
Tiga orang yang tertidur di pendhopo itu tiba-tiba terbangun. Hidung mereka menghitung harum aroma makanan berada di dekat mereka tertidur. Perlahan Wisanggeni duduk, kemudian diikuti Rengganis dan Parvati. Mereka saling berpandangan, dan merasa heran melihat di dekat mereka, tersaji makanan yang masih hangat dengan dibuktikan semua tempat saji masih mengepul. Rasa kantuk yang tadi sangat lekat menggayut di mata mereka, tiba-tiba hilang tak berbekas.
"Kakang .. apakah kali ini, mata Nimas sedang berhalusinasi. Nimas melihat seperti ada makanan dan minuman di dekat kita duduk. Perut Nimas jadi tidak bisa menahan rasa lapar." Rengganis bertanya pada suaminya.
"Bukan hanya dirimu Nimas..., kakangpun juga merasakannya. Makanan dan minuman hangat ini nyata, tapi kita tidak tahu ini semua milik siapa. Benar apa yang kamu ucapkan Nimas. Jika makanan dan minuman ini tidak berada disini, kita tidak akan merasa kelaparan seperti ini. Namun karena tersaji dan tertata dengan rapi, perut kita juga tidak akan dapat mengendalikannya." sahut Wisanggeni. Matanya sejak tadi tidak mau beralih, selalu menatap pada makanan yang ada di dekat mereka.
Pasangan suami istri itu menengok ke arah putrinya Parvati. Gadis muda itu malah berdiri, dan tanpa kita berjalan menghampiri makanan dan minuman itu.
"Nimas Parvati... apa yang kamu lakukan nak... Menyingkirlah dari tempat itu, kita tidak boleh mengambil barang yang bukan merupakan hak kita " Rengganis berteriak melarang gadis itu.
"Bunda dan ayahnda tidak perlu khawatir. Lihatlah.. di tempat ini sudah tersaji tiga piring dan tiga minuman hangat untuk kita. Parvati yakin, hidangan ini pasti disiapkan untuk kita bertiga." Parvati malah memprovokasi mereka.
Wisanggeni terdiam, laki-laki itu seakan ingin mengikutinya jejak Parvati. Begitu juga dengan Rengganis. Namun laki-laki itu kemudian mengambil nafas panjang, kemudian menghembuskan kembali secara perlahan. Kesadaran kembali menguasai otak dan pikirannya.
"Parvati... dengarkan perkataan ayahnda. Apapun alasannya kita tidak boleh menyentuh makanan itu, sebelum kita bertemu dengan pemilik Pesanggrahan ini. Bisa jadi, makanan dan minuman ini merupakan jebakan untuk mengelabuhi kita. Hati-hatilah.." Wisanggeni kembali mengingatkan pada gadis muda itu. Mendengar perkataan dari orang tua laki-lakinya, Parvati bersedia mendengarkan. Gadis muda itu kemudian memundurkan kembali badannya, kemudian bergabung dengan kedua orang tuanya.
Rengganis memegang Parvati, kemudian memeluknya. Sambil tersenyum, perempuan muda itu mengusap dan merapikan rambut di dahi gadis itu.
"Apakah putri ayahnda dan ibunda.. tidak mampu lagi untuk menahan hawa nafsu ini..." Rengganis bertanya dengan lembut.
"Kuat Ibunda... maafkan Nimas Parvati.. Sekejap ketika bangun tidur melihat pemandangan itu, sesaat Parvati hilang ingatan. Terima kasih ibunda.., ayahnda, ke depan Parvati akan lebih berhati-hati." ucap Parvati sambil memeluk tubuh Rengganis.
__ADS_1
Wisanggeni tersenyum kemudian berjalan mendekati kedua perempuan itu. Sambil merangkul istri dan putrinya, laki-laki itu mengajak mereka berdua untuk menjauh dari tempat itu.
"Kita harus bergeser menjauh dari tempat ini. Semakin kita tetap berada di sekitar makanan ini, kita akan semakin tidak mampu untuk menahan godaan kita. Tetapi jika berada sedikit lebih jauh, maka kita akan lebih mudah untuk bertahan." ucap Wisanggeni pelan.
"Baik ayahnda " sahut Parvati.
Ketiga orang itu kemudian berjalan pelan meninggalkan tempat tersebut. Mereka meninggalkan pendhopo, karena tidak ada jawaban dari pemilik rumah ketika mereka mengetuk pintu. Akhirnya ketiga orang itu berjalan dengan mengambil jalan melalui samping kanan bangunan wisma tersebut.
******
Sesampainya di belakang wisma, ketiga orang itu semakin terbelalak. Pohon-pohon yang tumbuh di belakang wisma itu, tertata rapi dan memiliki tinggi yang rata-rata sama atasnya. Hal itu dibutuhkan ketrampilan yang sangat rumit dari perawat tanaman tersebut.
"Sepertinya pemilik tempat ini memiliki jiwa seni yang sangat tinggi. Hal.ini.bida kita lihat, pohon-pohon disini tumbuh dengan tertata dan rapi." ucapan kekaguman muncul dari bibir Rengganis.
"Pasti akan ada kejutan yang disiapkan untuk kita. Hal ini terbukti, tanpa kata dan tanpa raga, mereka memberikan pada kita sebuah layanan tanpa kita untuk memintanya." lanjut laki-laki itu.
"Iya kakang.. Nimas setuju dengan kakang. Lihatlah.. apa yang ditemukan oleh putri kita.." tiba-tiba Rengganis menunjuk pada Parvati. Gadis itu berjalan meninggalkan mereka berdua. Tampak ada sesuatu yang membutuhkan perhatian gadis muda.
Wisanggeni dan Rengganis berjalan menghampiri Parvati. Mereka ikut menengok ke tempat yang menjadi perhatian gadis muda itu. Sebuah pintu kecil dari batuan hitam kembali terlihat ada tidak jauh dari mereka. Ketiga orang itu saling berpandangan penuh tanda tanya.
"Lagi-lagi pintu batuan hitam seperti melindungi tempat di belakangnya." ucap Rengganis pelan.
__ADS_1
"Kita harus membukanya dengan cepat, agar kita tahu siapa pemilik tempat ini. Dan untuk tujuan apa, orang itu membangun Pesanggrahan di tempat tersembunyi seperti ini " sahut Wisanggeni.
Laki-laki itu turun dan berjalan mendekati pintu dari batuan tersebut. Tangannya perlahan mengusap batuan tersebut, dan merasakan hawa dingin muncul dari batuan itu.
"Sama persis dengan pagar batu di depan. Nimas Parvati.. apakah kamu masih memiliki energi untuk membuka pintu ini putriku." Wisanggeni bertanya pelan pada putrinya.
Parvati tersenyum, gadis muda itu mengangguk kemudian berjalan mendekati ayahndanya. Sama dengan yang sudah dilakukan Wisanggeni, Parvati mengusap batuan hitam itu perlahan. Setelah beberapa saat, gadis muda itu memejamkan matanya. Ketika Parvati membuka matanya, tampak tangan gadis muda itu sudah berisi gumpalan energi berwarna ungu.
Wisanggeni memundurkan tubuhnya ke belakang, laki-laki itu berdiri di samping Rengganis. Keduanya mengamati apa yang dilakukan Parvati dari belakang.
"Krett.." tidak lama kemudian, pintu dari batuan itu bergeser perlahan, dan akhirnya terbuka lebar di depan mereka.
"Bagaimanapun ayahnda.. apakah kita akan memasuki tempat ini?" Parvati menoleh ke belakang, dan bertanya pada ayahndanya.
"Kita akan mengucapkan salam dulu Nimas.., sebelum kita masuk ke dalam secara bersama-sama." Wisanggeni menanggapi pertanyaan putrinya.
"Baik ayahnda... mohon ijin untuk membiarkan Parvati yang akan menyampaikan salam perkenalan pada seseorang yang sudah meneta kita dengan baik." Parvati meminta ijin pada ayahndanya.
Wisanggeni tersenyum dan menganggukkan kepala. Laki-laki itu kemudian menggandeng Rengganis, kemudian mereka sudah berdiri di samping Parvati. Dari belakang mereka mengamati gerakan-gerakan yang dilakukan gadis muda itu.
Terlihat kembali melakukan gerakan yang sama dengan apa yang dilakukan gadis muda itu ketika akan membuka pagar batuan hitam tersebut. Namun..
__ADS_1
belum jadi Parvati mengerahkan kekuatannya, tiba-tiba pintu batu itu terbuka dari dalam. Sesosok wajah meneduhkan menyambut kedatangan mereka.
******