
Wisanggeni menceritakan tentang perjalanannya pada Rengganis, sampai akhirnya dia bisa berada disini. Bagaimana dia bertemu dengan Larasati dan akhirnya terpisah juga dia ceritakan tanpa ada yang dia tutupi. Dia tidak ingin menimbulkan kecurigaan pada gadis yang sangat dia idamkan untuk menjadi pendampingnya di kemudian hari. Tanpa sedikitpun merasa kebosanan, dengan setia dan penuh perhatian perempuan itu mendengarkan apa yang diceritakan laki-laki muda itu.
"Maafkan Anis Kang, karena tidak adanya Akang di Klan Bhirowo menjadikan titik bosan di diri Anis! Akhirnya Anis pamitan sama paman Mahesa untuk melanjutkan belajar di tempat lain. Ternyata setelah kepergian Anis dari Klan Bhirowo, gerombolan Alap-alap datang untuk menyerbu Klan dan membawa pergi paman Mahesa." dengan tatapan penuh penyesalan, Rengganis minta maaf pada Wisanggeni.
Mendengar perkataan gadis itu, Wisanggeni teringat wajah tua ayahndanya. Tanpa dia sadari, tangannya mulai mengepal.
"Anis.., apakah kamu memiliki informasi, dimana keberadaan markas atau tempat asal dari gerombolan Alap-alap?" tiba-tiba Wisanggeni menanyakan tentang asal atau tempat keberadaan dari Alap-alap.
"Untuk tempat pastinya, Anis juga kurang paham Akang. Tetapi, Anis pernah mendengar ada satu gunung di kawasan Barat yang menjadi tempat keberadaan satu gerombolan. Gunung itu bernama Gunung Baturetno, atau mungkin tempat itu yang menjadi sarang Alap-alap, Anis juga kurang begitu memahaminya Kang." Rengganis menjawab pertanyaan dari Wisanggeni.
"Kalau begitu, aku akan mencoba mencari tahu tentang keberadaan gerombolan itu. Aku harap memang Alap-alap yang berada di kawasan itu." ucap Wisanggeni sambil melamun.
"Akang.., Anis yakin. Gerombolan Alap-alap itu punya maksud tertentu dengan paman Mahesa. Jika memang mereka hanya menginginkan harta benda, mereka tidak mungkin akan melakukan penyerangan pada Klan Bhirowo karena masih banyak Klan yang memiliki kekayaan berlimpah. Atau mungkin ada rahasia yang disembunyikan oleh Paman yang tidak atau belum diceritakan pada akang maupun pada Kang Widjanarko dan Kang Lindhuaji." tiba-tiba Rengganis bertanya pada Wisanggeni.
Wisanggeni menatap perempuan yang duduk di depannya itu. Dia juga tidak tahu, apakan ayahndanya memiliki rahasia besar sehingga Alap-alap sampai mengirimkan gerombolannya untuk menangkapnya.
"Aku tidak tahu Anis, karena ayah belum pernah bercerita tentang hal itu padaku.
"Akang tidak perlu khawatir lagi. Anis akan menemani Akang dalam perjalanan menuju Gunung Baturetno." ucap Rengganis sambil tersenyum.
"Apakah benar apa yang kamu katakan Rengganis?" tanya Wisanggeni tidak percaya.
"Iya Akang, karena Anis tidak mau." ucap Rengganis tiba-tiba.
"Tidak mau?? Tidak mau apa Anis?" tanya Wisanggeni kurang memahami apa yang diucapkan Rengganis.
__ADS_1
"Anis tidak mau, jika Akang bebas bermain dengan gadis-gadis yang akan Akang temui di perjalanan. Anis akan menemani Akang kemanapun." kata Rengganis sambil memalingkan wajahnya.
"He..he..he.., Anis cemburu dengan Larasati? Percayalah Anis, tidak ada perempuan manapun yang sudah mampu menggoyangkan posisimu di hati Akang." ucap Wisanggeni mantap.
"Benarkah Kang, apa yang Anis dengar?? Apakah Akang menyediakan tempat untuk Rengganis di hati Akang? Terus bagaimana posisi perempuan yang bernama Larasati itu di hati Akang" tanya Rengganis tidak percaya. Dengan lembut dia menatap Wisanggeni.
"Antara aku dan Larasati murni hanya berteman Anis. Hilangkan rasa cemburumu itu, bahkan aku kesini mengajaknya, dalam rangka untuk mengenalkan gadis itu pada kedua kakakku. Siapa tahu salah satu dari kakakku itu, memiliki ketertarikan pada Larasati." kata Wisanggeni meyakinkan gadis pujaannya itu.
Rengganis menatap Wisanggeni seakan tidak mempercayai hal yang baru saja dia sampaikan.Wisanggeni tersenyum, dia menganggukkan kepala dan berjalan ke depan. Dia kemudian duduk di samping gadis itu, melihat senyum cerah di bibirnya membuat ada keinginan lebih yang di diri Wisanggeni terhadap Rengganis.
Tangannya memainkan rambut yang jatuh di wajah Rengganis, dan tidak tahu siapa yang memulai, dua bibir sudah tertaut dengan lembut. Kedua insan berlainan jenis itu mengobati kerinduan mereka dengan tautan pada tubuh mereka. Mereka tampak saling mengisi dan memberi. Dengan tatapan redup, tangan Wisanggeni sudah melepas kancing baju atasan yang dikenakan Rengganis, dan gadis itu terlena dalam kelembutan yang diberikan oleh laki-laki muda itu. Tampak dua bukit kembar dengan puncak yang tampak ranum, menggoda Wisanggeni untuk memberikan perlakuan padanya.
"Uhh.., aaakh... kang." terdengar suara lenguhan terlontar dari mulut Rengganis, saat tanpa sadar bibir Wisanggeni sudah menghisap kedua bukit itu. Suara itu menguji pertahanan Wisanggeni, dan saat tangan laki-laki muda itu akan menarik baju bawahan gadis itu.
"Tok..tok..tok.., Nimas.. Nimas Rengganis." suara ketukan dan panggilan seorang laki-laki paruh baya pada Rengganis menyadarkan mereka. Rengganis langsung memberikan tamparan pada wajah laki-laki muda itu.
Dengan senyum meringis, Wisanggeni menghentikan perbuatannya itu. Meskipun Rengganis juga tampak menikmatinya, tetapi dia belum ikhlas memberikan intinya untuk laki-laki muda itu saat ini. Setelah mengenakan dan merapikan pakaiannya, Wisanggeni membuka pintu kamar.
*************
__ADS_1
Merasa malu dengan perbuatannya dengan Wisanggeni, dengan menutup muka, Rengganis berlari keluar dari kamar Wisanggeni. Dengan tatapan marah, Ki Narendra melihat pada Wisanggeni.
"Aku akan menghajarmu sendiri Wisang, jika kamu berani untuk mempermainkan Nimas Rengganis." satu kalimat yang diucapkan oleh laki-laki paruh baya yang mendampingi Rengganis, hanya menimbulkan senyum kecut di wajah laki-laki muda itu.
"Tidak terjadi apa-apa antara aku dan Rengganis paman. Janganlah terlalu khawatir seperti itu!" ucap Wisanggeni sambil menelan ludah.
"Apakah kamu tidak berpikir, jika barusan aku tidak teringat janjiku untuk menjaga gadis itu. Bisa-bisa kamu sudah menghancurkan Rengganis." dengan nada tinggi, Ki Narendra memarahi Wisanggeni.
"Iya ampuni aku paman, tapi apakah paman tidak melihat jika Rengganis juga menikmatinya." jawab Wisanggeni malu.
"Tutup mulutmu Wisang, atau aku hancurkan mukamu saat ini juga. Ingat dan camkan dalam pikiranmu, jika Rengganis harus tetap dalam keadaan suci sampai dia mencapai level 7! Saat ini dia baru sampai pada level 6 tingkat dasar." kata Ki Narendra yang langsung meninggalkan Wisanggeni sendirian. Dia segera mengikuti langkah Rengganis yang berlari masuk ke kamarnya.
Melihat kepergian Ki Narendra, Wisanggeni hanya memandangi punggung laki-laki paruh baya itu yang berjalan meninggalkannya. Dia kemudian masuk kembali ke dalam kamar, dan langsung membanting pintu kamarnya dengan keras.
"Blam..."
Laki-laki muda itu tersenyum kecut melihat ke bawah, ternyata masih ada bagian dari tubuhnya yang belum mau tidur kembali. Akhirnya dengan senyum kecut, dia langsung masuk dan berendam dengan air dingin di kamar mandi. Segera dia mengambil nafas dalam, dan fokus pada pikiran dan pernafasannya untuk menidurkan kembali bagian tubuhnya.
**********************
__ADS_1