Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 81 Leluhur


__ADS_3

Selepas pertandingan adu kanuragan yang dimenangkan Wisanggeni, Jagasetra dengan jantan melangkah menghampiri laki-laki muda itu. Laki-laki itu mengulurkan genggaman tangan mengajak Wisanggeni melakukan tos, sesaat Wisanggeni menatap mata Jagasetra. Melihat tidak ada aura kebencian di matanya, Wisanggeni turut menggenggam tangan dan menyentuhkan pada genggaman Jagasetra.


"Selamat Wisanggeni.., kamu memang layak untuk lebih dipilih Nimas Rengganis dari pada aku." kata Jagasetra sambil menepuk punggung Wisanggeni, kemudian laki-laki itu berjalan meninggalkannya.


"Terima kasih Jagasetra.., semoga kita bisa menjadi saudara di masa depan.." Wisanggeni berseru menjawab ucapan selamat dari lawan tandingnya tadi.


Tidak mau repot dengan acara ceremonial, Wisanggeni mengikuti jejak Jagasetra. Dia menyelinap pergi, lewat samping panggung untuk langsung menuju ke wisma tempatnya menginap. Kucing putih dengan setia mengikuti pemiliknya, dengan sekali lompatan.., Singa Ulung sudah berada di pundak Wisanggeni.


"Wisang..., tunggu kami!" Wisanggeni menoleh karena mendengar namanya dipanggil. Jauh di belakangnya, terlihat kawan-kawan yang mengikuti dari seberang telaga berjalan menuju ke arahnya.


"Mau kemana kamu Wisang..., kami menunggu disana, tetapi kamu malah main kabur saja." protes Jono setelah mereka berhadapan.


"He.., he.., he.. aku tidak suka  acara ceremonial kawan. Aku bersedia untuk mengikuti pertandingan itu, hanya untuk menunjukkan jika orang yang berada di luar wilayah Jagadklana juga mampu untuk tampil menjadi pemenang. Aku tidak membutuhkan sama sekali hadiah yang dijanjikan oleh pemimpin Trah." Wisanggeni menanggapi protes teman-temannya.


"Jangan diambil hati kawan.. Ayo..., kita perlu untuk merayakan kemenangan ini. Kita ke kedai di ujung jalan ya, aku yang akan membayar semua makanan dan minuman yang nanti kita makan." kata Raharjo.


Keenam orang itu akhirnya berjalan sambil berangkulan. Mereka tidak menghiraukan tatapan orang-orang di sekitar yang seperti melihat aneh pada mereka.


***********


Di pendhopo Jagadklana


"Ketua.., apakah Ketua tidak ingin menyampaikan pada anak muda dari Klan Bhirawa itu, jika leluhurnya dikuburkan bersama dengan makam mistis dari leluhur Jagadklana?" Ki Narendra bertanya pada Ki Sasmita.

__ADS_1


"Aku juga sudah memikirkannya Ki. Tetapi aku yakin, jika anak muda itu mengetahuinya, maka dia pasti akan nekat untuk melakukan ziarah pada leluhurnya. Hal itu berarti kita harus membuka makam itu lagi, dan tidak mungkin kita hanya akan membukanya untuk Wisanggeni. Apakah Ki Narendra tidak mengingat, jika kejadian besar telah terjadi saat terakhir kali makam itu dibuka?" wajah Ki Mahesa tampak khawatir dengan resiko yang akan dihadapi, jika makam itu kembali  dibuka.


Ki Narendra tersenyum, dia kembali mengingat kejadian belasan tahun yang lalu. Banyak roh-roh yang keluar mengamuk dan menghantui penduduk Jagadklana saat makam itu diobrak-abrik oleh sekelompok gerombolan dari Alap-alap. Kelompok itu bermaksud mencari sesuatu, tetapi tidak berhasil menemukannya, sehingga menghancurkan banyak makam disitu menjadi pelampiasan mereka.


"Mungkin kita bisa memberi tahu pada Wisanggeni Ketua.., apa yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan, jika dia nekat ingin ziarah pada leluhurnya. Karena bagaimanapun, tidak baik jika kita menyembunyikan dari keturunan Klan Bhirawa mengenai keberadaan leluhurnya." Ki Narendra menyampaikan pendapatnya.


Ki Sasmito menghela nafas..., dia menyeruput minuman yang ada di depannya.


"Benar katamu Ki..., siapa tahu ada warisan dari leluhur anak muda itu untuk keturunannya. Bahkan nama Ki Widjanarko leluhur dari Klan itu, saat ini diabadikan dengan menamai putra pertama Ki Mahesa yang diberi nama yang sama." ucap Ki Sasmita setelah minum.


"Jika begitu.., merupakan tanggung jawab Ketua selaku pemimpin Trah Jagadklana untuk menyampaikan hal ini pada Wisanggeni. Apalagi anak muda itu, betul-betul diinginkan Nimas Rengganis untuk menjadi pendampingnya di masa depan."


Ki Sasmita tersenyum sambil menerawang. Dia merasa baru beberapa tahun lalu, dia menggendong dan mengajak bermain putri kesayangannya itu. Tetapi tanpa diduga.., saat ini dia harus ekstra sabar dan keras dalam mengendalikan keinginan gadis itu.


***************


"Kreeett.." terdengar pintu kamar dibuka dari arah luar.


"Kang Wisang.., repot-repot Rengganis datang kesini malam-malam. Itu juga harus mengelabui Ibunda agar bisa ketemu dengan Akang. Tapi kenapa malah ditinggal tidur.." terdengar suara lembut Rengganis menggumam sendiri.


Gadis itu kemudian mendatangi Wisanggeni di pinggir ranjang, kemudian duduk di samping laki-laki muda itu berbaring. Sambil menaruh dua telapak tangan untuk menyangga dagu, Rengganis menatap keluar jendela kamar yang sengaja tidak ditutup oleh Wisanggeni.


"Aaawww.." jerit Rengganis kaget karena tiba-tiba ada tangan kekar yang merengkuh pinggangnya, dan menariknya ke bawah.

__ADS_1


"Aaaw.., Kang Wisang jahat, masak pura-pura tidur. Ini Anis bisa sampai disini, harus pakai strategi tahu tidak?" ucap Rengganis sambil cemberut.


"Ini bibir tambah sensual jika dimajukan seperti ini sayang.." bisik Wisanggeni sambil tangannya maju digunakan untuk mencubit bibir Rengganis.


Rengganis menoleh, dan matanya beradu pandang dengan mata Wisanggeni yang juga menatapnya. Untuk beberapa saat, mereka bertatapan.., dan tiba-tiba tangan Wisanggeni diangkat ke leher gadis itu, kemudian menekannya ke bawah. Bibir Wisanggeni langsung menyambar cepat bibir Rengganis, dan ciuman keduanya berlangsung lama dan dalam. Setelah mereka hampir kehabisan nafas, baru keduanya melepaskan ciuman itu. Ibu jari Wisanggeni mengusap lembut bibir Rengganis yang agak bengkak akibat dashyatnya ciuman mereka.


"Nimas..., Akang sudah tidak dapat menahan lagi untuk waktu yang lama.." bisik serak suara Wisanggeni di telinga Rengganis.


Mendengar suara serak itu, sesaat Rengganis merasa mabuk dan gemetar. Dia kembali menatap mata laki-laki yang ada di hadapannya itu.


"Apa maksud Akang..?" tanya Rengganis bingung.


Wisanggeni kembali mencium bibir Rengganis, dan saat bibir itu mulai merambat agak ke bawah menuju leher..., tangan mungil Rengganis menghentikan laki-laki muda itu.


"Jangan Akang..., nanti kita khilaf. Apa akang mau, kita benar-benar dipisahkan oleh ayahnda?" dengan suara tersendat, Rengganis berbicara pada Wisanggeni.


Wisanggeni seakan tidak mendengar peringatan dari gadis itu, tangan kanannya tiba-tiba sudah menekan lembut kedua bukit yang ada di dada Rengganis. Gadis itu membelalakkan matanya, tiba-tiba dia merasakan kenyamanan dan keinginan untuk melangkah lebih jauh lagi saat tangan laki-laki muda itu bermain disana.


"Akang tidak dapat menahan lagi untuk mereguk manis madumu Rengganis." suara serak Wisanggeni kembali menggetarkan telinga gadis itu.


"Uhukk..., uhuk..., uhukk... ehem." kedua manusia berbeda jenis kelamin itu, tiba-tiba merasa tersentak setelah mendengar suara batuk Ki Sasmito di luar wisma yang ditempati Wisanggeni.


Secepat kilat Rengganis melompat ingin menjauhkan diri dari laki-laki muda itu, tetapi tangan Wisanggeni lebih cepat meraih pinggang gadis itu dan memeluknya erat.

__ADS_1


***************


__ADS_2