
Akhirnya setelah diperoleh kata sepakat, besok lusa adalah hari keberangkatan Chakra Ashanka dan Bhadra Arsyanendra kembali ke kerajaan Logandeng. Dengan semangat untuk mendapatkan pengalaman, dan juga membantu Bhadra Arsyanendra akhirnya Chakra Ashanka membulatkan tekadnya.
"Apakah aku tidak salah melihat hal ini kang Ashan..?" Ayodya Putri yang tidak bisa begitu saja mempercayai apa yang dia lihat, bertanya pada anak muda itu.
"Salah dalam hal apa maksudnya Nimas.. kakang agak tidak mendengar." Chakra Ashanka mempertegas pernyataan gadis itu.
"Di beberapa kerajaan, setahu Nimas untuk posisi Patih kerajaan akan diisi oleh orang-orang tua yang sudah cukup berumur, dan mereka juga memiliki pengalaman dalam membela atau memperjuangkan kerajaan. Tetapi yang Nimas lihat, kenapa pangeran kecil itu memaksa kakang untuk mendampinginya menjadi seorang Patih kerajaan." Ayodya Putri mempertegas dan menjelaskan hal yang tidak dia ketahui.
Chakra Ashanka tersenyum, dan menatap Sekar Ratih yang juga ada d tempat itu.
"Nimas Putri.. ada sesuatu hal yang terkadang tidak dapat diterima oleh akal pikiran kita. Namun itulah yang sebenarnya terjadi. Panjang ceritanya kenapa kang Ashan dipilih Raden Bhadra untuk menjadi Patih kerajaan. Jujur Nimas . akupun mendukungnya." Sekar Ratih membantu anak muda itu menjelaskan pada Ayodya Putri.
Ayodya Putri tambah kebingungan, dan gadis itu menatap Sekar Ratih untuk meminta penjelasan dari p
gadis itu .
"Raden Bhadra sudah mengetahui bagaimana ilmu Kanuragan dan juga pikiran dewasa yang dimiliki kang Ashan. Bahkan kang Ashan juga pernah membela dan berjuang untuk bocah laki-laki itu. Jadi keputusan ini bukannya tanpa dasar dan pertimbangan. Kang Ashan Layak untuk posisi itu." Sekar Ratih lebih memperjelas perkataan.
"Nimas Putri.. apakah kamu tidak setuju jika aku menerima posisi itu. Kamu masih meragukanku, dan melihat posisi ini tidak layak untukku. Bukankah demikian?" Chakra Ashanka memastikan pendapat gadis itu.
__ADS_1
Ayodya Putri melihat Sekar Ratih dan Chakra Ashanka secara bergantian. Bukannya gadis itu tidak setuju dengan apa yang terjadi saat ini, hanya saja gadis ini belum bisa menemukan akal sehatnya.
"Kalian berdua jangan salah paham kepadaku. Bukannya aku tidak setuju dan meragukan kemampuan kang Ashan. Namun semua ini terdengar seperti mimpi, aku takut dan khawatir jika bocah itu akan berbohong pada kakang." Ayodya Putri menundukkan wajahnya. Gadis itu belum bisa mencerna dan menerima apa yang dia dengar.
"Baiklah Nimas.. untuk membuktikan apakah hal ini akan menjadi sebuah kenyataan, atau hanya harapan palsu.. kamu dan Sekar Ratih bisa ikut denganku ke kerajaan Logandeng. Kita akan melihatnya bersama-sama. Dan jika ternyata semua hanya harapan palsu. kamu akan dapat menghiburku Nimas.." dengan tatapan menggoda, Chakra Ashanka menenangkan perasaan gadis itu.
Sekar Ratih tersenyum mendengar perkataan anak muda itu. Hidup dan melakukan kegiatan bersama dengan anak muda itu, menjadikan keyakinan gadis itu pada anak muda itu semakin menguat. Apalagi dukungan sumber daya dan restu dari pihak keluarga, menjadi hal yang sangat penting untuk memperlancar urusan itu.
"Terima kasih kakang.., aku pikir akang akan memintaku untuk kembali ke kerajaanku. Hanya Nimas Ratih saja yang akan kakang ijinkan untuk turut serta." ucap Ayodya Putri perlahan.
"Ha.. ha.. ha . kalian berdua sama pentingnya untukku Nimas. Aku tidak akan meninggalkan kalian, kecuali kalian sendiri yang memintaku untuk pergi." dengan suara tegas, anak muda itu menanggalkan perkataan Ayodya Putri.
*****
Keesokan Lusa
Dihantarkan puluhan murid perguruan Gunung Jambu, Chakra Ashanka dengan ditemani Sekar Ratih dan Ayodya Putri keluar dari tapal batas perguruan. Mereka akhirnya sepakat meninggalkan perguruan setelah menyerahkan urusan perguruan pada para murid terpercaya, sambil menunggu kedatangan kembali Wisanggeni dan Rengganis. Di depan beberapa pengawal mendampingi Raden Bhadra Arsyanendra menunggu keberangkatan anak muda itu.
"Hati-hatilah di jalan Den Bagus.. hanya doa kami yang menyertai sampai di kerajaan Logandeng." beberapa sesepuh perguruan mengungkapkan kata-kata perpisahan.
__ADS_1
"Terima kasih paman.. Ashan titipkan perguruan untuk segmen pada paman dan yang lainnya. Mohon untuk memberikan restu padaku, agar dapat melaksanakan tugas di kerajaan Logandeng dengan baik." dengan tutur kata yang sopan, Chakra Ashanka berpamitan.
Laki-laki itu mendekat dan memeluk tubuh anak muda itu dengan erat. Tampak air mata tergenang di kelopak mata, merasa terharu dengan perginya anak muda itu dari perguruan. Dengan ngayahi kewajiban di kerajaan Logandeng, akan menjauhkan mereka dari anak muda itu. Tetapi demi masa depan Chakra Ashanka dan juga kerajaan Logandeng, orang-orang di perguruan memberikan doa dan restu mereka.
Setelah beberapa saat, Chakra Ashanka melepaskan pelukan. Kemudian tanpa menengok.lagi ke belakang, anak muda itu dengan diapit Ayodya Putri dan Sekar Ratih berjalan ke depan meninggalkan perguruan. Beberapa orang yang ikut mengantarkan sampai tapal batas, mengusap air mata kesedihan dengan perginya anak muda itu.
"Kakang... akan menggunakan apa kang kita menuju ke kota kerajaan?" untuk mengalihkan perhatian, Sekar Ratih bertanya pada anak muda itu.
"Kita akan ikut pengaturan Raden Bhadra Nimas.. Dengan apapun, kita harus menjalaninya karena dengan kesanggupanku untuk mendampingi Raden Bhadra, berarti kita harus mengikuti apa yang dimaui oleh pangeran itu." dengan suara lirih, Chakra Ashanka menjawab pertanyaan gadis itu.
Tanpa suara, Sekar Ratih menganggukkan kepala. Mereka kemudian berjalan mendekati Bhadra Arsyanendra yang masih setia menunggu mereka. Melihat kedatangan anak muda itu, Bhadra Arsyanendra tersenyum menyambutnya.
"Kang Ashan.. gunakan kereta kencana yang ada di belakang untuk menuju kota kerajaan. Kakang bisa mengajak kedua gadis ini untuk turut serta dalam kereta tersebut, tidak perlu merasa sungkan." Bhadra Arsyanendra membuat pengaturan.
"Baik Raden.. kami akan ikut apa yang sudah diatur oleh Raden Bhadra. Kami akan menjalaninya." anak muda itu dengan cepat menanggapi ucapan putra mahkota itu.
Ketiga anak muda itu segera membelokkan langkah mereka, menuju kereta kencana yang sudah diatur dan disiapkan untuk mereka. Sais delman menganggukkan kepala memberi penghormatan pada anak muda itu, dan Chakra Ashanka hanya mengangkat sudut bibirnya ke atas tanpa bicara.
Di dalam kereta, ketiga anak muda itu tersenyum puas melihat dalam kereta yang cukup luas untuk mereka bertiga. Anak muda itu duduk sendiri, dan kedua gadis itu duduk di depan laki-laki itu. Dalam diam, sais mulai menghentakkan cemetinya, dan perlahan kuda mulai berjalan menarik kereta kencana. Mereka melihat ke tapal batas perguruan, yang lama kelamaan hilang ketika kereta kencana sudah berjalan jauh.
__ADS_1
*******