Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 322 Jangan-jangan Kamu Penyebabnya


__ADS_3

Patih Wirosobo melihat wajah Maharani dengan suatu ketertarikan antara seorang pria dan wanita, meskipun laki-laki itu tahu jika perempuan itu datang ke Logandheng dengan dibawa oleh putra laki-lakinya. Berbagai upaya dilakukan Patih Wirosobo untuk mengambil hati Maharani, dan untuk dapat memasuki kerajaan, Maharani seperti memberikan kesempatan pada laki-laki itu.


"Apakah aku bisa membantumu untuk mencari keluargamu Nimas.., aku hidup lebih lama daripada kamu maupun putraku Anggoro. Denganku..., kamu akan lebih cepat untuk mencari seseorang. Karena aku memiliki segalanya, uang, orang maupun kekuasaan." Patih Wirosobo bertanya pada Maharani. Meskipun Maharani saat ini berada di pesanggrahan Anggoro, tetapi laki-laki paruh baya itu tetap datang ke tempat peristirahatan putra laki-lakinya.


Maharani tersenyum, kemudian menatap mata Patih Wirosobo. Melihat bahwa disitu tidak ada Anggoro untuk saat ini, Maharani memiliki niat untuk memanfaatkan laki-laki itu.


"Terima kasih untuk tawaran bantuannya Patih Wirosobo. Sebenarnya kedatanganku ke kerajaan Logandheng, untuk mencari tahu dan menemui orang yang bertanggung jawab, dengan pengiriman pasukan untuk menyerang  desa-desa yang berbatasan langsung dengan perguruan kami, perguruan Gunung Jambu." tanpa berbasa-basi, Maharani langsung menuju ke tujuan utamanya datang ke kerajaan ini.


Patih Wirosobo terkejut, laki-laki itu menajamkan tatapannya pada Maharani. Laki-laki itu seperti sedang berpikir, dan menyembunyikan sesuatu, kemudian..


"Hmm.., karena kamu tidak menutupi tujuan utamamu datang ke kerajaan ini, maka aku juga akan langsung bertanya kepadamu. Aku harap, kamu tidak berusaha untuk menipuku, seperti kamu sudah menipu Anggoro putraku.." dengan nada sedikit tinggi, Patih Wirosobo menanggapi perkataan Maharani.


"Jika aku ini bukan seorang ibu yang harus bertanggung jawab untuk kelanjutan hidup dan masa depan putriku, aku tidak akan melakukannya Patih. Tetapi orang-orang dari kerajaan ini, dengan tidak tahu tata krama, dan peraturan.., sudah mengacak-acak perguruan kami. Bahkan melakukan penyerangan pada penduduk yang tinggal di desa-desa yang langsung berbatasan dengan perguruan kami. Meskipun Patih..., kami tahu jika desa itu berada di wilayah kerajaan Logandheng.., tetapi apakah kamu akan tetap diam saja jika ada pihak yang meminta pertolonganmu?" dengan berani, Maharani juga berbicara dengan nada tinggi.


"Heh..., untungnya belum aku tanyakan, ternyata kamu sudah bercerita kepadaku. Ha.., ha.., rupanya kamu adalah istri dari Wisanggeni pemimpin perguruan itu. Hm.., boleh.., boleh.. Ternyata benar kudengar dari cerita yang beredar, jika laki-laki itu memiliki dua istri yang sangat menggai**rahkan. Sebagai seorang laki-laki tulen, jujur Nimas.., aku memiliki ketertarikan denganmu.. Hmmm.." dengan senyum melecehkan, Patih Wirosobo mengamati tubuh Maharani dengan tatapan penuh minat.


Maharani sebenarnya merasa jijik dengan tatapan melecehkan dari laki-laki di depannya saat itu. Tetapi perempuan itu mencoba untuk menahan diri, karena masih ada yang ingin dia ketahui, siapa yang menjadi penanggung jawab utama dari penyerangan itu. Patih Wirosobo berjalan mendekat ke arah Maharani, tiba-tiba tangan laki-laki itu terulur untuk memegang dagu perempuan itu. Dengan sigap, Maharani menangkap pergelangan tangan laki-laki itu kemudian menurunkannya secara perlahan,

__ADS_1


"Aku akan memenuhi permintaanmu gadis cantik. Tetapi ada syaratnya..." sambil tersenyum, Patih Wirosobo terus menatap Maharani dengan pikiran yang tidak baik. Maharani memundurkan tubuhnya ke belakang, dan laki-laki itu terus mengejar perempuan itu.


"Puaskanlah aku.., tidurlah denganku untuk satu malam saja. Maka informasi apapun yang kamu inginkan, aku akan memberi tahu kepadamu. Bahkan, aku akan memerintahkan semua pasukan kerajaan untuk menarik kekuatan dari tapal batas perguruanmu." sambil menyeringai licik, Patih Wirosobo berbisik pada Maharani.


"Plak.., plak.." dua tamparan terarah ke pipi Patih Wirosobo, ketika tanpa ijin, laki-laki itu akan mencium wajah Maharani.


"Kurang ajar.., beraninya kamu menamparku ******..." Maharani dengan sigap memundurkan tubuhnya ke belakang, ketika dengan tatapan penuh kemarahan, Patih Wirosobo akan balas menampar dirinya.


"Di depan orang tua yang sedikitpun tidak memiliki harga diri, siapapun akan berani bertindak kurang ajar terhadapmu. Jangan-jangan, sebenarnya keributan yang terjadi di kerajaan Logandheng, bukan ulah dari raja. Tetapi semua karena akal bulusmu, yang ingin menguasai negara ini.." dengan lantang Maharani berteriak di hadapan laki-laki paruh baya itu.


Maharani tersenyum licik, perempuan itu merubah ekspresi wajahnya, menunjukkan betapa tertindasnya perempuan itu saat ini. Dengan tatapan kemarahan, Patih Wirosobo menatap tajam pada Maharani. Tetapi di depan putranya, laki-laki paruh baya ini tidak berani bertindak apa-apa.


"Kamu telah salah sangka putraku.., perempuan ini licik. Maharani bukan perempuan baik-baik.." Patih Wirosobo mencoba mempengaruhi Anggoro.


"Tidak perlu mengalihkan pembicaraan Romo.., untuk apa saat ini Romo berada di wilayah pesanggrahanku. Apakah dari tempat Romo, sudah memiliki niat untuk mengganggu Nimas Maharani. Pergilah Romo.., aku tidak akan pernah memaafkan ROmo yang mengganggu ketenanganku." dengan nada marah, Anggoro tidak mendengarkan perkataan orang tuanya.


Tidak mau ribut dengan putranya sendiri, akhirnya Patih Wirosobo membalikkan badan, kemudian melangkah pergi. Maharani tersenyum penuh kemenangan, dan menatap kepergian laki-laki paruh baya itu dengan tatapan mencibir.

__ADS_1


*********


Atas perlindungan yang diberikan Anggoro, akhirnya Maharani terbebas dari tekanan dan gangguan dari Patih Wirosobo. Tetapi kedua orang itu tidak tahu, jika secara diam-diam, Patih Wirosobo mengirim beberapa orang untuk menyambangi tempat kediaman Anggoro, dan memberikan pengamatan khusus pada Maharani.


"Sekarang apa rencanamu Nimas.., maafkan romoku. Aku tidak menyangka jika romo akan berani datang ke tempat ini untuk mengganggumu.." Anggoro mengajak Maharani berbicara.


Maharani terdiam sejenak, ada keraguan dalam diri perempuan itu jika Anggoro bisa membantunya. Apalagi hubungan laki-laki itu dengan ayahndanya sedang ada gangguan.


"Aku sebenarnya ragu Anggoro, apakah kamu bisa memberiku pertolongan atau tidak?" dengan ragu, Maharani menjawab pertanyaan Anggoro.


"Katakan apa yang akan kamu lakukan Nimas Maharani.. Jika kamu tidak mengatakannya, dari mana aku dapat menebak apa yang ingin kamu lakukan saat ini." Anggoro terus berusaha mendesak Maharani.


"Aku ingin sowan untuk menemui raja Logandheng yang bertahta saat ini Anggoro. Bagaimana.., aku yakin kamu tidak akan membantuku. Tetapi.. sudahlah.. AKu akan berusaha memikirkan cara sendiri, agar aku bisa masuk ke istana kerajaan, dan bisa berbicara langsung kepada raja." dengan ekspresi yang menimbulkan rasa kasihan bagi orang yang melihatnya, Maharani menjawab perkataan laki-laki itu.


Untuk saat ini, Anggoro yang gantian tidak mengeluarkan sepatah katapun. Pikiran laki-laki itu terbang kemana-mana, berusaha untuk membantu mewujudkan keinginan Maharani.


***********

__ADS_1


__ADS_2