Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 212 Menyusul ke Laksa


__ADS_3

Mendengar cerita dari Rengganis, Niken kinanthi akhirnya membulatkan tekad. Gadis itu berniat akan menyusul kepergian orang-orang penting ke kerajaan Laksa. Dia berpikir harus melakukan sesuatu, dengan memberi bantuan pada orang-orang yang sudah bersikap baik padanya. Bahkan nasehat dari Rengganis yang memintanya untuk menunggu tidak digubrisnya, secepatnya gadis itu harus segera mencapai kota Laksa secepat mungkin.


"Apakah sudah kamu yakinkan hatimu Nimas...? Dengan tidak adanya Kang Wisang di tempat ini, aku tidak dapat membantumu Nimas. Aku harus memastikan padhepokan berjalan seperti biasanya, meskipun orang-orang penting menyertai kang Wisang pergi ke kota Laksa." Rengganis kembali bertanya pada Niken Kinanthi, berusaha untuk mempengaruhi perempuan itu agar membatalkan niatnya.


"Aku sudah berbulat tekad Nimas Rengganis. Tidak ada yang dapat aku lakukan jika hanya menunggu disini. Aku ingin menyaksikan sendiri, dan ingin bergabung dengan pasukan Pangeran Abhiseka untuk bertarung dan menumpas para pemberontak. Aku tidak menyukai jiwa pemberontak dan penindas dari dulu. Mereka termasuk golongan orang-orang yang tidak memiliki terima kasih." dengan tegas, Niken kinanthi menjawab pertanyaan yang diajukan Rengganis,


Rengganis terdiam, meskipun dia mendapatkan pesan maupun amanah untuk menjaga perempuan muda dari Trah Suroloyo itu, tetapi sebagai sesama perempuan, Rengganis seperti memiliki kewajiban untuk membatalkan niat perempuan muda itu. Tetapi sisi baiknya, dengan membantu Pangeran Abhiseka, Niken Kinanthi bisa lebih mendekatkan dan merekatkan hubungannya dengan pewaris kerajaan tersebut.


"Nimas Rengganis.., aku mohon jangan terlalu khawatir padaku. AKu mengenal kerajaan dan kota-kota di kerajaan Laksa dengan baik. Ada saudara dari ayahnda yang memiliki perguruan yang masuk di wilayah kerajaan tersebut, mungkin aku bisa minta tolong untuk membantuku." Niken Kinanthi kembali melanjutkan kalimatnya. Perempuan muda itu menatap ke wajah Rengganis, dan dari tatapan matanya berusaha meyakinkan orang nomor satu di padhepokan saat ini.


Melihat kerasnya hati Niken Kinanthi, Rengganis hanya mengambil nafas dalam. Tidak ada halnya untuk menahan gadis itu disini. Sejak awal kedatangan Niken kinanthi di padhepokan ini, hanya dari kehendak pribadi gadis tersebut. Rengganis merasa tidak memliki hak maupun kewajiban untuk mengatur ataupun menahan gadis tersebut untuk lebih lama berada di padhepokan. Rengganis merasa sudah berusaha untuk menahan perempuan itu. Tetapi keputusan akhir, tetap ada di Niken Kinanthi sendiri.


"Huh..., baiklah Nimas Niken Kinanthi. Begitu keras pendirianmu, aku tidak bisa menahanmu. Pergilah ke kota Laksa, temui mbakyu Larasati dan kangmas Lindhu Aji. Minta orang-orang dari Trah Bhirawa untuk membantu kerajaan. Melihat bagaimana dekatnya hubungan Kang Wisang dengan Pangeran Abhiseka, aku yakin keluarga kang Wisang tidak akan keberatan untuk membantu pertarungan." setelah berpikir sejenak, akhirnya Nimas Rengganis memberikan ijin untuk Niken Kinanthi meninggalkan padhepokan.

__ADS_1


"Apa yang kamu katakan padaku Nimas..., akan aku katakan pada Kang Aji. Aku akan langsung menuju Trah Bhirawa sebelum menyelinap menuju ke istana kerajaan. Doakan aku Nimas Rengganis, semoga aku bisa membantu Pangeran Abhiseka untuk membebaskan ayahnda dan ibundanya." kembali Niken Kinanthi berpamitan dan minta doa dari perempuan yang saat ini dituakan di padhepokan.


Rengganis tersenyum mengantarkan kepergian Niken Kinanthi kembali ke pondhoknya untuk bersiap-siap. Perempuan muda itu meminta perawat kuda untuk menyiapkan kuda tunggangan terbaik untuk menemani Niken Kinanthi melakukan perjalanan kembali ke wilayah Barat.


*************


Kedua binatang singa terbang yang membawa Wisanggeni dan rombongan sampai di perbatasan kerajaan Laksa saat tengah malam. Mereka sampai lebih dulu di kerajaan tersebut, daripada pasukan berkuda yang dipimpin oleh Asoka. Melihat banyak penjaga yang melakukan penjagaan di malam tersebut, Wisanggeni meminta Singa Ulung untuk menurunkan mereka di atas pohon. Dari tempat mereka yang diatas, mereka lebih leluasa mengawasi keadaan yang ada di bawah.


"Bagaimana rencanamu Pangeran...?" tidak mau mendahului berpikir, Wisanggeni bertanya pada Pangeran Abhiseka.


"Aku percaya padamu Pangeran. Trah Bhirawa terbuka untuk menampung sementara permaisuri dan raja, juga beberapa orang-orang terdekatnya. Jangan khawatir, kamu tidakĀ  sedang sendiri. Banyak orang yang akan mau berjuang bersamamu Pangeran." kembali Wisanggeni menyampaikan kata-kata penenang, dan Pangeran menangkupkan kedua telapak tangan di depan dadanya..


"Andhika.., Jatmiko.., menyelinaplah. Cari orang-orang yang masih memiliki kesetiaan dengan ayahnda. Kumpulkan mereka di satu tempat, kita akan menemui dan memberi tahu mereka segera." Pangeran Abhiseka berbisik untuk memberi tugas pada kedua pengawalnya.

__ADS_1


Tanpa menjawab kedua pengawal itu diikuti dengan dua murid pilih tanding dari padhepokan, melompat ke dahan di pohon sebelahnya, Melihat ketatnya penjagaan di bawah, mereka tidak mungkin menampakkan wajah mereka di tengah malam. Karena sebagai seorang pengawal Pangeran, semua orang pasti sudah mengenali mereka.


"Kita tidak boleh hanya berdiam disini sampai menunggu pagi Pangeran, ada baiknya kita segera bergerak, mencoba untuk mencari tahu kelemahan mereka." tiba-tiba Wisanggeni mengajak Pangeran Abhiseka untuk berpindah ke tempat lain.


"Sebentar Wisang..., sepertinya orang-orang di bawah bukan berasal dari parajurit kerajaan. Aku sama sekali tidak mengenali mereka, Coba lihatlah.., lambang yang ada di lengan atas sebelah kanan mereka. Bisakah kamu melihatnya Wisang..?" bisik Pangeran mencoba mengenali lambang tersebut.


"Iya aku melihatnya dari tadi Pangeran. Semula aku berpikir apakah itu lambang kerajaan yang baru, di pundak mereka seperti ada lambang kapak berdarah. Untuk pesohor yang menggunakan Kapak Berdarah sebagai senjata adalah Tumbak Seto, tetapi aku sendiri yang telah menghabisi laki-laki itu. Kala itu, aku harus mengalami mata suri berwarsa-warsa lamanya, sehingga harus dilarikan dan dirawat di kerajaan suku ular." Wisanggeni menjelaskan tentang asal kapak berdarah.


Wisanggeni terdiam, laki-laki itu berpikir kemungkinan Tumbak Seto hidup lagi. Tetapi dia sendiri melihat bagaimana tubuh itu meledak, dan api membakar tubuhnya saat itu. Bahkan auranya masih dia simpan di botol yang ada di kepisnya. Tangan kanan Wisanggeni merogoh ke dalam kepis, dan laki-laki itu masih merasakan aura Tumbak Seto tersegel di dalam botol.


"Baiklah.. Pangeran, tunggulah disini sebentar! Aku akan mencoba turun untuk melihat-lihat." putra bungku Ki Mahesa itu langsung dengan cepat melompat turun. Pangeran hanya melihatnya dengan mengawasi keamanan laki-laki itu.


"Siapa kamu..., kenapa malam-malam begini ada di luar?" tiba-tiba dua orang prajurit menyapa Wisanggeni.

__ADS_1


"Iya Ki Sanak..., saya baru saja menempuh perjalanan jauh, mau pulang ke rumah saya. Tetapi karena kehabisan bekal, saya tidak memiliki koin untuk membayar penginapan. Dari pada harus berdiam di suatu tempat, akhirnya saya berjalan ke arah sini Ki Sanak. Untuk Ki Sanak, sepertinya bukan dari sini ya asalnya?? Baru kali ini sepertinya saya bisa bertemu dengan Ki Sanak?" Wisanggeni berpura-pura sebagai warga kota Laksa. Kedua orang itu tersenyum dan saling berpandangan.


**********


__ADS_2