
Para penjaga yang bertugas itu menanyakan tentang asal-usul dan kepentingan Wisanggeni. Kebetulan Wisanggeni pernah mengunjungi tempat tersebut sebelumnya, sehingga laki-laki itu sedikit banyak dapat mengenali tempat-tempat tersebut. Bahkan Wisanggeni juga mengaku sebagai penduduk asli kota Laksa, dan juga tidak diketahui jika dia telah berbohong.
"Cepat menyingkir dari sini, segera cari tempat tinggalmu. Untung saja kamu ketemu dengan kami yang berjaga, jika tidak kamu sudah akan dijebloskan ke penjara bawah tanah menemani raja dan permaisuri kerajaan." dengan kasar, penjaga itu menghardik Wisanggeni yang sedang menyamar menjadi perantau.
"Terima kasih Ki Sanak.., tetapi sepertinya saya baru mengetahui wajah Ki Sanak. Biasanya untuk pengawal-pengawal kerajaan, sering bertemu dengan mereka. Tetapi kali ini ketemu dengan Ki Sanak, dan saya merasa asing dengan Ki Sanak," Wisanggeni berusaha mencari informasi sedetail mungkin.
"Ha.., ha..., ha.. pengawal kerajaan sampah.. Bisa-bisanya mereka setia dengan raja Arya Vikrama.., apa yang mereka harapkan. Apakah raja sanggup memberi mereka kemewahan.. Tetapi aku akui kejelianmu bocah.., aku memang tidak berasal dari kerajaan ini. Aku berasal dari perguruan Tapak Geni.., tetapi mulai sekarang aku dan murid-murid perguruan Tapak Geni yang berkuasa disini, ha.., ha.., ha..." pengawal yang ternyata bukan penduduk asli Laksa, itu tertawa keras.
"Baiklah Ki Sanak.., saya akan segera pulang ke rumah keluarga saya. Ijin saya pergi mendahului." tidak menunggu jawaban dari penjaga itu, Wisanggeni berpura-pura berjalan meninggalkan tempat tersebut. Laki-laki itu mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat itu, dan menyelinap bersembunyi jika ketemu dengan orang yang masih berkeliaran di sekitar tempat tersebut.
Beberapa saat Wisanggeni mengelilingi tempat tersebut, tiba-tiba pandangannya nanar. Laki-laki itu melihat petunjuk arah yang ditulis dengan menggunakan huruf Sansekerta, yang memiliki arti penjara bawah tanah. Tetapi banyaknya penjaga yang mengawasi tempat tersebut, menjadikan Wisanggeni menunda keinginan untuk memasuki tempat tersebut.
"Aku harus hati-hati, kekuatan Pangeran Abhiseka belum terdeteksi. Jika aku tertangkap, maka akan gagal rencana kita untuk membebaskan raja dan permaisuri." Wisanggeni berpikir sendiri. Laki-laki itu tampak berhati-hati, dan tidak mau berpikir gegabah.
"Wisang.., apa yang kamu temukan disana..?" tiba-tiba Wisanggeni dikejutkan oleh suara Pangeran Abhiseka. Laki-laki itu ternyata sudah menyusulnya, dan saat ini berdiri di belakangnya.
"Ternyata benar perkiraan awal kita Pangeran. Para pengawal di depan kerajaan, semua sudah ditangkap karena tidak mau memberontak. penjaga yang tadi berbincang denganku, mereka murid-murid dari perguruan Tapak Geni. Berarti ada hubungan antara perguruan itu dengan putra dari selir kerajaan." Wisanggeni berbisik pada Pangeran Abhiseka.
__ADS_1
"Biarkan saja dulu Wisang, kita tidak akan dapat berbuat banyak jika bergerak saat ini. Ikutlah denganku, aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Aku yakin orang-orang dari putra selir tidak akan mengetahui tempat itu." Pangeran Abhiseka berbisik pada Wisanggeni, kemudian dengan hati-hati itu meringankan tubuhnya dan melompat ke atas genting. Wisanggeni segera mengikuti laki-laki itu..
Tidak berapa lama mereka melompat di atas genteng, tiba-tiba di pinggir sebuah hutan, Pangeran Abhiseka melompat turun. Laki-laki itu kemudian menyusuri sebuah jalan setapak yang dikurung dengan banyak pepohonan besar. Jalan kecil itu seperti tersembunyi, dan terkesan jarang dilewati oleh orang-orang,. Tanpa banyak bertanya, Wisanggeni mengikuti langkah Pangeran Abhiseka, kedua laki-laki itu berjalan beriringan.
********
Sebuah bangunan dari kayu terlihat di tengah-tengah hutan yang didatangi Pangeran Abhiseka dan Wisanggeni. Tetapi samar-samar, mereka melihat sinar cahaya dari dalam bangunan pondhok tersebut. Wisanggeni berhenti, laki-laki itu mencoba berhati-hati dan berjaga.
"Tidak perlu khawatir Wisang... Tidak ada seorangpun bahkan ayahnda dan ibunda jika aku memiliki tempat persembunyian di hutan ini. Hanya orang-orang dekatku yang mengetahui tempat ini. Aku yakin, orang-orangku sudah menunggu disini menunggu kedatanganku," Pangeran Abhiseka menenangkan Wisanggeni. Mereka terus berjalan mendekati bangunan pondhok tersebut.
"Clap.., clap..., jleb.." tiba-tiba tidak disangka, puluhan anak panah menyerang mereka berdua. Dengan segera, Wisanggeni mengeluarkan tabir pelindung, dan anak panah tersebut berjatuhan tidak mampu menembus tabir pelindung yang dibuat Wisanggeni.
"Tap.., tap.., tap..." terdengar beberapa orang datang kemudian melompat, dan sudah mengelilingi Wisanggeni dan Pangeran Abhiseka.
"Siapa kalian..., berani-beraninya datang ke tempat ini?? Kita serang kemudian kita panggang, atau kalian berdua menyerah dan mengakui kesalahan kalian?" suara laki-laki muda berteriak menghardik mereka berdua. Pangeran Abhiseka melambaikan tangannya, kemudian laki-laki itu berdiri di depan Wisanggeni.
"Apakah kalian mengusir aku dari tempatku sendiri?" dengan suara tegas, Pangeran Abhiseka berteriak menjawab pertanyaan laki-laki tersebut...
__ADS_1
"Pangeran Abhiseka..., benarkah itu Pangeran?" tiba-tiba salah satu dari beberapa orang itu mengenali suara Pangeran Abhiseka. Seseorang kemudian menyalakan api, dan terlihat dengan jelas wajah Pangeran Abhiseka dan Wisanggeni. Melihat kedatangan Pangeran di tempat itu, orang-orang tadi berlutut di hadapannya.
"Ampuni kami Pangeran.., hanya tempat ini yang menurut kami masih aman dari jangkauan pemberontak. Kami dan beberapa orang lain, menggunakan tempat ini untuk bersembunyi dari kejaran orang-orang Pangeran Prakosa." salah satu dari mereka mewakili teman-temannya meminta ampunan dari pangeran Abhiseka.
"Bangunlah kalian semua.., tidak perlu kalian semua bersikap seperti itu padaku. Aku yang salah tidak dapat melindungi kerajaan dengan baik. Pondhok ini dibangun untuk kita bersama-sama belajar dan berlatih seperti ini. Siapapun boleh menggunakannya, sekarang antarkan aku dan Wisanggeni masuk ke dalam. Kami akan beristirahat sebentar." dengan sikap welas asih, Pangeran Abhiseka menanggapi perkataan mereka.
"Mari Pangeran.., ikuti kami!" orang-orang tersebut kemudian membuka jalan bagi Pangeran Abhiseka dan Wisanggeni. Kedua orang itu segera mengikuti orang-orang itu dan mulai memasuki pondhok.
Sesampainya di dalam, hati Pangeran Abhiseka merasa seperti terpukul dengan palu godam. Di depan mereka, banyak bergelimpangan orang-orang yang sedang tidur dan beristirahat. Di sisi kanan, perempuan dan beberapa anak-anak tertidur, dan di sisi yang lain anak-anak muda bergabung dengan mereka. Mereka tidur tanpa menggunakan sekat.
"Betapa menyedihkan keadaan orang-orangku dari kerajaan Laksa." Pangeran Abhiseka bergumam sendiri, matanya mulai berkaca-kaca merasakan penderitaan yang dialami rakyatnya.
"Pangeran.., Den Bagus.., silakan masuk ke senthong yang ada di ujung. Kami yakin jika suatu saat Pangeran akan datang ke tempat ini untuk menjenguk kami, sehingga dua senthong kami persiapkan untuk Pangeran beristirahat." satu dari laki-laki tadi menjelaskan pada Pangeran Abhiseka.
Tanpa menjawab, Pangeran Abhiseka segera mengajak Wisanggeni. Kedua laki-laki muda itu segera memasuki senthong yang dipersiapkan untuk mereka.
*********
__ADS_1