Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 266 Dia Rayimu


__ADS_3

Chakra Ashanka yang merasakan semua anggota tubuhnya panas terbakar, tiba-tiba merasakan sebuah kesejukan. Badannya tiba-tiba terasa dingin dan nyaman seperti mandi di bawah guyuran air terjun. Rasa panas yang membakar tubuhnya perlahan mulai menghilang, dan lepuhan-lepuhan menghitam yang memenuhi sekujur tubuhnya, perlahan juga mulai menghilang dan mengelupas.


"Ada dimana aku sekarang..., bukannya terakhir kali aku berada di tengah hutan, dan bertarung dengan gerombolan penjahat yang dipimpin oleh laki-laki bernama Kandar?" Chakra Ashanka bertanya pada dirinya sendiri. Tetapi anak muda itu terlihat bingung, belum bisa menemukan jawaban dan simpul dari kebohongannya itu.


"Aku tidak sedang berada di air terjun, tetapi tiba-tiba saja kesegaran terasa mengguyur tubuhku. Ada hal apa ini sebenarnya, apakah aku sudah terbang ke arah nirwana?" lagi-lagi anak muda itu berbicara pada dirinya sendiri.


Chakra Ashanka masih dilanda kebingungan, seperti tiba-tiba terbangun dari sebuah mimpi yang panjang, tetapi tidak tahu apa yang akan dia lakukan. Lama anak muda itu melamun dan merenung, tetapi sampai beberapa saat tidak ada simpul yang membuatnya menemukan jawaban. Mau bangkit, kemudian berjalan untuk melangkahkan kakinya, anak muda itu masih merasa ada beban berat yang menghimpit tubuhnya. Akhirnya anak muda itu tetap berbaring dan kembali memejamkan matanya.


Beberapa saat berbaring, anak muda itu merasakan ada sebuah tangan kecil yang terasa lembut dan menyejukkan, mengusap wajahnya secara perlahan.


"Plak..., aaww..." tiba-tiba sebuah tamparan panas terasa menyambar pipinya. Karena terkejut, anak muda itu terbangun dan membuka matanya lebar-lebar. Di samping tempatnya berbaring, anak muda itu merasakan ada kulit lembut di sampingnya. Reflek, Chakra Ashanka menoleh ke samping, dan matanya terbelalak.


"Ada dimana aku sekarang..., kenapa ada bayi di sampingku." Chakra Ashanka terkejut, melihat ada bayi mungil tergolek tidur di sampingnya. Mata bayi itu terlihat cerah, dan kulitnya putih bersih membuat gemas siapapun yang melihatnya.


Perlahan Chakra Ashanka mengangkat bayi itu dengan menggunakan kedua tangannya, kemudian meletakkan di pangkuannya. Mata bayi itu mengerjap, dan senyuman merekah muncul di bibir bayi itu ketika bertatapan dengan anak muda itu. Merasa kebingungan, anak muda itu mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, dan merasa tidak asing dengan ruangan yang ditempatinya saat ini.


"Bukannya ini ruang pengobatan yang ada di perbukitan Gunung Jambu. Bagaimana bisa aku datang dan sampai kesini?? Kemudian..., yang ada di pangkuanku ini.., bayi siapakah. Apakah putri ayahnda dan ibunda Rengganis. Untuk apa menidurkan bayi ini di sampingku." banyak pertanyaan muncul di benak anak muda itu. Berkali-kali matanya beradu pandang dengan bayi yang saat ini berada dalam gendongannya itu. Tangan mungil bayi itu, tiba-tiba terangkat dan kembali mengusap wajah Chakra Ashanka.

__ADS_1


Tiba-tiba Chakra Ashanka merasa dekat dengan bayi yang ada dalam gendongannya itu. Berkali-kali anak muda itu dengan gemas memberi ciuman di pipi kanan dan kiri bayi menggemaskan itu. Bayi itu juga terlihat menikmati perlakuan yang diberikan oleh anak muda itu, sesekali tangan mungilnya akan mengusap wajah anak muda itu.


"Srettt..." tiba-tiba pintu kamar terdengar dibuka dari luar. Seseorang terkejut melihat pemandangan di depannya, dimana Chakra Ashanka yang sudah menjalani mati suri untuk beberapa purnama, kali ini terlihat sangat segar dan sedang menggendong Parvati di pangkuannya.


"Bunda Maharani..." panggil Chakra Ashanka pada perempuan itu.


"Iya Ashan putraku.., syukurlah kamu sudah siuman nak." sambil tersenyum, Maharani melangkah ke tempat Chakra Ashanka berbaring. Perempuan itu terkejut melihat penampilan Chakra Ashanka di pagi ini. Kulit kering, gosong dan menghitam yang selama ini banyak terdapat di sekujur tubuh anak muda itu, saat ini sudah menghilang tak berbekas.


"Apa yang terjadi Bunda Maharani, dan dalam pangkuan Ashan ini..., bayi siapakah ini?" tidak sabar, Chakra Ashanka bertanya pada Maharani.  Perempuan itu tersenyum dan mengambil nafas panjang.


"Ceritanya panjang putraku, biarlah nanti ayahnda Wisanggeni yang akan bercerita semua tentangmu. Yang ada di pangkuanmu itu adalah Parvati adikmu. Bayi ini putri ibunda Maharani dan ayahnda Wisanggeni.." Maharani menjelaskan bayi itu pada Chakra Ashanka.


"Ashan.., kamu harus istirahat dulu. Jangan banyak bergerak.., ibunda akan memanggil ayahnda Wisanggeni dan ibunda Rengganis. Mereka pasti akan bahagia melihatmu sudah kembali putraku." Maharani mengambil Parvati dari pangkuan anak muda itu.


"Tunggu ibunda..., kenapa ibunda meletakkan rayi Parvati di samping tempat tidur Ashan..?" tiba-tiba Chakra Ashanka merasakan hal yang janggal.


Parvati tersenyum, karena tidak mau membuat anak muda itu berpikiran yang tidak-tidak, akhirnya Maharani kembali duduk di samping anak muda itu.

__ADS_1


"Ashan.., dalam leluhur kami sebenarnya kami memiliki sebuah rahasia. Dimana kami manusia ular. memiliki sisik dan lendir yang membalur tubuh kami, yang jika digunakan secara tepat akan bisa menjadi penyembuh bagi beberapa penyakit, termasuk luka bakar yang kamu derita putraku. Apalagi, Parvati sudah mendapatkan manfaat dari esensi energi naga perak, yang diolah ayahnda Wisanggeni, sehingga daya sembuhnya lebih meningkat." perlahan Maharani menceritakan semuanya pada Chakra Ashanka.


*******


Di pendhopo..


Rengganis sedang menemani Wisanggeni menerima kedatangan Ki Mahesa dan Widjanarko beserta istri dan putranya Ahimsa. Setelah melewati perjalanan panjang, akhirnya ayahdan dan kakang Wisanggeni bisa sampai di perbukitan Gunung Jambu dalam keadaan selamat. Wisanggeni berencana untuk meminta ayahnda dan kakangnya untuk beristirahat terlebih dulu, sebelum diberikan kesempatan untuk menengok Chakra Ashanka.


"Bagaimana kondisi cucuku Chakra Ashanka,, Wisang..?" Ki Mahesa bertanya tentang keadaan cucunya. Rengganis dan Wisanggeni saling berpandangan, kemudian menundukkan kepala.


"Apakah terlalu gawat kondisi luka parah yang diderita cucuku..? Lalu bagaimana dengan kemampuanmu meramu herbal, apakah tidak mempan untuk pengobatan putramu sendiri?" melihat kediaman putra dan menantunya, Ki Mahesa merasa tidak sabar. Dengan nada tinggi, laki-laki tua berbicara dengan nada tinggi..


"Ayahnda..., sebentar lagi kita pasti akan diantarkan untuk melihat Chakra Ashanka. Semoga saja, keadaan anak muda itu tidak segawat yang kita pikirkan." Widjanarko bertindak lebih sabar, laki-laki putra tertua Ki Mahesa itu mencoba menenangkan ayahndanya.


"Iya ayahnda.., siapa tahu Ashan sedang menjalani semedi pati, bukan dalam keadaan cidera." terdengar Kinara ikut menambahkan. Laki-laki tua itu menghela nafas, dan suasana di pendhopo yang semula penuh kebahagiaan tiba-tiba menjadi sepi.


"Ayah.., bunda.., Eyang..., paman...?" tiba-tiba di depan pintu terdengar suara Chakra Ashanka memanggil semua yang ada di pendhopo satu persatu. Dengan tidak percaya, Rengganis menolehkan wajah ke arah pintu.

__ADS_1


*************


__ADS_2