
Gabungan dua kelompok pemuda yang ditemui Wisanggeni dalam perjalanan, akhirnya berhasil mendapatkan tempat di atas perahu. Meskipun mereka hanya duduk di atas geladak dan duduk bersandar di pinggir perahu kayu itu, mereka tetap bersyukur. Mata tajam Wisanggeni mengamati cara pekerja di perahu menjalankan kendaraan itu. Mereka bekerja tidak menggunakan bantuan peralatan apapun, mereka hanya mengandalkan kekuatan kanuragan mereka. Secara bersamaan, tangan ke tujuh pekerja itu seperti menari-nari sambil mengarahkan perahu menuju ke tempat tujuan.
"Apa yang kamu lihat Wisang..?" tanya Laksito yang melihat tatapan Wisanggeni tidak lepas dari para pekerja menggerakkan perahu.
Wisanggeni menoleh dan tersenyum pada Laksito. Tangan laki-laki muda itu menunjuk ke arah pekerja yang menjalankan perahu.
"Lihatlah gerakan tangan para pekerja itu. Sedemikian kuatnya mereka bisa mengatur pernafasan dan gerakan tangan dengan rapi dan bersama-sama. Apalagi perahu yang kita naiki ini demikian besarnya," ucap Wisanggeni pelan.
Laksito mengarahkan pandangannya ke tempat yang ditunjukkan oleh Wisanggeni. Dia menghela nafas, kemudian tersenyum..
"Itulah kehidupan Wisang.., semua lengkap memiliki keahlian mereka masing-masing. Dirimu memiliki kemampuan untuk menyembuhkanku kemarin, yang itu tidak akan dimiliki oleh para pekerja itu. Demikian juga mereka, keahlian mereka tidak akan dapat kita lakukan untuk hal yang sama. Itu tujuan dari Sang Hyang Widhi agar kita saling melengkapi antara manusia satu dengan manusia lainnya. Bukan malah saling membunuh dan menghancurkan." kata Laksito dengan bijak.
"Benar sekali apa yang kamu utarakan Laksito, ternyata kamu sangat memaknai bagaimana manusia hidup di dunia ini. Semoga perdamaian akan terwujud, pertikaian dan pertempuran dimusnahkan dari bumi ini." Wisanggeni menanggapi perkataan Laksito.
"Ayo kita istirahat dulu Wisang..., jika lancar besok siang kita baru bisa sampai di Jagadklana." Laksito mengajak Wisanggeni untuk istirahat. Laki-laki muda itu mengangguk, kemudian duduk bersila dan memejamkan matanya.
Tanpa disadari, Wisanggeni dan teman-temannya terlelap tidur. Tiba-tiba...
"Brakk.., bukkk..." terdengar suara benturan dan benda-benda jatuh.
"Tahan nafasmu Wicoro.., jika lepas.., perahu ini akan menghantam naga itu!" terdengar teriakan dari para pekerja.
__ADS_1
"Kenapa juga.., binatang itu muncul pada saat-saat ini. Bukannya berdasarkan kebiasaan, naga-naga itu akan muncul pada purnama kelima. Saat ini baru memasuki purnama kedua, tetapi mereka sudah muncul dan mengganggu perjalan kita untuk menyeberang." teriak pekerja yang lainnya.
Wisanggeni membuka matanya, dan melihat beberapa orang yang ada di geladak tampak cemas dan panik.
"Naga.., nagagini muncul. Habislah riwayat kita di telaga ini.." teriak Karno dengan keringat mengalir deras di wajahnya. Tangan Wisanggeni memegang bahu Karno, memintanya untuk tetap duduk dan tenang.
"Apa kamu tidak takut Wisang.., lihatlah 3 naga yang ada di tengah telaga itu. Perahu yang ada di depan kita, bagian belakangnya sudah hancur ditubruk sama binatang itu. Perahu yang kita tumpangi ini, berada satu garis arah mata mereka." seru Jono yang tidak kalah panik dengan Karno.
Beberapa orang lainnya, bahkan yang mendapatkan kursi dan kamar untuk istirahat, mereka berlari keluar dari tempat mereka dengan panik. Wisanggeni melihat perahu yang ada di depannya, patah menjadi dua terkena sabetan ekor naga tersebut. Dan dengan matanya sendiri, dia melihat ada laki-laki berpakaian bangsawan yang tadi sempat dia lihat di pinggiran telaga, terlempar ke atas dan akan masuk ke dalam air.
Secepat kilat tanpa berpikir apapun, Wisanggeni melesat dengan mengangkat telapak tangannya. Sinar ungu keluar dari telapak tangannya, dan seperti membius ketiga naga tersebut, yang langsung berubah menjadi santun. Dia melompat dan dengan kecepatan luar biasa, laki-laki muda itu menyambar tubuh bangsawan tersebut dan membawanya ke atas geladak di perahu yang dia naiki.
"Wi...sang. Siapa kamu sebenarnya?" gumam Karno dan Jono bersamaan.
"Apa masalahmu, kenapa saat ini kamu muncul ke atas telaga untuk mengganggu bangsaku?" dengan panggilan telepati, Wisanggeni mengajak bicara ketiga naga tersebut.
"Ampuni kami Paduka.., kami tidak tahu jika Paduka berada dalam perahu-perahu ini. Kami melakukan ini karena terpaksa. Sebagian tempat persembunyian yang sudah menjadi rumah kami, saat ini mengalami kekeringan. Manusia-manusia itu sudah membuat bendungan yang menghalangi aliran air menuju tempat kami." kata salah satu naga.
"Tahan dulu amarah kalian, aku akan menyelidikinya terlebih dahulu! Gunakan sementara kekuatan batin kalian, untuk menahan diri dari kebutuhan air. Secepatnya masalahmu akan aku selesaikan." Wisanggeni memberi pesan pada naga-naga tersebut.
"Baik Paduka.., terima kasih untuk wejangannya. Kami bertiga akan segera kembali ke tempat persembunyian kami." setelah memberi hormat, ketiga naga itu langsung kembali masuk ke dalam air. Tidak lama kemudian, air yang ada di telaga kembali tenang.
__ADS_1
************
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan telaga ini paman? Apakah ada yang melakukan sesuatu dengan air yang ada di telaga, sehingga naga-naga itu keluar untuk mengganggu manusia?" Wisanggeni menanyai para pekerja yang menjalankan perahu. Saat ini Wisanggeni sudah berada di meja tetapi masih di atas perahu, dengan suguhan berbagai makanan dan minuman.
Para pekerja itu berpandangan, setelah memindahkan para penumpang perahu yang sudah terbelah menjadi dua, sementara mereka menghentikan perahu di tengah telaga untuk beristirahat.
"Apakah ada yang kalian sembunyikan?" tanya Wisanggeni dengan menatap mereka penuh selidik.
Satu orang pekerja menghela nafas.
"Begini Ki Sanak.., sebenarnya memang sisi telaga yang langsung berdekatan dengan Jagadklana sudah dibendung oleh warga kami, atas perintah dari Laksono. Tujuan Laksono untuk membangun benteng pertahanan melalui aliran air, dan pemuda itu menyembunyikannya dari pemimpin kami." kata pemimpin pekerja itu.
"Kangmas.., apakah kamu tidak takut sudah menceritakan hal ini pada orang luar?" tanya seorang pekerja pada pemimpinnya.
"Tidak Dimas.., aku lebih takut mati dengan berada di dalam perut naga. Daripada aku diajar oleh Laksono, laki-laki yang sombong itu. Aku sudah muak dengannya, tidak mau berkaca diri. Laki-laki seperti itu masih mengharapkan Den Ayu Rengganis untuk menjadi pendampingnya." dengan berapi-api, pemimpin itu melanjutkan ceritanya.
Mendengar laki-laki di depannya menyebut Rengganis, dahi Wisanggeni sedikit berkerut. Kemudian dengan tersenyum,...
"Terima kasih paman, aku akan melindungimu jika Laksono marah. Karena dengan atau tanpa ijinnya, bendungan itu akan aku hancurkan. Jika tidak, maka kawanan naga akan menghancurkan Jagadklana." ucap Wisanggeni.
Semua yang ikut hadir disitu, kaget mendengar perkataan yang terucap dari bibir Wisanggeni. Tetapi tidak ada yang berani untuk membantah, ataupun menanggapinya.
__ADS_1
************