
Ayodya Putri menatap prihatin pada laki-laki muda yang berdiri di depannya itu. Sebagai seorang raja kerajaan Logandheng yang masih berusia sangat muda, seharusnya Bhadra Arsyanendra bisa mendapatkan apa yang diinginkannya. Namun di depan Parvati.., anak muda itu tidak bisa berkutik. Hasrat yang dimilikinya pada gadis muda itu, tidak bisa dengan mudah diutarakannya pada Parvati. Sehingga begitu melihat Parvati pergi dengan laki-laki lain, tidak ada yang bisa dilakukan untuk mencegahnya.
"Kamu tahu bagaimana perasaanku pada Nimas Parvati.. Nimas Putri. Tetapi aku tetap tidak bisa memiliki keberanian untuk mendekati gadis itu, Apalagi kedekatan kami sejak masih kecil, sepertinya Nimas Parvati hanya menganggapku sebagai seorang kakang untuknya, ketika kang Ashan tidak bisa bersama mendampinginya." senyum kecut terbit dari bibir laki-laki muda itu.
"Heh.. aku juga tidak bisa membantumu Raden.. Aku sendiri juga sudah mulai menyadari jika rasaku juga bertepuk sebelah tangan. Aku juga merasa tidak berdaya, dan juga tidak bisa melakukan tindakan apapun, ketika kakang Ashan lebih memilih Nimas Ratih untuk bisa lebih mendekatinya. Akhirnya.. berdamai dengan keadaan , hanya itu yang bisa aku lakukan Raden.." Ayodya Putri tanpa sadar juga menyampaikan apa yang kini sedang dirasakannya.
Bhadra Arsyanendra terdiam kemudian melihat wajah perempuan muda yang ada di sampingnya. Perempuan muda ini memiliki wajah yang cantik, kulit bersih, dan sebenarnya juga memiliki hati yang baik. Namun.. ternyata hati perempuan muda ini juga dikecewakan oleh Chakra Ashanka. Anak muda itu tidak pernah memberikan perhatian lebih pada Ayodya Putri, meskipun gadis muda ini selalu berusaha untuk memberikan perhatian dan layanan untuk Chakra Ashanka.
"Hati dan perasaan memang tidak bisa untuk dipaksakan.." tiba-tiba sambil tersenyum kecut, keluar gumaman dari bibir Bhadra Arsyanendra.
"Bolehkan aku tahu maksud perkataanmu Raden.. perkataanmu seperti juga mengEna di hatiku.. karena hal itu Juga ku rasakan saat ini.." mendengar gumaman Bhadra Arsyanendra, Ayodya Putri melihat ke arah anak muda itu. Perempuan muda ini ingin mempertegas maksud dari ucapan raja kerajaan Logandheng itu.
"Maafkan jika kata-kataku melukai hati dan perasaanmu Nimas.. Hanya saja kita memang tidak boleh melihat segala sesuatu dari sudut pandang kita sendiri. Lihatlah kepadaku.. apa yang tidak aku punyai Nimas. Bahkan kerajaan, harta kerajaan bisa aku berikan pada Nimas Parvati.. tetapi gadis itu rupanya sedikitpun tidak tertarik akan hal itu. Ketika melihatmu.. juga tidak ada kekurangan dalam dirimu Nimas.. namun kang Ashan juga mengabaikanmu.." ucap Bhadra Arsyanendra lirih.
Ayodya Putri tersenyum kecut, dalam hatinya juga membenarkan apa yang diucapkan oleh laki-laki muda di depannya itu.
__ADS_1
"Tidak ada yang perlu dimaafkan Raden.. aku juga setuju dengan perkataanmu. Untuk ke depan apa yang akan kita lakukan Raden.. untukku.. sementara aku masih akan mengikuti kemana kang Ashan pergi, karena dari situ aku bisa belajar tentang banyak hal, Meskipun melihat laki-laki itu lebih dekat dan nyaman ketika bersama dengan Nimas Ratih.. aku akan tetap menerimanya.." Ayodya Putri menyampaikan putusannya.
"Mungkin dalam waktu dekat aku akan kembali ke kerajaan Nimas Putri.. karena kerajaan, rakyat menungguku untuk memimpin mereka. perlahan-lahan aku akan melupakan Nimas Parvati.. jika memang gadis muda itu tidak lagi dapat aku harapkan untuk mendampingiku.." ucap Bhadra Arsyanendra, sambil melihat ke arah lain.
*********
Di meja yang ada di sudut ruangan, Dananjaya mempersilakan Parvati untuk duduk di kursinya. Seperti memahami apa yang akan dilakukan oleh rayinya, Arya meminta ijin untuk berjalan-jalan di luar kedai setelah memesankan makanan dan minuman untuk dua orang itu. Tanpa curiga, Parvati menuruti apa yang diinginkan oleh laki-laki muda yang sedang bersamanya itu. Gadis muda itu segera duduk di atas kursi, sambil menunggu minuman dan kudapan disajikan oleh pelayan.
"Pesanan kita sudah diantarkan Nimas.." tiba-tiba Dananjaya memberi tahu pada Parvati, ketika melihat pelayan membawa baki berisi minuman dan makanan yang sudah dipesan oleh Arya.
"Kita minum beberapa teguk dulu Nimas.. kita lanjutkan mencicipi kudapn ini.." melihat kedelai rebus dan kacang tanah rebus tersaji di depan mereka dengan masih mengeluarkan asap, Dananjaya mengajak Parvati untuk menikmati makanan dan minuman itu.
Tanpa menjawab, Parvati mengambil cangkir kemudian meminum tiga teguk, kemudian diletakkan kembali cangkir yang dipegangnya. Beberapa kedelai di bukanya dari kulit, kemudian perlahan menikmatinya.
"Apa yang ingin kakang katakan kepadaku.., kita sudah berada di luar penginapan?" merasa penasaran dengan ajakan laki-laki muda di depannya itu, Parvati segera mengajukan pertanyaan.
__ADS_1
Dananjaya tersenyum, kemudian segera mengakhiri menikmati makanan di depannya itu. Menggunakan sapu tangan yang diambil dari dalam kepisnya, dengan sopan anak muda itu mengelap mulut dan tangannya. Betul-betul menunjukkan sikap bangsawan yang terpelajar.
"Nimas.. aku akan menyampaikan sesuatu kepada Nimas, dengan harapan tidak ada penolakan. Sebelum aku memberanikan diri untuk berbicara denganmu, dengan ditemani kang Arya.. kakang sudah menemui dan berbicara dengan paman Wisanggeni dan bibi Rengganis sebagai orang tuamu.." perlahan, Dananjaya mulai menyampaikan kata-katanya. Parvati mengerenyitkan dahi, mencoba menebak apa yang ada di benak laki-laki yang ada di depannya itu.
"Syukurlah.. meskipun paman dan bibi tidak memberikan jawaban yang tegas mengenai pertanyaanku kepada mereka berdua. namun ada harapan yang terselip dari perkataan mereka.." ucap Dananjaya kembali melanjutkan perkataannya.
"Kakang.. kenapa perkataan kang Danan malah membuat Parvati bingung. Ada apa dengan hal ini, kenapa kakang menemui ayahnda dan ibunda.. Bukankah ayahnda dan ibunda tidak boleh terlalu banyak berpikir, kenapa kakang berani memberatkan dan menambah pikiran beliau berdua.." Parvati memotong perkataan anak muda itu. Gadis muda itu, seperti tidak berkenan ada orang yang menambah pikiran kedua orang tuanya.
"Jangan salah sangka Nimas.. dengarkan dulu penjelasanku sampai akhir, agar tidak terjadi kata-kata yang terselip sehingga menimbulkan pemahaman yang salah." Dananjaya meminta Parvati untuk menghentikan kata-katanya. Gadis muda itu kembali terdiam, namun pandangan matanya seperti tajam menghujam dan tembus sampai ke ulu hati Dananjaya.
"Maksudku berbincang dengan paman dan bibi, dikarenakan sebelum Nimas Parvati memiliki seorang suami, Nimas masih mutlak milik dari mereka berdua Nimas. Untuk itu, kakang memberanikan diri untuk meminta ijin kepada keduanya, untuk memintamu Nimas.. " sahut Dananjaya menjelaskan.
Parvati merasa terkejut dengan apa yang diucapkan oleh laki-laki muda itu. Gadis ,muda itu mengangkat wajahnya ke atas, dan kembali melihat Dananjaya dengan tidak percaya.
"Maksud kakang.. apa maksud kata meminta itu kakang.." dengan perasaan ingin tahu, Parvati memperjelas pertanyaan pada Dananjaya.
__ADS_1
*********