
Waktu mengalir dengan cepat, tidak terasa sudah berminggu-minggu Wisanggeni berada di gubug Cokro Negoro dan setiap hari berlatih dengan singa putih. Berbagai rasa sakit dari latihan tidak dia rasakan bahkan mulutnya juga bekerja sama sedikitpun tidak mengeluarkan keluhan. Malam itu, laki-laki dari Klan Bhirowo itu sedang berendam di ember kayu di dalam gubug sambil berlatih. Kedua matanya tertutup, dengan kedua tangan terlipat di di depan dadanya.
Cokro Negoro mengawasi perilaku laki-laki itu sambil tersenyum. Hanya dalam beberapa minggu, tampak perubahan yang menyolok dari penampilannya. Kulit Wisanggeni yang semula putih bersih dengan tangan yang halus, sudah berubah menjadi kuning kecoklatan karena tertempa panas di siang hari. Tampak beberapa kapalan di tangan dan kakinya, dan terlihat tubuhnya seperti singa yang kuat, meskipun tidak berotot.
"Singa Ulung.., keluarlah! Aku yang akan menjaga dan mengawasi Wisang disini!" dengan suara pelan, Cokro negoro meminta singa putih untuk keluar dari dalam gubug. Singa putih itu berjalah ke arah Cokro Negoro, kemudian menggosokkan kepalanya di kaki laki-laki tua itu kemudian berjalan keluar.
Wisanggeni tampak memejamkan kedua matanya dengan tangan yang berlipat di depan dada. Bibirnya tertutup rapat menunjukkan kegigihannya untuk menyerap energi yang ditimbulkan dari ramuan herbal itu. Laki-laki muda itu mengeluarkan nafas yang halus, dan pori-pori kulitnya seakan menyerap dengan rakus energi yang muncul dari air itu. Air yang berwarna coklat kekuningan membentuk pusaran kabut, sampai melimpah keluar mengitari ember kayu tersebut. Bahkan ember kayu tidak terlihat karena adanya lapisan energi.
"Tahanlah rasa sakitmu Wisang..., kekuatanmu akan menembus level diatasnya!" ucap Cokro Negoro sambil terus mengawasi gerak gerik dari laki-laki muda itu.
Sesaat laki-laki tua itu menutup mulutnya, sejenak dia terkejut karena lapisan kabut yang di dalam ember memancarkan kilau warna ungu yang tampak cantik berpadu dengan warna coklat dan grey dari lapisan energi. Pusaran air muncul di dalam ember kayu tersebut, yang dengan cepat diserap oleh pori-pori Wisanggeni.
"Mustika Nabau ternyata dimiliki oleh anak muda ini. Pantas saja, Singa putih dengan mudah tertarik terhadapnya." bisik laki-laki tua itu sambil tersenyum.
Wajah Wisanggeni berubah menjadi berkilau coklat keunguan karena lapisan energi yang berhasil dia serap. Air yang semula berwarna coklat kekuningan semakin memudar, dan tinggallah sisa air yang bening. Saat energi terakhir terserap ke tubuhnya, tubuh Wisanggeni menjadi bergetar hebat seperti merasakan rasa sakit yang teramat sangat. Dia menahan semua rasa sakit tanpa sedikitpun berkeluh, hanya menggigit bibirnya untuk menahannya.
Setelah beberapa saat, semua lapisan kabut energi menghilang. Laki-laki muda itu mulai membuka matanya secara perlahan, dan menghembuskan nafas secara kasar. Dia kemudian berdiri, dan saat melihat Cokro Negoro duduk di depannya..
"Selamat malam Guru..., terima kasih atas ramuan herbalnya. Efeknya sangat luar biasa, saya merasa kekuatanku meningkat." dengan senyum tanda puas, Wisanggeni mengacungkan dua tangannya sambil digenggam di depan dadanya.
"Keluarlah dari ember itu, banyak hal yang harus segera aku sampaikan padamu!" Cokro Negoro memberi perintah.
__ADS_1
Laki-laki muda itu kemudian keluar dari ember kayunya, kemudian berdiri dan melakukan peregangan otot leher, dan pinggangnya. Suara gemeretak tulang terdengar saat dia memutar leher dan jari-jari tangannya.
*****************
Sambil menikmati air jahe serai panas, Wisanggeni duduk bersila di atas dipan kayu. Di depannya Cokro Negoro juga melakukan hal yang sama. Melihat di pojok gubug ada batu hitam, muncul keisengan laki-laki muda itu untuk mencoba kekuatannya. Sambil tersenyum licik, dia mengarahkan tangannya ke batu tersebut dengan mengalihkan pandangan matanya ke tempat yang lain. Dia kemudian memutar tangannya dengan gerakan menarik dan membanting.
"Praakkk." tiba-tiba batu hitam itu terangkat, kemudian terbanting dan remuk ke bawah.
"Terima kasih guru, ini semua berkat upaya yang sudah dilakukan guru untuk membuatkan ramuan herbal buat Wisang. Juga beberapa teknik peningkatan kekuatan, meskipun Singa putih yang melatihku, tetapi semua bersumber dari kebaikan hati Guru." Wisanggeni berterima kasih pada Cokro Negoro.
"Wisang..., sudah saatnya kamu kembali keluar ke dunia nyata. Tegakkan kebenaran dan keadilan, tunjukkan perdamaian pada alam ini. Jangan sampai kamu membunuh orang lain, kecuali dalam keadaan mendesak dan darurat. Aku tidak akan bisa mengawalmu, tapi bawalah Singa putih untuk menemani perjalananmu." Cokro Negoro mulai menasehati laki-laki muda itu.
"Terus Guru akan pergi kemana?" tanya Wisanggeni sambil menatap langsung ke mata gurunya itu. Cokro Negoro tersenyum, kemudian tangannya memegang kedua telapak tangan Wisanggeni.
"Guru akan meditasi untuk waktu yang sampai kapan, akupun tidak tahu batasnya. Bisa sampai aku diambil Hyang Widhi.., ataupun kapan, aku sendiri tidak akan mampu menjawabnya. Aku akan menitipkan beberapa ilmu padamu, yang bisa kamu pelajari dan kembangkan secara mandiri." Cokro Negoro berhenti sejenak, kemudian mengangkat cangkir kayu dan meminum air jahe serenya.
__ADS_1
"Gunakan tanganmu untuk membela yang benar! Suatu saat aku yakin, kamu akan ketemu dengan Badar.., dia kakak seperguruanmu. Tetapi sayang, dia tidak mampu menahan godaan duniawi. Dia hampir membunuhku hanya untuk mendapatkan ilmu dariku, aku harap sadarkanlah dia, tetapi jika itu teramat susah, aku ikhlas musnahkanlah dia." lanjut Cokro Negoro lagi.
Wisanggeni kembali menatap wajah Cokro Negoro, dan laki-laki tua itu tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Bersiaplah Wisang! sempurnakan dudukmu!"
Wisanggeni segera duduk bersila, dan jari tangan Cokro Negoro dia letakkan di dahinya untuk beberapa saat. Setelah melihat pertahanan dari Wisanggeni dirasa kuat, Cokro negoro memindahkan jarinya ke dahi Wisanggeni. Berbagai informasi teknik gerakan ilmu kanuragan, berbagai catatan resep pembuatan ramuan herbal mengalir cepat ke otak Wisanggeni. Sambil mengambil nafas panjang dan menutup matanya, laki-laki muda itu mencoba menyerap semua ilmu yang disalurkan oleh gurunya itu.
Setelah beberapa saat waktu berlalu, Cokro Negoro tampak kelelahan. Akhirnya dia mengakhiri proses penyaluran informasi dari pikirannya ke pikiran muridnya.
"Bukalah matamu Wisang!"
Perlahan Wisanggeni membuka matanya, dan dia merasakan tangannya menjadi semakin kuat.
"Siap Guru.., Wisang siap mengamalkan semua pesan dan nasehat yang guru berikan!" sambil menunjukkan sikap hormat, laki-laki muda itu memberi penghormatan pada gurunya.
"Pelajari ilmu yang aku berikan padamu secara perlahan, jangan terburu na*su untuk mempelajarinya secara sekaligus. Pelajarilah sedikit demi sedikit, dan gunakan ilmu ini untuk menegakkan keadilan dan perdamaian."
Sampai malam Cokro Negoro menyampaikan wejangan pada muridnya itu, sampai karena faktor kelelahan Wisanggeni tertidur dalam duduknya. Dengan penuh sifat kebapakan, Cokro Negoro membaringkan tubuh laki-laki muda itu, kemudian mengambil kain dan menyelimutinya. Telapak tangannya mengusap pelan wajah Wisanggeni, kemudian tersenyum dan perlahan keluar dari pintu.
__ADS_1
****************