
Dini hari ketika orang-orang masih tertidur lelap, Wisanggeni meninggalkan tempat beristirahatnya tanpa pamit pada orang-orang di kerajaan. Hanya meninggalkan satu baris tulisan di gulungan lontar yang berisikan " Akang akan pergi untuk memenuhi persyaratan", laki-laki itu segera bergegas keluar. Di halaman, Singa Ulung sudah menunggu laki-laki itu, untuk membawanya ke kawasan timur untuk mencari puncak gunung untuk melakukan ritual pertamanya. Tanpa banyak kata, Wisanggeni langsung melompat ke punggung binatang itu dan segera terbang meninggalkan kerajaan ular.
Berhari-hari dilalui Wisanggeni dan Singa Ulung untuk mencari keberadaan puncak gunung itu. Laki-laki itu sengaja memilih istirahat di atas pohon, atau mencari hutan di tengah hutan, dari pada harus mencari penginapan. Merasa merindukan putra laki-lakinya dan juga Rengganis, mendorong Wisanggeni untuk tidak banyak membuang waktu di perjalanan. Melihat bukit kecil di bawah sana, Wisanggeni menepuk pelan leher Singa Ulung, dan tanpa bertanya, binatang itu langsung terbang merendah.
"Berhentilah di atas puncak bukit itu Ulung.., kita akan beristirahat sebentar." ucap Wisanggeni memberi isyarat pada binatang itu.
"Shaap.." dengan lincah, Wisanggeni segera melompat dari punggung Wisanggeni, di atas batu datar yang ada di puncak bukit. Laki-laki itu menurunkan badannya, kemudian berjongkok di atas batu pipih tersebut. Perlahan tangannya mengusap pelan batu itu, dan senyuman muncul di bibirnya..
"Batu ini sengaja dibentuk seperti ini.., sepertinya ini tidak terjadi secara kebetulan. Bisa jadi, tempat ini merupakan tempat bersemedi seseorang, atau tempat berlatih perguruan yang ada di sekitar sini." Wisanggeni berbisik pelan, matanya diedarkan ke sekeliling tempat itu. Tiba-tiba sudut matanya menangkap sebuah asap di kejauhan.
"Ulung.., masuklah dulu ke kepisku! Aku akan minta ijin pada pemilik tempat ini untuk beristirahat sebentar!" selesai berbicara, binatang itu berjalan mendekati laki-laki itu. Perlahan tangan Wisanggeni mengusap pelan kaki atas Singa Ulung, dan binatang itu segera berubah menjadi seekor kucing yang menggemaskan. Tidak mau menyembunyikan identitasnya, perlahan Wisanggeni berjalan menuruni bukit sambil meletakkan SInga Ulung di atas pundaknya.
Beberapa saat laki-laki itu berjalan, tiba-tiba matanya berbinar melihat sungai kecil dengan bebatuan berair jernih. Perlahan, laki-laki itu meletakkan Singa Ulung, kemudian menceburkan kakinya di atas bebatuan di dalam sungai. Kedua tangannya menangkup air jernih, kemudian membasuhkan ke wajahnya. Kesegaran mengalir di wajah laki-laki itu, saat air dingin menyapu mukanya.
__ADS_1
Ketenangan terasa merasuk di hati Wisanggeni memandangi alam yang ada di sekitarnya. Air yang jernih mengalir pelan, dengan banyak batuan di dalamnya. Dengan sigap, laki-laki itu duduk bersila di atas batu besar di tengah air sungai itu. Kedua tangannya diletakkan di atas kedua lutut, dan perlahan kedua matanya mulai terpejam. Beberapa saat laki-laki itu melakukan meditasi, angin sepoi terasa menerpa wajahnya perlahan. Burung-burung membuat alunan musik yang mengiringi ketenangan alam.
"Blaarrrr..." tiba-tiba tanpa diduga, kilat menyambar dari atas langit. Binatang-binatang segera lari menyembunyikan diri. Merasa terusik ketenangannya, Wisanggeni membuka mata.
"Kita memang tidak mungkin untuk membaca alam, hanya bisa memperkirakannya. Tetapi dalam sekejap mata, perkiraan manusia akan tumbang dengan sendirinya, jika Hyang Widhi menunjukkan kuasanya." Wisanggeni bergumam kecil, perlahan laki-laki itu segera mengakhiri meditasinya. Tidak mau basah jika hujan sampai turun, dengan cepat Wisanggeni naik ke pinggir sungai.
**********
Beberapa saat Wisanggeni berjalan di bawah langit mendung yang gelap, mata laki-laki itu menangkap sebuah bangunan gubug kecil yang keluar asap dari dalamnya. Merasa menemukan seseorang setelah sekian hari tidak berbincang dengan sesama manusi, Wisanggeni perlahan berjalan menghampiri gubug itu. Melihat pintu yang terbuat dari bambu di depannya, sudut mulut Wisanggeni terangkat ke atas. Perlahan, laki-laki itu segera berjalan menghampiri gubug tersebut.
"Drtttt..." tidak lama kemudian, terdengar pintu berderit. Seorang laki-laki tua tampak keluar dari sebuah ruangan di dalam gubug tersebut. Laki-laki tua mengenakan penutup kepala dari kain, tampak keluar dari ruangan tersebut, dan langsung berjalan menuju ke arah pintu.
"Maafkan atas kelancangan saya sudah mengganggu istirahat Aki..!" melihat laki-laki tersebut, Wisanggeni mengucapkan permohonan maaf.
__ADS_1
"Duduklah dulu Ki Sanak.., suatu kebanggaan bagi laki-laki tua sepertiku mendapat kunjungan dari laki-laki muda seperti Ki Sanak." dengan tersenyum, laki-laki tua meminta Wisanggeni untuk duduk di kursi. Tanpa menunggu, Wisanggeni memenuhi keinginan laki-laki tua tersebut. Mereka duduk berdampingan di atas lincak yang ada di depan gubug itu. Sebagai pihak yang lebih muda, dengan sopan Wisanggeni mencium punggung tangan laki-laki tersebut, dan mengenalkan namanya.
"Tidak akan mungkin jika Ki Sanak dari jauh memiliki tujuan untuk mengunjungi Aki. Jika boleh tahu, ada urusan apa sampai Ki Sanak bisa terdampar disini?" laki-laki tua itu yang ternyata bernama Kasena itu, bertanya pada Wisanggeni. Pandangannya tampak menyelidik ke wajah dan penampilan Wisanggeni.
"Apa yang Aki katakan memang benar adanya. Tidak sengaja, dalam perjalanan melewati daerah ini, terlihat batu pipih di puncak bukit. Akhirnya saya memutuskan untuk melihatnya, kemudian setelah beristirahat sebentar, saya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, dan menemukan sungai dangkal dengan bebatuan yang sangat jernih. Baru akan mencoba untuk melakukan meditasi di tempat itu, tiba-tiba langit yang semula cerah menjadi gelap. Petir dan kilat menyambar-nyambar.., akhirnya saya bisa menemukan tempat ini Aki." dengan runtut, Wisanggeni menceritakan pengalaman yang baru saja dia alami.
Aki Kasena tersenyum, kemudian tangannya menepuk pelan punggung Wisanggeni.
"Hal itu sudah biasa terjadi disini nak Wisang.. Kita tidak akan dapat memperkirakan kapan akan datangnya hujan, kapan akan mulai masuk kemarau. Hal itu karena di kawasan hutan ini memiliki keistimewaan, adanya pusaka lempeng di bukit itu yang menjadi penyebab semua kejadian ini. Siapapun yang dapat memiliki lempeng, menurut riwayat akan mampu menaklukkan gunung untuk mendapatkan esensi murni. Tapi.., orang yang mencoba mencarinya, hanya akan menyia-nyiakan hidupnya." ucap Ki Kasena pelan, sambil pikirannya menerawang jauh.
Melihat perubahan raut wajah laki-laki tua itu, timbul pertanyaan di benak Wisanggeni. Laki-laki tua itu, saat ini sedang melamun seperti membayangkan suatu peristiwa tertentu.
"Mendengar perkataan Aki.., sepertinya Aki sendiri pernah mengalaminya. Apakah Aki pernah mencoba untuk mendapatkan pusaka itu?" dengan rasa penasaran, Wisanggeni menanyakannya langsung pada laki-laki itu. Aki Kasena menatap wajah Wisanggeni sebentar, kemudian mengalihkan pandangan ke lain tempat. Tidak berapa lama, dengan senyum pahit laki-laki itu menjelaskan pengalamannya.
__ADS_1
**********