamuan makan malam. Beraneka makanan dari kue maupun nasi lengkap dengan lauk dan sayur disajikan di atas permadani. Juga tampak minuman teh panas ikut tersaji di situ.


"Terima kasih Tuan Jayendra, saya sangat merindukan makanan rumahan seperti ini." Wisanggeni langsung mengambil makanan, dan kemudian memakannya dengan lahap tanpa mengenal rasa malu. Bahkan dia menambah lagi, saat ambilan pertama tadi sudah habis.


Niken perempuan yang ditolong tadi tersenyum melihat Wisanggeni menikmati makanannya dengan lahap, sesekali dia mencuri pandang pada laki-laki muda itu. Larasati melihat Niken dengan hati yang panas, dia kurang suka melihat tatapan Niken pada Wisanggeni.


"Nak Wisang.., setelah ini mau menuju kemana?" tanya Tuan Jayendra pada laki-laki muda itu.


"Belum tahu Tuan..., sepertinya saya masih ingin berkeliling ke hutan ini dulu." sambil meminum teh dari cangkir, Wisanggeni menjawab pertanyaan Jayendra.


"Niken.. apakah kamu tidak tertarik mencari pengalaman di dunia luar nak?? Daripada kamu hanya mengikuti ayah dan ibumu, kenapa kamu tidak mengikuti nak Wisang bertualang?" Jayendra berbicara pada putrinya.

__ADS_1


Larasati langsung membelalakkan matanya, dia melirik Wisanggeni, dan ternyata laki-laki muda itu malah melihat Jayendra dengan tersenyum.


"Ayah dan Ibu mengijinkan Niken?? Tapi..., bagaimana dengan Kang Wisang, apakah dia tidak berkeberatan untuk Niken ikuti?" dengan malu-malu Niken bertanya balik pada ayahnya.


"Sepertinya kami keberatan Tuan Jayendra, apalagi Niken sama sekali tidak memiliki dasar kekuatan sama sekali. Tinggal di tengah hutan, akan sangat merepotkan jika tidak diimbangi dengan kekuatan." Larasati langsung memotong perkataan Niken, dan tidak memberi kesempatan pada Jayendra untuk menjawab.


"Kan nanti kang Wisang bisa mengajariku?" sahut Niken dengan sedikit sewot.


"Memangnya kamu pikir Kang Wisang itu seorang Guru? Belajarlah dulu, jika sudah memiliki dasar kekuatan, silakan kamu ikuti kami!" Larasati menjawab dengan nada judes.


"Kok malahan kamu yang dari tadi melarangku? Kenapa bukan kang Wisang sendiri yang menjawabnya?" Niken tidak kalah ketus bertanya balik pada Larasati. Wisanggeni menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia bingung untuk menjawabnya.


"Ini kenapa malah kalian berdua yang ribut?? Nak Wisang.., bagaimana dengan usul saya. Apakah boleh mengijinkan putriku Niken ikut bertualang denganmu. Jika kamu merasa direpotkan, kamu bisa mengambil anak buahku untuk melayani putriku." Jayendra kembali bertanya pada Wisanggeni.


"Mohon dimaafkan Tuan Jayendra! Tampaknya semua sudah jelas, dan tadi sudah disampaikan oleh Larasati, bahkan akan sangat merepotkan jika memutuskan untuk tinggal di hutan ini, tanpa punya basis kekuatan sama sekali. Dan sekaligus, kami akan segera undur diri Tuan, terima kasih atas jamuannya. Jika masih ada waktu dan umur panjang, kapan-kapan kita akan bisa bertemu lagi." tidak mau memperpanjang perdebatan, Wisanggeni langsung sekalian untuk undur diri.


Larasati yang duduk disampingnya tersenyum mendengar jawaban Wisanggeni, sedangkan Niken langsung cemberut memonyongkan bibirnya. Tuan Jayendra berada di hutan itu, karena hutan itu merupakan satu-satunya jalan yang menghubungkan antara kota Malaka dengan kota Bandar. Mereka memiliki urusan berada di kota tersebut, sehingga menyewa tentara bayaran untuk melintasi hutan.


"Baiklah nak Wisang..., mungkin akan ada kesempatan lagi kita bisa bersua. Terimalah lempeng nama ini, tunjukkan pada penjaga jika kamu melintas di kota Malaka. Mereka akan bersenang hati untuk mengantarkanmu ke rumah kamu." Jayendra memberikan lempeng nama yang terbuat dari perunggu.


"Terima kasih Tuan dan Nyonya Jayendra, juga Nimas Niken. Kiranya pertemuan kita cukup sampai disini." Wisanggeni menggenggam tangan dan ditaruh di depan dadanya, kemudian dengan diikuti Larasati dan Subali langsung melompat pergi meninggalkan tempat tersebut.


Niken langsung berdiri dengan muka cemberut, dia kembali ke tendanya.


 

__ADS_1


**********************


__ADS_2